Selasa, 27 Oktober 2015

“Hal yang baik pasti terjadi ketika anda menjaga jarak dengan hal negatif”



Pak, saya mau kenalkan pada teman saya. dia pimpinan bank yang 2 tahun terakhir masuk bank terbaik pertumbuhan bisnisnya di Indoensia. Ini adalah kalimat dari mitra bisnis saya sewaktu saya mengunjungi kantornya di semarang bulan mei yang lalu.

Saya pun di bawa di kamar kerjanya yang luas dan dihadapan saya ada seorang yang cukup atletis berusia akhir 40an. Dia pun kemudian berdiri dan menyodorkan tangan nya sambil menyebut namanya M. asli orang jawa pastinya karena berakhiran huruf O dibelakang namanya. Ini kartu nama saya pak, dan saya pun membaca sekilas, jabatannya COO. Orang nomor dua untuk bank 10 besar di Indoensia adalah prestasi yang cukup mengkilat tentunya.

Saya pun memperkenalkan nama saya, namun saya kehabisan kartu nama sehingga dia harus mengeja ulang nama saya, mardigu wowiek, mas wowiek. Ok mas, tapi kayaknya saya pernah ketemu anda dimana ya kira-kira? Sejenak dia menatap saya.

Wah, pak..wajah saya jauh dibandingkan dengan ariel noah..bukan pak saya wowiek pak, kata saya bercanda..dia pun tertawa, bukan, bukan seseroang di TV. Kayaknya kita pernah bertemu ya..

Nah kali ini saya agak serius karena jarang orang mengatakan pernah bertemu saya dan mencoba-coba mengingatnya. Sementara di satu sisi saya tidak ingat blas kalau saya pernah kenal dengan dirinya sebelumnya atau bertemu.

Lalu dia berkata, pak, sebelum di bank D ini saya di bank M. saya baru 2 tahun di sini. Apakah kita pernah bertemu di bank M. dalam hati saya, nah ini mungkin sekali. O iya pak. Itu mungkin karena di bank M saya sering berhubungan, kami sudah 15 tahun terakhir bersama mereka. Kami termasuk loyal customer mereka dan loan terbesar kami dukungan nya dari bank M, saya dari TS pak.

Nah, ini..benar khan. Iya saya ingat sekarang. Waktu itu kami rebutan antara divisi komersial dan divisi corporate. Rebutan buat proyek TS. Haha dan saya kalah sama pak Y. benerkan, dia yang megang sekarang account bapak?!.

Iya benar pak Y yang pegang. Tapi masak rebutan di sesama bank. Saya bertanya heran.

Itu biasa pak buat prestasi. Jawab pak M O, Dan sekedar informasi, sejak saat itu saya berkata dalam hati bahwa suatu saat TS bisa saya ambil kalau perlu saya rebut dari bank M apalagi setelah saya keluar dan sekrang di Bank D. dan lucunya lagi tadi dalam perjalanan baru saja saya ngerasani. Bagaimana carany ketemu TS ehh…bapak hadir..haha. diapun berkata sambil mendudukan dirinya di sofa.

Dia melanjutkan kalimatnya..apa PT TS mau refinance ke kita pak?
Wah, tergantung tenor dan offering bapak. Mau banget kami. Tapi pada dasarnya kami happy pak dengan bank M. beberapa persyaratannya sesuai dengan mau kami. Dan kami ini loyal customer pak . jadi mungkin bukan buat refinance bank M bagaimana kalau merefinance yang bank C pak. Ini bank agak sedikit kurang korporative mengakomodir kemauan kami, selalu menekankan kemauan mereka. Bagaimana pak? Saya pun bertanya

O bisa banget, jawabnya cepat .Saat ini kondisinya bagaimana?
Awalnya 2 tahun yang lalu kami memerlukan mezzanin fund buat proyek kami di jawatengah. Namun karena bisnis ini masih blue ocean,ngak ada pemainnya. Banyak funder atau banker ngak ngelirik. Hampir 2 tahun kami mencari dana untuk covering kita punya equity.

