“ Kalau anda tidak bergerak membangun impian anda, maka pasti anda akan bergerak untuk membangun impian orang lain”
Dunia modeling memang glamour dan harus glamour. Dunia high fashion,
life style juga merapat kedunia kemewahan. Sehat itu mahal biayanya,
pintar itu mahal biayanya. Dan kita semua tahu begitu kita sakit
biayanya jauh lebih mahal lagi. Biaya kebodohan juga sama, jauh lebih
mahal dari pada biaya belajar.
Masih heran banyak yang tidak mau
belajar ya, dan memilih hidup berat karena sering terantuk batu bahkan
menambrak tembok. Tetap tidak belajar juga. Untung diskusi kali ini
bukan tentang belajar tetapi dari sisi glomournya.
Kita diskusi
dunia produk barang mewah untuk qualitas dan harkat pemakainya. High
brand product. Menjual barang high brand adalah sangat sulit dan
memerlukan stamina jangka panjang. High brand memerlukan story telling.
Memerlukan cerita pendukung. Sejarah panjang puluhan tahun, ratusan atau
atau bergenerasi adalah bahan cerita yang paling baik.
Panjangnya dan konsistennya produk tersebut di buat dan di wariskan hal
itu mengagumkan fans. Sehingga di kepala pembeli ada satu hal di dapat
bahwa produk ini genuine asli dan memiliki tradisi terhadap kualitas
yang telah lama TERBUKTI.
Apa yang terjadi jika anda memiliki
produk bagus, qualitasnya, bentuk estetikanya, fit cocok untuk
orang-orang sukses namun anda belum memiliki sejarah panjang. Belum
memiliki cukup masa untuk pembuktian?
Ada sahabat saya yang
memilih jalur bisnis yang tidak umum yaitu berbisnis fashion style
menggunakan bahan kulit sebagai dasar produksinya.
Secara
kualitas kulit, inilah kulit yang dipakai semua major high brand product
di dunia. Sumber dan bahannya sama. Dia mengambilnya dari penghasil
kulit terbaik dalam memproses kulit tersebut. Dari luar Indonesia, dari
eropa dan dari amerika.
Bahannya sama dari kulit sapi, sama
dengan sapi yang ada di Indoensia. Namun musim, air, udara, makanan,
cara memotong,cara memproses menjadi kulit dasar fashion hanya dimiliki
segelitir perusahaan dan itu yang dia pergunakan.
Saya ketika
pertama melihat hasil karyanya, dikepala saya mengatakan, ini produk
high end untuk A class. Jangan di jual murah harus di ciptakan “story”.
Cerita lah yang akan membuat brand itu di bicarakan.
saya lama
diskusi dan mengorek data darinya. Saya sangat detail urusan busana.
mungkin karena ingin irit saya selalu memilih bahan dan fashion yang
bisa di gunakan lama dan selalu up to date terhadap jaman.
Jadi
kulit sebagai bahan jacket adalah salah satunya. Karena itu salah satu
fashion yang saya minati. Ketika sahabat saya menananyakan, mas, saya
ingin membuatkan anda jacket kulit dan saya ingin mas menggunakan produk
saya sebagai brand ambassador. Model apa yang mas wowiek inginkan? Ini
kalimat pertanyaan dari sahabat saya Bob Shofwan.
Tak sampai 1
detik sebuah kata tentang jaket kulit impian saya lontarkan, jacket jet
fighter pilot mas! . karena lama saya merindukan jaket penerbang tempur
tersebut. Jadi di bawah sadar pikiran saya ada data itu. Itu juga
mungkin disebut kekuatan impian sehingga “snap” keluar cepat secepat
menjentik jari ketika di tanya.
Seperti inikah? Katanya memberikan 2 buah produk yang langsung saya foto. Ini karya saya mas!
Wah saya terkejut karena kemiripannya 100%. Saya pegang dan saya
kenakan segera jacket tersebut. Enak banget. Sentuhan indra sensory saya
terpuasi, kulit saya terpuasi dengan lembutnya bahan asli dan saya bisa
tahu ini kualitas tinggi bahannya.
Bau khas kulit tersebut
memuasi indra penciuman saya dan hal ini memberikan kesan macho. Lalu
mata saya terpuasi dengan cutting yang tepat serta jahitan yang
sempurna. Lalu saya sebut apa yang saya inginkan. Warna coklat mas, yang
sebelah atas namun tidak pakai bulu mas kerahnya, lata saya kemudian.
Kerahnya seperti contoh yang hitam. Saya cepat sekali mengambil
keputusan dengan pilihan tersebut karena memang sudah tergambar dalam
pikiran saya jauh-jauh hari.
Lalu mas Bob sang pebisnis muda itu
mengambil meteran khas nya. Mas saya ukur ya badannya ya?, saya mau
semua produk saya adalah fit kepada pemiliknya.
Wuih, bener ini.
Hebat. Tubuh manusia memang unik, ada plus minusnya satu dengan lainnya.
Seseroang yang mengerti design akan menutupi kekurangan dan menonjolkan
kelebihan sehingga enak di lihat, enak di pakai.
Kalau beli
produk masal maka “tayloring” nya tidak ada. Jadi ketika di patung
mannequin enak dilihat ketika kita coba kita kerasa aneh. Tangan-nya
kependekan, atau sempit di perut dan beragam masalh lainnya. Seperti
kita terlihat jadi pendek atau kulit kita terlihat jadi gelap redup. Ya
itulah kalau beli “mass product” atau produk massal.
Mass product
yang taylor cocok dengan semua orang ya adanya di high fashion brand.
Kocek kita keluar banyakan sedikitlah. Namun dengan mas Bob hal itu
tidak terjadi. Taylor fit dengan harga sangat reasonable ( bahasa lain
murah) namun kualitas sama dengan brand ternama. Kami ketika diskusi ada
di mall yang banya menjual major brand pria ternama. Kami pun
membandingkan karya dan harga. Kami ke Ermenegildo Zegna, ke Hugo Boss,
ke ferragamo, ke Armani untuk melihat leather jacket karya terakhir
mereka.
Dan hebatnya, mas Bob sudah mengkopi semua, dia buktikan
dengan mambawanya di bagasi mobilnya yang dia tunjukan kesaya, semuanya.
Dan sama.
Rasanya, bentuknya sama. Ini mungkin KW namun kalau
anda pakai dari mana orang tahu ini jaket karya hugo boss atau bob
shofwan? Yang membedakan bukan jaket karya keduanya namun dukungan
penunjang lainya menentukan. Sepatu yang dipakai, arloji yang pakai,
kendaraan yang dipakai menentukan “judge” pertimbangan orang dalam
menilai.
Jadi bukan produk mas Bob permasalahnya. Mutu, model,
rasa, bentuk semua sudah high fashion. Tapi kalau di pakainya tidak
stylish , tidak didukung body shape yang bagus, dan keseimbangan busana
pendukung lainya, jeans, sepatu , maka akan terlihat KWnya. Tapi kalau
anda sudah menggunakan semua yang stylish dan dilengkapi jaket kulit
Bob. Orang tidak tahu jaket ini hanya 4 juta rupiah, bukan yang 25 juta
rupiah yang ada dalam tag pricenya ferragamo atau Georgio Armani!
Mas Bob berkata, mas, kalau mas punya impian apapun terhadap kulit.
Dompet, tas, jacket beri saya tahu. Saya akan bikinkan sesuai keinginan
mas. Rumah produksi saya di selatan jakareta siap memproduksinya. Harga
ngak usah pikirkan. Pasti jauh di banding dengan harga barang bermerek
namun saya jamin kualitas sama.
Pagi ini, barang pesanan saya
datang. Dan saya kenakan di depan kaca, pakai jeans dan kemeja putih.
Saya amaze, kagum saya. it a world class product saya kenakan. Hebat mas
Bob Shofwan. Seperti nya sebuah produk yang bisa mendunia sudah hadir
di Indonesia. Bravo! # may peace be upon us
Minggu, 06 Desember 2015
Kamis, 03 Desember 2015
“ Cinta itu sederhana. Jika kamu tak bisa membuatnya TERTAWA, cukuplah untuk tidak membuatnya TERLUKA”
“ Cinta itu sederhana. Jika kamu tak bisa membuatnya TERTAWA, cukuplah untuk tidak membuatnya TERLUKA”
Diacara akhir tahun ada sebuah kebiasaan yang saya lakukan selama ini , yaitu mereview performa tahun berjalan. Dan melakukan strategi tahun di hadapan. Hal itu menjadi rutinitas yang di tahun ini saya merasa harus ada yang baru nih. Ada baiknya saya meluangkan waktu dengan pakarnya.
Bagi saya pakar tersebut harus lah orang yang jauh lebih pengalaman dari saya. harus lebih pintar dari saya. harus lebih membuktikan daripada saya. dan hal itu banyak. Banyak orang yang di atas saya walau usia terkadang lebih muda dari saya. namun saya ngak perduli, kalau belajar saya taat kepada siapa saja yang telah membuktikan, proven methods by the person. Metode terbukti oleh pengalam orang tersebut. Tidak pandang usia, pendidikan atau status. Saya akan taklit belajar.
Dihadapan saya saat ini adalah CEO muda dari perusahaan internasional. Jarang loh perusahaan internasional yang ternama di sebuah indoensia memberikan jabatan CEO atau country manajer kepada local, pribumi. Bisa di hitung jari.
Dan ketika anda bersama orang-orang high caliber seperti ini, anda akan merasakan getaran berbeda. Semangat antusiame yang berbeda, cara pandang dan isi kata bicara yang berbeda. Itu yang saya butuhkan.
Secara fisik mobilitas sang CEO adalah berkursi roda namun secara pkiran rasanya kapasitanya 2 kali orang kebanyakan. Saya sangat membutuhkan sisi kekuatan dari nya terutama masalah target tahun depan.
Saya buka dengan pertanyaan, anak buah seperti apa idaman anda mas?
Dia menjawab, ada banyak type anak buah dan yang saya paling suka adalah mereka yang mempunyai prinsip dan berani “stand up ” pada prinsipnya. Berani mengungkapan ke atasan dan berani menanggung resiko kalau salah.
Wah, itu jarang mas, saya menjawab cepat
Benar, itu juga yang menjadi alas an banyak perusahaan asing di Indonesia ragu dalam mengangkat leader orang Indonesia.
Kenapa gitu mas? Saya bertanya
Ini pertanyaan saya di perusahaan saya dulu kepada atasan saya di kantor pusat. Dan pendapat orang di kantor pusat jawabanya adalah, jarang sekali follower (bawahan) di kita ini mas yang berani berpendapat. Kebanyakan yes sir, yes mam. Kalaupun berpendapat , informasi yang mereka berikan sangat dangkal. Itu menunjukan mereka tidak cukup “belajar” atau tidak mencari data lebih lengkap lagi.
Curiosity keingintahuan membawa ke kreatifan. Kreatif membawa solusi. Curiosity adalah pergolakan dalam pikiran atas masalah yang terjadi. Masalah di baca dalam diri seseroang karena perduli. Empaty adalah awal problem solver.
Kurang empati kurang perduli
Kurang perduli tidak kontemplasi
Tidak kontemplasi tidak ada keingintahuan
Tidak ingin tahu tidak kreatif
Inilah yang menjadi penghalang karir seseorang tidak sampai puncak, sebagai leader karena masalah mendasar ini. Dan hal ini bukan hal yang di dapat di kuliah atau bangku sekolah. Hal ini adalah private victory kemenangan pribadi setiap individu yang ingin maju.
Hubungan sama anak buah yang baik jadi apa mas? Saya berusaha mencerna bahasa tinggi yang di sampaikanya ini.
Begini mas, di jawabnya. Good doer atau pelaksana pekerjaan yang baik belum tentu good follower. Dan good follower pasti good leader.
Wah saya bingung mas? Saya berusaha mencerna bahan baru lagi
Begini deh, saya bicara pakai bahasa mas wowiek yang penggemar psikology terapan. Tahu Rosenthal effect?
Iya tahu, tentang ekspektasi tinggi atau pengaharapan tinggi, saya pun menjawab sambil mengingat-ingat pelajaran kampus di dunia psikologi social Robert Rosenthal yang nyaris hilang dalam pikiran saya kalau tidak di looping barusan.
Apa yang mas inget? Tanyanya lagi
Rosenthal buat study di 3 kelas yang diajarkan olehnya, kata saya memulai cerita yang saya tahu dan mudah-mudahan itu yang dia maksud.
Kelas pertama dikatakan di awal semester bahwa mereka orang pilihan. Mereka orang yang telah di seleksi dan terbaik. Biasanya prestasi tahun-tahun sebelumnya kela sini selalu mendapt A nilainya.
Di kelas satunya Rosenthal mengatakan inilah kelas yang tersisa dari kelas terbaik. Kelas ini adalah kelas yang rata-rata. Kemudian di kelas terakhir Rosenthal tidak mengatakan apapun.
Padahal ketiga kelas tersebut berisi orang yang sama dan dipilih secara acak. Pelajaran semesteran berjalan sama dan ujian pun isinya sama. Namun sepanjang semester Rosenthal selalu mengulangi siapa mereka dan hanya kelas pertama dan kedua di berikan ekspektasi.
Hasil di ujung semester bisa di duga. Kelas pertama semuanya nilai A, kelas berikutnya hanya rata-rata dan kelas terakhir banyak yang F atau gagal. Demikian saya menceritakan ulang sedikit Rosenthal effek.
Benar mas. Itu yang saya maksud. Nah, good doer, kalau di kasih 100% target biasanya mencapai 80% atau 100% target. Namun good doer jika di kasih 120% target biasanya tidak tercapai karena mereka menganggap diri mereka hanya “pelaksana”.
Good follower jika diberikan 150% bisa mencapainya. Karena mereka saya berikan rosentahal efek seperti dikelas pertama Robert Rosenthal.
Saya heran : kenapa ngak good doer di berikan rosenthal efek pertama juga? Saya masih belum bisa faham
Begini mas, saya membedakan good doer dengan good follower itu begini..namun sebelumnya saya mau nanya mas wowiek, menurut mas rosenthal effect bisa berlaku sebaliknya ngak?
