Hal yang paling
sulit sebagai atasan adalah menghilangkan ego melaksanakan kehendak berdasar
pemikiran diri sendiri. Dalam sebuah diskusi maka sharing pendapat adalah
penting. Dan pada saat mengambil keputusan haruslah tegas dan cepat.
Kalimat di paragraf atas sesungguhnya adalah masalah pribadi. Demikian ego saya dalam banyak keputusan manajemen. Sering saya ambil tanpa mendengarkan satu dua pendapat dari mereka yang berpengalaman. Hanya karena saya menganggap peristiwanya berbeda atau zamannya sudah berbeda.
Seperti halnya yang terjadi pada saat kunjungan kerja ke daerah cepu di sumur semanggi. Disana kami memiliki pabrik kecil yang memproduksi CNG. Compress Natural Gas. Yaitu gas alam di compress di tekan sampai masuk ke tube atau botol. Lalu di masukkan kedalam GTM truck atau biasa di kenal dengan Gas Tranfortation Module. Sederhana mengoperasikan, kecil secara sumber daya dan kecil pula skala pabrik tersebut.
Lokasi yang jauh dari keramaian tepatnya 30 KM dari kota, ditengah hutan jati dan lahan savana ilalang berbukit. Kalau berada di lokasi tersebut pemandangan indah di dapatkan, namun sepinya kehidupan manusia membuat jarang orang bisa tahan bekerja di daerah remote seperti ini.
5 staff setiap shift yang bergantian bekerja 24 jam tak menambah ramainya keadaan. Pekerjaanya pun sederhana, hanya buka tutup valve dan memonitor presure tekanan gas. Sisi kehati-hatian sangat tinggi karena flamable alias gas ini sangat mudah terbakar. Jadi coution tinggi, mawas diri tinggi.
Selagi saya mengujungi site semanggi ini maka saya memperhatikan selama 5 tahun operasi pimpinan plant masih dia-dia juga. Seorang pemuda yang santun, dan pintar memimpin. Saya sudah melihat potensinya sejak lama. Di awal-awal dulu kalau perjalan ke cepu saya sering satu kereta dengan dirinya. Dan bagi saya, cukup 1 detik memperhatikan untuk bisa mengetahui ini barang bagus atau tidak. Yang pastinya, sendor saya mengatakan bagus, calon pemimpin nih.
Disinilah sisi ego bermain seperti tulisan di atas. Karena ini bukan domain saya langsung. Ada BOD board of direktor holding yang memngendalikan manajemen harian atau kalau bahasa politik kaum eksekutif pemerintahan. Sementara saya hanya di legislatifnya. Belum lagi di anak usaha juga alias ini teritori bupati karena di kabupaten. Begitu melihat seorang kepala dinas yang berpotensi maka birokrasi panjang. Bahkan jika ingin menaikan pangkat atau memutasi diri seseroang.
Saya sangat ingin memutasi dirinya ke plant kami yang lain. Di kota lain. Saya tahu ini plant kecil, di tempat lain plantnya lebih besar dan belum tentu dia mampu. Tapi saya ingin coba. Dan hal ini saya pernah rekomen berkali-kali. Ke bupatinya atau kepemerintahan pusat. Dan rasanya hal itu tidak di turuti karena buktinya dia masih di tengah hutan jati di Cepu.
Ego saya main, saya merasa ide saya ngak merugikan bagi banyak pihak namun begitu beda pendapat terutama dengan pemegang otoritas membuat saya sangat tidak nyaman. Karena, saya tidak di kasih tahu apa alasannya. Yang saya takutkan lebih buruk lagi. Dia akan berhenti dan keluar yang kemudian bergabung dengan perusahaan lain. Ini SDM bagus, pada tau ngak nih?!
Jadi dari pada kepikiran saya alihkan pikiran saya ke hal lain. Menikmati suasana sepi di hutan jati tersebut. Namun alih-alih ingin membuang pikiran ego malah di otak tau-tau keinget sama anak usaha yang memiliki cara pembukuan yang berbeda dengan holding.
