Melihat angka subsidi Bahan Bakar Minyak dalam
angka APBN tahun 2013 yang berada di kisaran angka 300 Triliun rupiah maka saya
pastinya tertegun selalu jika membayangkan angka itu. Angka yang luar biasa.
Yang terkadang saya berfikir jika seandainya anda yang menjadi presiden di tahun
2014 nanti apa yang akan anda lakukan?
Apakah anda tetap mempertahankan subsidi BBM yang pastinya akan terus meningkat. Karena saat ini import minyak kita sudah mendekati angka 800 ribu barel per harinya. Dan kalau angka tersebut tetap 800.000 barel perhari pastinya harga minyaknya yang naik terus, sekrang di angka 106 dolar per barrelnya. Sementara fakta lain adalah meningkatnya kebutuhan kendaraan sehingga kebutuhan BBM akan meningkat. Saya membayangkan di tahun 2014 impor minyak bisa mendekati angka 1 juta barrel per hari dan harga? Bisakah anda mengkalkulasi, harga minyak mentah kearah 120 atau kea rah 80 dolar per barel di 2014?.
Mengelola ekonomi makro seperti ini memerlukan pemikiran revolusioner. Memang banyak yang merasa bisa mengelola Negara ini namun coba kita gunakan kata hati terkecil kita, kalau seandainya Negara ini mempercayakan anda menjadi presiden maka salah satu tugas anda adalah masalah subsidi BBM. Itu satu diantara ribuan labirin masalah yang telah menggurita di NKRI ini.
Banyak yang berpedapat bahwa kita sebagai Negara yang memiliki cadangan minyak mentah yang besar akan bisa menyelesaikanya dengan meningkatkan produksi.
Mungkin ada benarnya, tapi semua orang tahu di tahun 2003 yaitu 10 tahun yang lalu dimana Indoensia dengan terpaksa keluar dari OPEC atau persatuan Negara pengekspor minyak. Kita di tahun 2003 bukan Negara pengekpor minyak lagi karena kebutuhan dalam negeri dan produksi dalam negeri sudah seimbang yaitu produksi 1 juta barrel per hari dan kebutuhan 1 juta barrel perhari. Dimana di tahun 2004 hingga saat ini Indoensia menjadi Negara pengimpor murni karena kebutuhan BBM sudah melebihi produksi lifting minyak Indonesia.
Misalnya saat ini, lifting minyak Indonesia adalah 800.000 barel per hari sementara kebutuhan sudah mencapai 1,7 juta barel per hari. Alias lebih dari 800.000 barel di impor per harinya masuk ke tanah air tercinta ini. dan jika di kalikan harga minyak per barelnya dan dikalikan365 hari maka dalam satu tahun pembelian minyak tersebut lebih dari 350 triliun rupiah.
Negara ini bisa bebas dari subsidi jika harga premium adalah di harga 9.000 rupiah dan solar di harga 10.000 rupiah perliternya. Maka angka 300 trliunan tersebut akan pindah penggunaannya untuk hal lainnya.
Apa misalnya? Perlu di ingat anda adalah pemimpinnya. Anda bisa bikin sekolah seperti ITB dan UI di setiap provinsi dengan kapasitas 50.000 murid. Dan sekolah itu gratis biaya administrasinya. Anda bisa bikin rumah sakit sebesar mount Elisabeth Singapore 5 di setiap provinsi yang mengratiskan biaya obat. Di tambah lagi anda bisa menggratiskan sekolah dari SD hingga perguruan tinggi untuk 30 juta anak sekolah. Ditambah lagi anda bisa membuat rel ganda mengelilingi pulau di setiap provinsi.
Perlu di ingat juga, angka 300 triliun subsidi tadi tersedia setiap tahun nya, alias kalau anda menjabat 5 tahun maka uang nya ada 1.500 triliun rupiah. Sebuah angka yang gila besarnya. Anda bisa membangun jalan lintas provinsi di seluruh Indonesia. anda bisa membangun kanal saluran air untuk irigasi keseluruh sawah dan lading di Indonesia sehingga kita bisa produksi beras dan pangan lebih dari 2 kali panen dalam setahun.