Maksudnya? Saya bertanya karena ngak faham
Kalau anak buah di kasih pengharap tinggi high expectation dan dikatakan mereka orang pilihan hasilnya excellent. Apakah kalau atasan di berikan pengharapan tinggi oleh bawahan hasilnya sama, akan excellent juga?
Saya terdiam, ini kasus menarik dan tidak bisa di jawab dengan asumsi harus pakai empiris, harus pakai study harus pakai eksperimen. Menarik! Itu berulang kali di pikiran saya, ini bisa tesis doctoral. Apakah Rosenthal effect bisa berlaku vice versa sebaliknya atau malah tidak jalan?
Saya geleng-geleng kepala. Saya tidak bisa tahu, itu jawaban saya.
Dijawab olehnya, mas..rosenthal effect ketika di balik hasilnya dua tiga kali lipat lebih efektif lagi. Anak buah menyemangati dan memberikan ekspektasi tinggi ke atasan . dan bagi saya itulah good follower. Kalau good doer, mereka harus kita Rosenthal khan. Kalau good follower mereka kita rosenthalkan dan mereka memberikan ke kita Rosenthal effect balik.
Saya mencerna semua diskusi pagi ini sambil mengunyah sarapan pagi dan secangkir teh hangat. Ditambah rosenthal effek! Inilah sarapan pagi yang bergizi bagi saya. saya akan ceritakan high ekspektasi ini kepada semua follower subordinate saya dan saya lihat adakah yang memberikan balik Rosenthal effect ke saya? sehingga saya tahu bahwa saya sudah memiliki leader? Semoga.. # may peace be upon us
Diacara akhir tahun ada sebuah kebiasaan yang saya lakukan selama ini , yaitu mereview performa tahun berjalan. Dan melakukan strategi tahun di hadapan. Hal itu menjadi rutinitas yang di tahun ini saya merasa harus ada yang baru nih. Ada baiknya saya meluangkan waktu dengan pakarnya.
Bagi saya pakar tersebut harus lah orang yang jauh lebih pengalaman dari saya. harus lebih pintar dari saya. harus lebih membuktikan daripada saya. dan hal itu banyak. Banyak orang yang di atas saya walau usia terkadang lebih muda dari saya. namun saya ngak perduli, kalau belajar saya taat kepada siapa saja yang telah membuktikan, proven methods by the person. Metode terbukti oleh pengalam orang tersebut. Tidak pandang usia, pendidikan atau status. Saya akan taklit belajar.
Dihadapan saya saat ini adalah CEO muda dari perusahaan internasional. Jarang loh perusahaan internasional yang ternama di sebuah indoensia memberikan jabatan CEO atau country manajer kepada local, pribumi. Bisa di hitung jari.
Dan ketika anda bersama orang-orang high caliber seperti ini, anda akan merasakan getaran berbeda. Semangat antusiame yang berbeda, cara pandang dan isi kata bicara yang berbeda. Itu yang saya butuhkan.
Secara fisik mobilitas sang CEO adalah berkursi roda namun secara pkiran rasanya kapasitanya 2 kali orang kebanyakan. Saya sangat membutuhkan sisi kekuatan dari nya terutama masalah target tahun depan.
Saya buka dengan pertanyaan, anak buah seperti apa idaman anda mas?
Dia menjawab, ada banyak type anak buah dan yang saya paling suka adalah mereka yang mempunyai prinsip dan berani “stand up ” pada prinsipnya. Berani mengungkapan ke atasan dan berani menanggung resiko kalau salah.
Wah, itu jarang mas, saya menjawab cepat
Benar, itu juga yang menjadi alas an banyak perusahaan asing di Indonesia ragu dalam mengangkat leader orang Indonesia.
Kenapa gitu mas? Saya bertanya
Ini pertanyaan saya di perusahaan saya dulu kepada atasan saya di kantor pusat. Dan pendapat orang di kantor pusat jawabanya adalah, jarang sekali follower (bawahan) di kita ini mas yang berani berpendapat. Kebanyakan yes sir, yes mam. Kalaupun berpendapat , informasi yang mereka berikan sangat dangkal. Itu menunjukan mereka tidak cukup “belajar” atau tidak mencari data lebih lengkap lagi.
Curiosity keingintahuan membawa ke kreatifan. Kreatif membawa solusi. Curiosity adalah pergolakan dalam pikiran atas masalah yang terjadi. Masalah di baca dalam diri seseroang karena perduli. Empaty adalah awal problem solver.
Kurang empati kurang perduli
Kurang perduli tidak kontemplasi
Tidak kontemplasi tidak ada keingintahuan
Tidak ingin tahu tidak kreatif
Inilah yang menjadi penghalang karir seseorang tidak sampai puncak, sebagai leader karena masalah mendasar ini. Dan hal ini bukan hal yang di dapat di kuliah atau bangku sekolah. Hal ini adalah private victory kemenangan pribadi setiap individu yang ingin maju.
Hubungan sama anak buah yang baik jadi apa mas? Saya berusaha mencerna bahasa tinggi yang di sampaikanya ini.
Begini mas, di jawabnya. Good doer atau pelaksana pekerjaan yang baik belum tentu good follower. Dan good follower pasti good leader.
Wah saya bingung mas? Saya berusaha mencerna bahan baru lagi
Begini deh, saya bicara pakai bahasa mas wowiek yang penggemar psikology terapan. Tahu Rosenthal effect?
Iya tahu, tentang ekspektasi tinggi atau pengaharapan tinggi, saya pun menjawab sambil mengingat-ingat pelajaran kampus di dunia psikologi social Robert Rosenthal yang nyaris hilang dalam pikiran saya kalau tidak di looping barusan.
Apa yang mas inget? Tanyanya lagi
Rosenthal buat study di 3 kelas yang diajarkan olehnya, kata saya memulai cerita yang saya tahu dan mudah-mudahan itu yang dia maksud.
Kelas pertama dikatakan di awal semester bahwa mereka orang pilihan. Mereka orang yang telah di seleksi dan terbaik. Biasanya prestasi tahun-tahun sebelumnya kela sini selalu mendapt A nilainya.
Di kelas satunya Rosenthal mengatakan inilah kelas yang tersisa dari kelas terbaik. Kelas ini adalah kelas yang rata-rata. Kemudian di kelas terakhir Rosenthal tidak mengatakan apapun.
Padahal ketiga kelas tersebut berisi orang yang sama dan dipilih secara acak. Pelajaran semesteran berjalan sama dan ujian pun isinya sama. Namun sepanjang semester Rosenthal selalu mengulangi siapa mereka dan hanya kelas pertama dan kedua di berikan ekspektasi.
Hasil di ujung semester bisa di duga. Kelas pertama semuanya nilai A, kelas berikutnya hanya rata-rata dan kelas terakhir banyak yang F atau gagal. Demikian saya menceritakan ulang sedikit Rosenthal effek.
Benar mas. Itu yang saya maksud. Nah, good doer, kalau di kasih 100% target biasanya mencapai 80% atau 100% target. Namun good doer jika di kasih 120% target biasanya tidak tercapai karena mereka menganggap diri mereka hanya “pelaksana”.
Good follower jika diberikan 150% bisa mencapainya. Karena mereka saya berikan rosentahal efek seperti dikelas pertama Robert Rosenthal.
Saya heran : kenapa ngak good doer di berikan rosenthal efek pertama juga? Saya masih belum bisa faham
Begini mas, saya membedakan good doer dengan good follower itu begini..namun sebelumnya saya mau nanya mas wowiek, menurut mas rosenthal effect bisa berlaku sebaliknya ngak?
Maksudnya? Saya bertanya karena ngak faham
Kalau anak buah di kasih pengharap tinggi high expectation dan dikatakan mereka orang pilihan hasilnya excellent. Apakah kalau atasan di berikan pengharapan tinggi oleh bawahan hasilnya sama, akan excellent juga?
Saya terdiam, ini kasus menarik dan tidak bisa di jawab dengan asumsi harus pakai empiris, harus pakai study harus pakai eksperimen. Menarik! Itu berulang kali di pikiran saya, ini bisa tesis doctoral. Apakah Rosenthal effect bisa berlaku vice versa sebaliknya atau malah tidak jalan?
Saya geleng-geleng kepala. Saya tidak bisa tahu, itu jawaban saya.
Dijawab olehnya, mas..rosenthal effect ketika di balik hasilnya dua tiga kali lipat lebih efektif lagi. Anak buah menyemangati dan memberikan ekspektasi tinggi ke atasan . dan bagi saya itulah good follower. Kalau good doer, mereka harus kita Rosenthal khan. Kalau good follower mereka kita rosenthalkan dan mereka memberikan ke kita Rosenthal effect balik.
Saya mencerna semua diskusi pagi ini sambil mengunyah sarapan pagi dan secangkir teh hangat. Ditambah rosenthal effek! Inilah sarapan pagi yang bergizi bagi saya. saya akan ceritakan high ekspektasi ini kepada semua follower subordinate saya dan saya lihat adakah yang memberikan balik Rosenthal effect ke saya? sehingga saya tahu bahwa saya sudah memiliki leader? Semoga.. # may peace be upon us
“Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita di lahirkan, namun kita tetap bisa memilih dengan siapa kita DIBESARKAN”
“Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita di lahirkan, namun kita tetap bisa memilih dengan siapa kita DIBESARKAN”
Mendengar kabar salah satu sahabat pebisnis menjadi orang nomor satu di sebuah asosiasi dagang terbesar di tanah air, dikepala saya ada dua hal saya pertanyakan. Yang satu adalah sebuah tugas berat menantinya 5 tahun kedepan apa strateginya? dan yang kedua apakah kaderisasi dalam bisnis nya sudah siap?
Setahu saya, dia walau memiliki banyak perusahaan dan anak usaha. Dia adalah orang yang yang membangun organisasi bisnis bercentrum pada dirinya. Istilah saya “i corporation”. Semua orang dibawah organisasinya dalam setiap tindakan harus atas sepengetahuan dirinya. Bahkan dalam hal sekecil apapun. Dia Raja kecil. baginya, anak buahnya hanya penyelesai apa yang dia mau atau apa yang dia rencanakan.
Kebiasaan nya ini membuat saya berfikir lagi. Akankah dia membawa asosiasi dagang sedetail dan se-control freak tersebut?
Lalu, entah angin apa yang membawa lamunan saya yang sedang mengantri di lantai dua di darmawangsa square hari itu, tiba-tiba mendapat sapaan dari belakang terdengar suara..kanjeng kangmas wowiek apa kabar?
Wah saya kaget juga mendengar suara yang sangat familiar tersebut. Dia mungkin bisa dikatakan orang no 3 bahkan nomor 2 atau bisa-bisa sudah jadi orang nomor 1 dalam jajaran holding pada organisasi bisnis sahabat saya yang baru saja mendapat mandate memimpin asosiasi dagang nasional tersebut.
Hari itu saya sedang mengantri untuk terapi sakit di pinggang saya karena salah gerak. Dan sahabat saya tersebut sedang akan membeli alat olah raga yang kebetulan sebelahan dengan tempat terapi saya. baru mendapat kabar dan baru mengucapkan selamat bertugas kepada sahabat saya, ternyata salah satu orang kepercayaannya 15 tahun terakhir atau juga tangan kanan nya ada tepat berdiri dibelakang saya. dan terjadilah dialog ini :
Mas, sudah siap organisasi di tinggalkan RP? Saya langsung tanyakan hal yang menjadi pikiran saya setelah sebelumnya kami berdua saling memberikan kabar singkat.
Lah ini mas, saya sudah menyusun roadmap kedepan tapi saya kok ngak berani mengutarakannya ya? Aku mbok di kasih suntikan jadi orang yang tegas gitu loh sama boss kita itu.
Saya tertawa, karena kata-kata "boss kita" ada benarnya karena kami berdua pernah kerja bareng di bawah boss tersebut, sahabat lama saya tersebut. Dia melanjutkan, perusahaan itu kayak di "kekepin" di ketiaknya mas. Apa saja harus lewat dia, apa saja harus mulai dari dia. Bener-bener top down. Full direction dan full control.
Dia sampai saat ini belum bisa melepas mempercayai team nya. Dia begitu takut jika tidak mengendalikan perusahaannya. Dia juga merasa tidak ada yang bisa menggantikan kemampuannya. Kenapa begitu ya mas?, dia berkomentar dan sekaligus bertanya kepada saya.
Juga dalam bisnis saya merasa dia mulai melakukan pengulangan cara lama dan pola bisnis lama padahal banyak hal baru yang dia segan melakukannya. Atau tidak mau melakukan terobosan baru. Jadi organisasi agak sedikit stagnan, hampir semuanya turun performanya. Dia melanjutkan sedikit komentarnya
Begitu ya mas? Apa sudah kena "Pygmalion syndrome" dia mas? Saya balik bertanya
Pygmalion syndrome iku opo kang mas? Sampean ini kakehan kebanyakan ilmu bisnis sampai saya ngak ngerti istilah Pygmalion iku , katanya dengan gaya solo halus khas kesehariannya.
saya pun mulai bercerita, Iya, ini sedikit hikayat yunani, ada seorang pematung kenamaan bernama Pygmalion. Suatu hari dia membuat patung wanita yang indah dari sebuah gading. Wanita cantik. Ternyata saking cantiknya dia jatuh cinta pada patung tersebut. Dia perhatikan, dia lihatin dia sempurnakan dan dia mintakan kepada dewa agar patung ini bisa hidup.
Pygmalion berdoa amat sangat hingga jagad dewa pun akhirnya menyetujui dan turunlah dewi aphrodite dalam sebuah malam persembahan dan menghidupkan patung indah tersebut menjadi wanita cantik bernama galatea. Dan mereka pun menikah.
Itu cerita singkatnya mas. Kata saya menutup dongeng yunani kuno tersebut.’
O, itu toh Pygmalion syndrome kangmas? Itu ilmu psikologi ya, tanyanya sambil mata berkhayal ngak tau kemana
Bukan, itu karangan saya saja mas, saya jawab sambil tertawa. Bagi saya itu hanya sebuah analogi agar saya bisa memahami sisi sebuah kasus sehingga dengan dongeng, cerita otak, saya bisa memvisualkan. Otak atau pikiran yang bekerja akan lebih gampang berjalan membuat solusi jika sudah terbentuk gambar. Dan dongeng adalah salah satu bentuk komunikasi pikiran yang mudah di cerna pikiran yang bisa membuat sebuah bayangan imaginasi.