Hal ini berbeda dengan kasus di atas dimana saya bukan legislatifnya namun di posisi ini saya pemerintah ekskutifnya. Disini ibarat presiden ngak di turuti oleh gubernur atau bupatinya. Ini sebuah chalenge dan Good Corporate Govern.
Dalam pembukuan, saya memerintahkan kalau ada stock material untuk maintenance catat aktual. Misalnya untuk perawatan di perlukan sparepart dengan jumlah tertentu. Secara pembukuan itu sudah di beli, namun secara fakta lapangan alat yang di beli tersebut terkadang belum di pakai karena milage atau usia mesin memang belum tercapai. Maka saya memerintahkan barang inventori tersebut bukan sebagai cost terpakai tetapi bisa sebagai stok aset atau pengurangan biaya maintenance.
Dia tidak mau rubah karena akan membuat laporan fix audit tahun kebelakang jadi berubah. Lalu saya terangkan , tidak perlu di rubah pembukuan tahun kebelakannya tapi di akui di buku tahun ini tahun berjalan sebagai temuan sisa aset yang belum di pakai sehingga mengurangi biaya tahun ini. alias bisa membuat profit naik di pembukuannya. Dia tidak mau lakukan, karena sudah tercatat, alasanya. Saya mangkel banget dengan keras kepalanya orang ini.
Disini saya sebagai pimpinan harus menjaga ego. Sampai ngos-ngos an terkadang menjaga moods, namun saya harus tetap rasional. Saya harus melihat sisi keuntungan atau secondary gains manfaat lain pembukuan versi dirinya tersebut, bukan ala saya. Terkadang saya pengennya mecat orang kayak begini namun, perbedaan seperti ini bukan kesalahan, tidak fatal. Dia hanya buruk di argumen saja, jangan-jangan malah dia yang benar. Di pembukuan versi saya keuangan terlihat bagus karena profit jadi naik dan ini bagus di mata bank. Namun di buku versi pajak, cara dia membuat lebih kecil pajaknya karena di jadikan “cost”. Sementara pembukuan ganda saya tidak sarankan. Lalu mana yang saya pilih. Ego saya atau mengikuti pendapatnya?! . bayangkan, di tengah hutan jati pikiran malah di obok-obok sama ego perbedaan.
Mungkin dasar saya ego, maka saya kebawa mimpi alias lamunan sebelum tidur membuat hal ini terbayang-bayang di kepala saya. Hingga waktu keesokan harinya saya tiba di ketapang banyuwangi bertemu dengan mitra saya seorang Indo, ayahnya amerika ibunya sunda berusia 74 tahun seorang pebisnis property di hawaii dimana 40 tahun lamanya dia membangun bisnis propertya di hawaii bisa menjadi sekondan atau teman diskusi menarik.
Dengan pak Pieter ini kami akan membangun lahan rest area di dekat pelabuhan ketapang banyuwangi. Saat itu saya harus ke lokasi untuk finalisasi drawing arsitek. Dan, saya pun bertanya kepada pakarnya apa yang terjadi dan terbaik saya lakukan terhadap kasus anak buah yang memiliki cara berbeda pada kasus yang sama. Apakah cara saya yang di paksakan kedia atau cara dia saya harus terima. Pembukuan mana yang saya harus pilih.
Maka pak peiter yang sedari tadi selama 30 menit diam saja mendengarkan penjelasan saya panjang lebar pastinya ditambah emosi ego saya membuat dia tahu saya ingin oendapat saya yang di belanya. Yang dia kemundian jawab singkat, “don’t worry about accounting wowiek. Book keeping can be anything you like. You as a CEO should care more about “Cashflow” . Cashflow is a king. When you have positif cashflow any book keeping you can choose. But when cashflow turn negatif, you can’t do anything. You are out of business”.
So, who is balancing the cashflow? , pak Pieter bertanya sambil memiringkan kepala sambil menaikan alisnya satu yang yang bisa di artikan “kamu ngerti apa maksudnya khan?”
Me, of course. Jawab saya singkat. So, let him worry about book keeping. No need for you to worry abou how he do book keeping his way.remember, Cashflow is everything.
