Saya
memiliki bengkel mobil modifikasi semenjak tahun 1993 di daerah Haji Nawi, Jakarta Selatan, bermitra dengan
seseorang sahabat lama, Mas Didiet, salah seorang pembalap jalanan yang
disegani dua
puluh
tahun
lalu. Teman-temannya hampir seluruh pembalap yang ada di banyak media dan Mas Didiet adalah seorang mekanik
terbaik untuk speed
racing, balapan kecepatan, seperti drag race.
Bengkel
ini bernama NEWSPEED dan kami memiliki mobil VW yang kami modif untuk drag race
nomor spesialis di balapan drag
race selama lima
tahun terakhir, bengkel Newspeed merajai kelas ultra drag. Dulu sewaktu di TV ada siaran
langsung kompetisi otomotif
Heat The
Night
Drag Race bersama Tabloid Otomotif dan TV7, dalam kategori pembalap dan
konstruktor untuk sementara kami berada di posisi klasemen nomor satu dari 350
peserta.
Kami
sekeluarga di setiap hari pertandingan cukup deg-degan menyaksikan jalannya
pertandingan yang disiarkan langsung di TV tersebut. Mengingat acara tersebut
tengah malam dan mobil kami sudah harus menunggu dari sejak paginya sementara
mobil tersebut tidak dinyalakan ignition-nya karena memang kami simpan kekuatan
agar lawan-lawan
tidak memperhitungkannya, sehingga kalau menggerakkan mobil tersebut harus didorong-dorong pada
gear netral. Sangat
melelahkan. Pada saat waktu pertandingan yang biasanya mulai jam sebelas malam
kami tetap bersemangat.
Anak-anak di
rumah menyaksikan dan sangat bangga dengan VW merah kami selalu menembus finish
duluan pada jarak 201 meter kompetisi dengan waktu tujuh detik-an.
Di
sisi manajemen Mas
Didiet mengelola bengkel dengan pendekatan otoriter, dia senang bermitra sama
saya katanya karena saya nggak ngerti mobil sama sekali, jadi tidak pernah
ngerecokin. Bisanya cuma jadi provokator kalau ada orang mau modifikasi dan
bagi-bagi tiga
bulanan
uang sangu dari bengkel.
Dia
sangat galak, otoriter dan perfeksionis untuk urusan mobil. Apalagi tamu-tamu yang datang sekarang, mobilnya ajaib-ajaib, dari Kijang Innova, BMW, VW Caravale sampai
Porche datang untuk dimodifikasi. Kami memang mengambil ceruk pasar —niche market —yang tajam yang kami sebenarnya
tidak menduga pasar kelas atas ini bisa sukses.
Yang
saya kagumi dari bengkel ini adalah cara Mas Didiet mengelola walau dengan
tipe otoriter, adalah rendahnya biaya overhead bulanan termasuk gaji pegawai,
padahal untuk bengkel spesialis mobil mewah montirnya biasanya bergaji mahal. Apa resepnya? Semua montirnya adalah
anak-anak jalanan yang terlantar yang dididik dari nol.
Pernah
dia berkata,
pada saat saya sudah hampir tiga bulan
tidak muncul dan baru saat itu datang ke bengkel, “Wiek, aku dapat dua anak kurus kayak tiang masih lima belas tahun-an sudah hampir mati kelaparan
datang ke bengkel, tak kasih makan lahapnya bukan main. Sekarang
sudah dua bulan mereka tinggal di bengkel dan bantu-bantu aku di sini, tak
ajari banyak pekerjaan, cepet banget mereka belajar dan mahir. Sekarang sudah
bisa las chasis, lihat hasilnya gak kalah sama tukangnya Astra,” katanya
bangga. “Pokoknya aku bilang pada mereka, belajar dulu nanti aku kasih duit
bulanan sesuai kepandaian, kamu makan tidur dijamin.”
Bisa
dibayangkan sebuah ketrampilan dengan bayaran ilmu, makan dan tempat tidur. Sebuah bargain/tawar-menawar menarik, bukan? Dan ini telah dilakukan sejak awal
bengkel berdiri, dia kuat dan displin sekali di dalam duplikasi ilmu dengan
cara otoriter. Rupanya seseorang cepat belajar jika di bawah tekanan agaknya.
Dengan cara begitu, biaya bulanan bengkel sangat rendah, sehingga pelanggan betah
kembali lagi ke bengkel Newspeed karena harga service yang ditawarkan cukup
murah dengan mutu baik.
Banyak
sudah alumni Mas
Didiet yang sekarang membuka bengkel sendiri dan memang dia sendiri secara
pribadi menyarankan mereka untuk berdikari jika keterampilan mereka sudah
fasih. Saya pernah bertanya, “Sayang,
khan,
Mas,
sudah capek-capek dididik mereka keluar?”
“Begini,” katanya menerangkan, “kalau seseorang sudah menjadi ahli,
maka secara profesional mereka menjadi mahal bayaran dan biaya bulanan bengkel
kita bisa membengkak tinggi.
Lebih
baik mereka berwirausaha sendiri dengan standar kita, sehingga kalau kita
kelebihan order, kita bisa beri kepada mereka ordernya untuk dikerjakan. Khan kita
dapat harga khusus dong oleh mereka,” katanya memaparkan sintesanya.
“Kita
secara langsung jadi tidak kerepotan ngurusi biaya bulanan. Begitu juga
sebaliknya kalau mereka kelebihan order pasti mereka memberikan order tersebut
kepada kita. Sedangkan kita akan terus mencetak kader sehingga kalau perlu
suatu saat nanti kita tidak usah punya bengkel, tapi para alumnus kita ada
puluhan bengkel berdiri dengan standar kita. Kita hanya memberikan ordernya.
Jadi tidak pusing detail-detail
pekerjaan harian dan membiayai gaji bulanan, tidak ngurusi ini itu, income
pasti-pasti,” katanya panjang lebar.
Empatinya
pada orang jalanan membawa peluang tersendiri bagi orang seperti Mas Didiet.