Dengan saya asosiasikan peristiwa tadi dengan sebuah cerita Pygmalion dan galatea maka mudah bagi saya mencari solusinya. Itu jika di tanya loh
Jadi solusinya dengan organsasi kita yo opo kangmas? Galateanya si perusahaan bisnis dan posesif nya bos RP semua benar, semua ya bener, sindrom opo tadi, Pygmalion, ya pas sudah.
Seberapa dia berani merusak atau ”break pattern “ terhadap kebiasaan RP mas?
Wah saya ngak bisa bilang pasti. Kalau dalam terobosan bisnis dia jagonya, tapi kalau dalam kerajaan yang dibangunnya warna dan kebiasaan sama dalam 20 tahun ini. Ngak banyak berubah. Yang berubah di maneuver bisnisnya di luaran.
Faham saya, o begitu ya, saya menjawab sambil berfikir.
Tapi bener loh kangmas, saya perlu saran sampeyan sekarang ini.
Begini deh, saya kasih gambaran singkat kemampuan destructive itu harus di lakukan, break pattern itu penting. Ilustrasinya begini :
Sebenarnya salah satu tugas leaders , salah satu tugas utama pemimpin bisnis adalah MERUSAK bisnis.”
Ketika saya bicara seperti itu saya perhatikan wajah sahabat saya heran.
Dalam sebuah periode bisnis seperti sekarang yang serba cepat. Kemampuan adaptasi yang cepat. kini seorang pemimpin bisnis memang tak cukup lagi hanya piawai membangun bisnis, ia juga harus piawai “MERUSAK” bisnis. Steve Jobs piawai “merusak” Apple dari Apple 1.0 yang hampir bangkrut menjadi Apple 2.0 yang gagah perkasa dengan iPod, iPhone, atau App Store-nya. Di Indonesia kita punya Ignatius Jonan yang piawai “merusak” KAI 1.0 yang lelet menjadi KAI 2.0 yang gesit.
Ingat sahabat kita pak Emir Satar ex garuda. Yang di demo pramugari dalam 4 bulan pertamanya bekerja di garuda. Dia menebas salary cap para pramugari, di tahun ke tiga bekerja gajih mereka turun bukan naik. Dengan kata lain pak Emir ingin semua pramugari muda usia, fresh, segar.
Jumlah crew pesawat turun costnya. Lalu dia mempercepat ground handling di darat dengan mesin baru, mahal namun cepat sehinga delay time garuda nyaris nol. Dan membuat market share naik. Itu adalah seorang CEO yang memiliki kemampuan destructive.
Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang dulu hebat seperti Kodak, GM, Nokia, atau Sony terus-menerus babak-belur mengalami kemunduran karena tak kunjung menemukan CEO yang mampu “merusak” fondasi model bisnis yang kini sudah tak relevan lagi.
Karena itu seorang CDO (“Chief Destruction Officer”) kini adalah sosok yang paling diburu perusahaan-perusahaan di seantero jagat raya. Jadi RP saya sarankan mencari seorang CEO yang memiliki kemampuan visoner mengadaptasi 20 tahun kedepan dengan tindakan nyata sekarang. Dan RP harus ikhlas dan memberi izin profesional membuat “sculpture” patung baru. Galatea baru. Dan jangan pernah jatuh cinta kepada karya sendiri. cinta boleh, jangan “jatuh”. Saya mendongeng lagi sambil berfilosofi.
Mau contoh lain lagi? Layanan surat pos “mati” dimakan killer app baru seperti email, SMS, dan ATM.
Kodak yang lebih seratus tahun perkasa kemudian “dihabisi” oleh layanan photo sharing yang diberikan perusahaan start-up anak kemarin sore seperti Instagram. Toko kaset legendaris Aquarius Mahakam di Blok M tutup “dibunuh” platform baru seperti iPod-App Store,menyedihkan?!.
Untuk bisa survive di tengah perubahan yang kaotik tersebut kuncinya terletak pada satu kata: “PENGHANCURAN”. Untuk sukses di era light-speed changes Kita tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu kita: “break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang.
Salah satu solusi Pygmalion syndrome harus diberikan obat penawar dengan membuat organisasi di pimpin professional baru yang memiliki kemampuan men-destruc dan meng-constuct baru. Memiliki kemampuan merusak semua yang tidak relevan dan membangun galatea baru yang sesuai jaman.
Emang ada orang dipasar yang available seperti itu mas? Tanya nya lagi.
Ada, kalau RP mau. Saya memberikan nama sahabat baik saya. seorang CEO handal, pernah di indosat, dan excelcomindo. Tamatan ITB Harvard business school. CEO caliber. Kalau saya hubungi pasti dia mau, setidaknya menjadi perhatian. Bagaimana? Ok mas, namaku di panggil aku tak masuk dulu terapi ya. Suwon, keep in touch kata saya sambil pamit, salaman dan bergerak masuk keruang terapi. # may peace be upon us
Mendengar kabar salah satu sahabat pebisnis menjadi orang nomor satu di sebuah asosiasi dagang terbesar di tanah air, dikepala saya ada dua hal saya pertanyakan. Yang satu adalah sebuah tugas berat menantinya 5 tahun kedepan apa strateginya? dan yang kedua apakah kaderisasi dalam bisnis nya sudah siap?
Setahu saya, dia walau memiliki banyak perusahaan dan anak usaha. Dia adalah orang yang yang membangun organisasi bisnis bercentrum pada dirinya. Istilah saya “i corporation”. Semua orang dibawah organisasinya dalam setiap tindakan harus atas sepengetahuan dirinya. Bahkan dalam hal sekecil apapun. Dia Raja kecil. baginya, anak buahnya hanya penyelesai apa yang dia mau atau apa yang dia rencanakan.
Kebiasaan nya ini membuat saya berfikir lagi. Akankah dia membawa asosiasi dagang sedetail dan se-control freak tersebut?
Lalu, entah angin apa yang membawa lamunan saya yang sedang mengantri di lantai dua di darmawangsa square hari itu, tiba-tiba mendapat sapaan dari belakang terdengar suara..kanjeng kangmas wowiek apa kabar?
Wah saya kaget juga mendengar suara yang sangat familiar tersebut. Dia mungkin bisa dikatakan orang no 3 bahkan nomor 2 atau bisa-bisa sudah jadi orang nomor 1 dalam jajaran holding pada organisasi bisnis sahabat saya yang baru saja mendapat mandate memimpin asosiasi dagang nasional tersebut.
Hari itu saya sedang mengantri untuk terapi sakit di pinggang saya karena salah gerak. Dan sahabat saya tersebut sedang akan membeli alat olah raga yang kebetulan sebelahan dengan tempat terapi saya. baru mendapat kabar dan baru mengucapkan selamat bertugas kepada sahabat saya, ternyata salah satu orang kepercayaannya 15 tahun terakhir atau juga tangan kanan nya ada tepat berdiri dibelakang saya. dan terjadilah dialog ini :
Mas, sudah siap organisasi di tinggalkan RP? Saya langsung tanyakan hal yang menjadi pikiran saya setelah sebelumnya kami berdua saling memberikan kabar singkat.
Lah ini mas, saya sudah menyusun roadmap kedepan tapi saya kok ngak berani mengutarakannya ya? Aku mbok di kasih suntikan jadi orang yang tegas gitu loh sama boss kita itu.
Saya tertawa, karena kata-kata "boss kita" ada benarnya karena kami berdua pernah kerja bareng di bawah boss tersebut, sahabat lama saya tersebut. Dia melanjutkan, perusahaan itu kayak di "kekepin" di ketiaknya mas. Apa saja harus lewat dia, apa saja harus mulai dari dia. Bener-bener top down. Full direction dan full control.
Dia sampai saat ini belum bisa melepas mempercayai team nya. Dia begitu takut jika tidak mengendalikan perusahaannya. Dia juga merasa tidak ada yang bisa menggantikan kemampuannya. Kenapa begitu ya mas?, dia berkomentar dan sekaligus bertanya kepada saya.
Juga dalam bisnis saya merasa dia mulai melakukan pengulangan cara lama dan pola bisnis lama padahal banyak hal baru yang dia segan melakukannya. Atau tidak mau melakukan terobosan baru. Jadi organisasi agak sedikit stagnan, hampir semuanya turun performanya. Dia melanjutkan sedikit komentarnya
Begitu ya mas? Apa sudah kena "Pygmalion syndrome" dia mas? Saya balik bertanya
Pygmalion syndrome iku opo kang mas? Sampean ini kakehan kebanyakan ilmu bisnis sampai saya ngak ngerti istilah Pygmalion iku , katanya dengan gaya solo halus khas kesehariannya.
saya pun mulai bercerita, Iya, ini sedikit hikayat yunani, ada seorang pematung kenamaan bernama Pygmalion. Suatu hari dia membuat patung wanita yang indah dari sebuah gading. Wanita cantik. Ternyata saking cantiknya dia jatuh cinta pada patung tersebut. Dia perhatikan, dia lihatin dia sempurnakan dan dia mintakan kepada dewa agar patung ini bisa hidup.
Pygmalion berdoa amat sangat hingga jagad dewa pun akhirnya menyetujui dan turunlah dewi aphrodite dalam sebuah malam persembahan dan menghidupkan patung indah tersebut menjadi wanita cantik bernama galatea. Dan mereka pun menikah.
Itu cerita singkatnya mas. Kata saya menutup dongeng yunani kuno tersebut.’
O, itu toh Pygmalion syndrome kangmas? Itu ilmu psikologi ya, tanyanya sambil mata berkhayal ngak tau kemana
Bukan, itu karangan saya saja mas, saya jawab sambil tertawa. Bagi saya itu hanya sebuah analogi agar saya bisa memahami sisi sebuah kasus sehingga dengan dongeng, cerita otak, saya bisa memvisualkan. Otak atau pikiran yang bekerja akan lebih gampang berjalan membuat solusi jika sudah terbentuk gambar. Dan dongeng adalah salah satu bentuk komunikasi pikiran yang mudah di cerna pikiran yang bisa membuat sebuah bayangan imaginasi.
Dengan saya asosiasikan peristiwa tadi dengan sebuah cerita Pygmalion dan galatea maka mudah bagi saya mencari solusinya. Itu jika di tanya loh
Jadi solusinya dengan organsasi kita yo opo kangmas? Galateanya si perusahaan bisnis dan posesif nya bos RP semua benar, semua ya bener, sindrom opo tadi, Pygmalion, ya pas sudah.
Seberapa dia berani merusak atau ”break pattern “ terhadap kebiasaan RP mas?
Wah saya ngak bisa bilang pasti. Kalau dalam terobosan bisnis dia jagonya, tapi kalau dalam kerajaan yang dibangunnya warna dan kebiasaan sama dalam 20 tahun ini. Ngak banyak berubah. Yang berubah di maneuver bisnisnya di luaran.
Faham saya, o begitu ya, saya menjawab sambil berfikir.
Tapi bener loh kangmas, saya perlu saran sampeyan sekarang ini.
Begini deh, saya kasih gambaran singkat kemampuan destructive itu harus di lakukan, break pattern itu penting. Ilustrasinya begini :
Sebenarnya salah satu tugas leaders , salah satu tugas utama pemimpin bisnis adalah MERUSAK bisnis.”
Ketika saya bicara seperti itu saya perhatikan wajah sahabat saya heran.
Dalam sebuah periode bisnis seperti sekarang yang serba cepat. Kemampuan adaptasi yang cepat. kini seorang pemimpin bisnis memang tak cukup lagi hanya piawai membangun bisnis, ia juga harus piawai “MERUSAK” bisnis. Steve Jobs piawai “merusak” Apple dari Apple 1.0 yang hampir bangkrut menjadi Apple 2.0 yang gagah perkasa dengan iPod, iPhone, atau App Store-nya. Di Indonesia kita punya Ignatius Jonan yang piawai “merusak” KAI 1.0 yang lelet menjadi KAI 2.0 yang gesit.
Ingat sahabat kita pak Emir Satar ex garuda. Yang di demo pramugari dalam 4 bulan pertamanya bekerja di garuda. Dia menebas salary cap para pramugari, di tahun ke tiga bekerja gajih mereka turun bukan naik. Dengan kata lain pak Emir ingin semua pramugari muda usia, fresh, segar.
Jumlah crew pesawat turun costnya. Lalu dia mempercepat ground handling di darat dengan mesin baru, mahal namun cepat sehinga delay time garuda nyaris nol. Dan membuat market share naik. Itu adalah seorang CEO yang memiliki kemampuan destructive.
Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang dulu hebat seperti Kodak, GM, Nokia, atau Sony terus-menerus babak-belur mengalami kemunduran karena tak kunjung menemukan CEO yang mampu “merusak” fondasi model bisnis yang kini sudah tak relevan lagi.
Karena itu seorang CDO (“Chief Destruction Officer”) kini adalah sosok yang paling diburu perusahaan-perusahaan di seantero jagat raya. Jadi RP saya sarankan mencari seorang CEO yang memiliki kemampuan visoner mengadaptasi 20 tahun kedepan dengan tindakan nyata sekarang. Dan RP harus ikhlas dan memberi izin profesional membuat “sculpture” patung baru. Galatea baru. Dan jangan pernah jatuh cinta kepada karya sendiri. cinta boleh, jangan “jatuh”. Saya mendongeng lagi sambil berfilosofi.
Mau contoh lain lagi? Layanan surat pos “mati” dimakan killer app baru seperti email, SMS, dan ATM.
Kodak yang lebih seratus tahun perkasa kemudian “dihabisi” oleh layanan photo sharing yang diberikan perusahaan start-up anak kemarin sore seperti Instagram. Toko kaset legendaris Aquarius Mahakam di Blok M tutup “dibunuh” platform baru seperti iPod-App Store,menyedihkan?!.
Untuk bisa survive di tengah perubahan yang kaotik tersebut kuncinya terletak pada satu kata: “PENGHANCURAN”. Untuk sukses di era light-speed changes Kita tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu kita: “break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang.