Masak sih, orang bisnis nya end to end begitu?! Tanya nya lagi.

Bank M sudah memberikan Offering Letternya angka 70% -80% pembiayaan aman. Dan kami yakin kalau kami menemukan barang-barang produksi atau procurement pengadaan barang yang murah biaya investasi bisa turun. Jadi dimana syarat nya adalah 20% dana equity sendiri dan 80% adalah pinjaman dana dari bank M. jadi “mezzanine fund” hanya sementara sekali. Hanya masukan dana, dan ketika loan di draw down langsung bisa kita kembalikan. Hanya buat window dressing ke bank.

Namun, tidak mudah memang mencari investor yang minat. Saya hampir mengunjungi lebih dari 50 lembaga keuangan, private investor, investment banking, venture capital. Hanya obligasi dan pasar bursa saja belum kami masukan. Bahkan Repo saham pun saya coba. Demikian saya menjelaskan betapa panjangnya proses mencari dana untuk sebuah investasi yang masih green field seperti bisnis yang kami lakukan di tahun 2009 itu.

Lalu, saya melanjutkan sedikit cerita agar pak M O memahami situasinya, akhirnya kami memilih menjaminkan asset kami ke bank C. asset kami ini ada 2 satu pabrik kami di kota P yang satu tanah kami di J. karena keperluan akan dana semakin mepet maka apa yang bank C minta kami berikan. Dan bank C melihat hanya dari asset base. Alias dia mengeluarkan pinjaman dana setelah menilai kolateral penjaminnya yang dikalikan dengan 70% atau bahkan kurang.

Singkat cerita, dana tersebut keluar dan di tahun 2011 ground breaking dilakukan. Ditahun 2013 ini konstruksi selesai dan mulai “commissioning” serta komersial.

Diawal 2013 ini di bulan januari saya meminta di visi corporate finance kami untuk melakukan negosiasi ulang dengan bank C agar melepas sedikit asset yang di agunkan ke tempat mereka. Saya merasa kegedean asset alian dengan 1 aset saja jaminan tersebut cukup. Namun mereka mengikat 2 aset . apa lagi selama 2 tahun ini kami membayar cicilan dengan baik sehingga jumlah pinjaman sudah turun 40% nya.

Namun sangat disayangkan, bank C tidak merespond permintaan kami tersebut dan ini membuat saya kecewa. Ilustrasinya, masak kami meminjam 50 jaminannya 120. Dan sekarang tinggal 35 lagi. saya minta jaminan 50 saja. Itu di mata BI aman kok. Tapi, karena satu dan lain hal. Kami tidak terlalu mem fokuskan lagi untuk “shoping dan beauty contest” ke bank-bank lainnya. Maklum kesibukan meningkat sangat tajam di semester pertama tahun 2013 ini.

Nah, ketika bapak menawarkan barusan maka terbersit di kepala saya bahwa yang di bank C saja yang di refinance. Tentunya syaratnya lebih menarik dari bank C ya khan?!

Bapak minta kondisi bagaimana? Pak M bertanya

Yang jelas tenor di panjangin lagi sedikit. Sekarang sisa 3 tahun di bank C kalau bisa panjangin jadi 5 tahun.

Lalu interestnya pak, sekarang kami dapat 7% kalau di bawah 7% pasti menarik tawaran bapak.

Kalau bisa di tambahkan jumlahnya karena kebetulan aka nada investasi tambahan, dan terakhir kamimengharap jaminannya yang di J di cabut alias pakai satu collateral saja pabrik kami di P.

Kayaknya kami bisa menyanggupi. Katanya menjawab kondisi yang saya minta.

