Selasa, 27 Oktober 2015

MIND CREATES, HEART LEADS



Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang berkata, bahwa dirinya memiliki puluhan dan bahkan ratusan ide brilian yang dapat menjadikan dirinya milyuner. Bahkan ketika ide-ide tersebut diceritakan, maka dengan singkat Anda bisa menilai bahwa bila ide itu dijalankan, benar-benar dapat merubah kehidupan seseorang menjadi milyuner. Pertanyaan berikutnya yang muncul biasanya adalah, “Mengapa tak segera dijalankan, khan itu ide yang bagus sekali?”
Saya pernah bertanya suatu kali, dan rata-rata jawaban yang biasa saya dengar adalah, “Aku belum punya modal untuk menjalankan” atau “Masih menunggu waktu yang tepat”, dua alasan yang klasik yang paling sering untuk diungkapkan.
Saya teringat pada kata-kata seorang sahabat, Mas Taqim yang berdomisili di Kudus, Jawa Tengah, “Kalau sudah ada ide, hentikan dialog intelektual dalam pikiran langsung saja kerjakan. Ide itu murah, ndak mahal, ndak harus bayar, cuma terkadang Anda ndak mau action, keberatan isi kepala. Kurangi mikir panjang-panjang.”
Pak Mustaqim yang biasa dipanggil Mas Taqim adalah seorang yang melakukan apa yang dia katakan. Beranjak dari seseorang yang menurut orang lain sangat berkekurangan, sampai saat ini menjadi seseorang berkelimpahan. Pak Taqim berhasil mencapai level tersebut karena segala sesuatu yang disentuhnya, dihasilkannya. Semua selalu berawal dari ide, yang kemudian langsung dijalankan, begitu ide tersebut sudah dibuatnya dengan detail.
“Bagaimana dengan masalah-masalah yang akan terjadi?” saya bertanya pada suatu kesempatan.
“Wah, kalau aku mikir masalah terus, kapan mikirin njadiin ideku mas…” kata Mas Taqim.
Banyak hal yang mengejutkan saya, tetapi proses yang dijalaninya memang sudah membuktikan keberhasilan dirinya. Dan hebatnya lagi, sampai saat ini pun, Pak Taqim tidak pernah berhenti berkreasi.
Katanya, “Gusti Allah itu sudah memberikan kita banyak ide alam, kita yang harus bisa mengubahnya jadi segala sesuatu yang berguna. Begitu aku dapet ide, langsung aku kerjakan. Jadi, aku ndak akan pernah berhenti bergerak, Mas…”
Kalau melihat dari karyanya saya sering terkagum-kagum karena variasi yang tidak masuk di akal saya, misalnya kepandaiannya melukis yang tidak memiliki aliran, terkadang realis, simbolik, abstrak, dibuat semua. Kemudian karya patung, ukir, kayu, tembaga, kemudian membuat biola, gitar elektrik dengan keris di tengahnya sebagai pamor. Kemudian beliau membuat saos rokok untuk penikmat rokok di malam hari. Beliau menciptakan tujuh macam rasa rokok sehingga sebuah pabrik rokok terbesar di Kudus berani membayar dua milyar rupiah untuk resep saos tersebut. Belum lagi interior design gedung Bank Indonesia serta eksterior arsitekturnya, dirancangnya pula. Kreativitas dan karyanya mengalir deras tanpa ada yang bisa menahannya.
Walaupun tinggal di desa yang hanya berpenduduk tiga ribu orang berjarak dua puluh kilometer dari kota Kudus, para pembeli tetap saja berbondong-bondong datang ke tempatnya tersebut. Dan menjadi seorang milyuner pun dia buktikan tanpa perlu datang ke kota. Tinggal di perut Gunung Muria, di ketinggian 750 meter dari permukaan laut dengan lahan seluas 150 Ha dan rumah yang nyaman bagai hotel bintang lima di tengah rindangnya pepohonan muria adalah bukti dari apa yang dikatakannya bukan nasehat kosong dari seseorang yang bukan pelaku.
Mas Taqim berkata, “Kepandaian panjenengan memotong jalur ‘birokrasi’ di kepala, dan mulai menjalankan apa yang Anda impikan adalah suatu keniscayaan, suatu keharusan, suatu kepastian. Namun terkadang, karena otak sudah menjadi rumit, Anda makin lama tenggelam dalam banyak pertimbangan atau dengan kata lain keraguan. Dengan memilih kebiasaan untuk berpikir menjadi seorang skeptis (ragu) memang enak. Apa saja dipertanyakan, apa saja dilihat dari sisi berlawanan. Dan dijamin, Anda akan menjadi orang yang bingung.”
Dia melanjutkan nasehatnya, “Jika pikiran Anda mengatakan suatu hal itu SUSAH atau tidak mungkin, ya begitulah adanya, jadi susah dan jadi tidak mungkin. Kurangi proses berpikir, bukannya meniadakan sama sekali, karena Tuhan sudah menganugerahkan kita pikiran untuk digunakan. Dipergunakan untuk berkarya. Kalau pikiran dipakai buat menganalisa maka Anda akan lumpuh.”
Ada sebuah pesan bijak darinya kemudian, “MIND CREATES, HEART LEADS”, yaitu pikiran yang mencipta, hati yang memimpin, jangan sebaliknya. Jadi kalau sudah ada ide (pikiran) dan sudah sreg (hati), perintah yang diciptakan ke pikiran adalah, “Ayo kerjakan!”.