Salah satu solusi Pygmalion syndrome harus diberikan obat penawar dengan membuat organisasi di pimpin professional baru yang memiliki kemampuan men-destruc dan meng-constuct baru. Memiliki kemampuan merusak semua yang tidak relevan dan membangun galatea baru yang sesuai jaman.
Emang ada orang dipasar yang available seperti itu mas? Tanya nya lagi.
Ada, kalau RP mau. Saya memberikan nama sahabat baik saya. seorang CEO handal, pernah di indosat, dan excelcomindo. Tamatan ITB Harvard business school. CEO caliber. Kalau saya hubungi pasti dia mau, setidaknya menjadi perhatian. Bagaimana? Ok mas, namaku di panggil aku tak masuk dulu terapi ya. Suwon, keep in touch kata saya sambil pamit, salaman dan bergerak masuk keruang terapi. # may peace be upon us
Minggu, 29 November 2015
“ Untuk apa kamu bertanya jika kamu tahu jawabnya, IYA “
“ Untuk apa kamu bertanya jika kamu tahu jawabnya, IYA “
Ada peristiwa yang terjadi 2 minggu yang lalu yang cukup membekas dan jarang terjadi dalam kehidupan saya. Biasanya saya bisa move on dengan cepat, namun kali ini dalam 2minggu ada lebih dari 5 kali saya mengulangi menceritakan hal tersebut kepada para kolega. Dan ini mendapat komentar, wah kayaknya dalem banget ya mas, sampai anda ngak bisa “move on” begitu?!. Itu komentar dari kolega saya yang mungkin gerah karena mendengar complain an saya yang lebih dari 5 kali dengan berbagai sudut bicaranya.
Intinya, saya sebel dan ngak bisa move on cepet. Mangkel dan masih di pegangin di genggam terus kesal tersebut.
Kita tahu, dalam dunia bisnis itu lingkupnya kecil. Kalau anda bermain misalnya di dunia pelatihan, maka anda bisa menyebut 10-20 nama trainer yang memiliki pendapatan bersih 5 milyar setahun. Dan ke 20 orang tersebut pasti saling kenal. Artinya top triner tersebut saling mengenal dan menghormati satu dengan lainnya.
Mungkin satu sama lain tak bersenyawa kimianya, atau tidak kenal benar namun secara garis besar pasti membentuk aliansi sendiri yang berkumpul dengan kemiripan karakter atau “passion” yang sama. Di kelompok 20 orang tersebut akan membentuk dengan sendirinya 3-4 kelompok kecil yang walaupun tidak bergabung namun bisa terlihat mereka saling memuji. Saling beraliansi.
Di kelompok lainnya selain yang chemistry nya nyambung tidak pernah di sebutnya. Misalnya saya deh dalam dunia pelatihan sering memuji pak Yan Nurindra, kang Asep Hairul Gani, mas Ronny Ronodirdjo, dan banyak lagi..itu karena saya nyaman dengan mereka. Sehingga kalau orang menilai, saya memang mahzab mereka (kesannya namun saya akui, iya saya nyaman dengan mereka).
Misalnya lain lagi, terjadi di dunia bisnis property. Pemain property atau developer ada puluhan yang besar tambah yang menengah ada ratusan. Ada yang memuji lippo, ada yang memuji ciputra, ada yang memuji agung sedayu, ada yang memuji agung podomoro.
Kemiripan karakter dengan anda membuat anda menyukai salah satu, atau salah dua mogul bisnis property itu. Bahkan pemain menengah dan developer kecil pun membentuk aliansi. Saling mereferensi mandor, tukang, bohir, hingga toko material favorit. Bahkan, anda secara tidak sadar ternyata hanya memberi informasi kepada yang chemistry nya nyambung dengan anda. Coba anda perhatikan.
Nah, cerita di atas dimana saya mendadak ngak bisa move on cepat adalah sama seperti cerita tentang aliansi tidak tertulis di dua contoh di atas. Dalam bisnis yang saya geluti selama 25 tahun ini pemainnya lebih sedikit lagi. Maka jika anda 25 tahun di bidang yang sma akan ketemu dengan orang-orang yang sama. Setidakny beririsan dengan orang yang itu-itu juga.
Disana pasti ada persepsi tentang anda. Seperti persepsi orang akan saya misalnya. Pasti ada yang biasa saja, ada yang setuju, ada yang berlawanan atau tidak suka dengan saya. Itu wajar , itu hal biasa, common practice. Ngak usah di bawa ke hati.
Jadi, kalau anda berbisnis lalu ada orang yang mengatakan pak, kenal pak fulan? Maka kita harus hati-hati. Orang yang bertanya tersebut bisa saja pengagum orang tersebut atau orang yang berlawanan tidak suka dengan fulan. Maka jawaban aman kalau kenal katakan. saya kenal, namun kalau di tanya pendapat, bagaimana pendapat anda akan fulan? Lebih baik anda jawab netral. Saya belum kenal jauh sih, hanya sebatas kenalan!!
Lebih baik kita tanya dia balik, kalau anda pendapatnya bagaimana tentang fulan? Sehingga kita tahu posisinya yang pasti. jangan di teruskan kalau negative, nanti jadi ghibah bahkan fitnah. Hanyabiar tahu positioning. Itu saja.
Sewaktu peristiwa 2 minggu yang lalu terjadi dengan saya adalah, saya punya kartu ace. Yaitu sahabat yang saya anggap mumpuni, sangat capable dan good person. Sukses dan menjadi public figure yang membuktikan dirinya berhasil di usia muda memiliki rekam jejak bisnis hebat.
Kenapa saya sebut kartu ace, karena dia mau saya jadikan solusi terakhir bisnis saya. Didalam bisnis, karena suatu dan lain hal, bisnis anda bisa berjalan kalau anda bermitra. Mitra itu banyak manfaat, bisa mebagi resiko, bisa meningkatkan jualan karena bertambah networknya, jaringannya. Karena itu saya mau pakai sang kartu ace ini.
Di salah satu bisnis saya, saya pikir ada baiknya bermitra dengan dia, sang kartu ace ini. Itu ada di belak saya sejak 3 bulan terakhir hingga akhirnya saya putuskan, Saya pun menelfonya yang di jawab dengan santun, bisa mas, jam 5 di kantor saya ya, di kuningan. Ok. Done, jawab saya, sampai ketemu. Sebelum menutup telefon dia bertanya, maaf mas, bidang apa yang akan kita bicarakan ini?
Yang saya jawab, iya dunia saya lah, saya khan dari dulu yaitu-itu saja. Lalu di jawab olehnya, baik kalau begitu, saya kenalin dengan mitra saya juga, karena dia bisa cepet nyambung dnegan dunia mas wowiek.
Ok, saya jawab cepat.
Keesokan harinya saya menuju kantornya di lantai 16 di sudut jalan kuningan raya, dimana disambut resepsionis di depan yang mengantar saya kesebuah ruang meeting kaca yang memberikan view pemandangan ke arah jalan sudirman. Arah sunset, keren pemandang ruangan tersebut. Sampai ketika saya perhatikan seseroang yang duduk di ruangan tersebut sendirian.
Saya terkejut, lah kenapa ada orang ini ya?
Asli saya terkejut..inikah orang yang akan bertemu dengan saya juga dan si kartu ace atau dia hanya tamu lainnya? Itu pikiran yang berkecamuk dalam hati saya.
Sampai sapaan dan senyuman terbuka dari mulutnya, hai brader wowiek apa kabar? Lama ngak bertemu nih..jadi kita nih yang mau dikenalin? Yaa..kita mas sudah kenal lama..
Dia nyerocos yang membuat saya memainkan drama. Wajah saya tersenyum, seluruh body language saya lincah bergerak, tawa canda kometar basa basi mengalir keluar dari lidah saya, namun dalam hati kecil saya//ngak salah nih? Masak sih? Kok dia? Salah kali nih?..
Wah nambah sukses nih si boss, kalimat ini keluar deras dari mulut saya tanpa jeda. Bojonegoro sukses ya, selamet ya boss..hebat anda!..
Yang di jawab dengan tersipu-sipu bangga. Ah, biasa aja, masih merayap, katanya lagi..saya terus memujinya, ..saya harus belajar nih boss?! Dan, dalam hati saya dah ngapin sih dia disini? Di mulut saya keluar tetap kalimat basa basi. selama buat orang senang ya ngak apa-apalah. Dari pada saya jutekin.
Tak lama, sang kartu ace datang membuka pintu dengan pertanyaan, loh sudah kenal toh?
Saya jawab, iya dari tahun 2007 kami bermitra bersama sampai sekarang. Sama seperti mas dengan dia di bojonegoro, saya mencoba menjelaskan posisi mitranya yang ternyata posisi kita berdua sama. Saya dan sang bapak tadi mitra di perusahaan A, bapak tadi dengan kartu ace mitra di perusahaan B.
Dan saya baru tahu saat itu, saat pertemuan. Dan sang kartu ace bertanya, jadi apa yang bisa kita sinergi kan mas kedepan? Khan enak kita sudahs aling kenal begini..
Saya yang bingung menjelaskan apa yang bercamuk dalam hati saya. saya mau dengan kartu ace dan tidak mau dengan tuan B di depan saya ini, walaupun saya ngak ada masalah dengan dia, yang selanjutnya kita sebut dia dengan sebutan tuan “budi” ini. Namun…dia dikenal sangat notorious, belagu, sombong, keras kepala, sok tahu, besar omong. Dan itu kata orang dan itu pesepsi kebanyakan kolega atas image tuan “budi” ini.
Saya tidak bermasalah, kartu ace juga tidak bermasalah.
Saya posisinya bingung, karena siapa yang bermasalah dengan tuan “budi”, yaitu 2 mitra saya yang di perusahaan yang mau saya mitrakan dengan kartu ace yang pernah punya masalah dengan tuan budi ini. Sangat parah, sangat fundamental. Yang kerja siapa, di aku oleh tuan budi ini. Dan karena sudah tanda tangan kontrak yang didapat oleh mitra saya namun di laksakan oleh tuan budi ini, tanpa membagi haknya ke mitra saya membuat kesal mitra saya, dan banyak kejadian sperti ini juga di orang lain.
Saya tahu kalu saya lapor ada tuan budi ada bersama di kartu ace kepada mitra saya, dia pasti bilang..mundur aja mas!
Saya sendiri kalau di cari cari alas an, tidak nyaman dengan gaya belagu snop sombongnya.. Dia kalau panggil orang dengan sebut nama, ngak pakai pak, ngak pakai mas. Bahkan ke yang lebih tua di sebut nama. Misalnya dia umur 5o tahun, ada temanya umur 60 tahun, disebut nama saja, misalnya tuan tommy, ya si tommy atau tom, lu khan..gw khan..pakai bahasa umum, jalanan. Kalau ngomong di ruang meeting suara keras, mendominasi pembicaraan dan menggoblok-goblokin orang lain.
Otak saya masih berusaha mencari kenapa kartu ace bisa percaya dia?. Kartu ace berkata. Saya sudah bermitra dari 2012 ya pak, katanya sembari menengok ke tuan budi yang diangguk oleh tuan budi. Dia guru saya nih di dunia ini, kata kartu ace ke tuan budi. Saya sampai bengong dengan pernyataan itu. Walah..kok bisa ya?
Tak lama tuan budi berkata, begini mas ace..what?! kata saya dalam hati dia menyebut mas ace?! Saya geleng-geleng ngak percaya memastikan ini bukan mimpi. “mas”!1…istimewa sekali!! Yang dilanjutkan kalimat tuan budi, mas ace, “budi” khan kalau bisnis selalu memahami sisi…, jadi “budi…”, bener loh ”budi” tuh..
Saya sudah tidak bisa dengar cerita tuan budi karena otak saya “hang”..tuan budi menyebut dirinya “budi” di setiap kalimat keluar dari dirinya..dan menyebut kata “mas” kepada kartu ace..walah..gubrak saya..orang ini saya kenal 8 tahun, kami bermitra sangat kental, ngak pernah begini nih cara ngomongnya..ini buaya, apa aslinya..saya asli geleng-geleng..ok ok, you are good! Hebat pak budi, hebat tuan budi…dua tangan saya membungkuk di hadapan tuan budi..dan itu tidak terlihat karena semua tervisual dalam pikiran saya saja.
Suara lamunan di kepala saya terpecah, dengan pertnyaan kartu ace, mas, jadi apa nih yang bisa kita sinergikan. Yang saya jawab..begini mas, ini sudah waktu magrib, kita sholat dulu, nanti kita lanjutkan karena panjang nih ceritanya. Lalu di jawab kartu ace, tapi saya sudah ada skedul meeting lagi setelah magriban, bagaimana dong?.
O gitu, ya boleh kita set another meeting mas? Sekarang kita silaturahmi say hi aja dulu deh..ya ya setuju jawab kartu ace.
Padahal saya mau lari, mau mundur dan tidak mau kalau ada tuan budi. Intinya kita set waktu lain, bulan depan,,gapapa lah. Namun dia mengingatkan bahwa tuan budi hadir loh, dia orang yang saya percayai untuk bisnis bareng mas wowiek.
Jleb!!, berasa di tonjok Manny paquaio ulu hati saya..siyaaaap, lidah saya terucap. Namun dalam hati..kok bisa sih? Ngak terima saya! heran saya! gumun saya! bingung saya!..kartu ace saya hilang, langsung samar-samar impian saya. yang hal ini saya ceritakan lebih 5 kali dalam 2 minggu ini kehampir semua kolega saya. dan saya tulis dalam tulisan ini untuk move on, saya ngak mau bicarakan lagi. ini hanya catatan, yang menunujukan satu hal…kemampuannya menjadi “bunglon” tuan budi, ribuan kali di atas kemampuan saya. pak budi champion!! # peace be upon us
Ada peristiwa yang terjadi 2 minggu yang lalu yang cukup membekas dan jarang terjadi dalam kehidupan saya. Biasanya saya bisa move on dengan cepat, namun kali ini dalam 2minggu ada lebih dari 5 kali saya mengulangi menceritakan hal tersebut kepada para kolega. Dan ini mendapat komentar, wah kayaknya dalem banget ya mas, sampai anda ngak bisa “move on” begitu?!. Itu komentar dari kolega saya yang mungkin gerah karena mendengar complain an saya yang lebih dari 5 kali dengan berbagai sudut bicaranya.
