Selasa, 27 Oktober 2015

ROTI SIANIS



Begitu seorang entrepreneur tercapai apa yang dicita-citakan, mereka langsung akan membuat sesuatu yang baru. Begitu target tercapai, target yang lebih tinggi dipasang. Seakan tidak pernah berimbang, selalu menciptakan ketidakseimbangan, karena di sanalah kehidupannya berputar dinamis. Jika Anda berdampingan dengan seorang entrepreneur ide-idenya mengalir terus karena itulah darahnya, ide. Keseimbangan adalah kesempurnaan, sebuah kesempurnaan yang dilakukan terus menerus bernama VEKTA. Semangat vekta oleh bangsa Jepang disebut sebagai KAIZEN.
Mereka yang memiliki semangat kaizen inilah, dianggap manusia yang makrifat sebagai pilihan hidupnya. Misalnya sebagai seniman, pebisnis, negarawan dan lain sebagainya. Karena mereka melakukan penyempurnaan terus menerus di bidang yang mereka kuasai.
Seorang manusia terbaik, seperti seorang golfer Tiger Wood memiliki semangat ini. Walaupun sebuah jaket hijau, green jacket, telah disandangnya sebagai master golf champion/ juaranya juara golf yang sukses bertanding dalam sebuah turnamen. Suatu hari sesaat setelah menjuarai kejuaraan tersebut, di pertandingan antar master, pada usia sembilan belas tahun, ia berkata pada pelatihnya, “Saya harus menyempurnakan stroke swing golf saya, kayaknya masih jauh dari sempurna.” Bayangkan seorang dengan predikat juara, seorang master, seorang juara dunia antar master berkata begitu?!
Anda kenal roti Sianis?
Di saat saya memulai bisnis property sahabat kami Pak Bunardi dan istrinya memulai bisnis bakery, Roti Sianis di Jakarta Barat. Saya berkata padanya, “Kayaknya lebih gampang jualan property deh, tidak ada kadaluarsanya. Kalau roti dua hari tidak laku harus dibuang.”
“Lihat saja, Pak Wowiek, keluarga kami sudah turun temurun sejak dari kota Malang dulu bisnisnya makanan ini, ini khas kami tapi akan aku sempurnakan model dan rasanya, percaya deh resepku,” katanya optimis.
Pertama dia tiru seluruh produk andalan dari para kompetitornya seperti Holland Bakery, Mon Amy, Bread Talk, Bread Story dan lain-lain. Walaupun 30 persen produk sering retur dan harus dibuang, dia tetap optimis. Saya ingat, kalau dia mampir ke kantor saya selalu membawa sisa retur kemarin buat lima puluh karyawan saya. Bahkan terkadang masih lebih untuk saya bawa pulang dan diberikan ke anak-anak yayasan. Beliau sering ke tempat saya kerena salah satu hobinya adalah berbisnis alat berat seperti buldozer, back hoe, yang saya sering sewa untuk pengadaan raw material property saya.
Dia bercerita satu tahun pertama bisnis rotinya berjalan tersendat-sendat. Dia harus meyubsidi dari keuntungan bisnis sewaan alat beratnya. Namun sejak di tahun kedua pertumbuhan mulai membaik sehingga perhitungan dagang mulai impas. Dan semenjak tahun ketiga bisnis sudah mulai mengembangkan banyak kegiatan, dari distribusi, alat baru, dan ruang dapur lebih besar. Sehingga divisi penjualan menggunakan sepeda dan motor yang berjualan dari rumah ke rumah, langsung menjemput bola ke konsumen.
Saya tanya, “Apa resep tumbuh segini cepat, Pak Bun?
Dia bilang, “Inget khan di awal-awal aku jualan masih banyak returnya? Lalu sisa roti retur sesungguhnya masih layak dimakan hari itu juga jadi aku kasih ke pesantren-pesantren, rumah yatim, yang sering aku lewati. Lalu karena mereka suka roti sianis tersebut lama-lama aku dapat ide, aku ajak anak-anak pesantren yang di atas tujuh belas tahun yang sudah punya SIM dan bisa naik motor menjadi penjual. Motor aku belikan DP-nya saja, di mana kalau motor lunas motor tersebut aku berikan kepada mereka, tapi sebelum lunas masih pakai nama aku. Tiap bulan mereka nyicil dari pendapatan mereka. Aku kasih 30 persen komisi dari setiap penjualan. Ternyata mereka pekerja keras. Satu hari rata-rata bisa dua kali bolak-balik ke pabrik roti. Angka Rp 300.000 jualan per hari standar lho! katanya bangga.
Kenapa anak pesantren, Pak Bun? tanya saya lagi.
Dia jawab sambil tersenyum, Anak-anaknya amanah, jujur dan pekerja keras. Dan aku selalu memonitor mereka melalui ustadz-ustadz guru-guru mereka sebulan sekali. Anak yang direkomendasi ustadz tersebut yang aku pilih.
Saat ini Roti Sianis memiliki dua ratus penjaja menggunakan motor dengan hampir tidak ada retur barang jualan alias habis laku terjual. Semuanya dari anak-anak pesantren yatim sekitar Jakarta Barat.
Sudah dua belas tahun Roti Sianis menyempurnakan banyak hal dalam usahanya, mulai dari strategi penjualan, memodernisasikan pabrik roti, kemasan, inovasi produk yang paling nikmat hingga ke outlet-outlet. Favorit saya adalah roti tuna pedas dan roti basso-nya.
Sementara di sisi lain bisnis property kami mengalami keadaan turun naik juga dalam sepuluh tahun ini, dan saya ingat kata-katanya, “Cari bisnis yang masuknya susah — difficult to enter —, karena pasti untuk sukses kita harus benar-benar master dan selalu melakukan penyempurnaan, jangan masuk bisnis yang mudah dimasuki (easy entry) karena kompetitor setiap saat bisa masuk, baik dari pelanggan atau karyawan kita sendiri. Dan karena mudah kita sering lalai.