Mendapat pesan singkat dari ibu di kampung halaman membuat saya menghentikan pekerjaan rutin saya. entah mengapa saya rindu sekali bertemu beliau. Ternyata sudah lama saya tidak bertatap muka langsung dengan nya. Sudah lama saya tidak merasakan sentuhan kulit nya yang menua.
Terbersit langsung saya terbayang masa kecil di wilayah maospati madiun, lalu berpindah kota mngikuti pekerjaan ayah saya. seorang perwira menengah angkatan udara letnan dua. Hingga pindah kesumatera di awal tahun 70 an dimana wilayah prabumulih, pendopo, talang akar masih hutan rimba.
Di kota pulau jawa pun berpindah berkali-kali.
Namun memiliki ibu yang hanya berpendidiak SMP tidak tamat saya tidak pernah minder malah bangganya bukan main. Dia yang mengajari saya banyak hal. Kalau ayah saya mengajari semua yang logika, ibu adalah yang mengajari saya arti kasih.
Entah mengapa saya terbayang di usia 5 tahun saya lagi di bonceng di belakang di sepeda jengki tua kami. Kaki saya goyang-goyang sehingga masuk ke jeruji jari-jari sepeda belakang. Dan ibu merasa sangat bersalah melihat luka dikaki saya. padahal saya aslinya yang salah, yang biyayakan. Ibu menunduk dan mencuci luka saya, dengan dihisapnya darah dijempol kaki saya dengan ciuman nya. Oh..saya sampai sekarang ingat terus kasih ibu seperti itu.
Selama beberapa hari saya di rawatnya, hanya untuk sebuah luka dalam namun rasa bersalahnya lebih mendominasi gerakannya. Dan dirawat penuh kasih tersebut ya pastinya cepat sembuh lah. Sembari mengingat hal-hal masa lalu saya membalas pesan beliau. Iya bu…mas wowi segera lakukan. Pesan singkatnya adalah untuk nyekar ke makam ayah almarhum.
Sekarang pikiran saya yang melayang ke ayah saya yang telah ke rahmattullah. 7 tahun telah berlalu, terasa waktu berjalan cepat padahal kita semua tahu detik ke detik kecepatannya sama setiap harinya.
Saya mencari lagu di youtube sebagai pengisi ruangan kamar kerja saya yang sepi karena semua lagi makan siang dan saya sendiri masih mengerjakan setumpuk data. Saya berdiri mendekati aktif speaker dan membesarkan volume suara di laptop dan terdengar lagu “ dance with my father again” luther vandross
Saya pun terduduk lunglai begitu mendengar refrain lagu tersebut :
if I could get another chance, another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love
To dance with my father again…
betapa saya sangat ingin bersamanya saat itu..rindu sekali
Saya keingat masa di madiun dulu, sebagai seorang perwira berpangkat letnan di jaman tersebut pendapatan ayah saya hanya bisa buat makan setengah bulan. sebagai sambungannya maka ada dua hal yang dilakukannya. Menambah kerja sampingan mengajar atau sesekali menggunakan sarana tentara mengatar tembakau dari berbagai lokasi di jawa timur dan jawa tengah. Ke Kediri, ke blitar, ke blora, ke kertosono, nganjuk, ngawi, bojonegoro.
Pokoknya hari yang sama balik lagi truk tersebut. walau malam hari. Dan karena di tentara jam kerja selesai jam 2 siang maka saya di usia 5 tahunan kala itu sering ikut menemani ayah di samping dia menyupir.
Mungkin karena ayah saya jawa, maka mocopat pun terkadang di langgamkan menemani sepinya perjalanan waktu itu. Tidak ada radio, jalanan sepi. Ya dia melantunkan wejangan jawa dengan di woco papat papat. Bagai gurindam empat empat.
Bangsa Indonesia memang bangsa dengan budaya pitutur, disanalah banyak nasehat terucap dari lidahnya dan masuk ke dalam pikiran saya melalui langgam dan lantunan mocopat tersebut.
kata-kata alunan kata-kata dalam mocopat seperti arep jamure emoh watange mau enaknya ngak mau susahnya, anak polah bapa kepradhah anak berbuat orangtua bertanggung jawab.
Adigang, adigung, adiguna seseorang yang menyombongkan kekuatan, kekuasaan dan kepandaiannya, becik ketitik ala ketara semua kebaikan akan dibalas, semua keburukan akan terungkap. Criwis cawis, siapa yang mngkritik harus memberikan solusi. Embat embat celarat bekerja harus cermat dan teliti. Jer basuki mawa bewa, setiap hal ada biayanya. Dan banyak pitutur pini sepuh selalu ayah saya lantunkan dalam perjalanan tersebut.
Sering smapai saya tertidur. Namun 2 tahun lebih dan hampir 2 hari sekali dalam seminggu saya mendengarnya melantun mocopat. Banyak wejangan masuk di kepala saya. hingga saat ini saya masih ingat banyak. Atau lainnya saya sudah tidak teringat namun pastinya masuk ke sub system saya terbawah dalam pikiran saya.
Di tanamnya nilai-nilai tersebut setidaknya memberikan mengapa saya menjadi seperti manusia saat ini. itulah mungkin alasan saya berusaha melanjutkan tradisi sederhana keluarga dengan selalu menyempatakan makan malam bersama agar budaya pitutur nusantara masih bisa di lestarikan.
Budaya TV yang mengambil alih komunikasi keluarga sepertinya harus mulai di ambil tindakan serius. Tidak ada TV dari jam 6 hingga jam tidur jam 9. Dan manfaatkan 3 jam tersebut bercengkrama bersama keluarga. Saya di usia begini masih belajar melakukan parenting dengan sebisa-bisanya.
Parenting adalah sebuah pekerjaan terhormat yang menuntut waktu panjang. Menuntut pengertian dan kesabaran. Mengajarkan kasih dan pengertian. Mempraktekan Cinta sebagai sarana untuk membahagiakan satu sama lain, bukan menuntut satu pihak untuk membahagiakan pihak lain. Selamat hari Ibu # may the peace be upon us for always