Entah mengapa kalau
saya melihat perkembangan bangsa indonesia yang saya cintai ini saya sangat
optimis kedepannya. Dalam perjalan bisnis pribadi saya saya sudah banyak
melewati masa krisis, masa depresi, masa resesi dan apapun yang oleh pakar
ekonomi keuangan, ekonomi
mikro, ekonomi makro di kampus-kampus semua ada lebelnya. Ada namanya, ada
istilahnya.
Sementara rasanya bagi pelaku bisnis kami tidak perduli dengan istilah atau julukan-julukan tersebut. Karena dalam ilmu saya yang sedikit ini, saya hanya melihat fakta saja. Indonesia adalah sebuah Negara yang unik. Memiliki 400 suku bangsa dengan 600 dialek dan bahasa daerah. Kalau ini terjadi di eropa atau di afrika sana, ada 400 negara bisa lahir di bumi tanah air ini. dan faktanya sampai sekarang kita tetap bersatu.
Pemerintahannya telah 6 kali ganti presiden yang punya gaya sendiri-sendiri. Yang setiap masa kepemimpinan selalu anda yang menghujat di masing-masing pemimpin tersebut berkuasa namun tetap saja GDP kita bergerak naik.
Berkali-kali masa resesi versi pakar-pakar keilmuaan mengatakan ekonomi slow down dan lain sebagainya, tetap saya indek konsumen ( perilaku belanja) terus bergerak naik. Mungkin karena banyak pakar ini hanya melihat buku dan mempelajari sesuatu “yang sudah terjadi”. Bukan melakukan sesuatu yang baru, hanya membahas yang lama.
Gerakan pengacau keamanan datang silih berganti. Dari gerakan clendestain bawah tanah hingga berbentuk ormas. Namun bisnis di banyak titik terus menunjukan pertumbuhan luar biasa.
Banyaknya buruh berdemo menuntut kenaikan upah ternyata banyak membuat pengusaha menjadi tambah pintar dengan memindahkan tenaga murah ke IT. Pastinya teknologi tidak pernah menuntut. Dan dalam hal IT inilah saya saat ini sedang melakukan hal yang baru dan sama sekali baru.
Mengendalikan SDM dalam dunia hospitality adalah sebuah tantangan tersendiri. Salah satu anak perusahaan kami adalah perusahaan hospitality bernama swiss margos. Ini perusahaan kecil. Berdiri sejak 2007. SDM nya hingga saat ini tidak lebih 20 orang yang menjadi tanggungan langsung. Namun jika ditambah yang tidak langsung sudah mencapai 800 orang.
Maksudnya begini, swiss margos adalah hotel operator. Jika anda, memiliki asset yang idle lalu ingin di buat hotel tentunya memerlukan sebuah hotel operator untuk mengelolanya. Mulai dari GM hotel hingga door bell. Semua lengkap tersedia. Mulai dari SOP pre opening hingga SOP budget hotel. Setiap hotel rata-rata jumlah staffnya sama dengan jumlah kamar kalau hotel tersebit bintang 3. Kalau bintang 4 maka jumlah staf kira-kira 1,5 kali jumlah kamar.
Misalnya hotel bintang 3 kamar 120 unit maka karyawan atau staff berjumlah 120 orang di bagi 4 group 3 shift setiap hari. 4 group artinya 3 bekerja 1 libur. Kalau hotel bintang 4 jumlah kamar 150 maka pegawainya kira-kira 225 orang.
Kalau hotel bintang 2 kebawah, perbandinganya lebih kecil lagi. jika kamar 100 maka pegawai hanya 50 orang. Ini semua hanya berlaku bagi hotel operator yang berpengalaman. Jika mengelola sendiri, “rule of thumb” tersebut belum tentu jalan. Sulit mendapatkan rumus tersebut dengan manajemen yang masih muda.
Jadi saat ini swiss margos mengelola 7 hotel, 4 milik sendiri dan 3 milik mitra. Kalau masing-masing 100 staf maka lebih dari 700 staff pastinya yang menjadi tanggungan hotel. Itu yang saya sebut sebagai karyawan tidak langsung di swiss margos. Kalau di kantor pusat tidak lebih 20 orang.
