“Pak,
jadwal perjalanan ditambah,” salah seorang team yang akan bersama saya
menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar kerja saya kemarin sore.
“Ke
mana lagi?” saya merasa jadwal sudah terlalu padat.
“Setelah
ke Sumenep rencana kita khan ke Pulau Raas dan melihat langsung offshore
location-nya
Huskey. Tapi kemungkinan besar dan pasti-pastinya kita ke Pulau H***g juga, Pak.”
Mendengar
kata Pulau
H***g saya langsung tersenyum. Ini menarik, pengalaman seru. Kepala saya
langsung berkhayal. Cerita-cerita pulau H***g lama sudah jadi bahan pembicaraan
di organisasi kami.
“Sebentar,
sebentar,” saya
mencoba mengatur runutan perjalanan di kepala. “Kalau dari Surabaya ke Sumenep empat jam. Dan
bertemu direktur BUMD Sumenep
tiga
jam terus ke Pulau Raas tiga jam dan lokasi off shore huskey 9
mile laut dari Raas
khan?
Kira-kira berapa lama dan berapa mile laut dari Raas ke H***g? Kalau lihat skedul
begini kita bisa-bisa nginep di tenda di pulau H***g?!”
“O iya, Pak. Itu rencana kita.
Memang demikian,”
kata Bakir yang asli Madura yang akan memimpin perjalanan ke Sumenep. Sejak maret 2011 Bakir menggarap proyek ini bersama Kang Dicky leader engineering
departemen.
Asyiiik... saya
menyerukan suara kegembiraan seperti anak kecil. Kepala saya langsung
membayangkan hal-hal baru yang sulit terbayangkan. Akhirnya bersua juga dengan Pulau H***g. Saya kembali terngiang cerita awal
tentang pulau ini.
Sejak
pekerjaan awal di bulan Maret
tahun 2011 maka sebagian waktu team memang ke Sumenep-Madura. Selama satu setengah tahun
ini saya sudah lima kali ke daerah Sumenep di mana eks kerajaan besar Madura
dan karesidenan Madura menampuk memegang wilayah Madura. Sejak awalnya Madura
dikenal dengan pelaut handal.
Di awal tahun 2012 kami mengirim team untuk
mencari pulau sebagai land base terdekat dari offshore project perusahaan asal
Canada, Huskey. Di mana
team memastikan bahwa Pulau
Raas di timur Sumenep
adalah pulau terdekat. Sebelum menemukan Pulau Raas mereka pernah berada di sebuah pulau yang berlokasi di tenggara
offshore Huskey.
Melihat bentuk lokasi pulau yang lebih bagus, jatuh cinta pandangan pertama
team sebenarnya di pulau ini namun lokasinya jauh dan lebih remote dari Pulau Raas. Jadilah Raas yang dipilih.
Salah
satu team kami ada orang ahli gas. Salah satu kebiasaannya adalah membawa
oksigen meter. Yaitu alat untuk mengukur kadar oksigen. Oksigen meter tersebut
benda penting yang menempel dan selalu dibawanya. Karena misalnya, dilokasi gas
explorer yang akan dibuat LNG atau LPG maka gas alam tersebut juga menyemburkan
CO2, karbondioksida.
Kalau kadar CO2 tinggi dan tanpa sadar berada di lokasi
tersebut maka kematian adalah salah satu akibat terburuk. Dengan adanya oksigen
meter maka ini adalah safety precaution terbaik.
Ternyata
alat tersebut tertinggal di pulau
yang kemudian hari kami ketahui namanya Pulau H***g. Dua bulan kemudian team melakukan
perjalanan lagi ke Pulau
Raas. Dan pastinya disempat-sempatkan ke Pulau H***g untuk mengambil oksigen
meter yang bendanya kecil namun tidak murah tersebut.
Ketika
di Pulau
Raas,karena tidak ada sambungan jaringan
telekomunikasi di daerah ujung sepi penduduk wilayah kabupaten Sumenep tersebut kami berkomunikasi dengan
radio 2 band (orari).
“Pak
Wowiek, mau lapor, ganti!” demikian berulang-ulang suara panggilan dari Vini sang ahli gas.
“Ok,
Vin,
ada berita, ganti.”
“Pak,
oksigen meter di Pulau
H***g waktu di sana
selama dua
bulan saya cek statistiknya di laptop. Saya perlu mengabari bapak karena
kayaknya ada anomaly keanehan yang tidak umum, Pak, ganti,” suara
keresek-keresek hilang jelas, hilang jelas, cb suara Vini ditambah debur
ombak latar suara di Pulau Raas terdengar menegangkan kabar yang akan Vini
sampaikan.
