Pak, screed lantai
2 setelah cor-coran bangunan di gresik kayaknya terlalu tinggi. Masak cor-coran
10 cm screednya 7 cm, belum lagi nanti di kasih semen buat pelekat keramik.
Kita kan pakai tegel kunci ngak pakai keramik pak. Ini adalah laporan dari
pengawas lapangan kantor pusat melaporkan kepada saya tentang progress bangunan
yang kami sedang
bangun di Gresik.
Saya pun membuka cetak biru design dan BQ Bill of Quantity dari spesifikasi bangunan. Saya memperhatikan hal ini ternyata tidak tercatat dengan jelas, alias tidak ada detail engineeringnya. Jadi kontraktor, atau mandor lapangan bisa improvisasi sendiri. Dan kalo benar apa yang dilaporkan maka saya yang marah besar pastinya. Screed setinggi 7 cm kali luas lantai itu pemborosan biaya bangunan yang banyak.
Biasanya tinggi screed tersebut 2-3 cm di atas cor-coran. Lalu dilapis semen dan keramik akan menambah 2-3 cm lagi. Jadi kalau 7 cm di tambah semenn dan tegel kunci maka bisa menambah 15 cm tinggi lantai dari cor-coran. Efeknya adalah tinggi langit langit ruangan yang tadinya 280cm bisa hanya 265-270cm. Kesan ruangannya jadi pendek belum lagi membuang 10cm semen pasir di kali luas bangunan. Kalau gedung 5 lantai maka ada 1meter kali luas bangunan 1000M2 sehingga 1000M3 semen pasir adalah pemborosan 400 jutaan rupiah!!
Ini hal yang selalu membuat saya tekanan darah tinggi dalam hal membangun. Yaitu subkontraktor boros membuang material dan pengawas MK manajemen konstruksi lalai. Ada banyak hal yang mengesalkan dengan ketidak telitian orang lapangan. Misalnya, pelaksana minta material dan tanpa kordinasi mandor minta material. Untuk section yang sama namun jumlahnya berbeda. Ini artinya mereka tidak ada daily meeting kordinasi.
Juga misalnya, pemesanan beton mix selalu kelebihan, apa lagi kelebihan banyak. Kalau di bawah 1 kubik ok, kalau sampai 5 kubik ini artinya project manajer yang tidak pandai berkalkulasi atau ngak perduli. Perilaku boros seperti ini adalah karakter di banyak pekerjaan lapangan. Makanya kekuatann kontrol adalah menjadi wajib. Attitude kebanyakab pekerja seperti begini emang memaksa pemberi pekerjaan punya keberanian meng- kontrol, menekan dan tegas kemereka.
Untuk urusan ini, maka saya termasuk orang yang di sebelin, mungkin di benci oleh pelaksana lapangan. Karena saya kalau sudah kesal main pecat saja. Ngak perduli saya. Dan semua saya hadapi langsung. Kalimat sindiran sebelum saya melakukan tindakan biasanya begini, saya panggil pimpinan lapangan, lalu saya berkata,”: kamu memengang jamus kalimusada, tongkat komando lapangan tertinggi. Kalau ada pelaksana harian, mandor yang nakal, tidak menurut perintah, tidak teliti, jorok kerjanya, melakukan hal yang membahayakan orang lain, yang membuat biaya menjadi naik karena harus di bongkar pekerjaannya dll, pecat mereka segera!”
“Kalau anda tindak memakai kekuatan tongkat komando tersebut, maka tongkat itu akan saya ambil dan anda saya pecat”
Kalau ada teman bertanya dari sisi lain yaitu, kenapa tidak di lepas 100% ke kontraktor saja kita tau beres. Kenapa mesti di kerjakan sendiri. Ada benarnya namun dalam manajemen ini saya melakukan banyak pertimbangan. Biaya menggunakan kontraktor ada biaya pajak yaang kalau di urai bisa 2 kali lipat. Sementara kalau di kerjakan sendiri pajaknya berbeda dan bisa lebih murah. Namun pekerjaan ekstra karena semua menjadi ingerent didalam manejemen.
Bagi sahabat yang kurang faham dunia konstruksi lebih baik amannya ambil kontraktor lepas 100% namun bagi saya yang hafal mati dunia ini lebih baik saya yang kawal. Bisa hemat 20% minimum. Dan sekali lagi, berhadapan dengan orang lapangan, tangan besi dan tegas adalah bahan dasarnya. Anda kurang tegas, anda dimakan. Anda takut, anda di lahap.
