Selasa, 27 Oktober 2015

PULAU H***G



“Pak, jadwal perjalanan ditambah,” salah seorang team yang akan bersama saya menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar kerja saya kemarin sore.
“Ke mana lagi?” saya merasa jadwal sudah terlalu padat.
“Setelah ke Sumenep rencana kita khan ke Pulau Raas dan melihat langsung offshore location-nya Huskey. Tapi kemungkinan besar dan pasti-pastinya kita ke Pulau H***g juga, Pak.
Mendengar kata Pulau H***g saya langsung tersenyum. Ini menarik, pengalaman seru. Kepala saya langsung berkhayal. Cerita-cerita pulau H***g lama sudah jadi bahan pembicaraan di organisasi kami.
“Sebentar, sebentar,” saya mencoba mengatur runutan perjalanan di kepala. “Kalau dari Surabaya ke Sumenep empat jam. Dan bertemu direktur BUMD Sumenep tiga jam terus ke Pulau Raas tiga jam dan lokasi off shore huskey 9 mile laut dari Raas khan? Kira-kira berapa lama dan berapa mile laut dari Raas ke H***g? Kalau lihat skedul begini kita bisa-bisa nginep di tenda di pulau H***g?!
O iya, Pak. Itu rencana kita. Memang demikian, kata Bakir yang asli Madura yang akan memimpin perjalanan ke Sumenep. Sejak maret 2011 Bakir menggarap proyek ini bersama Kang Dicky leader engineering departemen.
Asyiiik... saya menyerukan suara kegembiraan seperti anak kecil. Kepala saya langsung membayangkan hal-hal baru yang sulit terbayangkan. Akhirnya bersua juga dengan Pulau H***g. Saya kembali terngiang cerita awal tentang pulau ini.
Sejak pekerjaan awal di bulan Maret tahun 2011 maka sebagian waktu team memang ke Sumenep-Madura. Selama satu setengah tahun ini saya sudah lima kali ke daerah Sumenep di mana eks kerajaan besar Madura dan karesidenan Madura menampuk memegang wilayah Madura. Sejak awalnya Madura dikenal dengan pelaut handal.
Di awal tahun 2012 kami mengirim team untuk mencari pulau sebagai land base terdekat dari offshore project perusahaan asal Canada, Huskey. Di mana team memastikan bahwa Pulau Raas di timur Sumenep adalah pulau terdekat. Sebelum menemukan Pulau Raas mereka pernah berada di sebuah pulau yang berlokasi di tenggara offshore Huskey. Melihat bentuk lokasi pulau yang lebih bagus, jatuh cinta pandangan pertama team sebenarnya di pulau ini namun lokasinya jauh dan lebih remote dari Pulau Raas. Jadilah Raas yang dipilih.
Salah satu team kami ada orang ahli gas. Salah satu kebiasaannya adalah membawa oksigen meter. Yaitu alat untuk mengukur kadar oksigen. Oksigen meter tersebut benda penting yang menempel dan selalu dibawanya. Karena misalnya, dilokasi gas explorer yang akan dibuat LNG atau LPG maka gas alam tersebut juga menyemburkan CO2, karbondioksida. Kalau kadar CO2 tinggi dan tanpa sadar berada di lokasi tersebut maka kematian adalah salah satu akibat terburuk. Dengan adanya oksigen meter maka ini adalah safety precaution terbaik.
Ternyata alat tersebut tertinggal di pulau yang kemudian hari kami ketahui namanya Pulau H***g. Dua bulan kemudian team melakukan perjalanan lagi ke Pulau Raas. Dan pastinya disempat-sempatkan ke Pulau H***g untuk mengambil oksigen meter yang bendanya kecil namun tidak murah tersebut.
Ketika di Pulau Raas,karena tidak ada sambungan jaringan telekomunikasi di daerah ujung sepi penduduk wilayah kabupaten Sumenep tersebut kami berkomunikasi dengan radio 2 band (orari).
“Pak Wowiek, mau lapor, ganti! demikian berulang-ulang suara panggilan dari Vini sang ahli gas.
Ok, Vin, ada berita, ganti.
Pak, oksigen meter di Pulau H***g waktu di sana selama dua bulan saya cek statistiknya di laptop. Saya perlu mengabari bapak karena kayaknya ada anomaly keanehan yang tidak umum, Pak, ganti,” suara keresek-keresek hilang jelas, hilang jelas, cb suara Vini ditambah debur ombak latar suara di Pulau Raas terdengar menegangkan kabar yang akan Vini sampaikan.