Nah kembali ke soalan IT. Dunia hotel dan hospitality ini syarat dengan control yang ketat. Kami tahu banyak orang yang menjaga jarak dengan bisnis ini kerena kedekatannya dengan hal-hal negative, namun melihat sesuatu memang harus holistic. Melihat dari banyak sisi. Kontrol ketat tersebut menjadi wajib adanya.
Video camera cctv tersebut di semua public area kecuali yang private seperti rest room dan kamar. Juga IT nya, atau lebih di kenal dengan HMS hotel manajemen system. Dimana software tersebut melingkupi hal mulai dari front desk hingga linen system.
Anda bisa mengelola hotel tanpa HMS, jawabannya pasti bisa. Karena dari seluruh hotel di Indonesia mungkin hanya 30% yang memakainya. Sisanya manual menggunakan lotus atau windows xl. Mengapa? HMS tidak murah. Namun teknologi ini menolong sekali.
Bayangkan ada seorang pengusaha kemalaman, check in jam 11 malam dan berkata ke front desk minta di bangunkan jam 4 karena harus mengejar peswat jam 7. Dia bayar tunai 500 ribu rupiah saat check in. dan pergi jam 5 pagi. Bisakah uang tersebut di ambil olrh front officer? Jawabnya pasti ya.
Jika ada HMS, maka computer akan melakukan check in sehingga tercatat di data base baru kunci keluar alias di kasih. Tanpa proof dari IT system kunci tidak keluar. Maka ketika control ke esokan harinya dilakukan dengan pasti uang tersebut terrekord.
Berapa harga HMS tersbut. Buatan asing seperti Fidelio harga nya bisa 1,5 milyar hanya softwarenya saja, buatan local ada yang 350juta atau 200 jutaan. Angka tersebut masuk kategori relative. Bisa di katakan murah bisa di katakan mahal. Dan bagi saya hal itu everage hanya rata-rata.
Dan, ketika di daftar RKAP 2013 -2015 yang dibuat tahun 2012 dimana manajeman swiss margos sudah confirm akan mengelola hotel milik mitra yang sudah di tanda tangani di tahun 2012 ( semua konstruksi tahun ini) ada 8 hotel dan milik sendiri bertambah 5 hotel maka 13 hotel akan menggunakan 13 HMS angka 300 jutaan di kalikan 13 unit mulai terasa menyedak di hati. Angka tersebut mendekati angka Rp 4M. dan pastinya bagi orang seperti saya angka tesebut besar karena masuk beban “cost”. Angka tersebut kecil kalau masuk sisi pembukuan “investasi atau asset”.
Maka pilihannya adalah, keluar uang senilai yang sama namun mau masuk sisi biaya atau sisi invetasi. Pilihan tersebut bagi saya adalah pastinya yang kedua. Maka sejak tahun lalu di bentuklah divisi IT. Masih di masukan divisi di swiss margos nanti jika sudah cukup matang baru di spin off dibuat perusahaan (anak usaha) dengan PT baru.
Dan sejak saat itu kami invest di software HMS milik sendiri yang telah di operasikan. Dan pastinya jika tahun-tahun mendatang meningkat kebutuhan pasarnya maka invetasi tersbeit kembali. Saat inipun sudah bisa di katakana tidak rugi karena jauh lebih murah ketimbang beli.