Dalam hal screed di atas, saya belum bisa marah dulu. Karena tidak ada dalam spek pekerjaan namun pastinya MK atau projek manajer sudah kena semprotan saya karena tidak menggunakan akal sehat atau common sense nya. Masalahnya 1000 meter hal yang tidak sedikit.
Maka dengan keras saya perintahkan bahwa jangan melakukan apapun di lantai buat menutupi cor-coran. Karena secara pemikiran sisi lain saya merasa ada yang ngak bener lainnya mengapa cor-coran di tutup , jangan-jangan cor-corannya melintir bergelombang. Jangan-jangan tidak pakai vibrator atau hanya di sodok-sodok pakai kayu pada saat cor an beton mix bekerja. Sehingga cor annya kelihatan besi atau batuannya yang bisa membuat karatan dalam jangka panjang karena terbuka.
Kalau hal ini terjadi, ini hal yang fundamental karena dalam jangka panjang bisa membuat gedung rapuh. Mengapa saya berfikiran negatif seperti ini. Hanya karena di dalam foto laporan harian lapangan saya melihat sisa kayu di beton yang tidak rapih pembersihannya, lalu banyak lengkungan. Saya menjadi heran karena rasanya pakai film alias plat dalam cor an bukan pakai triplek. Ini pastinya pakai kayu alias triplek namun saya tidak dilapangan. Saya harus memeriksa langsung. Dalam list pertanyaan saya daftar, dan ada lebih 20 pertanyaan mencurigakan di kepala saya. Termasuk jumlah orang di lapangan. Ini bisa main kata saya dalam hati. Orangnya sedikit lalu tanda tangannya banyak. Ada yang main dilapangan, itu kecurigaan saya.
Besok saya kelapangan dan kali ini saya harus memelototi satu-satu setiap halnya. Dari SDM, pengadaan barang hingga metode membangunnya. Ini semua sangat menetukan banyak hal, selesainya proyek dan mulainya berdagang. Ketidak pastian membawa implikasi urutan bisnis di belakangnya menjadi berantakan. Dan pastinya semua orang tidak mau mendapatkan hal yang tidak pasti. Memperhatikan hal yang kecil-kecil membawa kesempurnaan dan pastinya kesempurnaan adalah bukan sesuatu yang kecil. # may the peace be upon us
Saya pun membuka cetak biru design dan BQ Bill of Quantity dari spesifikasi bangunan. Saya memperhatikan hal ini ternyata tidak tercatat dengan jelas, alias tidak ada detail engineeringnya. Jadi kontraktor, atau mandor lapangan bisa improvisasi sendiri. Dan kalo benar apa yang dilaporkan maka saya yang marah besar pastinya. Screed setinggi 7 cm kali luas lantai itu pemborosan biaya bangunan yang banyak.
Biasanya tinggi screed tersebut 2-3 cm di atas cor-coran. Lalu dilapis semen dan keramik akan menambah 2-3 cm lagi. Jadi kalau 7 cm di tambah semenn dan tegel kunci maka bisa menambah 15 cm tinggi lantai dari cor-coran. Efeknya adalah tinggi langit langit ruangan yang tadinya 280cm bisa hanya 265-270cm. Kesan ruangannya jadi pendek belum lagi membuang 10cm semen pasir di kali luas bangunan. Kalau gedung 5 lantai maka ada 1meter kali luas bangunan 1000M2 sehingga 1000M3 semen pasir adalah pemborosan 400 jutaan rupiah!!
Ini hal yang selalu membuat saya tekanan darah tinggi dalam hal membangun. Yaitu subkontraktor boros membuang material dan pengawas MK manajemen konstruksi lalai. Ada banyak hal yang mengesalkan dengan ketidak telitian orang lapangan. Misalnya, pelaksana minta material dan tanpa kordinasi mandor minta material. Untuk section yang sama namun jumlahnya berbeda. Ini artinya mereka tidak ada daily meeting kordinasi.
Juga misalnya, pemesanan beton mix selalu kelebihan, apa lagi kelebihan banyak. Kalau di bawah 1 kubik ok, kalau sampai 5 kubik ini artinya project manajer yang tidak pandai berkalkulasi atau ngak perduli. Perilaku boros seperti ini adalah karakter di banyak pekerjaan lapangan. Makanya kekuatann kontrol adalah menjadi wajib. Attitude kebanyakab pekerja seperti begini emang memaksa pemberi pekerjaan punya keberanian meng- kontrol, menekan dan tegas kemereka.