Intinya, saya sebel dan ngak bisa move on cepet. Mangkel dan masih di pegangin di genggam terus kesal tersebut.
Kita tahu, dalam dunia bisnis itu lingkupnya kecil. Kalau anda bermain misalnya di dunia pelatihan, maka anda bisa menyebut 10-20 nama trainer yang memiliki pendapatan bersih 5 milyar setahun. Dan ke 20 orang tersebut pasti saling kenal. Artinya top triner tersebut saling mengenal dan menghormati satu dengan lainnya.
Mungkin satu sama lain tak bersenyawa kimianya, atau tidak kenal benar namun secara garis besar pasti membentuk aliansi sendiri yang berkumpul dengan kemiripan karakter atau “passion” yang sama. Di kelompok 20 orang tersebut akan membentuk dengan sendirinya 3-4 kelompok kecil yang walaupun tidak bergabung namun bisa terlihat mereka saling memuji. Saling beraliansi.
Di kelompok lainnya selain yang chemistry nya nyambung tidak pernah di sebutnya. Misalnya saya deh dalam dunia pelatihan sering memuji pak Yan Nurindra, kang Asep Hairul Gani, mas Ronny Ronodirdjo, dan banyak lagi..itu karena saya nyaman dengan mereka. Sehingga kalau orang menilai, saya memang mahzab mereka (kesannya namun saya akui, iya saya nyaman dengan mereka).
Misalnya lain lagi, terjadi di dunia bisnis property. Pemain property atau developer ada puluhan yang besar tambah yang menengah ada ratusan. Ada yang memuji lippo, ada yang memuji ciputra, ada yang memuji agung sedayu, ada yang memuji agung podomoro.
Kemiripan karakter dengan anda membuat anda menyukai salah satu, atau salah dua mogul bisnis property itu. Bahkan pemain menengah dan developer kecil pun membentuk aliansi. Saling mereferensi mandor, tukang, bohir, hingga toko material favorit. Bahkan, anda secara tidak sadar ternyata hanya memberi informasi kepada yang chemistry nya nyambung dengan anda. Coba anda perhatikan.
Nah, cerita di atas dimana saya mendadak ngak bisa move on cepat adalah sama seperti cerita tentang aliansi tidak tertulis di dua contoh di atas. Dalam bisnis yang saya geluti selama 25 tahun ini pemainnya lebih sedikit lagi. Maka jika anda 25 tahun di bidang yang sma akan ketemu dengan orang-orang yang sama. Setidakny beririsan dengan orang yang itu-itu juga.
Disana pasti ada persepsi tentang anda. Seperti persepsi orang akan saya misalnya. Pasti ada yang biasa saja, ada yang setuju, ada yang berlawanan atau tidak suka dengan saya. Itu wajar , itu hal biasa, common practice. Ngak usah di bawa ke hati.
Jadi, kalau anda berbisnis lalu ada orang yang mengatakan pak, kenal pak fulan? Maka kita harus hati-hati. Orang yang bertanya tersebut bisa saja pengagum orang tersebut atau orang yang berlawanan tidak suka dengan fulan. Maka jawaban aman kalau kenal katakan. saya kenal, namun kalau di tanya pendapat, bagaimana pendapat anda akan fulan? Lebih baik anda jawab netral. Saya belum kenal jauh sih, hanya sebatas kenalan!!
Lebih baik kita tanya dia balik, kalau anda pendapatnya bagaimana tentang fulan? Sehingga kita tahu posisinya yang pasti. jangan di teruskan kalau negative, nanti jadi ghibah bahkan fitnah. Hanyabiar tahu positioning. Itu saja.
Sewaktu peristiwa 2 minggu yang lalu terjadi dengan saya adalah, saya punya kartu ace. Yaitu sahabat yang saya anggap mumpuni, sangat capable dan good person. Sukses dan menjadi public figure yang membuktikan dirinya berhasil di usia muda memiliki rekam jejak bisnis hebat.
Kenapa saya sebut kartu ace, karena dia mau saya jadikan solusi terakhir bisnis saya. Didalam bisnis, karena suatu dan lain hal, bisnis anda bisa berjalan kalau anda bermitra. Mitra itu banyak manfaat, bisa mebagi resiko, bisa meningkatkan jualan karena bertambah networknya, jaringannya. Karena itu saya mau pakai sang kartu ace ini.
Di salah satu bisnis saya, saya pikir ada baiknya bermitra dengan dia, sang kartu ace ini. Itu ada di belak saya sejak 3 bulan terakhir hingga akhirnya saya putuskan, Saya pun menelfonya yang di jawab dengan santun, bisa mas, jam 5 di kantor saya ya, di kuningan. Ok. Done, jawab saya, sampai ketemu. Sebelum menutup telefon dia bertanya, maaf mas, bidang apa yang akan kita bicarakan ini?
Yang saya jawab, iya dunia saya lah, saya khan dari dulu yaitu-itu saja. Lalu di jawab olehnya, baik kalau begitu, saya kenalin dengan mitra saya juga, karena dia bisa cepet nyambung dnegan dunia mas wowiek.
Ok, saya jawab cepat.
Keesokan harinya saya menuju kantornya di lantai 16 di sudut jalan kuningan raya, dimana disambut resepsionis di depan yang mengantar saya kesebuah ruang meeting kaca yang memberikan view pemandangan ke arah jalan sudirman. Arah sunset, keren pemandang ruangan tersebut. Sampai ketika saya perhatikan seseroang yang duduk di ruangan tersebut sendirian.
Saya terkejut, lah kenapa ada orang ini ya?
Asli saya terkejut..inikah orang yang akan bertemu dengan saya juga dan si kartu ace atau dia hanya tamu lainnya? Itu pikiran yang berkecamuk dalam hati saya.
Sampai sapaan dan senyuman terbuka dari mulutnya, hai brader wowiek apa kabar? Lama ngak bertemu nih..jadi kita nih yang mau dikenalin? Yaa..kita mas sudah kenal lama..
Dia nyerocos yang membuat saya memainkan drama. Wajah saya tersenyum, seluruh body language saya lincah bergerak, tawa canda kometar basa basi mengalir keluar dari lidah saya, namun dalam hati kecil saya//ngak salah nih? Masak sih? Kok dia? Salah kali nih?..
Wah nambah sukses nih si boss, kalimat ini keluar deras dari mulut saya tanpa jeda. Bojonegoro sukses ya, selamet ya boss..hebat anda!..
Yang di jawab dengan tersipu-sipu bangga. Ah, biasa aja, masih merayap, katanya lagi..saya terus memujinya, ..saya harus belajar nih boss?! Dan, dalam hati saya dah ngapin sih dia disini? Di mulut saya keluar tetap kalimat basa basi. selama buat orang senang ya ngak apa-apalah. Dari pada saya jutekin.
Tak lama, sang kartu ace datang membuka pintu dengan pertanyaan, loh sudah kenal toh?
Saya jawab, iya dari tahun 2007 kami bermitra bersama sampai sekarang. Sama seperti mas dengan dia di bojonegoro, saya mencoba menjelaskan posisi mitranya yang ternyata posisi kita berdua sama. Saya dan sang bapak tadi mitra di perusahaan A, bapak tadi dengan kartu ace mitra di perusahaan B.
Dan saya baru tahu saat itu, saat pertemuan. Dan sang kartu ace bertanya, jadi apa yang bisa kita sinergi kan mas kedepan? Khan enak kita sudahs aling kenal begini..
Saya yang bingung menjelaskan apa yang bercamuk dalam hati saya. saya mau dengan kartu ace dan tidak mau dengan tuan B di depan saya ini, walaupun saya ngak ada masalah dengan dia, yang selanjutnya kita sebut dia dengan sebutan tuan “budi” ini. Namun…dia dikenal sangat notorious, belagu, sombong, keras kepala, sok tahu, besar omong. Dan itu kata orang dan itu pesepsi kebanyakan kolega atas image tuan “budi” ini.
Saya tidak bermasalah, kartu ace juga tidak bermasalah.
Saya posisinya bingung, karena siapa yang bermasalah dengan tuan “budi”, yaitu 2 mitra saya yang di perusahaan yang mau saya mitrakan dengan kartu ace yang pernah punya masalah dengan tuan budi ini. Sangat parah, sangat fundamental. Yang kerja siapa, di aku oleh tuan budi ini. Dan karena sudah tanda tangan kontrak yang didapat oleh mitra saya namun di laksakan oleh tuan budi ini, tanpa membagi haknya ke mitra saya membuat kesal mitra saya, dan banyak kejadian sperti ini juga di orang lain.
Saya tahu kalu saya lapor ada tuan budi ada bersama di kartu ace kepada mitra saya, dia pasti bilang..mundur aja mas!
Saya sendiri kalau di cari cari alas an, tidak nyaman dengan gaya belagu snop sombongnya.. Dia kalau panggil orang dengan sebut nama, ngak pakai pak, ngak pakai mas. Bahkan ke yang lebih tua di sebut nama. Misalnya dia umur 5o tahun, ada temanya umur 60 tahun, disebut nama saja, misalnya tuan tommy, ya si tommy atau tom, lu khan..gw khan..pakai bahasa umum, jalanan. Kalau ngomong di ruang meeting suara keras, mendominasi pembicaraan dan menggoblok-goblokin orang lain.
Otak saya masih berusaha mencari kenapa kartu ace bisa percaya dia?. Kartu ace berkata. Saya sudah bermitra dari 2012 ya pak, katanya sembari menengok ke tuan budi yang diangguk oleh tuan budi. Dia guru saya nih di dunia ini, kata kartu ace ke tuan budi. Saya sampai bengong dengan pernyataan itu. Walah..kok bisa ya?
Tak lama tuan budi berkata, begini mas ace..what?! kata saya dalam hati dia menyebut mas ace?! Saya geleng-geleng ngak percaya memastikan ini bukan mimpi. “mas”!1…istimewa sekali!! Yang dilanjutkan kalimat tuan budi, mas ace, “budi” khan kalau bisnis selalu memahami sisi…, jadi “budi…”, bener loh ”budi” tuh..
Saya sudah tidak bisa dengar cerita tuan budi karena otak saya “hang”..tuan budi menyebut dirinya “budi” di setiap kalimat keluar dari dirinya..dan menyebut kata “mas” kepada kartu ace..walah..gubrak saya..orang ini saya kenal 8 tahun, kami bermitra sangat kental, ngak pernah begini nih cara ngomongnya..ini buaya, apa aslinya..saya asli geleng-geleng..ok ok, you are good! Hebat pak budi, hebat tuan budi…dua tangan saya membungkuk di hadapan tuan budi..dan itu tidak terlihat karena semua tervisual dalam pikiran saya saja.
Suara lamunan di kepala saya terpecah, dengan pertnyaan kartu ace, mas, jadi apa nih yang bisa kita sinergikan. Yang saya jawab..begini mas, ini sudah waktu magrib, kita sholat dulu, nanti kita lanjutkan karena panjang nih ceritanya. Lalu di jawab kartu ace, tapi saya sudah ada skedul meeting lagi setelah magriban, bagaimana dong?.
O gitu, ya boleh kita set another meeting mas? Sekarang kita silaturahmi say hi aja dulu deh..ya ya setuju jawab kartu ace.
Padahal saya mau lari, mau mundur dan tidak mau kalau ada tuan budi. Intinya kita set waktu lain, bulan depan,,gapapa lah. Namun dia mengingatkan bahwa tuan budi hadir loh, dia orang yang saya percayai untuk bisnis bareng mas wowiek.
Jleb!!, berasa di tonjok Manny paquaio ulu hati saya..siyaaaap, lidah saya terucap. Namun dalam hati..kok bisa sih? Ngak terima saya! heran saya! gumun saya! bingung saya!..kartu ace saya hilang, langsung samar-samar impian saya. yang hal ini saya ceritakan lebih 5 kali dalam 2 minggu ini kehampir semua kolega saya. dan saya tulis dalam tulisan ini untuk move on, saya ngak mau bicarakan lagi. ini hanya catatan, yang menunujukan satu hal…kemampuannya menjadi “bunglon” tuan budi, ribuan kali di atas kemampuan saya. pak budi champion!! # peace be upon us
Dan apa sih yang kita bisa sombongkan di hadapan Tuhan?”
dan apa sih yang kita bisa sombongkan di hadapan Tuhan?”
Ini semua di ambil oleh pemerintah china pak? Kami hanya produksi saja terus nanti ada badan pemerintah yang membeli. Demikian seorang china yang bisa berbicara bahasa indonesia cukup lancar walau tidak pernah keindonesia ketika beberapa tahun yang lalu saya belanja toilet di sana menjawab pertanyaan saya.
Jalan hanya 1 jam melewati kota pelabuhan shenzhen. Sampailah kami pada sebuah kota yang semuanya terdiri dari bangunan ruko tiga lantai. Mungkin bukan kota, desa, kecil banget kok . namun Hebatnya adalah desa tersebut memproduksi hal yang sama, yaitu wc toilet. Satu desa, memproduksi barang yang sama tersebut.
Kalau boleh memberikan ilustrasi agar bisa mebayangkan daerah tersebut adalah seperti ini. jajaran ruko berbaris berlapis lurus panjang, semua sama kefungsiannya. Setiap rumah anda akan melihat, Lantai bawah show room, di atasnya tempat produksi dan di atasnya lagi rumah tinggal. Semua sama, semodel hanya produksinya berbeda bentuk. Saya tidak dapat menghitung berapa jumlah ruko atau rumah produksi itu namun kalau 1000 ruko rasanya ada kali.
Hal yang menarik pertama selain produsen toliet bagi saya adalah mereka memanfaatkan ketiga level bangunan tersebut secara utuh, sementara kalau saya inget di tanah air tercinta, bangunan ruko 3 atau 4 lantai kebanyakan ke isi 2 lantai saja, sisanya idle, kosong.