Setelah 1 tahun berjalan, dalam RKAP bulan oktober kemarin, 2 orang manajer divisi HMS mengajukan diri untuk tahun 2014 divisi ini siap di spin off. Mereka pun membuat rencana kerja dan anggaran. Sewaktu mereka paparan di depan board og komisaris dan board of director saya tercengang dengan ide mereka. Karena mereka berencana menggratiskan HMS ini ke hotel-hotel lainnya. Paparan 30 menit tersebut bagi saya adalah “games changing” sebuah terobosan. Pastinya saya tidak bisa urai strategi tersebut. Dan bagai juri American idols simon cowell yang biasa sadis maka saya saat presentasi hati saya kepincut dan langsung mengatakan, you are going to LA!...saya setujui. Tahun depan spin off. # may the peace be upon us
Sementara rasanya bagi pelaku bisnis kami tidak perduli dengan istilah atau julukan-julukan tersebut. Karena dalam ilmu saya yang sedikit ini, saya hanya melihat fakta saja. Indonesia adalah sebuah Negara yang unik. Memiliki 400 suku bangsa dengan 600 dialek dan bahasa daerah. Kalau ini terjadi di eropa atau di afrika sana, ada 400 negara bisa lahir di bumi tanah air ini. dan faktanya sampai sekarang kita tetap bersatu.
Pemerintahannya telah 6 kali ganti presiden yang punya gaya sendiri-sendiri. Yang setiap masa kepemimpinan selalu anda yang menghujat di masing-masing pemimpin tersebut berkuasa namun tetap saja GDP kita bergerak naik.
Berkali-kali masa resesi versi pakar-pakar keilmuaan mengatakan ekonomi slow down dan lain sebagainya, tetap saya indek konsumen ( perilaku belanja) terus bergerak naik. Mungkin karena banyak pakar ini hanya melihat buku dan mempelajari sesuatu “yang sudah terjadi”. Bukan melakukan sesuatu yang baru, hanya membahas yang lama.
Gerakan pengacau keamanan datang silih berganti. Dari gerakan clendestain bawah tanah hingga berbentuk ormas. Namun bisnis di banyak titik terus menunjukan pertumbuhan luar biasa.
Banyaknya buruh berdemo menuntut kenaikan upah ternyata banyak membuat pengusaha menjadi tambah pintar dengan memindahkan tenaga murah ke IT. Pastinya teknologi tidak pernah menuntut. Dan dalam hal IT inilah saya saat ini sedang melakukan hal yang baru dan sama sekali baru.
Mengendalikan SDM dalam dunia hospitality adalah sebuah tantangan tersendiri. Salah satu anak perusahaan kami adalah perusahaan hospitality bernama swiss margos. Ini perusahaan kecil. Berdiri sejak 2007. SDM nya hingga saat ini tidak lebih 20 orang yang menjadi tanggungan langsung. Namun jika ditambah yang tidak langsung sudah mencapai 800 orang.
Maksudnya begini, swiss margos adalah hotel operator. Jika anda, memiliki asset yang idle lalu ingin di buat hotel tentunya memerlukan sebuah hotel operator untuk mengelolanya. Mulai dari GM hotel hingga door bell. Semua lengkap tersedia. Mulai dari SOP pre opening hingga SOP budget hotel. Setiap hotel rata-rata jumlah staffnya sama dengan jumlah kamar kalau hotel tersebit bintang 3. Kalau bintang 4 maka jumlah staf kira-kira 1,5 kali jumlah kamar.
Misalnya hotel bintang 3 kamar 120 unit maka karyawan atau staff berjumlah 120 orang di bagi 4 group 3 shift setiap hari. 4 group artinya 3 bekerja 1 libur. Kalau hotel bintang 4 jumlah kamar 150 maka pegawainya kira-kira 225 orang.
Kalau hotel bintang 2 kebawah, perbandinganya lebih kecil lagi. jika kamar 100 maka pegawai hanya 50 orang. Ini semua hanya berlaku bagi hotel operator yang berpengalaman. Jika mengelola sendiri, “rule of thumb” tersebut belum tentu jalan. Sulit mendapatkan rumus tersebut dengan manajemen yang masih muda.
Jadi saat ini swiss margos mengelola 7 hotel, 4 milik sendiri dan 3 milik mitra. Kalau masing-masing 100 staf maka lebih dari 700 staff pastinya yang menjadi tanggungan hotel. Itu yang saya sebut sebagai karyawan tidak langsung di swiss margos. Kalau di kantor pusat tidak lebih 20 orang.
