Begitu
seorang entrepreneur tercapai apa yang dicita-citakan, mereka langsung akan
membuat sesuatu yang baru. Begitu target tercapai, target yang lebih tinggi
dipasang. Seakan tidak pernah berimbang, selalu menciptakan ketidakseimbangan,
karena di sanalah kehidupannya berputar
dinamis. Jika Anda berdampingan dengan seorang entrepreneur ide-idenya mengalir
terus karena itulah darahnya, ide. Keseimbangan adalah kesempurnaan, sebuah
kesempurnaan yang dilakukan terus menerus bernama VEKTA. Semangat vekta oleh
bangsa Jepang disebut sebagai KAIZEN.
Mereka
yang memiliki semangat kaizen inilah, dianggap manusia yang makrifat sebagai
pilihan hidupnya. Misalnya sebagai seniman, pebisnis, negarawan dan lain
sebagainya. Karena mereka melakukan penyempurnaan terus menerus di bidang yang
mereka kuasai.
Seorang
manusia terbaik, seperti seorang golfer Tiger Wood memiliki semangat ini.
Walaupun sebuah jaket hijau, green jacket, telah disandangnya sebagai master
golf champion/ juaranya juara
golf
yang sukses bertanding dalam sebuah turnamen. Suatu hari sesaat setelah
menjuarai kejuaraan tersebut, di pertandingan antar master, pada usia sembilan
belas tahun, ia berkata pada pelatihnya, “Saya harus menyempurnakan stroke
swing golf saya, kayaknya masih jauh dari sempurna.” Bayangkan seorang dengan
predikat juara, seorang master, seorang
juara dunia antar master berkata begitu?!
Anda
kenal roti Sianis?
Di
saat saya memulai bisnis property sahabat kami Pak Bunardi dan istrinya memulai
bisnis bakery, Roti Sianis di Jakarta Barat. Saya berkata padanya, “Kayaknya lebih gampang jualan
property deh, tidak ada kadaluarsanya. Kalau roti dua hari tidak laku harus
dibuang.”
“Lihat
saja, Pak Wowiek, keluarga kami sudah turun temurun sejak dari kota Malang dulu
bisnisnya makanan ini, ini khas kami tapi akan aku sempurnakan model dan
rasanya, percaya deh resepku,” katanya optimis.
Pertama
dia tiru seluruh produk andalan dari para kompetitornya seperti Holland Bakery,
Mon Amy, Bread Talk, Bread Story dan lain-lain. Walaupun 30 persen produk
sering retur dan harus dibuang,
dia tetap optimis. Saya ingat, kalau
dia mampir ke kantor saya selalu membawa sisa retur kemarin buat lima puluh karyawan
saya. Bahkan terkadang masih lebih untuk saya bawa pulang dan diberikan ke
anak-anak yayasan. Beliau sering ke tempat saya kerena salah satu hobinya
adalah berbisnis alat berat seperti buldozer, back hoe, yang saya sering sewa
untuk pengadaan raw material property saya.
Dia
bercerita satu
tahun pertama bisnis rotinya berjalan tersendat-sendat. Dia harus meyubsidi
dari keuntungan bisnis sewaan alat beratnya. Namun sejak di tahun kedua
pertumbuhan mulai membaik sehingga perhitungan dagang mulai impas. Dan semenjak
tahun ketiga bisnis sudah mulai mengembangkan banyak kegiatan, dari distribusi,
alat baru, dan ruang dapur lebih besar. Sehingga divisi penjualan menggunakan
sepeda dan motor yang berjualan dari rumah ke rumah, langsung menjemput bola ke
konsumen.
Saya
tanya,
“Apa
resep tumbuh segini cepat, Pak
Bun?”
Dia
bilang, “Inget
khan di awal-awal
aku jualan masih banyak returnya? Lalu sisa roti retur sesungguhnya masih layak
dimakan hari itu juga jadi aku kasih ke pesantren-pesantren, rumah yatim, yang
sering aku lewati. Lalu karena mereka suka roti sianis tersebut lama-lama aku
dapat ide, aku ajak anak-anak pesantren yang di atas
tujuh belas tahun yang sudah punya SIM dan bisa naik motor
menjadi penjual. Motor aku belikan DP-nya
saja,
di mana kalau motor lunas motor tersebut aku
berikan kepada mereka, tapi sebelum lunas masih pakai nama aku. Tiap bulan
mereka nyicil dari pendapatan mereka. Aku kasih 30 persen komisi
dari setiap penjualan. Ternyata mereka pekerja keras. Satu hari rata-rata bisa dua kali
bolak-balik ke pabrik roti. Angka Rp 300.000 jualan per hari standar lho!” katanya bangga.
“Kenapa
anak pesantren,
Pak
Bun?” tanya saya lagi.
Dia
jawab sambil tersenyum,
“Anak-anaknya
amanah, jujur dan pekerja
keras. Dan aku selalu memonitor mereka melalui ustadz-ustadz guru-guru
mereka sebulan sekali. Anak yang direkomendasi ustadz tersebut yang aku pilih.”
Saat
ini Roti Sianis memiliki dua
ratus
penjaja
menggunakan motor dengan hampir tidak ada retur barang jualan alias habis laku
terjual. Semuanya dari anak-anak pesantren yatim sekitar Jakarta Barat.
Sudah dua belas tahun Roti Sianis menyempurnakan banyak hal
dalam usahanya, mulai dari strategi penjualan,
memodernisasikan pabrik roti, kemasan, inovasi produk yang paling nikmat hingga
ke outlet-outlet. Favorit saya adalah roti tuna pedas dan roti basso-nya.
Sementara
di sisi lain bisnis property kami mengalami keadaan turun naik juga dalam sepuluh tahun
ini, dan saya ingat kata-katanya, “Cari bisnis yang masuknya susah — difficult to enter
—, karena pasti untuk sukses kita harus benar-benar master dan selalu melakukan
penyempurnaan, jangan masuk bisnis yang mudah dimasuki (easy entry) karena
kompetitor setiap saat bisa masuk,
baik dari pelanggan atau karyawan kita sendiri. Dan karena mudah kita sering
lalai.”