Eyang, dulu eyang punya
uang 5 juta ngak di tahun 2008 di bulan September.
Saya menjawab, punya kalau ngak salah, ada. Kenapa nak. Itu adalah bayangan imaginasi saya mengayal di tahun 2045 dimana Indonesia sudah menjadi Negara emas karena berulang tahun ke 100. Dan cucu saya bertanya dengan polosnya kepada saya sang kakek kira-kira di tahun 2008 september saya memiliki uang sekitar nilai 5 jutaan nilai mata uang di tahun 2008.
Lalu cucu saya bertanya, lalu kakek waktu itu ke Singapore ngak nonton formula 1 race yang mana pertama kali di dunia diadakan di jalan raya street race dan malam hari. Dan asia adalah Negara yang pertama yang menyelenggarakannya.
Lalu saya jawab, ngak, eyang ngak nonton.eyang ngak terlalu suka formula race.
Ngak penting formula race nya eyang, tapi eyang enjoy the moment peristiwa bersejarahnya saja. 5 juta khan sudah bisa ke sana 2 malam dan menikmati peristiwa sejarah. Lalu eyang di saat pahlawan kemanusiaan nelson Mandela di makamkan hadir ngak 15 desember 2013?
Pastinya saya jawab, eyang ngak bisa hadir eyang sibuk. Lalu saya membayangkan cucu saya ngerocos, waktu tanggal 27 april 1994 dimana hari pemilihan yang menentukan apakah afrika selatan memilih apartheid atau bebas bersama Mandela, eyang nonton di tv moment menentukan itu ngak? Kan di CNN disiarkan langsung. Dan katanya dunia seakan stop bekerja saat itu menanti moment ini, bener begitu ya eyang?
Kalau jawaban saya, eyang ngak tau tuh, waktu itu eyang pergi atau apapun jwabannya maka berondongan pertanyaan pasti berlanjut. Eyang garing amat sih hidupnya, eyang ngak menghargai Moment of greatness kehidupan”, hambar amat hanya mengerjakan rutinitas, tidak enjoy the moment, enjoy ke kinian, karena sekarang hal itu terlawati sudah tidak ada lagi.
Jika cucu saya bertanya, pohon asem kayak apa sih eyang? Komodo itu segede dinosaurus ya…eyang pernah lihat? Sekarang sudah punah soalnya. Eyang pernah ke Kilimanjaro, dulu katanya ada salju di sana, juga di puncak Piramida Carstenz jayawijaya di papua. Eyang pernah kesana?
Eyang pernah main ski di alpens? Eyang pernah ke peru membaca Celestine prophecy di sana? Katanya eyang senang mencari hal yang membuat kehidupan ini pantas dihargai.
Ini adalah ke anehan cara saya berfikir. Jika ada sahabat mencoba mengenal saya lebih jauh terkadang terbetik pikiran seperti ini dalam diri saya. saya seakan bisa menjadi dua personality yang saling berdialog. Dan bagi sahabat yang mungkin heran dengan kemampuan pikiran seperti itu sederhananya begini.
Bayangkan anda suatu hari sedang duduk di restorant atau café yang sepi. Sedari tadi meja di kiri anda tidak ada orangnya. Dan anda sibuk dengan wi fi anda dan gadget anda. ketika anda hendak pergi, terlihat di meja anda ada 2 handphone baru gress. Satu black berry satu lagi I phone 5 terbaru. Anda celingukan kekiri kekanan. Handphone siapa ya?
Ternyata tidak ada orang di sekitar, karyawanpun hanya dua orang sedang sibuk siap-siap menutup café. Kemudian anda dalam hati bertanya, handphone siap ya ini? ambil ngak ya? Atau laporin ke pelayan café? Atau di simpen saja dulu nanti cari siapa pemiliknya? Atau lapor satpam..tapi nanti malam di embat satpam…ada puluhan dialog dalam diri. Ada seakan 2 orang sedang bimbang.
Dalam otak manusia itulah yang disebut dengan pikiran bawah sadar ( subconscious) sedang berdialog dengan conscious mind ( pikiran atas sadar). Komunikasi dalam diri ini hal yang biasa. Dan dalam kemakrifatan manusia tertentu aka nada informasi sekelebat dari superconsious atau beyond human. Bisa dikategorikan masuk alam lahut kemalaikatan atau sejenisnya. Yang jelas frekuensi gelombang tersebut terkadang tune.
Terkadang muncul yang namanya ide, out of the blue, ujug-ujug. Sekonyong-konyong. Ide tersebut semakin anda sering melatihnya ide tersebut semakin out of the box. Anda tidak akan perkirakan sebelumnya.