Nah kembali ke soalan IT. Dunia hotel dan hospitality ini syarat dengan control yang ketat. Kami tahu banyak orang yang menjaga jarak dengan bisnis ini kerena kedekatannya dengan hal-hal negative, namun melihat sesuatu memang harus holistic. Melihat dari banyak sisi. Kontrol ketat tersebut menjadi wajib adanya.
Video camera cctv tersebut di semua public area kecuali yang private seperti rest room dan kamar. Juga IT nya, atau lebih di kenal dengan HMS hotel manajemen system. Dimana software tersebut melingkupi hal mulai dari front desk hingga linen system.
Anda bisa mengelola hotel tanpa HMS, jawabannya pasti bisa. Karena dari seluruh hotel di Indonesia mungkin hanya 30% yang memakainya. Sisanya manual menggunakan lotus atau windows xl. Mengapa? HMS tidak murah. Namun teknologi ini menolong sekali.
Bayangkan ada seorang pengusaha kemalaman, check in jam 11 malam dan berkata ke front desk minta di bangunkan jam 4 karena harus mengejar peswat jam 7. Dia bayar tunai 500 ribu rupiah saat check in. dan pergi jam 5 pagi. Bisakah uang tersebut di ambil olrh front officer? Jawabnya pasti ya.
Jika ada HMS, maka computer akan melakukan check in sehingga tercatat di data base baru kunci keluar alias di kasih. Tanpa proof dari IT system kunci tidak keluar. Maka ketika control ke esokan harinya dilakukan dengan pasti uang tersebut terrekord.
Berapa harga HMS tersbut. Buatan asing seperti Fidelio harga nya bisa 1,5 milyar hanya softwarenya saja, buatan local ada yang 350juta atau 200 jutaan. Angka tersebut masuk kategori relative. Bisa di katakan murah bisa di katakan mahal. Dan bagi saya hal itu everage hanya rata-rata.
Dan, ketika di daftar RKAP 2013 -2015 yang dibuat tahun 2012 dimana manajeman swiss margos sudah confirm akan mengelola hotel milik mitra yang sudah di tanda tangani di tahun 2012 ( semua konstruksi tahun ini) ada 8 hotel dan milik sendiri bertambah 5 hotel maka 13 hotel akan menggunakan 13 HMS angka 300 jutaan di kalikan 13 unit mulai terasa menyedak di hati. Angka tersebut mendekati angka Rp 4M. dan pastinya bagi orang seperti saya angka tesebut besar karena masuk beban “cost”. Angka tersebut kecil kalau masuk sisi pembukuan “investasi atau asset”.
Maka pilihannya adalah, keluar uang senilai yang sama namun mau masuk sisi biaya atau sisi invetasi. Pilihan tersebut bagi saya adalah pastinya yang kedua. Maka sejak tahun lalu di bentuklah divisi IT. Masih di masukan divisi di swiss margos nanti jika sudah cukup matang baru di spin off dibuat perusahaan (anak usaha) dengan PT baru.
Dan sejak saat itu kami invest di software HMS milik sendiri yang telah di operasikan. Dan pastinya jika tahun-tahun mendatang meningkat kebutuhan pasarnya maka invetasi tersbeit kembali. Saat inipun sudah bisa di katakana tidak rugi karena jauh lebih murah ketimbang beli.
Setelah 1 tahun berjalan, dalam RKAP bulan oktober kemarin, 2 orang manajer divisi HMS mengajukan diri untuk tahun 2014 divisi ini siap di spin off. Mereka pun membuat rencana kerja dan anggaran. Sewaktu mereka paparan di depan board og komisaris dan board of director saya tercengang dengan ide mereka. Karena mereka berencana menggratiskan HMS ini ke hotel-hotel lainnya. Paparan 30 menit tersebut bagi saya adalah “games changing” sebuah terobosan. Pastinya saya tidak bisa urai strategi tersebut. Dan bagai juri American idols simon cowell yang biasa sadis maka saya saat presentasi hati saya kepincut dan langsung mengatakan, you are going to LA!...saya setujui. Tahun depan spin off. # may the peace be upon us