“Dilanjut,
ganti.”
“Oksigen
meter terbaca kadarnya 22 persen,
Pak,
21 sampai 22,5 persen,
Pak, ganti. Itu konstan dua bulan, Pak,
ganti...”
“Nggak
salah loe, Vin?”
saya setengah kaget dan begitu otak saya mengolah data kimia yang saya tahu cuma
cetek saja saya menjadi terheran-heran. Anda pasti semua sudah tahu bahwa oksigen
merupakan unsur paling berlimpah ketiga di alam semesta berdasarkan massa dan
unsur paling melimpah di kerak bumi. Gas oksigen diatomik mengisi 20,9 persen volume atmosfer bumi.
Kalau angkanya 22 persen maka lokasi tersebut merupakan area yang sangat sehat.
Bahkan hyperbaric chamber sebuah ruangan berisi oksigen murni adalah salah satu
tempat tidur Michael Jackson, karena di dunia banyak lokasi yang oksigennya
sudah turun menjadi 20 persen bahkan di bawah itu, agar selalu tetap bugar.
Udara
Jakarta yang kendaraanya setiap saat membuang CO2 gas karbon yang juga dibuang
oleh manusia membuat kadar oksigen di udara
Jakarta terkadang bisa berkisar di angka 19 persen dan itu sangat berbahaya.
Kurangnya oksigen ke otak bisa gawat lagi. Lemes, ngantuk dan otak jadi malas berkreasi
adalah
ciri awal kekurangan oksigen.
Kadar
22 persen
adalah luar biasa.
“Vin, satu alat belum bisa jadi patokan.
Bisa salah ukur, saya
masih belum percaya, ganti.”
“Pak
Wowiek,
mohon izin kita pinjem dua
alat dari anak-anak Huskey.
Kita mau taruh
tiga
bulan di sana. Bagaimana?”
“Loe
gile juga,
Vini,
ganti.”
“Huahahaha...” terdengar ketawa berbarengan dengan
team lain di belakang
suara Vini
yang menjawab ala militer, “Siiiiaaap,
ganti.”
“Ok,
Vin, kamu taruh di semua posisi. Sisi laut, tengah
pulau dan mana lagi yang menurut kamu penting buat data. Terus foto-fotoin dan
film-in
ya lokasinya sekalian. Saya mau lihat data keanekaragaman hayati apa ada di sana,
ganti.”
Hal
itu dikerjakan. Tiga bulan kemudian kami mengambil ketiga alat tersebut dan
mencatat dalam logbook di laptop. Kemudian dalam rapat di kantor Vini mempresentasikan data plus
gambar foto plus gambar film yang dipresentasikan mirip National Geographic.
Hasilnya…
Kadar
rata-rata oksigen
di seluruh pulau 23 persen! Konstan di semua
area 24 Ha pulau inhibitan tak berpenduduk tersebut. Saya ternganga-nganga mendengar, melihat laporan
tersebut. Ini
world class information. Ini berita kelas dunia. Ini bisa masuk keajaiban dunia
ke-8!
Vini
melanjutkan presentasinya, “Ketika
kami berjarak lima
menit jauh dari pulau tersebut semua normal, kembali seperti kadar oksigen di atmosfir, 20,9 persen. Kami keliling dengan boat, berjarak
kontan lima
menit laut. Semua normal, semua 20,9 persen. Begitu mendekat dan mendarat oksigen meter langsungnaik
21, 22, 23 persen,
bahkan menunjuk 24 persen
sesekali. Dan rasanya waktu kita di sana,
seger banget. Badan lemes jadi kayak seger. Sulit menjelasakan. Menarik nafas
bisa sampai full. Dan paru-paru yang biasa keisi asap macem-macem kayak di-flush. Dan bisa maksimum dimasukkan
ke paru-paru. Kami team ke sana jadi kecanduan, pengen ke sana terus.”
Pada
saat presentasi tersebut di bulan
Juni
2012 saya sudah naksir berat dan ingin segera ke Pulau H***g. Ini benar-benar penemuan besar,
setidaknya menurut saya. Sehingga
exciting sekali begitu ada jadwal akan bermalam di tenda di Pulau H***g karena ini menurut saya
adalah keajaiban dunia yang dimiliki nusantara. Inilah yang membuat saya selalu
berterima kasih tak berkesudahan menjadi warga Indonesia, inilah yang membuat
saya selalu bangga lahir di bumi nusantara. Inilah yang memotivasi saya
mempertahankan NKRI.