Perenungan disetiap tindakan adalah melatih self talk manusia. Data manusia yang terkini dalam journal psikologi mengatakan satu hari manusia berbicara dengan diri sendiri lebih dari 60,000 kata dan se cerewet cerewetnya manusia tidak pernah lebih 20.000 kata di ucapkan perharinya.
Dalam komunikasi, seni berbicara yang terpenting adalah kemampuan berbicara dnegan diri sendiri. Karena tindakan, kebiasaan, belief system di awali dengan cara manusia melakukan self talk.
Dalam perjalanan kehidupan saya, lama saya belajar tentang hal ini. puluhan guru saya sambangi walau hanya sebentar, puluhan buku saya pelajari, namun saya tidak pernah mendiskusi dengan siapapun, karena hal ini sangat personal. Salah satu chapter aneh kehidupan saya dalam menemukan diri sendiri sebuah perjalanan panjang. Namun di media social seperti ini saya tidak pernah mengangkatnya. Hanya paling seperti tulisan ini, tujuannya hanya memberi gambaran saja agar tujuan penulisan dimengerti bukan berbagi pengalaman sperti kehidupan keseharian dan kehidupan bisnis saya yang saya unggah.
Ada beberapa hal yang sangat tabu saya tulis yaitu masalah spiritual, masalah percintaan, dan inward looking pencarian kedalam menemukan hikmah. Kembali ketulisan di atas. Kalimat semodel itu sering saya bicarakan dengan para sahabat.
Saya ingin dalam kehidupan yang singkat ini saya mendapatkan sisi utuh kehadiran saya didunia ini. saya tidak ingin ada moment yang bisa saya rengkuh namun saya tidak ambil. Dan travelling adalah salah satu jawabnya. Untuk nusantara tercinta, hampir semua wilayah saya sudah kunjungi dan menetap. Untuk asia hampir semua sudah saya kunjungi. Mulai dari asia barat berbatas mesir dan turki, dunia arab, dunia parsi, india, hingga ke tengah china, sampai timur jepang. Walau sebatas tour, atau sebatas kunjungan bisnis namun lengkap saya jelajahi.
Mengenal kultur, merasakan makanan, menikmati suasana, dan banyak lagi. ada 2 benua yang belum saya jelajahi dan ingin sekali saya ke sana, amerika selatan dan afrika. Sangat eksotik. Saya tidak ingin cucu saya nanti bertanya, jerapah itu kayak apa? Di tanam Serengeti seru ngak eyang? Pernah ke pertambangan berlian de beer? Pernah ke pegunungan andes? Pernah belajar tango? Pernah ke pantai rio Copacabana dan ipanema? Pernah ke bora bora? Pernah lihat machu pichu? Juga 9 lembar manuscript celetine prophecy disana pernah baca?
Panjang lagi barisan perjalanan yang saya ingin lihat di berbagai belahan dunia. Dan tulisan ini terpancing idenya di kala malam hari jumat kemarin 2 trailer panjang membawa kayu besi dari Kalimantan yang panjang nya 18 meter tanpa sambungan dimana diameter bawahnya 70 cm dan atasnya 60 cm.
Saya membeli 8 buah untuk soko guru kantor kami yang baru akan di bangun 3 tahun lagi. namun kayu saya stok sekarang ditaruh di parkiran saja. Walau banyak yang belum dipersiapkan sperti design, dan dan lain sebagainya namun saya ngak perdulu, nanti deh yang penting impian di cicil dulu. Ternyata, perlu 8 jam untuk melakukan maneuver meletakan kayu 8 buah tersebut karena panjang dan berat yang ide membelinya juga karena ego kecil saya tersentuh.
Asal muasalnya, beberapa tahun yang lalu kami ke paris perancis dan menginap di hoteltua yang apik bergaya renesance dan classic . Kami tinggal di basement. Dan selagi saya merebahkan di tempat tidur maka eksposure balokan bentang kayu membelah ruang tidur dan kamar tamu. Saya pun mendekati untuk melihat kayu massif tersebut. saya ambil kursi karena ada lempengan besi menempel di kayu balok tersebut. setelah cukup dekat pandangan saya membacanya, BORNEO WOOD years of 1708.
Saya cukup surprise ada kayu besi Kalimantan di tengah paris. Yang esoknya saya confirm ke front desk manager on duty tentang kayu besi di basement yang dijawab iya, itu kayu borneo yang dibeli dari pedagang ingris oleh owner hotel ini. dan kayu-kayu sejenis itu banyak terdapat di hotel-hotel tua lainnya di kota Paris. Waw ..sebuah kebanggan bagi saya mendengarnya. Karena dengan bangga saya mengatakan saya 7 tahun tinggal di Kalimantan sebagai salah satu bagian perjalanan hidup saya. # may the peace be upon us for always
Saya menjawab, punya kalau ngak salah, ada. Kenapa nak. Itu adalah bayangan imaginasi saya mengayal di tahun 2045 dimana Indonesia sudah menjadi Negara emas karena berulang tahun ke 100. Dan cucu saya bertanya dengan polosnya kepada saya sang kakek kira-kira di tahun 2008 september saya memiliki uang sekitar nilai 5 jutaan nilai mata uang di tahun 2008.