Anda bisa membangun farmasitikal obat-obatan 20 kali lebih besar dari kalbe farma. Membangun bandara dan pelabuhan di setiap provinsi. Dan masih banyak lagi. yang jadi pertanyaan, apakah anda melepas subsidi atau anda mempertahankan subsidi BBM.?!!!
Begini kalau seandainya saya diminta menjadi pembisik atau sekondan dalam pemerintahan. Maka saya akan menyarankan, bahwa subsidi itu penting namun bukan harus BBM yang disubsidi. Karena dari fakta lapangan bahwa pengguna sector transportasi pribadi lah yang paling banyak mengkonsumsi BBM tersebut hingga 80% nya. Sebuah pemborosan luar biasa karena bukan sector produktif.
Maka, tindakan pertama adalah melepas subsidi sebagian dahulu, yaitu pulau jawa dan bali tidak ada subsidi di tahun 2014. Kalau pemberitahuannya sudah 1 tahun sebelumnya maka pastinya sudah ada persiapan dan solusinya dalam kurun waktu 1 tahun harus di siapkan.
Apa itu? Kalau gas alam kita yang berlimpah di bumi Madura, jawa, dan sumatera di jadikan LNG dan dipakai untuk bahan bakar kendaraan tranportasi maka harga jualnya hanya Rp 7000/liternya.
Bahan bakar dengan LNG menghasilkan tenaga 110% lebih baik dari BBM alias 10% diatas horse power energy tersebut. Kalau Bus, truck, kapal laut menggunakan LNG maka para penggunakan BBM di jawa ada 2 pilihan. Menggunakan BBM non subsidi atau menggunakan LNG. Ada lebih 3.000-8.000MMCFD gas akan membanjiri Indonesia di tahun 2014 ke atas produksinya. Dari blok cepu, blok Mahakam. Blok sampang, blok bangkalan, blok sumenep, dan masih banyak lagi sumber gas besar di Indoensia yang bisa di jadikan LNG.
Dengan demikian ketemu di tengah. Subsidi berkurang menjadi 150 triliunan namun masyrakat tidak terbebani karena adanya LNG di harga Rp 7.000 an bahkan di tahun kelima tidak ada subsidi di BMM pindah ke pendidikan dan kesehatan saja.
Dalam waktu 1 tahun maka converter atau engine bisa di produksi untuk menanggulangi fire combustion engine yang dual, yang bisa pakai gasoline atau LNG. Saat ini di dunia perkapalan sudah tersedia dual source tersebut. Saya yakin, bangsa kita mampu membuatnya apa lagi produsen dunia lainnya, pasti akan mengikuti pasar apalagi pasar indoesia yang besar ini sehingga dari pabriknya langsung sudah dibuat embedded sudah langsung menggunakan LNG sebagai bahan bakarnya.
