Sabtu,
minggu lalu, saya ke Cirebon. Pastinya banyak yang membaca “berkunjung ke
Cirebon” adalah hal biasa saja. Namun bagi saya kota ini menarik untuk
dicermati. Pertama kali menginjak
bumi Cirebon adalah di awal 1990-an.
Waktu itu bagian kecil dari proyek Balongan
kami mengambil bagian sehingga sering ke Cirebon. Lalu ketika tahun 1997-1998
sering sekali kesana untuk berbagai urusan salah satunya adalah bisnis kapur
tohor dan gas di mana di daerah Cirebon
banyak sekali produsenya. Jadi
menginjak kembali ranah Cirebon setelah lima belas tahun cukup menarik.
Berangkat
jam 7.30 dengan kereta api Argomuria.
Jam 7.00 mobil saya parkirkan di Gambir.
Kami bertiga, Pak
Amar
dari bagian legal,
Pak
Jabas
dari pengembangan usaha. Jam 7.15 peron announcement mengumumkan penumpang
untuk menaiki kereta, jalur empat.
“Boleh
juga, tepat waktu,”
kata saya dalam hati. Kami naik ke tangga atas dan saya berpapasan dengan Pak Taufik Karim. Wuih, pengusaha
papan atas Pekalongan
juga naik kereta, hebat...
kebetulan kereta yang sama. Beliau raja sarung, raja batik dan property. Lama
kami tidak bersua. Melihat pengusaha senior berusia 63 tahun dengan istri, anak
dan menantu saya langsung merapat dan sungkem.
“Ke
Pekalongan, Pak?” saya tegur sambil menjabat
tangannya.
Dia
terkejut dan raut mukanya langsung berubah sumringah, “Lha kok ketemuan neng kene toh?” ujarnya dengan logat Pekalongan kental.
“Mau
kemana kamu?”
Pak Haji
Taufik malah balik bertanya.
“Cirebon, Pak,” jawab saya cepat.
“Aku
ikut! Kamu pasti ada bisnis khan di sana? Aku ikut. Ris, Faris(nama anaknya) kowe melok Pak Wowiek ke Cirebon yoo... Pokoknya
laporkan segera yaa... Cirebon buagus top pokoknya. Aku ikut ya…” dia berjalan memisahkan diri sambil
memerintahkan saya menelepon
setelah dapat tempat duduk di kereta
melalui gerak tangan. Dia ke gerbong tiga saya di gerbong enam tepat di
belakang gerbong resto.
Saya
tahu itu manis-manis lambe, pemanis komunikasi
ala Pak
Taufik
memerintahkan Faris
ikut saya, namun kalau berbisnis dia sangat serius kalau benar-benar
menjanjikan. Beliau taat sekali dengan peluang, di mana pun.
Dan belum pernah proposal saya bermitra ditolaknya.
Saya
masuk ke gerbong, yang menurut saya cukup rapi, besar dan nyaman. Compartment bag
di atas cukup besar sehingga tas laptop Pak Jabas bisa muat. Saya ambil posisi
samping jendela. Perjalanan menggunakan kereta di tanah air adalah sarana yang
selama dua belas tahun
terakhir saya belum pernah gunakan. Banyak hal baru jika membandingkan dengan dua belas tahun yang lalu. Di mana hal ini mengingatkan kembali perjalanan saya
berdua dengan almarhum ayah saya. Kami
berdua saat itu ke kota Tegal.
Di mana saya minta ditemani beliau
yang sudah
pensiun
sebagai teman diskusi. Dialog percakapan bapak anak yang cukup mengenangkan dan
ngangeni yang tidak mungkin saya dapatkan lagi karena beliau sudah kembali ke
Ilahi Robbi.
Perjalanan
Tegal-Jakarta pakai kereta yang hampir di
setiap stasiun berhenti. Bayaran kala itu Rp 21.000. Ada penjual ayam hidup,
ada ibu-ibu yang bayinya nangis selalu, ada pengamen yang memaksa penumpang
tidur dibangunin dan dipaksa mendengar kemudian dipaksa saweran bayarin mereka
nyanyi. Penjaja makanan ringan berteriak-teriak, asap rokok di mana-mana bahkan di depan bayi tidur sang bapak
santai mengepulkan asapnya. Benar-benar jorok, bau, panas ketika kereta
berhenti, dingin ketika kereta bergerak.
Bayangan
kereta masa itu melekat di bayangan otak saya. Namun kenyataan kemarin saya
berkereta sangat beda. Cukup bersih dan rapi. Hal ini menyamankan perasaan saya
di mana
data terakhir di kepala
saya adalah kereta yang kumuh, kali ini semua kebalikannya.