Lalu cucu saya bertanya, lalu kakek waktu itu ke Singapore ngak nonton formula 1 race yang mana pertama kali di dunia diadakan di jalan raya street race dan malam hari. Dan asia adalah Negara yang pertama yang menyelenggarakannya.
Lalu saya jawab, ngak, eyang ngak nonton.eyang ngak terlalu suka formula race.
Ngak penting formula race nya eyang, tapi eyang enjoy the moment peristiwa bersejarahnya saja. 5 juta khan sudah bisa ke sana 2 malam dan menikmati peristiwa sejarah. Lalu eyang di saat pahlawan kemanusiaan nelson Mandela di makamkan hadir ngak 15 desember 2013?
Pastinya saya jawab, eyang ngak bisa hadir eyang sibuk. Lalu saya membayangkan cucu saya ngerocos, waktu tanggal 27 april 1994 dimana hari pemilihan yang menentukan apakah afrika selatan memilih apartheid atau bebas bersama Mandela, eyang nonton di tv moment menentukan itu ngak? Kan di CNN disiarkan langsung. Dan katanya dunia seakan stop bekerja saat itu menanti moment ini, bener begitu ya eyang?
Kalau jawaban saya, eyang ngak tau tuh, waktu itu eyang pergi atau apapun jwabannya maka berondongan pertanyaan pasti berlanjut. Eyang garing amat sih hidupnya, eyang ngak menghargai Moment of greatness kehidupan”, hambar amat hanya mengerjakan rutinitas, tidak enjoy the moment, enjoy ke kinian, karena sekarang hal itu terlawati sudah tidak ada lagi.
Jika cucu saya bertanya, pohon asem kayak apa sih eyang? Komodo itu segede dinosaurus ya…eyang pernah lihat? Sekarang sudah punah soalnya. Eyang pernah ke Kilimanjaro, dulu katanya ada salju di sana, juga di puncak Piramida Carstenz jayawijaya di papua. Eyang pernah kesana?
Eyang pernah main ski di alpens? Eyang pernah ke peru membaca Celestine prophecy di sana? Katanya eyang senang mencari hal yang membuat kehidupan ini pantas dihargai.
Ini adalah ke anehan cara saya berfikir. Jika ada sahabat mencoba mengenal saya lebih jauh terkadang terbetik pikiran seperti ini dalam diri saya. saya seakan bisa menjadi dua personality yang saling berdialog. Dan bagi sahabat yang mungkin heran dengan kemampuan pikiran seperti itu sederhananya begini.
Bayangkan anda suatu hari sedang duduk di restorant atau café yang sepi. Sedari tadi meja di kiri anda tidak ada orangnya. Dan anda sibuk dengan wi fi anda dan gadget anda. ketika anda hendak pergi, terlihat di meja anda ada 2 handphone baru gress. Satu black berry satu lagi I phone 5 terbaru. Anda celingukan kekiri kekanan. Handphone siapa ya?
Ternyata tidak ada orang di sekitar, karyawanpun hanya dua orang sedang sibuk siap-siap menutup café. Kemudian anda dalam hati bertanya, handphone siap ya ini? ambil ngak ya? Atau laporin ke pelayan café? Atau di simpen saja dulu nanti cari siapa pemiliknya? Atau lapor satpam..tapi nanti malam di embat satpam…ada puluhan dialog dalam diri. Ada seakan 2 orang sedang bimbang.
Dalam otak manusia itulah yang disebut dengan pikiran bawah sadar ( subconscious) sedang berdialog dengan conscious mind ( pikiran atas sadar). Komunikasi dalam diri ini hal yang biasa. Dan dalam kemakrifatan manusia tertentu aka nada informasi sekelebat dari superconsious atau beyond human. Bisa dikategorikan masuk alam lahut kemalaikatan atau sejenisnya. Yang jelas frekuensi gelombang tersebut terkadang tune.
Terkadang muncul yang namanya ide, out of the blue, ujug-ujug. Sekonyong-konyong. Ide tersebut semakin anda sering melatihnya ide tersebut semakin out of the box. Anda tidak akan perkirakan sebelumnya.