Mengapa hal ini tidak dilakukan dulu-dulu. Baiklah, saya bocorin sedikit rahasia. Kalau import itu ada mafianya dan mafianya untung besar sekali. Makanya kalau Negara kita tetap subsidi maka trader minyak pasti untung dan ada “main” dengan penguasa.karena transaksi internasional KPK ngak sampai tangannya. Jadi trading minyak tersebut pasti ada pihak yang di untungkan, setuju bukan dengan logikanya. Permainan itu permainan tingkat tinggi namun semua orang tau, mereka untouchable. Mereka lah pengendali sebagian kekuatan politik di tanah air ini yang pastinya bukan nasionalis, pastinya kepentingan sendirinya lebih besar. kalau di lihat dari sisi ini maka subsidi dan para trader tersebut adalah musuh masyarakat bukan?! . Makanya jangan pilih Mardigu jadi presiden ngak pantes dan ngak cocok, bisa-bisa dan pasti kita lepas subsidi dengan cara di atas dan kita siap-siap perang dengan mafia # May peace be upon us
Apakah anda tetap mempertahankan subsidi BBM yang pastinya akan terus meningkat. Karena saat ini import minyak kita sudah mendekati angka 800 ribu barel per harinya. Dan kalau angka tersebut tetap 800.000 barel perhari pastinya harga minyaknya yang naik terus, sekrang di angka 106 dolar per barrelnya. Sementara fakta lain adalah meningkatnya kebutuhan kendaraan sehingga kebutuhan BBM akan meningkat. Saya membayangkan di tahun 2014 impor minyak bisa mendekati angka 1 juta barrel per hari dan harga? Bisakah anda mengkalkulasi, harga minyak mentah kearah 120 atau kea rah 80 dolar per barel di 2014?.
Mengelola ekonomi makro seperti ini memerlukan pemikiran revolusioner. Memang banyak yang merasa bisa mengelola Negara ini namun coba kita gunakan kata hati terkecil kita, kalau seandainya Negara ini mempercayakan anda menjadi presiden maka salah satu tugas anda adalah masalah subsidi BBM. Itu satu diantara ribuan labirin masalah yang telah menggurita di NKRI ini.
Banyak yang berpedapat bahwa kita sebagai Negara yang memiliki cadangan minyak mentah yang besar akan bisa menyelesaikanya dengan meningkatkan produksi.
Mungkin ada benarnya, tapi semua orang tahu di tahun 2003 yaitu 10 tahun yang lalu dimana Indoensia dengan terpaksa keluar dari OPEC atau persatuan Negara pengekspor minyak. Kita di tahun 2003 bukan Negara pengekpor minyak lagi karena kebutuhan dalam negeri dan produksi dalam negeri sudah seimbang yaitu produksi 1 juta barrel per hari dan kebutuhan 1 juta barrel perhari. Dimana di tahun 2004 hingga saat ini Indoensia menjadi Negara pengimpor murni karena kebutuhan BBM sudah melebihi produksi lifting minyak Indonesia.
Misalnya saat ini, lifting minyak Indonesia adalah 800.000 barel per hari sementara kebutuhan sudah mencapai 1,7 juta barel per hari. Alias lebih dari 800.000 barel di impor per harinya masuk ke tanah air tercinta ini. dan jika di kalikan harga minyak per barelnya dan dikalikan365 hari maka dalam satu tahun pembelian minyak tersebut lebih dari 350 triliun rupiah.
Negara ini bisa bebas dari subsidi jika harga premium adalah di harga 9.000 rupiah dan solar di harga 10.000 rupiah perliternya. Maka angka 300 trliunan tersebut akan pindah penggunaannya untuk hal lainnya.
Apa misalnya? Perlu di ingat anda adalah pemimpinnya. Anda bisa bikin sekolah seperti ITB dan UI di setiap provinsi dengan kapasitas 50.000 murid. Dan sekolah itu gratis biaya administrasinya. Anda bisa bikin rumah sakit sebesar mount Elisabeth Singapore 5 di setiap provinsi yang mengratiskan biaya obat. Di tambah lagi anda bisa menggratiskan sekolah dari SD hingga perguruan tinggi untuk 30 juta anak sekolah. Ditambah lagi anda bisa membuat rel ganda mengelilingi pulau di setiap provinsi.
Perlu di ingat juga, angka 300 triliun subsidi tadi tersedia setiap tahun nya, alias kalau anda menjabat 5 tahun maka uang nya ada 1.500 triliun rupiah. Sebuah angka yang gila besarnya. Anda bisa membangun jalan lintas provinsi di seluruh Indonesia. anda bisa membangun kanal saluran air untuk irigasi keseluruh sawah dan lading di Indonesia sehingga kita bisa produksi beras dan pangan lebih dari 2 kali panen dalam setahun.