Saya faham sekali maksudnya. Faham sekali. Ego sering membuat saya out of focus. Jiaah, yang namanya belajar kok sampai umur segini masih terus, ngak tahu kapan berhentinya ya ?!. # may the peace be upon us
Kalimat di paragraf atas sesungguhnya adalah masalah pribadi. Demikian ego saya dalam banyak keputusan manajemen. Sering saya ambil tanpa mendengarkan satu dua pendapat dari mereka yang berpengalaman. Hanya karena saya menganggap peristiwanya berbeda atau zamannya sudah berbeda.
Seperti halnya yang terjadi pada saat kunjungan kerja ke daerah cepu di sumur semanggi. Disana kami memiliki pabrik kecil yang memproduksi CNG. Compress Natural Gas. Yaitu gas alam di compress di tekan sampai masuk ke tube atau botol. Lalu di masukkan kedalam GTM truck atau biasa di kenal dengan Gas Tranfortation Module. Sederhana mengoperasikan, kecil secara sumber daya dan kecil pula skala pabrik tersebut.
Lokasi yang jauh dari keramaian tepatnya 30 KM dari kota, ditengah hutan jati dan lahan savana ilalang berbukit. Kalau berada di lokasi tersebut pemandangan indah di dapatkan, namun sepinya kehidupan manusia membuat jarang orang bisa tahan bekerja di daerah remote seperti ini.
5 staff setiap shift yang bergantian bekerja 24 jam tak menambah ramainya keadaan. Pekerjaanya pun sederhana, hanya buka tutup valve dan memonitor presure tekanan gas. Sisi kehati-hatian sangat tinggi karena flamable alias gas ini sangat mudah terbakar. Jadi coution tinggi, mawas diri tinggi.
Selagi saya mengujungi site semanggi ini maka saya memperhatikan selama 5 tahun operasi pimpinan plant masih dia-dia juga. Seorang pemuda yang santun, dan pintar memimpin. Saya sudah melihat potensinya sejak lama. Di awal-awal dulu kalau perjalan ke cepu saya sering satu kereta dengan dirinya. Dan bagi saya, cukup 1 detik memperhatikan untuk bisa mengetahui ini barang bagus atau tidak. Yang pastinya, sendor saya mengatakan bagus, calon pemimpin nih.
Disinilah sisi ego bermain seperti tulisan di atas. Karena ini bukan domain saya langsung. Ada BOD board of direktor holding yang memngendalikan manajemen harian atau kalau bahasa politik kaum eksekutif pemerintahan. Sementara saya hanya di legislatifnya. Belum lagi di anak usaha juga alias ini teritori bupati karena di kabupaten. Begitu melihat seorang kepala dinas yang berpotensi maka birokrasi panjang. Bahkan jika ingin menaikan pangkat atau memutasi diri seseroang.
Saya sangat ingin memutasi dirinya ke plant kami yang lain. Di kota lain. Saya tahu ini plant kecil, di tempat lain plantnya lebih besar dan belum tentu dia mampu. Tapi saya ingin coba. Dan hal ini saya pernah rekomen berkali-kali. Ke bupatinya atau kepemerintahan pusat. Dan rasanya hal itu tidak di turuti karena buktinya dia masih di tengah hutan jati di Cepu.
Ego saya main, saya merasa ide saya ngak merugikan bagi banyak pihak namun begitu beda pendapat terutama dengan pemegang otoritas membuat saya sangat tidak nyaman. Karena, saya tidak di kasih tahu apa alasannya. Yang saya takutkan lebih buruk lagi. Dia akan berhenti dan keluar yang kemudian bergabung dengan perusahaan lain. Ini SDM bagus, pada tau ngak nih?!
Jadi dari pada kepikiran saya alihkan pikiran saya ke hal lain. Menikmati suasana sepi di hutan jati tersebut. Namun alih-alih ingin membuang pikiran ego malah di otak tau-tau keinget sama anak usaha yang memiliki cara pembukuan yang berbeda dengan holding.
Hal ini berbeda dengan kasus di atas dimana saya bukan legislatifnya namun di posisi ini saya pemerintah ekskutifnya. Disini ibarat presiden ngak di turuti oleh gubernur atau bupatinya. Ini sebuah chalenge dan Good Corporate Govern.
