Minggu, 25 Oktober 2015

“ Ada 2 hal yang penting dalam hidup anda, satu ketika anda dilahirkan, dua ketika anda mengetahui “mengapa” anda dilahirkan”



“urusan nama perusahaan adalah tugas mas wowiek ya..terus langsung kasih ke ibu kiki lubis untuk di urus kelengkapannya!”. Kalimat seperti ini sering sekali saya dengar, benar, bahkan sangat sering.Saya terkadang tertawa sendiri urusan yang satu ini. Memberi nama!. Ini sepertinya sudah jadi trade mark diri saya, setiap membutuhkan nama, baik itu untuk nama perusahaan atau nama anak dalam kandungan maka salah satu referensi terdahulu yang dilakukan adalah minta nama dari saya.

Pernyataan di atas merupakan kalimat yang keluar dari mulut mas antara minggu lalu. Dia merupakan manajer senior dari divisi business development. Dimana berdasarkan study kelayakan dan rencana bisnis, kami akan membentuk anak usaha di sumenep dan cepu. 2 unit usaha baru dan satu lagi spin off divisi menjadi anak usaha independent.

Sebelum melakukan RKAP Rencana kerja dan Anggaran Perusahaan di akhir bulan February ini semua harus sudah siap. Divisi pengembangan usaha bisa dikatakan divisi yang paling sering terlambat dalam urusan paparan kerja mereka dalam 2 tahun ini. Ini terjadi karena dalam 2 tahun ini kami mendirikan 5 anak usaha baru namun setelah di jalankan baru 2 yang bisa dikatakan berdiri dengan baik tanpa bantuan dari holding. Dan di tahun 2013 ini kemungkinan besar 3 anak usaha baru lahir. Seperti permintaan mas antara di atas, saya harus menyiapkan 3 nama.

Tanpa pikir panjang saya menjawab, buat sumenep namanya Sumekar Buwana Djati, yang di cepu Panata Mahogani.

Mas antara bertanya , mas..kok anak usaha empora gaharu semua pakai nama pohon, mahogany lah..djati lah..maksudnya apa nih?

Iya ya, saya juga merasa bingung begitu di tanya logikanya. Lalu saya mencoba merenung-renung kenapa beberapa bulan ini saya terkesima dengan nama-nama pohon. Pikiran saya melayang ke lahan gudang di Den Pasar dimana kami baru saja menyetok kayu besi dari Kalimantan. Akhir tahun 2012 kami membeli banyak stok kayu berukuran besar berdiameter 70 -100 cm dengan panjang 15 meter. Sebuah kayu besar dan berat. Bahkan 1 kayu harus di angkat pakai 1 forklift saking beratnya. Puluhan batang kayu tersebut berada di gudang di bali. Kayu itu sekarang kami rendam air dan lumpur. Itulah kebiasaan tradisional asli Indonesia agar membuat kayu menjadi kuat tahan jaman dan rayap. Tanpa bahan kimia, biar alam yang melindungi. Lalu mengapa kami menyetok banyak ? bahkan kami belum memiliki rencana penggunaanya.

Ini mungkin kebiasaan aneh dari kami. Dimana banyak keputusan-keputusan bisnis kami buat berdasar intuitif. Saya percaya bahwa di tahun mendatang, terjadi kelangkaan stok kayu besar seperti ini. Apa lagi dengan perkembangan di pembangunan di Bali, yakin sekali mereka tertarik dengan kayu tersebut.

Karena itu juga, kami menyetok banyak kayu kruing tutul macan, kayu kamper, kayu ulin, kayu meranti, kayu jelutung, kayu bangkirai dan banyak lagi. Ini ada di gudang di Gresik.kami memiliki saw mill kecil di daerah jl juanda Gresik dimana saat ini sedang kami kurangi kegiatan produksinya namun kami tingkatkan tradingnya.

Nah, ketika mengujungi gresik itulah saya mendapatkan dan diperkenalkan banyaknya nama-nama eksotik dari nama-nama pohon di Indoensia. Saya suka sekali, saya kagum dengan keindahan nama pohon dan jenis pohonnya tersebut. menurut pak Ricky pimpinan gudang gresik yang sudah bercimpung di dunia perkayuan lebih dari 30 tahun, di Indonesia bahkan ada lebih 4000 jenis pohon dan masing-masing memiliki nama yang indah. Lalu dia sebut mungkin ratusan nama dan dia perlihatkan pohon2nya. Dan saya terpesona, saya sangat impress!