Ketika
kereta bergerak, mata saya menatap ke pemandangan sekitar. Saya mendapatkan
sisi lain dari dunia sekitar. Memang sensasi di kereta berbeda. Kita semua
pasti pernah merasakan perbedaan sensasi dari berkendaraan. Naik motor, naik
mobil pribadi, naik bus umum, naik kereta semua memiliki sensasi berbeda dan
salah satu yang terbaik adalah sensasi berkereta.
Bunyi
roda besi bersuara ketika menyentuh sambungan rel, jeg jeg. Bunyi sambungan
antar gerbong yang berderik. Dipadukan pemandangan sawah daerah Karawang Cikampek yang hijau asri dan gunung-gunung menjadi back drop pemandangan
tersebut.
Semua
saya nikmati seakan film drama keluarga dengan soundtrack music dari composer
kelas dunia. Indah.
Saya
banyak melamun selama memandangi panoramic view tersebut. Pikiran melayang ingat almarhum ayah
yang tertib, yang banyak bekerja sedikit bicara. Dan kala terakhir di kereta
dia banyak cerita, sebuah pengalaman langka dalam hubungan ayah anak.
Hingga
suara Pak
Jabas
membuyarkan lamunan saya. “Pak Boss (itu gaya Pak Jabas komunikasi, semua orang
dipanggil Pak Boss) kita di Cirebon apa yang harus dilakukan?”
“Oo,
sampai lupa saya diskusiin. Begini, Pak, kita hitung secara cepat,
berapa jumlah bank di sana dan
berapa banyak. Pak Amar
sudah siapin mobil. Saya rasa dalam waktu satu jam kita bisa menyapu semua
informasi. Lalu kita sekalian hitung, berapa pompa bensin, berapa hotel, berapa
mall dan retailer besar di sana.
Ada berapa Mc
D, KFC, Pizza
Hut,
J
Co
pokoknya semua pemain lokal
dan internasional. Menurut Pak
Amar
itu semua dalam dua
jam kita bisa lewati seluruh jalan utama Cirebon.”
“Termasuk
mendatangi pusat transportasi, terminal bus antar kota, kendaraan angkutan
dalam kota, stasiun dan terakhir pelabuhan laut. Itu yang saya mau fokuskan.
Berapa kapal sandar, jenis apa saja, jam operasi, berapa alat beratnya, semua
jalur diperiksa. Kata Pak
Amar
kepala pelabuhannya adalah iparnya. Bertemu lima belas menit cukup untuk
mendapatkan data itu.”
“Lalu
kita kelokasi ini,”
saya
melihatkan peta Cirebon dengan empat
lokasi yang sudah distabilo Pak
Bakir
dan sudah diparaf Pak
Kadek.“Lalu
kita makan siang, di mana
saja yang mencerminkan Cirebon dan balik pakai Argojati jam dua tepat.”
Pak
Amar
dan Pak
Abas
mengangguk-angguk. Mudah-mudahan
mengerti maksud saya karena kepala saya sudah mulai melamun lagi ketika mata
menghadap jendela sisi kanan, sisi gunung dan sawah.
“Makan
di Santika
siang bagaimana, Pak
Boss?” tanya Pak Jabas kepada saya. “GM Santika dan
GM hotel sebelahnya — Hotel Grage — konco dueketku, yo opo kita makan di sana terus ngobrol singkat dengan mereka? Pasti
Pak Boss perlu data traveler macam apa yang datang ke Cirebon toh?” katanya
dengan logat Suroboyo-an di mana kampungnya
di Sidoarjo sudah kependem lumpur sehingga nggak punya istilah lagi “balik
kampung” baginya.
Saya
semangat mendengar pernyataan Pak
Jabas, “Itu top markotop, siap delapan enam kita lakukan, Pak!”
Singkat
cerita jam 10.18 benar kereta merapat di stasiun Cirebon, tepat sesuai jadwal.
Saya acungi jempol untuk hal itu. Mobil sewaan sudah menunggu. Langsung tancap
gas melaksanakan data collection tersebut. Dan hasilnya benar-benar di luar
perkiraan saya. Mengagumkan
dan dahsyat. Optimis sekali saya melihat langsung, merasakan langsung denyut
kehidupan Cirebon plus data langsung dari tiga pelaku usaha di sana, Kepala
Pelabuhan
Cirebon, dua
GM hotel, dan pandangan mata ke semua titik lokasi penting.
Ditambah
lagi kereta Argojati
dalam perjalanan kembali ke
Jakarta
isinya pengusaha Korea,
Cina, bule, yang terus menggunakan telepon berbahasa Ingris sehingga kami mengetahui
dengan pasti bisnis
apa yang mereka lakukan. Salut Cirebon.