Kamis, 22 Oktober 2015

"Pada dasarnya sampai kapanpun manusia tidak pernah siap menghadapi apapun. Jadi.. just do it!"



Pak wowiek di mohon ikut rapat CPP gundih sama pak T. salah seorang staf business development menongol kepalanya di sela sela pintu masuk kamar kerja saya.

Apa masalahnya mas? Aku nggak terlalu paham urusan plant gas seperti pak T, saya jawab sambil terus bekerja memeriksa laporan keuangan.

Saya juga kurang tahu pak, pak T minta saran bapak malahan atas salah satu syarat yang harus di sediakan dalam kontrak kerja tersebut.

O begitu ya..abis magrib saya gabung segera, jawab saya singkat. Kebanyakan staf tahu kalau tidak biasa saya ada di kantor setelah magrib karena itu biasa waktu rumah saya namun terkadang sesekali ada juga waktunya menyelesaikan kerjaan di akhir bulan yang biasanya meningkat.

Sesaat kemudian saya bergabung dalam meeting kecil tersebut yang di sambut oleh pak T direktur operasional dengan kalimat langsung...Mas, ada satu klasulan dalam kontrak kerja di CPP gundih kita harus menyediakan sarana setara hotel untuk 33 karyawan. Harganya lumayan sama dengan harga hotel bintang 3 di Jakarta. Ujarnya sambil memiringkan kontrak kerja yang isinya memang harus menyediakan saran tersebut.

Kira-kira empora berminat membangun hotel di cepu? Demikian pertanyaan pak T langsung.

Saya segera mengambil kalkulator kemudian mengutak-ngatik angka lalu dengan spontan saya bilang, done..saya bangun. Kontrak tersebut 100% di teruskan ke empora bisa?. Empora Gaharu adalah perusahaan asset n property development yang saya pimpin langsung. Anak usaha yang keluar dari bisnis utama kami oil n gas.

Pertanyaan pak T selanjutnya adalah, kapan kira-kira siap hotel tersebut? maka saya Tanya balik kapan di perlukan?

Pak T berkata, 3 bulan lagi sudah mulai aktif jadi sebaiknya hotel tersebut tersedia.

3 bulan lagi nggak mungkin, pakai metoda fast track dalam 3 bulan pertama adalah , menentukan lokasi, topografi lalu design arsitek berbareng adalah perizinan serta legal. 3 bulan baru lengkap seluruh persyarat dan di tambah kontruksi yang saya bisa kebut dengan 3 shift adalah 6 bulan. jadi 9 bulan dari sekarang hotel berjalan dan siap di huni. Itu jawaban saya sambil berdiri karena sepruh badan saya sudah berada di luar ruang meeting.

Jadi, bagaimana kalau selama 6 bulan saya kontrak hotel lain sambil menunggu hotel operasi. Kira-kira bagai mana? Dengan kata lain kita buang dulu orderan tersebut ketempat lain.

Setuju, kata saya cepat. Saya mulai kerja besok!

Meeting singkatpun langsung ketemu keputusannya. Namun sesungguhnya apa yang saya lakukan saat itu adalah 100% intuisi. Tidak ada kalkulasi rumit, hanya bayangan sekelabat-sekelabat cepat bergerak di pikiran dan langsung saya simpulkan ini workable, bisa di kerjakan dan profitable.

Mengapa saya bergerak cepat keluar karena saya akan mendiskusi hal ini dengan divisi hospitality Swiss Margos. Apakah memang intuisi saya benar. Empora nantinya hanya property owner yang mengelola swiss margos. Hingga keputusan swiss margos pun menjadi penting. Bagaimana kalau manajemen swiss margos punya pertimbangan lain dan menolaknya.

Maka sebagai pengusaha saya bisa lakukan hal yang out of the box. Saya berikan ke hotel operator lainnya juga bisa. Saya carikan chain hotel lain pasti juga ok. Logika saya terkadang sering off jika intuisi saya sedang bermain. Makanya saya segera ingin bertemu dengan direksi swiss margos.

Saya panggil meeting mendadak jam 7 malam dimana saat itu kebetulan masih semua ada di kantor maka dalam 5 menit saya meringkas peluangnya. Kita dapat kontrak menyiapkan sarana penginapan untuk karyawan pertamina, harga hotel bintang 3 jakarta. Lokasi di cepu. 3 direksi swiss margos angkat bicara masing-masing 30 detik yang semuanya berkata sama. Hayuu di kerjakan tunggu apa lagi. jangankan hanya 33 ,150 kamar saya berani kelolanya. Fully book garansi. Itu kalimat dari dirut swiss margos DB. Saya bahkan 5 tahun lalu sudah bilang ke pak wowiek hayoo bangun cepu. Lah ini sudah ada kontrak. Apa lagi yang di pikir.

Malam itu juga langsung di bagi tugas, mencari lahan, membuat perusahaan (catatan : hotel perusahaan nya harus dedicated tidak boleh mngerjakan lainnya), membuat TOR term of references sebagai bahan acuan arsitek bekerja. Dan yang tidak kalah penting adalah mencari dana ke bank. Karena aslinya semua yang kita lakukan harus bankable.

8 orang mengerjakan 8 macam tugas. Dalam mengelola bisnis Empora memiliki manajemen yang simple. Karena bisnis property adalah bisnis yang mature atau sudah dewasa. Design bisa di out source, kontraktor bangunan bisa di outsource, mengelolanya juga bisa di outsource, mau dijual bisa di outsource. Jadi team nya tak perlu besar. kecil saja namun kuat di network jaringan.

Jadi 8 tugas tersebut 6 yang di outsource. Yang dua hal tersebut adalah TOR serta bank keduanya inhouse. Tak mungkin di outsource itu adalah jeroan kami.

Dan kunci sukses membangun bisnis adalah TOR term of reference nya. Inilah membuat right thing in right place. Hal yang tepat di tempat yang tepat. TOR tidak sembarangan, gabungan antara data factual lapangan dengan intuisi. Dan pembuat TOR iniadalah mereka yang sudah lebih 20 tahun mengerjakan hal tersebut. maka dalam hal TOR hotel pak DB salah satu yang terbaik tentunya.

3 hari setelah meeting pertama kami melakukan rapat untuk melaporkan progress masing-masing. TOR adalah paparan pertama, team arsitek sudah siap dan ikut menyimak. Namun design arsitek tidak bisa dilakukan tanpa tahu lokasi tanah, demografinya, batas tanah, arah angin dan matahari, lapisan tinggi level tanah dan semuanya di rangkum dalam topografie report yang belum bisa dilakukan karena belum tahu lokasiya dimana.

Dan untuk melaksanakan TOR kita harus memiliki lahan. Memiliki lahan memerlukan modal uang. Sementara membangunnya memerlukan uang bank yang pastinya juga meminta lahan sudah di bebaskan terlebih dahulu. Ternyata, ujung punya ujung adalah perlu dana untuk membeli lahan. Sementara kalau sudah urusan membeli maka mata panah arahnya ke saya. dan semua tahu, uang di rekening tidak ada budgetnya untuk hal ini. dan semua mata dalam rapat tersebut tertuju ke saya. yang tanpa komando saya jawab…it’s my turn, it’s my time, giliran saya turun tangan, yang penting semua sudah siap. segera saya bertindak walau jujur saat itu dikepala saya tidak tau mau kemana namun ancer-ancer saya tahu kemana jalan saya melangkah. # may peace be upon us