Adik
ipar saya atau suami dari adik saya adalah seorang yang patut saya tulis
pengalaman hidupnya. Mereka semenjak sepuluh tahun yang lalu memutuskan untuk
berpindah domisili dan bisnisnya ke Malang-Jatim untuk mengembangkan peluang
kehidupan yang lebih baik. Tepatnya ketika Toko Mirah Swalayan saya jual. Tak lama adik
saya menikah dan pindah. Sebagai keluarga yang baru berpindah domisilinya,
tanpa banyak kenalan dan tanpa membawa bisnis, mereka harus merintis banyak hal
dari awal.
Ada
kekhususan kalau saya boleh menilai adik ipar saya ini. Dia seorang pekerja
keras. Merantau jauh dari Medan
ke Jakarta.
Tanpa uang, tanpa saudara. Di kampungnya dia seorang anak yatim piatu, adalah
kakaknya yang membiayai hidupnya di awalnya.
Namun keberaniannya merantau dan bekerja mendapat simpati dari kami sekeluarga.
Bahkan di hari pernikahan mereka, semua sangat sederhana, karena memang semua
serba terbatas, tak banyak saudara dari pihak dia. Namun kami sangat
menghormati dirinya, usaha dan bawaan dirinya yang ramah mempunyai nilai tambah
yang orang lain sulit punyai.
Dia
bisa dikatakan people person,
orang
suka orang dan orang lain suka dengan dia juga. Kelebihan lain, dia cerdik.
Sewaktu
pindah ke Malang,
Ade Keoma, nama ipar saya tersebut, kebetulan baru belajar golf. Setiap hari
saya ajari dia golf.
Bagi saya dia sangat berbakat. Saya menasehati dirinya karena menurut alkisah
golf adalah media bisnis yang cukup efektif untuk melobi dan membangun hubungan
(building depth). Dengan melatih swing-nya
di driving range dia terlihat sangat profesional, selain memang tingginya
ideal, bakat olahraganya memang baik. Dia juga memiliki syarat untuk sukses
yaitu teachable — mudah
diajarai dan cepat menguasai, penurut —, good follower (yang ternyata ini ciri
dari good
leader).
Dalam
waktu satu bulan di Malang dia sudah berani ikut turnamen yang ternyata
menghasilkan juara harapan I dan mulai banyak dapat kenalan termasuk direktur utama perusahaan Samsung
(warga Korea) yang di Sidoarjo dan Probolinggo. Dari hubungan bermain golf kemudian menjadi hubungan
pribadi hingga hubungan keluarga. Hingga suatu saat sang dirut menitipkan dua anaknya untuk belajar golf pada
Ade Keoma. Dengan suka cita ia melatih mereka tanpa bayaran.Selang kira-kira enam bulan berlatih kedua putra dirut
tersebut mengikuti turnamen.
Mereka pun mendapat rangking baik, sang ayah cukup
senang dengan perkembangan mereka.
Sehingga
suatu hari Ade Keoma
mendapat tawaran dari dirut
Samsung untuk mendistribusikan pupuk organik cair hasil dari perusahaan Samsung
ke daerah Malang Selatan.
Namun
harus memiliki truk tangki yang dibayar liter-an dikalikan kilometer jarak.
Samsung
Jedang memiliki pabrik besar di Probolinggo.
Bahan dasarnya adalah tebu untuk membuat monosodium glutamate, 100 persen produksi
dikirim ke negara Korea.
Limbah pabrik tersebut ternyata dibuat pupuk organik yang luar biasa bagusnya. Tidak
merusak unsur hara tanah seperti pupuk an-organik NPK, urea dan lain-lain.
Menjadi
distributor pupuk adalah “one in a million”, satu berbanding sejuta kesempatan,
mimpi banyak orang menjadi distributor ini. Permintaan pupuk ramah lingkungan,
murah dan produktif ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan keuangan
yang apa adanya (seingat saya keluarga adik saya harus meminjam uang untuk enam
bulan pertama kehidupannya di Malang karena kurang biaya hidupnya yang didapat
dari bisnis jualan pakaian Tanah Abang di Malang) namun hobby golf-nya tetap
dilakukan karena percaya bahwa akan mendapatkan peluang usaha karena banyaknya
pengusaha dan pejabat di sana. Walau tinggal
di rumah kontrak dengan kepastian masa depan masih abu-abu (saat itu), Ade Keoma cukup tough, cukup resilience,
cukup ulet membangun relasi, dengan sabar membangun kepercayaan, sehingga
peluang dari dirut Samsung datang kepadanya.
Gayung
bersambut, BPKB mobil Toyota hardtop tua kendaraan tabungan pasangan itu
digadaikannya. Kemudian mencari sewaan mobil tangki. Sekarang delapan tahun
telah lewat, tiga
truk tangki besar ada di lapangan dekat rumahnya milik sendiri di Jalan Nusa Indah, Malang. Dari sebuah pelayanan tanpa
embel-embel
pamrih, ketulusan dan prestasi mereka mendapat reward yang patut disyukuri
hingga seterusnya.