Perenungan disetiap tindakan adalah melatih self talk manusia. Data manusia yang terkini dalam journal psikologi mengatakan satu hari manusia berbicara dengan diri sendiri lebih dari 60,000 kata dan se cerewet cerewetnya manusia tidak pernah lebih 20.000 kata di ucapkan perharinya.
Dalam komunikasi, seni berbicara yang terpenting adalah kemampuan berbicara dnegan diri sendiri. Karena tindakan, kebiasaan, belief system di awali dengan cara manusia melakukan self talk.
Dalam perjalanan kehidupan saya, lama saya belajar tentang hal ini. puluhan guru saya sambangi walau hanya sebentar, puluhan buku saya pelajari, namun saya tidak pernah mendiskusi dengan siapapun, karena hal ini sangat personal. Salah satu chapter aneh kehidupan saya dalam menemukan diri sendiri sebuah perjalanan panjang. Namun di media social seperti ini saya tidak pernah mengangkatnya. Hanya paling seperti tulisan ini, tujuannya hanya memberi gambaran saja agar tujuan penulisan dimengerti bukan berbagi pengalaman sperti kehidupan keseharian dan kehidupan bisnis saya yang saya unggah.
Ada beberapa hal yang sangat tabu saya tulis yaitu masalah spiritual, masalah percintaan, dan inward looking pencarian kedalam menemukan hikmah. Kembali ketulisan di atas. Kalimat semodel itu sering saya bicarakan dengan para sahabat.
Saya ingin dalam kehidupan yang singkat ini saya mendapatkan sisi utuh kehadiran saya didunia ini. saya tidak ingin ada moment yang bisa saya rengkuh namun saya tidak ambil. Dan travelling adalah salah satu jawabnya. Untuk nusantara tercinta, hampir semua wilayah saya sudah kunjungi dan menetap. Untuk asia hampir semua sudah saya kunjungi. Mulai dari asia barat berbatas mesir dan turki, dunia arab, dunia parsi, india, hingga ke tengah china, sampai timur jepang. Walau sebatas tour, atau sebatas kunjungan bisnis namun lengkap saya jelajahi.
Mengenal kultur, merasakan makanan, menikmati suasana, dan banyak lagi. ada 2 benua yang belum saya jelajahi dan ingin sekali saya ke sana, amerika selatan dan afrika. Sangat eksotik. Saya tidak ingin cucu saya nanti bertanya, jerapah itu kayak apa? Di tanam Serengeti seru ngak eyang? Pernah ke pertambangan berlian de beer? Pernah ke pegunungan andes? Pernah belajar tango? Pernah ke pantai rio Copacabana dan ipanema? Pernah ke bora bora? Pernah lihat machu pichu? Juga 9 lembar manuscript celetine prophecy disana pernah baca?
Panjang lagi barisan perjalanan yang saya ingin lihat di berbagai belahan dunia. Dan tulisan ini terpancing idenya di kala malam hari jumat kemarin 2 trailer panjang membawa kayu besi dari Kalimantan yang panjang nya 18 meter tanpa sambungan dimana diameter bawahnya 70 cm dan atasnya 60 cm.
Saya membeli 8 buah untuk soko guru kantor kami yang baru akan di bangun 3 tahun lagi. namun kayu saya stok sekarang ditaruh di parkiran saja. Walau banyak yang belum dipersiapkan sperti design, dan dan lain sebagainya namun saya ngak perdulu, nanti deh yang penting impian di cicil dulu. Ternyata, perlu 8 jam untuk melakukan maneuver meletakan kayu 8 buah tersebut karena panjang dan berat yang ide membelinya juga karena ego kecil saya tersentuh.
Asal muasalnya, beberapa tahun yang lalu kami ke paris perancis dan menginap di hoteltua yang apik bergaya renesance dan classic . Kami tinggal di basement. Dan selagi saya merebahkan di tempat tidur maka eksposure balokan bentang kayu membelah ruang tidur dan kamar tamu. Saya pun mendekati untuk melihat kayu massif tersebut. saya ambil kursi karena ada lempengan besi menempel di kayu balok tersebut. setelah cukup dekat pandangan saya membacanya, BORNEO WOOD years of 1708.
Saya cukup surprise ada kayu besi Kalimantan di tengah paris. Yang esoknya saya confirm ke front desk manager on duty tentang kayu besi di basement yang dijawab iya, itu kayu borneo yang dibeli dari pedagang ingris oleh owner hotel ini. dan kayu-kayu sejenis itu banyak terdapat di hotel-hotel tua lainnya di kota Paris. Waw ..sebuah kebanggan bagi saya mendengarnya. Karena dengan bangga saya mengatakan saya 7 tahun tinggal di Kalimantan sebagai salah satu bagian perjalanan hidup saya. # may the peace be upon us for always