Kembali ke ruko 1000 unit di desa tersebut, bayangkan kalau misalnya satu hari mereka produksi membuat 5-8 unit toilet ada 5000 – 8000 toilet per hari di produksi. Dan kalimat di atas tadi adalah jawaban atas pertanyaan saya.ketika saya bertanya, pak. Ini siapa yang beli produksi toilet nya? jual kemana?
Rupanya ada sejenis “bulog nya china” yang khusus membeli barang produksi dari “small home indsutry” di china. Sehingga mereka hanya fokus di produksi. Urusan jualan diambil oleg bulognya misalnya untuk urusan produksi WC toilet ini. Dan kata mereka, lembaga penyangga badan usaha milik negara perdagangan tersebut ada banyak, ada ratusan. Ada berbagai bidang yang semua di beli oleh pemerintah jika tidak laku atau sebagai badan penyangga produksi.
Bagi saya ini sangat menginspirasi. Bangsa china hanya fokus di produksi, titik. Kalau belum bisa dagang atau menjual maka akan di beli oleh pemerintah dengan harga standar, dan pasti tidak rugi. Namun jika ada pembeli langsung mereka bisa deal langsung. Menjual kepada buyer yang kebanyakan adalah dari negara luar. Pemerintah hadir dalam setiap industri di sana.
Sementara di china dengan 1,2 milyar penduduk. Kalau sekedar 1 daerah menghasil 5000 – 8000 wc toilet , pasti kecil hal itu. Pasti habis tertelan di pasar lokal sendiri. Tapi ide badan penyangga ini membuat semua orang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tanpa takut produk tidak ada yang ambil.
Pemerintah hadir mengawal hasil rakyat. Yang ternyata setelah saya tanya lebih dalam lagi , pemerintah juga terus mengadakan pelatihan, penyuluhan atas standar produksi. Yang pasti agar produsen dan produksi makin baik, itu tujuannya.
Mata dari badan penyangga tersebut sangat tajam. Mutu produksi yang rendah di bayar di bawah harga pasar, harga pokok. Tapi kalau jelek sama sekali tidak layak ya baru tidak dibeli. Jadi ada standar mutu juga, ada grading juga. Dan itu bagus.
Sekarang mengapa saya ke desa itu? Kenapa saya ke china? Pikiran saya nomor satu adalah saya ingin mutu bintang 5 seperti grohe untuk toilet di hotel saya. Dan pastinya harga ya ngak mau bintang 5. Di sisi lain saya ingin pakai grohe, ntapi harganya muahal buanget. Di banding barang china, Grohe juga produk import. Maka saya ke china, cari bowl toilet, yang mirip grohe, KW1 tentunya ternyata harganya hanya 20%. Hanya keramik bowl dan sejenisnya yang saya beli, sistem alat mechanicnya tetap original alias tetap saya pergunakan grohe yang asli. Saya kawinkan.
Urusan rotating dan pnenumatic tetap menggunakan eropa. Yang statis bolehlah barang china. Dan barang statis biasanya 80% dari sebuah benda oepration khan. Jadi bisa di bayangkan berapa kita berhemat?
Jika di jumlahkan maka harga saya membelinya hanya 40% dari harga publiknya toilet bintang 5 , Grohe tersebut.kalau di lihat secara kasat mata hampir tidak bisa membedakan, kalau dipergunakan ya memang grohe. Untuk 120 unit toilet set khan mending saya import dari china?! namun mutu tetap eropa, plus hemant 60% karena harga 40%, itu sudah dengan ongkos kirim.
Peristiwa inilah yang membuat saya menulis tulisan ini. Dimana saya baru saja mendapat laporan dari progress bisnis hotel kami di cepu. Arra Amandaru cepu yang sudah menginjak tahun ke tiga sekarang. Dengan barang kombinasi WC toilet china german tersebut dan sejauh ini tidak ada keluhan dari pelanggan.
Zero complain adalah sebuah prestasi. Dari sebuah keputusan kontroversi awalnya. Namun mencari harga termurah, mutu terbaik, waktu tercepat adalah seni berbisnis. Grohe KW china tersebut berhasil. “So far so good”. awalnya pasti di tentang , lah memang ngak umum, tapi yang penting di awal saya percaya, hal ini bisa di lakukan, “do able”. Walau hanya intuisi, namun ada logika “common sense” nya juga.
Terlepas dari cara nyleneh dalam pembelian alat toilet tersebut, yang membuat saya selalu teringat adalah dalam hubungannya dengan china tersebut adalah strategi pemerintah yang melakukan “buy back” atas hasil home industry.
Karena tak jauh dari desa tersebut, desa Chaozou kalau tidak salah ada desa yang memproduksi alat pertanian, mesin bajak sawah pakai tangan. Itupun di sangga pemerintah secara harian untuk menampung produksi home industry tersebut.
Badan usaha perdagangan miliki pemerintah tersebut semacam VOC nya belanda dahulu. Tugasnya membeli produksi rakyat dan menjualkan ke market internasional dengan harga bulk, borongan. Walau kenyataanya, kebutuhan lokalnya pun belum bisa terpenuhi. Hal ini membuat kestabilan berbisnis.
Saya suka sekali strategi itu, bukan apa-apa sih sebenarnya. Karena, saya ini merasa, dalam bisnis banyak hal yang rumit dan panjang mata rantainya seperti SDM, bahan baku, material produksi, mutu, distribusi, merek, pemasaran dan penjulan, banyak banget lainnya lagi. Dan itu adalah hanya untuk satu buah produksi. Katakanlah ballpoin saja. Panjang banget dari proses material awal hingga sampai di tangan anda.
Dan, kalau sebagai pebisnis hal itu bisa di kurangi, misalnya penjual dan distribusi di ambil. Maka fokus kita bisa tinggal 60% namun di curahkan perhatian 100%. Ya pasti saja produksinya secara mutu meningkat, atau secara produksi bisa lebih cepat. Ini cara pintar, sementara, di perusahaan yang milik pemerintah tadi, fokusnya hanya berdagang dan distribusi. Persis seperti unilever, hanya menjadi marketing arms saja. Tentu fokus dan kompetitif bisnis jadinya. Ngak kebayang kalau ada lembaga tersebut di Indonesia ya? . # may peace be upon us
Ini semua di ambil oleh pemerintah china pak? Kami hanya produksi saja terus nanti ada badan pemerintah yang membeli. Demikian seorang china yang bisa berbicara bahasa indonesia cukup lancar walau tidak pernah keindonesia ketika beberapa tahun yang lalu saya belanja toilet di sana menjawab pertanyaan saya.
Jalan hanya 1 jam melewati kota pelabuhan shenzhen. Sampailah kami pada sebuah kota yang semuanya terdiri dari bangunan ruko tiga lantai. Mungkin bukan kota, desa, kecil banget kok . namun Hebatnya adalah desa tersebut memproduksi hal yang sama, yaitu wc toilet. Satu desa, memproduksi barang yang sama tersebut.
Kalau boleh memberikan ilustrasi agar bisa mebayangkan daerah tersebut adalah seperti ini. jajaran ruko berbaris berlapis lurus panjang, semua sama kefungsiannya. Setiap rumah anda akan melihat, Lantai bawah show room, di atasnya tempat produksi dan di atasnya lagi rumah tinggal. Semua sama, semodel hanya produksinya berbeda bentuk. Saya tidak dapat menghitung berapa jumlah ruko atau rumah produksi itu namun kalau 1000 ruko rasanya ada kali.
Hal yang menarik pertama selain produsen toliet bagi saya adalah mereka memanfaatkan ketiga level bangunan tersebut secara utuh, sementara kalau saya inget di tanah air tercinta, bangunan ruko 3 atau 4 lantai kebanyakan ke isi 2 lantai saja, sisanya idle, kosong.
Kembali ke ruko 1000 unit di desa tersebut, bayangkan kalau misalnya satu hari mereka produksi membuat 5-8 unit toilet ada 5000 – 8000 toilet per hari di produksi. Dan kalimat di atas tadi adalah jawaban atas pertanyaan saya.ketika saya bertanya, pak. Ini siapa yang beli produksi toilet nya? jual kemana?
Rupanya ada sejenis “bulog nya china” yang khusus membeli barang produksi dari “small home indsutry” di china. Sehingga mereka hanya fokus di produksi. Urusan jualan diambil oleg bulognya misalnya untuk urusan produksi WC toilet ini. Dan kata mereka, lembaga penyangga badan usaha milik negara perdagangan tersebut ada banyak, ada ratusan. Ada berbagai bidang yang semua di beli oleh pemerintah jika tidak laku atau sebagai badan penyangga produksi.
Bagi saya ini sangat menginspirasi. Bangsa china hanya fokus di produksi, titik. Kalau belum bisa dagang atau menjual maka akan di beli oleh pemerintah dengan harga standar, dan pasti tidak rugi. Namun jika ada pembeli langsung mereka bisa deal langsung. Menjual kepada buyer yang kebanyakan adalah dari negara luar. Pemerintah hadir dalam setiap industri di sana.
Sementara di china dengan 1,2 milyar penduduk. Kalau sekedar 1 daerah menghasil 5000 – 8000 wc toilet , pasti kecil hal itu. Pasti habis tertelan di pasar lokal sendiri. Tapi ide badan penyangga ini membuat semua orang bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Tanpa takut produk tidak ada yang ambil.
Pemerintah hadir mengawal hasil rakyat. Yang ternyata setelah saya tanya lebih dalam lagi , pemerintah juga terus mengadakan pelatihan, penyuluhan atas standar produksi. Yang pasti agar produsen dan produksi makin baik, itu tujuannya.
Mata dari badan penyangga tersebut sangat tajam. Mutu produksi yang rendah di bayar di bawah harga pasar, harga pokok. Tapi kalau jelek sama sekali tidak layak ya baru tidak dibeli. Jadi ada standar mutu juga, ada grading juga. Dan itu bagus.
Sekarang mengapa saya ke desa itu? Kenapa saya ke china? Pikiran saya nomor satu adalah saya ingin mutu bintang 5 seperti grohe untuk toilet di hotel saya. Dan pastinya harga ya ngak mau bintang 5. Di sisi lain saya ingin pakai grohe, ntapi harganya muahal buanget. Di banding barang china, Grohe juga produk import. Maka saya ke china, cari bowl toilet, yang mirip grohe, KW1 tentunya ternyata harganya hanya 20%. Hanya keramik bowl dan sejenisnya yang saya beli, sistem alat mechanicnya tetap original alias tetap saya pergunakan grohe yang asli. Saya kawinkan.
Urusan rotating dan pnenumatic tetap menggunakan eropa. Yang statis bolehlah barang china. Dan barang statis biasanya 80% dari sebuah benda oepration khan. Jadi bisa di bayangkan berapa kita berhemat?
Jika di jumlahkan maka harga saya membelinya hanya 40% dari harga publiknya toilet bintang 5 , Grohe tersebut.kalau di lihat secara kasat mata hampir tidak bisa membedakan, kalau dipergunakan ya memang grohe. Untuk 120 unit toilet set khan mending saya import dari china?! namun mutu tetap eropa, plus hemant 60% karena harga 40%, itu sudah dengan ongkos kirim.
Peristiwa inilah yang membuat saya menulis tulisan ini. Dimana saya baru saja mendapat laporan dari progress bisnis hotel kami di cepu. Arra Amandaru cepu yang sudah menginjak tahun ke tiga sekarang. Dengan barang kombinasi WC toilet china german tersebut dan sejauh ini tidak ada keluhan dari pelanggan.
Zero complain adalah sebuah prestasi. Dari sebuah keputusan kontroversi awalnya. Namun mencari harga termurah, mutu terbaik, waktu tercepat adalah seni berbisnis. Grohe KW china tersebut berhasil. “So far so good”. awalnya pasti di tentang , lah memang ngak umum, tapi yang penting di awal saya percaya, hal ini bisa di lakukan, “do able”. Walau hanya intuisi, namun ada logika “common sense” nya juga.
Terlepas dari cara nyleneh dalam pembelian alat toilet tersebut, yang membuat saya selalu teringat adalah dalam hubungannya dengan china tersebut adalah strategi pemerintah yang melakukan “buy back” atas hasil home industry.
Karena tak jauh dari desa tersebut, desa Chaozou kalau tidak salah ada desa yang memproduksi alat pertanian, mesin bajak sawah pakai tangan. Itupun di sangga pemerintah secara harian untuk menampung produksi home industry tersebut.
Badan usaha perdagangan miliki pemerintah tersebut semacam VOC nya belanda dahulu. Tugasnya membeli produksi rakyat dan menjualkan ke market internasional dengan harga bulk, borongan. Walau kenyataanya, kebutuhan lokalnya pun belum bisa terpenuhi. Hal ini membuat kestabilan berbisnis.
Saya suka sekali strategi itu, bukan apa-apa sih sebenarnya. Karena, saya ini merasa, dalam bisnis banyak hal yang rumit dan panjang mata rantainya seperti SDM, bahan baku, material produksi, mutu, distribusi, merek, pemasaran dan penjulan, banyak banget lainnya lagi. Dan itu adalah hanya untuk satu buah produksi. Katakanlah ballpoin saja. Panjang banget dari proses material awal hingga sampai di tangan anda.
Dan, kalau sebagai pebisnis hal itu bisa di kurangi, misalnya penjual dan distribusi di ambil. Maka fokus kita bisa tinggal 60% namun di curahkan perhatian 100%. Ya pasti saja produksinya secara mutu meningkat, atau secara produksi bisa lebih cepat. Ini cara pintar, sementara, di perusahaan yang milik pemerintah tadi, fokusnya hanya berdagang dan distribusi. Persis seperti unilever, hanya menjadi marketing arms saja. Tentu fokus dan kompetitif bisnis jadinya. Ngak kebayang kalau ada lembaga tersebut di Indonesia ya? . # may peace be upon us
Selasa, 24 November 2015
“Man for himself is nothing”
“Man for himself is nothing”
Melelahkan memang menjadi self employee itu ya mas? Saya sudah menjadi pengusaha 8 tahun, namun pendapatan saya masih sama saja dengan mereka yang bekerja sebagai pegawai atau professional. Kalimat ini saya dengar dalam pertemuan tidak sengaja kemarin siang selagi menunggu di lobby hotel di bilangan Jakarta selatan.
