Selasa, 27 Oktober 2015

ADE KEOMA



Adik ipar saya atau suami dari adik saya adalah seorang yang patut saya tulis pengalaman hidupnya. Mereka semenjak sepuluh tahun yang lalu memutuskan untuk berpindah domisili dan bisnisnya ke Malang-Jatim untuk mengembangkan peluang kehidupan yang lebih baik. Tepatnya ketika Toko Mirah Swalayan saya jual. Tak lama adik saya menikah dan pindah. Sebagai keluarga yang baru berpindah domisilinya, tanpa banyak kenalan dan tanpa membawa bisnis, mereka harus merintis banyak hal dari awal.
Ada kekhususan kalau saya boleh menilai adik ipar saya ini. Dia seorang pekerja keras. Merantau jauh dari Medan ke Jakarta. Tanpa uang, tanpa saudara. Di kampungnya dia seorang anak yatim piatu, adalah kakaknya yang membiayai hidupnya di awalnya. Namun keberaniannya merantau dan bekerja mendapat simpati dari kami sekeluarga. Bahkan di hari pernikahan mereka, semua sangat sederhana, karena memang semua serba terbatas, tak banyak saudara dari pihak dia. Namun kami sangat menghormati dirinya, usaha dan bawaan dirinya yang ramah mempunyai nilai tambah yang orang lain sulit punyai. Dia bisa dikatakan people person, orang suka orang dan orang lain suka dengan dia juga. Kelebihan lain, dia cerdik.
Sewaktu pindah ke Malang, Ade Keoma, nama ipar saya tersebut, kebetulan baru belajar golf. Setiap hari saya ajari dia golf. Bagi saya dia sangat berbakat. Saya menasehati dirinya karena menurut alkisah golf adalah media bisnis yang cukup efektif untuk melobi dan membangun hubungan (building depth). Dengan melatih swing-nya di driving range dia terlihat sangat profesional, selain memang tingginya ideal, bakat olahraganya memang baik. Dia juga memiliki syarat untuk sukses yaitu teachablemudah diajarai dan cepat menguasai, penurut —, good follower (yang ternyata ini ciri dari good leader).
Dalam waktu satu bulan di Malang dia sudah berani ikut turnamen yang ternyata menghasilkan juara harapan I dan mulai banyak dapat kenalan termasuk direktur utama perusahaan Samsung (warga Korea) yang di Sidoarjo dan Probolinggo. Dari hubungan bermain golf kemudian menjadi hubungan pribadi hingga hubungan keluarga. Hingga suatu saat sang dirut menitipkan dua anaknya untuk belajar golf pada Ade Keoma. Dengan suka cita ia melatih mereka tanpa bayaran.Selang kira-kira enam bulan berlatih kedua putra dirut tersebut mengikuti turnamen. Mereka pun mendapat rangking baik, sang ayah cukup senang dengan perkembangan mereka.
 Sehingga suatu hari Ade Keoma mendapat tawaran dari dirut Samsung untuk mendistribusikan pupuk organik cair hasil dari perusahaan Samsung ke daerah Malang Selatan. Namun harus memiliki truk tangki yang dibayar liter-an dikalikan kilometer jarak.
Samsung Jedang memiliki pabrik besar di Probolinggo. Bahan dasarnya adalah tebu untuk membuat monosodium glutamate, 100 persen produksi dikirim ke negara Korea. Limbah pabrik tersebut ternyata dibuat pupuk organik yang luar biasa bagusnya. Tidak merusak unsur hara tanah seperti pupuk an-organik NPK, urea dan lain-lain.
Menjadi distributor pupuk adalah “one in a million”, satu berbanding sejuta kesempatan, mimpi banyak orang menjadi distributor ini. Permintaan pupuk ramah lingkungan, murah dan produktif ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan keuangan yang apa adanya (seingat saya keluarga adik saya harus meminjam uang untuk enam bulan pertama kehidupannya di Malang karena kurang biaya hidupnya yang didapat dari bisnis jualan pakaian Tanah Abang di Malang) namun hobby golf-nya tetap dilakukan karena percaya bahwa akan mendapatkan peluang usaha karena banyaknya pengusaha dan pejabat di sana. Walau tinggal di rumah kontrak dengan kepastian masa depan masih abu-abu (saat itu), Ade Keoma cukup tough, cukup resilience, cukup ulet membangun relasi, dengan sabar membangun kepercayaan, sehingga peluang dari dirut Samsung datang kepadanya.
Gayung bersambut, BPKB mobil Toyota hardtop tua kendaraan tabungan pasangan itu digadaikannya. Kemudian mencari sewaan mobil tangki. Sekarang delapan tahun telah lewat, tiga truk tangki besar ada di lapangan dekat rumahnya milik sendiri di Jalan Nusa Indah, Malang. Dari sebuah pelayanan tanpa embel-embel pamrih, ketulusan dan prestasi mereka mendapat reward yang patut disyukuri hingga seterusnya.