Untuk urusan ini, maka saya termasuk orang yang di sebelin, mungkin di benci oleh pelaksana lapangan. Karena saya kalau sudah kesal main pecat saja. Ngak perduli saya. Dan semua saya hadapi langsung. Kalimat sindiran sebelum saya melakukan tindakan biasanya begini, saya panggil pimpinan lapangan, lalu saya berkata,”: kamu memengang jamus kalimusada, tongkat komando lapangan tertinggi. Kalau ada pelaksana harian, mandor yang nakal, tidak menurut perintah, tidak teliti, jorok kerjanya, melakukan hal yang membahayakan orang lain, yang membuat biaya menjadi naik karena harus di bongkar pekerjaannya dll, pecat mereka segera!”
“Kalau anda tindak memakai kekuatan tongkat komando tersebut, maka tongkat itu akan saya ambil dan anda saya pecat”
Kalau ada teman bertanya dari sisi lain yaitu, kenapa tidak di lepas 100% ke kontraktor saja kita tau beres. Kenapa mesti di kerjakan sendiri. Ada benarnya namun dalam manajemen ini saya melakukan banyak pertimbangan. Biaya menggunakan kontraktor ada biaya pajak yaang kalau di urai bisa 2 kali lipat. Sementara kalau di kerjakan sendiri pajaknya berbeda dan bisa lebih murah. Namun pekerjaan ekstra karena semua menjadi ingerent didalam manejemen.
Bagi sahabat yang kurang faham dunia konstruksi lebih baik amannya ambil kontraktor lepas 100% namun bagi saya yang hafal mati dunia ini lebih baik saya yang kawal. Bisa hemat 20% minimum. Dan sekali lagi, berhadapan dengan orang lapangan, tangan besi dan tegas adalah bahan dasarnya. Anda kurang tegas, anda dimakan. Anda takut, anda di lahap.
Dalam hal screed di atas, saya belum bisa marah dulu. Karena tidak ada dalam spek pekerjaan namun pastinya MK atau projek manajer sudah kena semprotan saya karena tidak menggunakan akal sehat atau common sense nya. Masalahnya 1000 meter hal yang tidak sedikit.
Maka dengan keras saya perintahkan bahwa jangan melakukan apapun di lantai buat menutupi cor-coran. Karena secara pemikiran sisi lain saya merasa ada yang ngak bener lainnya mengapa cor-coran di tutup , jangan-jangan cor-corannya melintir bergelombang. Jangan-jangan tidak pakai vibrator atau hanya di sodok-sodok pakai kayu pada saat cor an beton mix bekerja. Sehingga cor annya kelihatan besi atau batuannya yang bisa membuat karatan dalam jangka panjang karena terbuka.
Kalau hal ini terjadi, ini hal yang fundamental karena dalam jangka panjang bisa membuat gedung rapuh. Mengapa saya berfikiran negatif seperti ini. Hanya karena di dalam foto laporan harian lapangan saya melihat sisa kayu di beton yang tidak rapih pembersihannya, lalu banyak lengkungan. Saya menjadi heran karena rasanya pakai film alias plat dalam cor an bukan pakai triplek. Ini pastinya pakai kayu alias triplek namun saya tidak dilapangan. Saya harus memeriksa langsung. Dalam list pertanyaan saya daftar, dan ada lebih 20 pertanyaan mencurigakan di kepala saya. Termasuk jumlah orang di lapangan. Ini bisa main kata saya dalam hati. Orangnya sedikit lalu tanda tangannya banyak. Ada yang main dilapangan, itu kecurigaan saya.
Besok saya kelapangan dan kali ini saya harus memelototi satu-satu setiap halnya. Dari SDM, pengadaan barang hingga metode membangunnya. Ini semua sangat menetukan banyak hal, selesainya proyek dan mulainya berdagang. Ketidak pastian membawa implikasi urutan bisnis di belakangnya menjadi berantakan. Dan pastinya semua orang tidak mau mendapatkan hal yang tidak pasti. Memperhatikan hal yang kecil-kecil membawa kesempurnaan dan pastinya kesempurnaan adalah bukan sesuatu yang kecil. # may the peace be upon us