Kebetulan saya kemarin ada janji ketemu dengan pejabat birokrat ESDM yang juga teman kampus dulu. Bidang kami beda, bahkan tidak beririsan. Jadi pertemuan ini hanya pertemuan silturahmi biasa. Salah satunya adalah karena sudah 1 tahun tidak bersua.
Janjian di hotel baru di ujung jalan senayan ini malah mempertemukan saya dengan seorang pengusaha training provider atau lebih di kenal dengan seorang trainer untuk korporasi kenalan lama saya. selagi menunggu sahabat ESDM tersebut sang trainer berkomentar pernyataan di atas.
Itu bukan kalimat ujug-ujug dia berkata begitu tentunya, saling sapa, dan menanya kabar serta gambaran pejalanan singkat kami berdua selama tidak bertemu 2 tahun terakhir kami sudah saling mengabari di awal pembicaraan.
Saya menjawab, waduh saya ngak bisa komentar banyak ya mas. Memang bisnis pelatihan lagi turun ya mas?
Bukan, bahkan sebaliknya, bisnis pelatihan stabil dan statistiknya naik. Hanya saja itu loh mas..kompetitor itu menjual produk sejenis dengan saya saat ini menjadi banyak. Hanya beda judul saja. Isi di kelas atau dalam workshop nya sama ilmunya. Kami ini seakan-akan menjual 1 ilmu tinggal di tambah dan di kurangi, di modifikasi, sudah deh jualan ke korporasi. Inilah yang membingungkan pasar. Efeknya pendapatan saya tidak pernah benar-benar take off mas.
Ujung dari hal itu saya harus invest lagi ke ilmu baru. Ujung dari itu adalah saya keluar lagi capital, ujung-ujungnya cash selalu tipis. Sehingga saya saat ini mencari ide baru. Nah kebetulan ada mas wowiek, ya saya curhat aja deh sekalian hahaha ..katanya sambil tergelak tawa.
Mas lelah dengan aktif income? Saya mencoba menyimpulkan curhatan-nya tersebut.
Iya mas!, itu mungkin kata yang saya harus garis bawahi dari pada muter-muter bicara. Intinya saya mendapat income harus dengan aktif bergerak. Dan saya mulai kelelahan. Seperti saya kecebur di air dan saya mengambang dengan berenang walau ada life jacket dan lain sebagainya namun saya tidak melihat daratan sejauh mata memandang dan mulai kelelahan. Saya bisa mati tenggelam mas.
Wah, mas dalem amat analoginya deh, kata saya menangkis jawaban gambaran bayangan kicauannya yang kejauhan bagi saya.
Memang sahabat saya yang trainer ini memiliki kesukaan akan berbicara, alias termasuk orang yang senang mendengarkan ucapannya sendiri. jadi seneng ngomong lah bahasa lainnya.
kalau melihat karakter sahabat saya ini, memang tukang ngomong. Jadi kalimat saya hanya satu dua baris. Dia kalau bicara rinci panjang . itulah terkadang kalau bicara dengan nya tidak pernah sebentar. Seperti pernyataan di atas saja, mau bilang dia cape dengan pola pilihan incomenya menjadi trainer, di puter-puter ngomongnya dengan niatan agar orang di depannya, dalam hal ini saya, supaya faham akan maksud biacaranya dan tidak mengangggap dia rendah, atau salah.
Dalam hati, siapa yang akan menyalahkannya ya? Hehe..atau siapa juga yang akan merendahkannya. Tapi membenarkannya atau membenarkan pilihannya adalah tidak tepat juga. Bener loh, kalau saya membenarkan dirinya artinya menyetujui apa yang dilakukannya, dia tidak akan berubah. Dia akan terus kelelahan dan menjadi fatiq.
Pilihan saya , tidak membenarkan dan tidak menyalahkan. Pada dasarnya manusia itu mahluk super. Manusia itu co creator to God. Wakil pencipta. Di antara milyaran spicies. Species homosapien manusia itu yang paling memiliki kedaulatan tertinggi.
Kalau anda membayangkan anda adalah species lain seperti semut atau kupu-kupu, maka melihat species manusia itu bagaikan melihat dewa. Demi God, setengah Tuhan. Percayalah. Bagi species lainya, manusia itu di takuti, kejam, sadis, egois, bahkan sesama species saja saling makan, mengkafirkan yang lainnya, menghalangi ibadah lainya, memaksakan keyakinan, memaki, membunuh, menyakiti, apa lagi kepada species lainya. Ngak perduli!
Jadi, kembali kecerita curhatan sahabat saya. saya memilih menjadi pendengar yang baik dan bertanya saja. Saya yakin dia tahu apa solusi dirinya.
Saya bertanya, mas, tau “trend” diri mas?
Trend apa mas wowiek? Dia balik bertanya
Trend kecenderungan diri mas dalam bertindak?
Wah belum jelas pertanyaan mas wowiek nih, dia masih bungung pertanyaan saya.
Begini mas, saya kasih ilustrasi saja. Sebutkan 3 peristiwa yang lalu dalam kehidupan mas, yang paling krisis. Paling berat. Misalnya pernah di PHK, pernah bangkrut, pernah di tipu, pernah di tinggal orang yangmenjadi penyokong anda, misalnya ayah anda. Apapun krisis yang pernah terjadi dalam kehiudpan mas.
O ok, faham saya. saya ambil kertas sebentar. Boleh saya coret-coret ya mas.
Oh monggo, saya jawab cepat
Dia menunduk dan menulis dengan cepat ketiga hal tersbeut.
Terus mas? Tanya dia kepada saya lagi.
Nah, sekarang coba ingat-ingat apa solusi dan tidakan mas ambil saat itu. Ada apa hasilnya?
Dia diam membayangkan masa lalu nya tersebut. Melihat matanya yang menunduk kearah sisi kiri tubuhnya semua sahabat pasti tahu arti bahas atubuh tersebut yaitu dia lagi “memorizing” mengingat peristiwanya. Dan di kondisi ini kita sebaiknya tidak komentar. Diam
Kemudian tanpa suara dia menatap saya. matanya menunjukan dia memerlukan data tambahan. Dan saya komentar, dalam menemukan masalah sebelum mas bertidak di masa lalu apa kebiasaanya? Mas menujukn kesalahan kepada sekitar, teman mas, pemerintah, harga, dan lain sebagainya. Dan dalam bertindak mas pasti sesuai dengan analisa mas akan “akar masalah”. Dan hasil dari tindakan mas lakukan dulu adalah “trend” nya mas. Kecenderungan nya mas.
Apakah hasilnya? blangsak di kemudiannya, atau hasilnya biasa saja, atau hasil keputusan tindakan tersebut cemerlang. Glory?!. Saya ngak tahu mas..tapi itu “trend” nya mas.
Dalam “trend” tadi inilah yang menentukan cara mas melihat kasus barusan yang mas curhatkan kesaya. Maaf loh mas saya ngak menggurui. Anda trainer, anda punya banyak ilmu. Saya hanya kebetulan anda pakai untuk mengingatkan dari sisi lain melihat masalah. Dia hanya mengangguk dan karena mata nya kembali turun ke sisi kiri tubuhnya. Dan tangan nya menulis di kertas yang walau terbalik melihat dari sisi saya. saya masih bisa tahu dia menuliskan “do I know my trend”. # may peace be upon us
Melelahkan memang menjadi self employee itu ya mas? Saya sudah menjadi pengusaha 8 tahun, namun pendapatan saya masih sama saja dengan mereka yang bekerja sebagai pegawai atau professional. Kalimat ini saya dengar dalam pertemuan tidak sengaja kemarin siang selagi menunggu di lobby hotel di bilangan Jakarta selatan.
Kebetulan saya kemarin ada janji ketemu dengan pejabat birokrat ESDM yang juga teman kampus dulu. Bidang kami beda, bahkan tidak beririsan. Jadi pertemuan ini hanya pertemuan silturahmi biasa. Salah satunya adalah karena sudah 1 tahun tidak bersua.
Janjian di hotel baru di ujung jalan senayan ini malah mempertemukan saya dengan seorang pengusaha training provider atau lebih di kenal dengan seorang trainer untuk korporasi kenalan lama saya. selagi menunggu sahabat ESDM tersebut sang trainer berkomentar pernyataan di atas.
Itu bukan kalimat ujug-ujug dia berkata begitu tentunya, saling sapa, dan menanya kabar serta gambaran pejalanan singkat kami berdua selama tidak bertemu 2 tahun terakhir kami sudah saling mengabari di awal pembicaraan.
Saya menjawab, waduh saya ngak bisa komentar banyak ya mas. Memang bisnis pelatihan lagi turun ya mas?
Bukan, bahkan sebaliknya, bisnis pelatihan stabil dan statistiknya naik. Hanya saja itu loh mas..kompetitor itu menjual produk sejenis dengan saya saat ini menjadi banyak. Hanya beda judul saja. Isi di kelas atau dalam workshop nya sama ilmunya. Kami ini seakan-akan menjual 1 ilmu tinggal di tambah dan di kurangi, di modifikasi, sudah deh jualan ke korporasi. Inilah yang membingungkan pasar. Efeknya pendapatan saya tidak pernah benar-benar take off mas.
Ujung dari hal itu saya harus invest lagi ke ilmu baru. Ujung dari itu adalah saya keluar lagi capital, ujung-ujungnya cash selalu tipis. Sehingga saya saat ini mencari ide baru. Nah kebetulan ada mas wowiek, ya saya curhat aja deh sekalian hahaha ..katanya sambil tergelak tawa.
Mas lelah dengan aktif income? Saya mencoba menyimpulkan curhatan-nya tersebut.
Iya mas!, itu mungkin kata yang saya harus garis bawahi dari pada muter-muter bicara. Intinya saya mendapat income harus dengan aktif bergerak. Dan saya mulai kelelahan. Seperti saya kecebur di air dan saya mengambang dengan berenang walau ada life jacket dan lain sebagainya namun saya tidak melihat daratan sejauh mata memandang dan mulai kelelahan. Saya bisa mati tenggelam mas.
Wah, mas dalem amat analoginya deh, kata saya menangkis jawaban gambaran bayangan kicauannya yang kejauhan bagi saya.
Memang sahabat saya yang trainer ini memiliki kesukaan akan berbicara, alias termasuk orang yang senang mendengarkan ucapannya sendiri. jadi seneng ngomong lah bahasa lainnya.
kalau melihat karakter sahabat saya ini, memang tukang ngomong. Jadi kalimat saya hanya satu dua baris. Dia kalau bicara rinci panjang . itulah terkadang kalau bicara dengan nya tidak pernah sebentar. Seperti pernyataan di atas saja, mau bilang dia cape dengan pola pilihan incomenya menjadi trainer, di puter-puter ngomongnya dengan niatan agar orang di depannya, dalam hal ini saya, supaya faham akan maksud biacaranya dan tidak mengangggap dia rendah, atau salah.
Dalam hati, siapa yang akan menyalahkannya ya? Hehe..atau siapa juga yang akan merendahkannya. Tapi membenarkannya atau membenarkan pilihannya adalah tidak tepat juga. Bener loh, kalau saya membenarkan dirinya artinya menyetujui apa yang dilakukannya, dia tidak akan berubah. Dia akan terus kelelahan dan menjadi fatiq.
Pilihan saya , tidak membenarkan dan tidak menyalahkan. Pada dasarnya manusia itu mahluk super. Manusia itu co creator to God. Wakil pencipta. Di antara milyaran spicies. Species homosapien manusia itu yang paling memiliki kedaulatan tertinggi.
Kalau anda membayangkan anda adalah species lain seperti semut atau kupu-kupu, maka melihat species manusia itu bagaikan melihat dewa. Demi God, setengah Tuhan. Percayalah. Bagi species lainya, manusia itu di takuti, kejam, sadis, egois, bahkan sesama species saja saling makan, mengkafirkan yang lainnya, menghalangi ibadah lainya, memaksakan keyakinan, memaki, membunuh, menyakiti, apa lagi kepada species lainya. Ngak perduli!
Jadi, kembali kecerita curhatan sahabat saya. saya memilih menjadi pendengar yang baik dan bertanya saja. Saya yakin dia tahu apa solusi dirinya.
Saya bertanya, mas, tau “trend” diri mas?
Trend apa mas wowiek? Dia balik bertanya
Trend kecenderungan diri mas dalam bertindak?
Wah belum jelas pertanyaan mas wowiek nih, dia masih bungung pertanyaan saya.
Begini mas, saya kasih ilustrasi saja. Sebutkan 3 peristiwa yang lalu dalam kehidupan mas, yang paling krisis. Paling berat. Misalnya pernah di PHK, pernah bangkrut, pernah di tipu, pernah di tinggal orang yangmenjadi penyokong anda, misalnya ayah anda. Apapun krisis yang pernah terjadi dalam kehiudpan mas.
O ok, faham saya. saya ambil kertas sebentar. Boleh saya coret-coret ya mas.
Oh monggo, saya jawab cepat
Dia menunduk dan menulis dengan cepat ketiga hal tersbeut.
Terus mas? Tanya dia kepada saya lagi.
Nah, sekarang coba ingat-ingat apa solusi dan tidakan mas ambil saat itu. Ada apa hasilnya?
Dia diam membayangkan masa lalu nya tersebut. Melihat matanya yang menunduk kearah sisi kiri tubuhnya semua sahabat pasti tahu arti bahas atubuh tersebut yaitu dia lagi “memorizing” mengingat peristiwanya. Dan di kondisi ini kita sebaiknya tidak komentar. Diam
Kemudian tanpa suara dia menatap saya. matanya menunjukan dia memerlukan data tambahan. Dan saya komentar, dalam menemukan masalah sebelum mas bertidak di masa lalu apa kebiasaanya? Mas menujukn kesalahan kepada sekitar, teman mas, pemerintah, harga, dan lain sebagainya. Dan dalam bertindak mas pasti sesuai dengan analisa mas akan “akar masalah”. Dan hasil dari tindakan mas lakukan dulu adalah “trend” nya mas. Kecenderungan nya mas.
Apakah hasilnya? blangsak di kemudiannya, atau hasilnya biasa saja, atau hasil keputusan tindakan tersebut cemerlang. Glory?!. Saya ngak tahu mas..tapi itu “trend” nya mas.