Dilanjut, ganti.
Oksigen meter terbaca kadarnya 22 persen, Pak, 21 sampai 22,5 persen, Pak, ganti. Itu konstan dua bulan, Pak, ganti...”
“Nggak salah loe, Vin?” saya setengah kaget dan begitu otak saya mengolah data kimia yang saya tahu cuma cetek saja saya menjadi terheran-heran. Anda pasti semua sudah tahu bahwa oksigen merupakan unsur paling berlimpah ketiga di alam semesta berdasarkan massa dan unsur paling melimpah di kerak bumi. Gas oksigen diatomik mengisi 20,9 persen volume atmosfer bumi. Kalau angkanya 22 persen maka lokasi tersebut merupakan area yang sangat sehat. Bahkan hyperbaric chamber sebuah ruangan berisi oksigen murni adalah salah satu tempat tidur Michael Jackson, karena di dunia banyak lokasi yang oksigennya sudah turun menjadi 20 persen bahkan di bawah itu, agar selalu tetap bugar.
Udara Jakarta yang kendaraanya setiap saat membuang CO2 gas karbon yang juga dibuang oleh manusia membuat kadar oksigen di udara Jakarta terkadang bisa berkisar di angka 19 persen dan itu sangat berbahaya. Kurangnya oksigen ke otak bisa gawat lagi. Lemes, ngantuk dan otak jadi malas berkreasi adalah ciri awal kekurangan oksigen.
Kadar 22 persen adalah luar biasa.
Vin, satu alat belum bisa jadi patokan. Bisa salah ukur, saya masih belum percaya, ganti.
Pak Wowiek, mohon izin kita pinjem dua alat dari anak-anak Huskey. Kita mau taruh tiga bulan di sana. Bagaimana?
“Loe gile juga, Vini, ganti.
Huahahaha...” terdengar ketawa berbarengan dengan team lain di belakang suara Vini yang menjawab ala militer, Siiiiaaap, ganti.”
Ok, Vin, kamu taruh di semua posisi. Sisi laut, tengah pulau dan mana lagi yang menurut kamu penting buat data. Terus foto-fotoin dan film-in ya lokasinya sekalian. Saya mau lihat data keanekaragaman hayati apa ada di sana, ganti.
Hal itu dikerjakan. Tiga bulan kemudian kami mengambil ketiga alat tersebut dan mencatat dalam logbook di laptop. Kemudian dalam rapat di kantor Vini mempresentasikan data plus gambar foto plus gambar film yang dipresentasikan mirip National Geographic.
Hasilnya…
Kadar rata-rata oksigen di seluruh pulau 23 persen! Konstan di semua area 24 Ha pulau inhibitan tak berpenduduk tersebut. Saya ternganga-nganga mendengar, melihat laporan tersebut. Ini world class information. Ini berita kelas dunia. Ini bisa masuk keajaiban dunia ke-8!
Vini melanjutkan presentasinya, “Ketika kami berjarak lima menit jauh dari pulau tersebut semua normal, kembali seperti kadar oksigen di atmosfir, 20,9 persen. Kami keliling dengan boat, berjarak kontan lima menit laut. Semua normal, semua 20,9 persen. Begitu mendekat dan mendarat oksigen meter langsungnaik 21, 22, 23 persen, bahkan menunjuk 24 persen sesekali. Dan rasanya waktu kita di sana, seger banget. Badan lemes jadi kayak seger. Sulit menjelasakan. Menarik nafas bisa sampai full. Dan paru-paru yang biasa keisi asap macem-macem kayak di-flush. Dan bisa maksimum dimasukkan ke paru-paru. Kami team ke sana jadi kecanduan, pengen ke sana terus.
Pada saat presentasi tersebut di bulan Juni 2012 saya sudah naksir berat dan ingin segera ke Pulau H***g. Ini benar-benar penemuan besar, setidaknya menurut saya. Sehingga exciting sekali begitu ada jadwal akan bermalam di tenda di Pulau H***g karena ini menurut saya adalah keajaiban dunia yang dimiliki nusantara. Inilah yang membuat saya selalu berterima kasih tak berkesudahan menjadi warga Indonesia, inilah yang membuat saya selalu bangga lahir di bumi nusantara. Inilah yang memotivasi saya mempertahankan NKRI.