Ini exposure dollar loh pak. Apa bank bapak cukup portofolio buat exposure dolar? Saya memerlukan kepastian

Wah bapak ini meragukan strategi perbankan kami ya hehe..kami ini sejak dua tahun terakhir bukan lagi berbasis uang pihak ketiga di bank kami saja, namun untuk pembiayaan kami menggunakan sindication fund, club deal, dan lain sebagainya dari sesama lembaga keuangan lainnya. Jadi tahun ini kami memberikan pinjaman jauh lebih banyak dari tahun tahun sebelumnya. Aman lah boss..bahkan saat ini kami masih kelebihan platform dari bank asing mitra kami dalam exposure dolar loan kami.
Wah, hebat..saya kagum juga dalam hati saya. pintar juga dia mengambil strategi pasar. Karena bank D ini bisa di kategorikan bank local kecil yang hanya kuat di beberapa daerah. Namun dengan strategi ini dia bisa bergerak kemana pun tanpa harus focus pada uang ditangan. Uang orang juga bisa dikelola. Pintar, itu komentar singkat saya.

Tapi pak, kalau pake satu jaminan pastinya harus kami appraise ya pak.

O, boleh pak..pasti naiklah nilainya karena ini merupakan pabrik jalan dan asset produktif. Jawab saya berpromosi.

O iya, satu lagi kata saya, bisakah bapak dan team bapak menilai pinjaman kami ini ber basis “project base” bukan asset base? Kai memliki secure contract dan loan itu untuk pekerjaan tersebut sehingga asset jaminan hanya sebagai avails jaminan tambahan atas project tersebut. Jangan dilihat terbalik. Asset dinilai, jaminan dinilai, dikalikan 70% lalu uang pinjaman buat pembiayaan project nya.

Pak M lama terdiam. Lalu kemudian menjawab, pak wowiek..bapak sudah berbisnis lama. Menjawab hal tersebut kami di dunia perbankan Indonesia malu untuk menjawabnya. Kami selama ini harus melihat dari asset base. Jadi sebenarnya para banker ini bukan pebisnis. Mereka ini rentenir yang ingin uang orang itu tidak ada resiko. Ingin aman. Kami member judul prudential banker atau banker yang hati-hati. Namun sebenarnya bukan hati-hati tetapi jangan rugi.

Untuk itu kami mengikat jaminan berlapis dan kuat sekali. Kami selalu focus pada jaminan, bukan pada project nya. Bahkan kalau jamiananya bagus…di hati kecil terkadang terbersit kalau proyeknya gagal, jaminan gue ambil nih. Jadi kami mengharap sang peminjam gagal. Coba, malu-malu in ngak tuh. Pak M pun melanjutkan ceritanya. Sewaktu di bank M dulu kami berhadapan dengan group bapak. Kami tahu bapak adalah real business man dan cara bertindak dan berfikir sangat project sekali karena itu kami mengincar perusahaan yang di bangun dengan semangat entrepreneur kuat. Jadi saya sangat ingin secara pribadi membiayai proyek-proyek bapak. Namun minta maaf sebelumnya project base calculation agak sulit pak saya laksanakan.

Pak M menjawab dengan nada suara turun kebawah, alias dia berusaha membuat saya nyaman. Dan saya mengerti sekali posisi dia, dan di saat itu saya pun terdiam. Saya mengharap para banker adalah pebisnis sehigga bukan hanya melihat dari akuntasi arus kas dan jaminan saja, namun ada dua factor lagi sebagai pembanding yaitu SDM dan project nya. Karena begini, arus kas bisa saja baik dan jamianan bisa saja besar atau bagus namun kalau SDM yang mengerjakan memiliki karakter attitude buruk proyek itu bisa gagal.

Namun sebaliknya, kalau karakter attitude SDM nya bagus juga proyeknya bagus, walaupun jaminannya tidak ada, maka bisnis kecil kemungkinan gagalnya. Namun mata untuk melihat SDM dan proyek bagus hanya mata pebisnis yang memiliki pengalaman. Maka para banker di Indoensia lebih baik main aman, lihat jaminan saja. Sampai kapan hal ini akanterus berlangsung. Ayo para banker, anda berubah atau anda tertinggal. # may peace be upon us