Dalam “trend” tadi inilah yang menentukan cara mas melihat kasus barusan yang mas curhatkan kesaya. Maaf loh mas saya ngak menggurui. Anda trainer, anda punya banyak ilmu. Saya hanya kebetulan anda pakai untuk mengingatkan dari sisi lain melihat masalah. Dia hanya mengangguk dan karena mata nya kembali turun ke sisi kiri tubuhnya. Dan tangan nya menulis di kertas yang walau terbalik melihat dari sisi saya. saya masih bisa tahu dia menuliskan “do I know my trend”. # may peace be upon us
“Setiap orang punya kebiasaan”
“Setiap orang punya kebiasaan”
Mas, apa kabar? Mohon waktu wawancara? Seorang sahabat wartawan senior Koran nasional meminta waktu saya via sms pagi ini. Saya balas peasan singkatnya , hai mas, kabar baik..wawancara via telephon khan ya? Maklum jadwal agak padat minggu ini.
Iya mas., di jawab singkat. Bisa sekarang?
Tak lama telephon berdering, assalamu’alikum mas, selamat ya..dari 2011 konsisten mepromosikan hate speech akhirnya dibuat surat edaran Kapolri juga.
Terima kasih, tapi saya bukan yang meng-goal kan wacana itu khan? Saya hanya tiap ngomong dalam penanggulangan tindakan kekerasan kelompok dan terorisme maka hate speech harus di terapkan. Saya menarget perkataan, perbuatan yang mempengaruhi public, bukan individualis, bener khan? Dan..saya ucapkan terima kasih rekan-rekan media yang menulis dan menyampaikan kemasyrakat akan hal itu.
Di jawab di ujung telpon, ya mas, sami-sami..tapi boleh lah mas yang berkata demikian bahwa bukan mas yang meng goalkan tapi kami wartawan semua tahu mas mardigu yang meng-inisasi ide ini. Lihat aja google. Ketik hate speech mardigu, atau mardigu hatred speech. Dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014 semua nama mas yang masuk di semua media. Dari media mainstream sampai media alternative, nama mas mardigu yang yang muncul, bahkan satu-satunya sebelum sekarang meledak pemberitaannya.
Saya jawab,iya mas, maklum 5 tahun sayabantu-bantu membersihkan kekerasan atas nama teroris dari 2006-20011 cape juga. Masalahnya provokator penghasut kebencian ngak kena pasal kuat. Kalau di tambah pasal penghasut dan penebar kebencian khan lebih mudah menegakan aturan membasmi teroris di Indonesia. Ngak lebih dari itu nitan awalnya.
Kebebasan bicara itu boleh dan hak semua orang. Namun belahan bumi mana pun, bahkan di ajaran agama manapun, menghasut, menimbulkan kebencian, harus kena ganjaran setimpal. Alhmdulliah sekarang polisi sudah menerapkan. Pasal ada di berbagai lembar hukum. Mau pidana atau perdata atau Undang undang. Sekarang ini lagi “enforce” di tegakkan dan dijalankan, itu baik.
Di ujung telpon bertanya, tapi banyak yang mengatakan ini bisa dipakai buat membungkam kritikan kepemerintah? Ini bisa dipakai alat kekuasaan mengatur bicara? Karena kebencian bisa melebar artinya.
Saya jawab, mas, dalil apa saja bisa di pakai oleh siapapun tanpa pasal hate speech kok. Bagi saya ngak usah di takutkan. Hanya perlu di klarifikasi kegunaannya. Saat ini pendapat akan hate speech beragam, ada setuju atau tidak setuju. Tapi kalau mas tahu apa yang penegak hukum kerjakan, banyak akar masalah berawal dari perbuatan menghasut ini. Membenci itu kalau di ucapkan (speech) berefek hasutan negative. “Mengajak kekeburukan” itu hate speech. Pakai hati aja menilainya di tambah sedikit saja logika kita faham kok. Atau bahasa lain pakai kesadaran consciousness. Gampang memilih dan melihat mana yang bisa “diperkarakan” mana yang tidak.
Tapi mas, saya melanjutkan, saya bukan pakar hukum. Saya ngak juga jago debat. Saya hanya menginisiasi hate speech selama 4 tahun ini, mungkin itu juga loh (kayaknya bukan saya saja deh). Saya hanya melihat “succses story” banyak negara yang berhasil menanggulangi terorisme di negara mereka, seperti Negara di eropa, amerika latin, Canada, Australia, jepang, korea, dan lebih dari 70 negara sudah semua menerapkan pasal hate speech ini. Bagi saya, kenapa “reinventing the wheel” kenapa mesti repot-repot menciptakan roda lagi. Khan sudah ada contoh, banyak, sudah lama dan terbukti efektif.
O iya, wawancara kita mengenai hate speech mas? Saya bertanya setelah penjelasan sedikit panjang tadi yang saya ngak ingin meneruskannya. Maklum bukan pakarnya.
Bukan mas, mengenai bela Negara!, jurnalis sahabat saya menjawab
Waduh, kenapa lagi mas? Saya curious
Mas khan termasuk yang mendukung juga yang menginisiasi bela Negara ini dan posisi mas sekarang juga sangat strategis, kami ingin tahu sedikit informasi bela Negara tersebut mas.
Saya coba menjelaskan, Mas, bela Negara itu baru di gulirkan. Namun banyak juga beragam tanggapan. Ngak apa-apa wajar kok, bahkan ada yang tidak setuju. Keras menentang. Ya tidak apa-apa juga. Ada yang tanya bagaimana menerapkannya?, bagaimana undang-undang bela negaranya? Anggarannya dari mana? Ada sura menentang di DPR, ada di pemerintahan sekarang ikut gamang. Dan banyak lagi suara lainya dalam instrument masyrarakat, suara baik mendukung banyak yang menentang atau miring kiri dan miring kanan.
Bagi saya ini hanya efek getar mas. Salah satu nya bela Negara ini adalah memberikan efek gentar.
Maksudnya bagaimana mas? Sahabat saya menanyakan lebih dalam lagi.
Saya menerangkan, Mas bisa tanya teman-teman di Wantanas, bisa tanya temen-temen di BIN atau di Kemhan, ada berapa telepon dari Negara tetangga, atau surat atau pertanyaan dari pejabat di banyak Negara yang bertanya..Indonesia mau apa? menaikan kan anggaran militer dan mempromosikan bela Negara. Bisa-bisa 10 tahun kedepan ada 100 juta kader. Walau pun bukan militer taktis, namun mereka memiliki disiplin komando. Menjadi fanatic dan nasionalis.
Negara mana yang ngak gentar akan rencana bela Negara ini mas?!
Begitu rasa nasionalis tercipta maka bangsa Indonesia cinta dan fanatik membeli produk local, Indonesia berhenti mengimport unsur asing. Bisa banyak Negara di rugikan dagangnya dengan efek bela Negara ini di 10 tahun kedepan mas.
Inilah yang saya sebut dengan efek gentar bagi bangsa lain tentunya. Nah mereka yang tidak setuju atau menentang atau menghalangi program bela Negara ini sekarang yang saya mau tanyakan nasionalismenya. Mau saya pertanyakan kemana rasa terima kasih atas pengorbanan jutaan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia ini.
Saya jeda sebentar bicara karena mendadak hening di sisi ujung telephon..mas? saya bertanya memastikan ada orang diujung telefon saya. ntar saya bicara dengan angin lagi hehehe # may peace be upon us
Mas, apa kabar? Mohon waktu wawancara? Seorang sahabat wartawan senior Koran nasional meminta waktu saya via sms pagi ini. Saya balas peasan singkatnya , hai mas, kabar baik..wawancara via telephon khan ya? Maklum jadwal agak padat minggu ini.
Iya mas., di jawab singkat. Bisa sekarang?
Tak lama telephon berdering, assalamu’alikum mas, selamat ya..dari 2011 konsisten mepromosikan hate speech akhirnya dibuat surat edaran Kapolri juga.
Terima kasih, tapi saya bukan yang meng-goal kan wacana itu khan? Saya hanya tiap ngomong dalam penanggulangan tindakan kekerasan kelompok dan terorisme maka hate speech harus di terapkan. Saya menarget perkataan, perbuatan yang mempengaruhi public, bukan individualis, bener khan? Dan..saya ucapkan terima kasih rekan-rekan media yang menulis dan menyampaikan kemasyrakat akan hal itu.
Di jawab di ujung telpon, ya mas, sami-sami..tapi boleh lah mas yang berkata demikian bahwa bukan mas yang meng goalkan tapi kami wartawan semua tahu mas mardigu yang meng-inisasi ide ini. Lihat aja google. Ketik hate speech mardigu, atau mardigu hatred speech. Dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014 semua nama mas yang masuk di semua media. Dari media mainstream sampai media alternative, nama mas mardigu yang yang muncul, bahkan satu-satunya sebelum sekarang meledak pemberitaannya.
Saya jawab,iya mas, maklum 5 tahun sayabantu-bantu membersihkan kekerasan atas nama teroris dari 2006-20011 cape juga. Masalahnya provokator penghasut kebencian ngak kena pasal kuat. Kalau di tambah pasal penghasut dan penebar kebencian khan lebih mudah menegakan aturan membasmi teroris di Indonesia. Ngak lebih dari itu nitan awalnya.
Kebebasan bicara itu boleh dan hak semua orang. Namun belahan bumi mana pun, bahkan di ajaran agama manapun, menghasut, menimbulkan kebencian, harus kena ganjaran setimpal. Alhmdulliah sekarang polisi sudah menerapkan. Pasal ada di berbagai lembar hukum. Mau pidana atau perdata atau Undang undang. Sekarang ini lagi “enforce” di tegakkan dan dijalankan, itu baik.
Di ujung telpon bertanya, tapi banyak yang mengatakan ini bisa dipakai buat membungkam kritikan kepemerintah? Ini bisa dipakai alat kekuasaan mengatur bicara? Karena kebencian bisa melebar artinya.
Saya jawab, mas, dalil apa saja bisa di pakai oleh siapapun tanpa pasal hate speech kok. Bagi saya ngak usah di takutkan. Hanya perlu di klarifikasi kegunaannya. Saat ini pendapat akan hate speech beragam, ada setuju atau tidak setuju. Tapi kalau mas tahu apa yang penegak hukum kerjakan, banyak akar masalah berawal dari perbuatan menghasut ini. Membenci itu kalau di ucapkan (speech) berefek hasutan negative. “Mengajak kekeburukan” itu hate speech. Pakai hati aja menilainya di tambah sedikit saja logika kita faham kok. Atau bahasa lain pakai kesadaran consciousness. Gampang memilih dan melihat mana yang bisa “diperkarakan” mana yang tidak.
Tapi mas, saya melanjutkan, saya bukan pakar hukum. Saya ngak juga jago debat. Saya hanya menginisiasi hate speech selama 4 tahun ini, mungkin itu juga loh (kayaknya bukan saya saja deh). Saya hanya melihat “succses story” banyak negara yang berhasil menanggulangi terorisme di negara mereka, seperti Negara di eropa, amerika latin, Canada, Australia, jepang, korea, dan lebih dari 70 negara sudah semua menerapkan pasal hate speech ini. Bagi saya, kenapa “reinventing the wheel” kenapa mesti repot-repot menciptakan roda lagi. Khan sudah ada contoh, banyak, sudah lama dan terbukti efektif.
O iya, wawancara kita mengenai hate speech mas? Saya bertanya setelah penjelasan sedikit panjang tadi yang saya ngak ingin meneruskannya. Maklum bukan pakarnya.
Bukan mas, mengenai bela Negara!, jurnalis sahabat saya menjawab
Waduh, kenapa lagi mas? Saya curious
Mas khan termasuk yang mendukung juga yang menginisiasi bela Negara ini dan posisi mas sekarang juga sangat strategis, kami ingin tahu sedikit informasi bela Negara tersebut mas.
Saya coba menjelaskan, Mas, bela Negara itu baru di gulirkan. Namun banyak juga beragam tanggapan. Ngak apa-apa wajar kok, bahkan ada yang tidak setuju. Keras menentang. Ya tidak apa-apa juga. Ada yang tanya bagaimana menerapkannya?, bagaimana undang-undang bela negaranya? Anggarannya dari mana? Ada sura menentang di DPR, ada di pemerintahan sekarang ikut gamang. Dan banyak lagi suara lainya dalam instrument masyrarakat, suara baik mendukung banyak yang menentang atau miring kiri dan miring kanan.
Bagi saya ini hanya efek getar mas. Salah satu nya bela Negara ini adalah memberikan efek gentar.
Maksudnya bagaimana mas? Sahabat saya menanyakan lebih dalam lagi.
Saya menerangkan, Mas bisa tanya teman-teman di Wantanas, bisa tanya temen-temen di BIN atau di Kemhan, ada berapa telepon dari Negara tetangga, atau surat atau pertanyaan dari pejabat di banyak Negara yang bertanya..Indonesia mau apa? menaikan kan anggaran militer dan mempromosikan bela Negara. Bisa-bisa 10 tahun kedepan ada 100 juta kader. Walau pun bukan militer taktis, namun mereka memiliki disiplin komando. Menjadi fanatic dan nasionalis.
Negara mana yang ngak gentar akan rencana bela Negara ini mas?!
Begitu rasa nasionalis tercipta maka bangsa Indonesia cinta dan fanatik membeli produk local, Indonesia berhenti mengimport unsur asing. Bisa banyak Negara di rugikan dagangnya dengan efek bela Negara ini di 10 tahun kedepan mas.
Inilah yang saya sebut dengan efek gentar bagi bangsa lain tentunya. Nah mereka yang tidak setuju atau menentang atau menghalangi program bela Negara ini sekarang yang saya mau tanyakan nasionalismenya. Mau saya pertanyakan kemana rasa terima kasih atas pengorbanan jutaan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia ini.
Saya jeda sebentar bicara karena mendadak hening di sisi ujung telephon..mas? saya bertanya memastikan ada orang diujung telefon saya. ntar saya bicara dengan angin lagi hehehe # may peace be upon us
Langganan:
Postingan (Atom)