Dalam pembukuan, saya memerintahkan kalau ada stock material untuk maintenance catat aktual. Misalnya untuk perawatan di perlukan sparepart dengan jumlah tertentu. Secara pembukuan itu sudah di beli, namun secara fakta lapangan alat yang di beli tersebut terkadang belum di pakai karena milage atau usia mesin memang belum tercapai. Maka saya memerintahkan barang inventori tersebut bukan sebagai cost terpakai tetapi bisa sebagai stok aset atau pengurangan biaya maintenance.
Dia tidak mau rubah karena akan membuat laporan fix audit tahun kebelakang jadi berubah. Lalu saya terangkan , tidak perlu di rubah pembukuan tahun kebelakannya tapi di akui di buku tahun ini tahun berjalan sebagai temuan sisa aset yang belum di pakai sehingga mengurangi biaya tahun ini. alias bisa membuat profit naik di pembukuannya. Dia tidak mau lakukan, karena sudah tercatat, alasanya. Saya mangkel banget dengan keras kepalanya orang ini.
Disini saya sebagai pimpinan harus menjaga ego. Sampai ngos-ngos an terkadang menjaga moods, namun saya harus tetap rasional. Saya harus melihat sisi keuntungan atau secondary gains manfaat lain pembukuan versi dirinya tersebut, bukan ala saya. Terkadang saya pengennya mecat orang kayak begini namun, perbedaan seperti ini bukan kesalahan, tidak fatal. Dia hanya buruk di argumen saja, jangan-jangan malah dia yang benar. Di pembukuan versi saya keuangan terlihat bagus karena profit jadi naik dan ini bagus di mata bank. Namun di buku versi pajak, cara dia membuat lebih kecil pajaknya karena di jadikan “cost”. Sementara pembukuan ganda saya tidak sarankan. Lalu mana yang saya pilih. Ego saya atau mengikuti pendapatnya?! . bayangkan, di tengah hutan jati pikiran malah di obok-obok sama ego perbedaan.
Mungkin dasar saya ego, maka saya kebawa mimpi alias lamunan sebelum tidur membuat hal ini terbayang-bayang di kepala saya. Hingga waktu keesokan harinya saya tiba di ketapang banyuwangi bertemu dengan mitra saya seorang Indo, ayahnya amerika ibunya sunda berusia 74 tahun seorang pebisnis property di hawaii dimana 40 tahun lamanya dia membangun bisnis propertya di hawaii bisa menjadi sekondan atau teman diskusi menarik.
Dengan pak Pieter ini kami akan membangun lahan rest area di dekat pelabuhan ketapang banyuwangi. Saat itu saya harus ke lokasi untuk finalisasi drawing arsitek. Dan, saya pun bertanya kepada pakarnya apa yang terjadi dan terbaik saya lakukan terhadap kasus anak buah yang memiliki cara berbeda pada kasus yang sama. Apakah cara saya yang di paksakan kedia atau cara dia saya harus terima. Pembukuan mana yang saya harus pilih.
Maka pak peiter yang sedari tadi selama 30 menit diam saja mendengarkan penjelasan saya panjang lebar pastinya ditambah emosi ego saya membuat dia tahu saya ingin oendapat saya yang di belanya. Yang dia kemundian jawab singkat, “don’t worry about accounting wowiek. Book keeping can be anything you like. You as a CEO should care more about “Cashflow” . Cashflow is a king. When you have positif cashflow any book keeping you can choose. But when cashflow turn negatif, you can’t do anything. You are out of business”.
So, who is balancing the cashflow? , pak Pieter bertanya sambil memiringkan kepala sambil menaikan alisnya satu yang yang bisa di artikan “kamu ngerti apa maksudnya khan?”
Me, of course. Jawab saya singkat. So, let him worry about book keeping. No need for you to worry abou how he do book keeping his way.remember, Cashflow is everything.
Saya faham sekali maksudnya. Faham sekali. Ego sering membuat saya out of focus. Jiaah, yang namanya belajar kok sampai umur segini masih terus, ngak tahu kapan berhentinya ya ?!. # may the peace be upon us