Anda bisa membangun farmasitikal obat-obatan 20 kali lebih besar dari kalbe farma. Membangun bandara dan pelabuhan di setiap provinsi. Dan masih banyak lagi. yang jadi pertanyaan, apakah anda melepas subsidi atau anda mempertahankan subsidi BBM.?!!!
Begini kalau seandainya saya diminta menjadi pembisik atau sekondan dalam pemerintahan. Maka saya akan menyarankan, bahwa subsidi itu penting namun bukan harus BBM yang disubsidi. Karena dari fakta lapangan bahwa pengguna sector transportasi pribadi lah yang paling banyak mengkonsumsi BBM tersebut hingga 80% nya. Sebuah pemborosan luar biasa karena bukan sector produktif.
Maka, tindakan pertama adalah melepas subsidi sebagian dahulu, yaitu pulau jawa dan bali tidak ada subsidi di tahun 2014. Kalau pemberitahuannya sudah 1 tahun sebelumnya maka pastinya sudah ada persiapan dan solusinya dalam kurun waktu 1 tahun harus di siapkan.
Apa itu? Kalau gas alam kita yang berlimpah di bumi Madura, jawa, dan sumatera di jadikan LNG dan dipakai untuk bahan bakar kendaraan tranportasi maka harga jualnya hanya Rp 7000/liternya.
Bahan bakar dengan LNG menghasilkan tenaga 110% lebih baik dari BBM alias 10% diatas horse power energy tersebut. Kalau Bus, truck, kapal laut menggunakan LNG maka para penggunakan BBM di jawa ada 2 pilihan. Menggunakan BBM non subsidi atau menggunakan LNG. Ada lebih 3.000-8.000MMCFD gas akan membanjiri Indonesia di tahun 2014 ke atas produksinya. Dari blok cepu, blok Mahakam. Blok sampang, blok bangkalan, blok sumenep, dan masih banyak lagi sumber gas besar di Indoensia yang bisa di jadikan LNG.
Dengan demikian ketemu di tengah. Subsidi berkurang menjadi 150 triliunan namun masyrakat tidak terbebani karena adanya LNG di harga Rp 7.000 an bahkan di tahun kelima tidak ada subsidi di BMM pindah ke pendidikan dan kesehatan saja.
Dalam waktu 1 tahun maka converter atau engine bisa di produksi untuk menanggulangi fire combustion engine yang dual, yang bisa pakai gasoline atau LNG. Saat ini di dunia perkapalan sudah tersedia dual source tersebut. Saya yakin, bangsa kita mampu membuatnya apa lagi produsen dunia lainnya, pasti akan mengikuti pasar apalagi pasar indoesia yang besar ini sehingga dari pabriknya langsung sudah dibuat embedded sudah langsung menggunakan LNG sebagai bahan bakarnya.
Mengapa hal ini tidak dilakukan dulu-dulu. Baiklah, saya bocorin sedikit rahasia. Kalau import itu ada mafianya dan mafianya untung besar sekali. Makanya kalau Negara kita tetap subsidi maka trader minyak pasti untung dan ada “main” dengan penguasa.karena transaksi internasional KPK ngak sampai tangannya. Jadi trading minyak tersebut pasti ada pihak yang di untungkan, setuju bukan dengan logikanya. Permainan itu permainan tingkat tinggi namun semua orang tau, mereka untouchable. Mereka lah pengendali sebagian kekuatan politik di tanah air ini yang pastinya bukan nasionalis, pastinya kepentingan sendirinya lebih besar. kalau di lihat dari sisi ini maka subsidi dan para trader tersebut adalah musuh masyarakat bukan?! . Makanya jangan pilih Mardigu jadi presiden ngak pantes dan ngak cocok, bisa-bisa dan pasti kita lepas subsidi dengan cara di atas dan kita siap-siap perang dengan mafia # May peace be upon us