Mungkin dengan peristiwa inilah saya menjadi terpikat dan ingin melestarikan nama pohon tersebut masuk dalam nama perusahaan, mungkin saja itu alasan yang di gatuk-gatukan. Namun menurut saya oke juga. Saya menggunakan nama pohon karena menurut saya bidang bisnis yang di geluti adalah property. Jadi dari tanah kembali ketanah, kira-kira itu mungkin yang ada di dalam pikiran otak kecil saya.

Seperti misalnya di tahun 2006 sewaktu membangun Narapatih. Sebuah usaha dibangun sebagai training provider, research center, pelatihan, EO yang kami bangun dengan mas Kirdi. Dari awal saya memilih tidak aktif di manajemen karena tidak memungkinkan saya membagi waktu. Dan, seperti biasa…kalimat, “mas, nama perusahaannya apa?” terdengar biasa ditelinga saya bukan?.

Saat itu saya langsung teringat buku serat wredatama karangan Mangkunegara IV. Dimana ada kalimat Nara artinya manusia, dan pati atau patih artinya tinggi. Sehingga narapatih memiliki arti sebagai “manusia dengan kesadaran tinggi”.
Disinilah awal dari nama Narapatih Inspiratama sebagai nama perusahaan bergerak dalam bidang pengembangan ketrampilan diri, training provider terbentuk. Kemudian berkembang memiliki anak usaha narapatih consult sebagai perusahaan konsultan yang berbisnis menangani crime investigasi, seperti penanganan kasus-kasus extra ordinary crime. Kasus malinda Citibank, kasus Irzen okta Citibank, dan banyak lagi dipegang oleh narapatih consult ini.

Lalu ada HTII- hypnosis training institute of Indonesia sebagai sekolah hypnosis tertua berdiri tahun 2004 juga di bawah holding narapatih. Saat ini di kelola oleh mas Boy Ferdin lalu ada narapatih mind & mental clinic dibawah manajemen mbak emma. Semua itu di bawah manajemen mas Kirdi, di Narapatih. Adapun cita-cita mulia kami adalah membawa sebanyak mungkin dari kita menjadi seseorang dengan kesadaran tinggi.

Kita semua tahu bahwa dalam kacamata “kesadaran” derajat manusia dibagi 3 tempatan. Dipaling bawah adalah manusia dengan kesadaran rendah, manusia dengankan birahi dan syahwat. Kelompok itu disebut dengan istilah kamandatu. Lalu dengan meningkatnya “kesadaran” sedikit keilmuan narapatih membawa manusia naik menjadi pribadi unggul, manusia tinggi, manusia dengan kesadaran tinggi, adiluhung. Lalu ada kesadaran manusia di tingkat spiritual..catatan , manusia “narapatih” masih di bawah manusia spiritual. Di level kedaran tinggi spiritual maka mereka derajanya di sebut dengan nama Arupadatu. Mereka sudah tidak membutuhkan materi, materi yang mencari mereka. mereka instrument Ilahi. Dilompatan narapatih menjadi arupadatu manusia memerlukan, Agama.

Ini adalah pelajaran kesadaran yang banyak di ajarkan di bumi nusantara. Dimana budaya pitutur ilmu yang diturunkan berdasarkan penuturan dari generasi kegenerasi di turunkan, di tuturkan. Sebuah kebijaksanaan lokal yang indah, setidaknya menurut saya, yang harus di lestarikan.

Itu adalah fitrah menaikan derajat martabat kesadaran tinggi, agar manusia bisa menjadi “high evolve being”. Prosesnya dari kamandatu, narapatih, arupadatu. Adalah hal yang aneh kesadaran manusia tidak melalui fitrah jalan ini. Misalnya, dimana manusia dengan kesadaran rendah, manusia kamandatu tiba-tiba dikenalkan ke agama. Langsung lompat 2 tingkat. Maka yang terjadi adalah penyelewengan agama. Tetap aja berzina, namun kali ini menggunakan “pengesahan” agama. Dengan istilah siri lah, dengan istilah mu’tah lah. Ujung-ujungnya syahwat juga. Manusia dengan kesadaran rendah kamandatu diberi kekuasaan ya pasti dia korupsi, pasti dia memanipulasi.

Ini “moral of the story”nya..agama akan menjadi indah jika manusianya sudah dilevel narapatih. Sudah dewasa. Dan ini tidak ada hubungannya dengan masalah umur. Anda boleh berargumen dengan ilmu kuno ini. Namun jika anda menggunakan kesadaran yang dalam, yang luhur, anda pasti bisa mencerna maksud manusia “narapatih” ini. Bahkan semua sahabat muslim tahu sekali, bahwa manusia mulia seperti nabi Muhammad itu al amin dulu baru mengenal islam. Dia narapatih dulu baru arupadatu. # peace be upon us