Selasa, 27 Oktober 2015

SALUT CIREBON



Sabtu, minggu lalu, saya ke Cirebon. Pastinya banyak yang membaca “berkunjung ke Cirebon” adalah hal biasa saja. Namun bagi saya kota ini menarik untuk dicermati. Pertama kali menginjak bumi Cirebon adalah di awal 1990-an. Waktu itu bagian kecil dari proyek Balongan kami mengambil bagian sehingga sering ke Cirebon. Lalu ketika tahun 1997-1998 sering sekali kesana untuk berbagai urusan salah satunya adalah bisnis kapur tohor dan gas di mana di daerah Cirebon banyak sekali produsenya. Jadi menginjak kembali ranah Cirebon setelah lima belas tahun cukup menarik.
Berangkat jam 7.30 dengan kereta api Argomuria. Jam 7.00 mobil saya parkirkan di Gambir. Kami bertiga, Pak Amar dari bagian legal, Pak Jabas dari pengembangan usaha. Jam 7.15 peron announcement mengumumkan penumpang untuk menaiki kereta, jalur empat.
Boleh juga, tepat waktu, kata saya dalam hati. Kami naik ke tangga atas dan saya berpapasan dengan Pak Taufik Karim. Wuih, pengusaha papan atas Pekalongan juga naik kereta, hebat... kebetulan kereta yang sama. Beliau raja sarung, raja batik dan property. Lama kami tidak bersua. Melihat pengusaha senior berusia 63 tahun dengan istri, anak dan menantu saya langsung merapat dan sungkem.
Ke Pekalongan, Pak? saya tegur sambil menjabat tangannya.
Dia terkejut dan raut mukanya langsung berubah sumringah, “Lha kok ketemuan neng kene toh? ujarnya dengan logat Pekalongan kental.
Mau kemana kamu? Pak Haji Taufik malah balik bertanya.
Cirebon, Pak,” jawab saya cepat.
Aku ikut! Kamu pasti ada bisnis khan di sana? Aku ikut. Ris, Faris(nama anaknya) kowe melok Pak Wowiek ke Cirebon yoo... Pokoknya laporkan segera yaa... Cirebon buagus top pokoknya. Aku ikut ya…dia berjalan memisahkan diri sambil memerintahkan saya menelepon setelah dapat tempat duduk di kereta melalui gerak tangan. Dia ke gerbong tiga saya di gerbong enam tepat di belakang gerbong resto.
Saya tahu itu manis-manis lambe, pemanis komunikasi ala Pak Taufik memerintahkan Faris ikut saya, namun kalau berbisnis dia sangat serius kalau benar-benar menjanjikan. Beliau taat sekali dengan peluang, di mana pun. Dan belum pernah proposal saya bermitra ditolaknya.
Saya masuk ke gerbong, yang menurut saya cukup rapi, besar dan nyaman. Compartment bag di atas cukup besar sehingga tas laptop Pak Jabas bisa muat. Saya ambil posisi samping jendela. Perjalanan menggunakan kereta di tanah air adalah sarana yang selama dua belas tahun terakhir saya belum pernah gunakan. Banyak hal baru jika membandingkan dengan dua belas tahun yang lalu. Di mana hal ini mengingatkan kembali perjalanan saya berdua dengan almarhum ayah saya. Kami berdua saat itu ke kota Tegal. Di mana saya minta ditemani beliau yang sudah pensiun sebagai teman diskusi. Dialog percakapan bapak anak yang cukup mengenangkan dan ngangeni yang tidak mungkin saya dapatkan lagi karena beliau sudah kembali ke Ilahi Robbi.
Perjalanan Tegal-Jakarta pakai kereta yang hampir di setiap stasiun berhenti. Bayaran kala itu Rp 21.000. Ada penjual ayam hidup, ada ibu-ibu yang bayinya nangis selalu, ada pengamen yang memaksa penumpang tidur dibangunin dan dipaksa mendengar kemudian dipaksa saweran bayarin mereka nyanyi. Penjaja makanan ringan berteriak-teriak, asap rokok di mana-mana bahkan di depan bayi tidur sang bapak santai mengepulkan asapnya. Benar-benar jorok, bau, panas ketika kereta berhenti, dingin ketika kereta bergerak.
Bayangan kereta masa itu melekat di bayangan otak saya. Namun kenyataan kemarin saya berkereta sangat beda. Cukup bersih dan rapi. Hal ini menyamankan perasaan saya di mana data terakhir di kepala saya adalah kereta yang kumuh, kali ini semua kebalikannya.
Ketika kereta bergerak, mata saya menatap ke pemandangan sekitar. Saya mendapatkan sisi lain dari dunia sekitar. Memang sensasi di kereta berbeda. Kita semua pasti pernah merasakan perbedaan sensasi dari berkendaraan. Naik motor, naik mobil pribadi, naik bus umum, naik kereta semua memiliki sensasi berbeda dan salah satu yang terbaik adalah sensasi berkereta.
Bunyi roda besi bersuara ketika menyentuh sambungan rel, jeg jeg. Bunyi sambungan antar gerbong yang berderik. Dipadukan pemandangan sawah daerah Karawang Cikampek yang hijau asri dan gunung-gunung menjadi back drop pemandangan tersebut. Semua saya nikmati seakan film drama keluarga dengan soundtrack music dari composer kelas dunia. Indah.
Saya banyak melamun selama memandangi panoramic view tersebut. Pikiran melayang ingat almarhum ayah yang tertib, yang banyak bekerja sedikit bicara. Dan kala terakhir di kereta dia banyak cerita, sebuah pengalaman langka dalam hubungan ayah anak.
Hingga suara Pak Jabas membuyarkan lamunan saya. “Pak Boss (itu gaya Pak Jabas komunikasi, semua orang dipanggil Pak Boss) kita di Cirebon apa yang harus dilakukan?”
Oo, sampai lupa saya diskusiin. Begini, Pak, kita hitung secara cepat, berapa jumlah bank di sana dan berapa banyak. Pak Amar sudah siapin mobil. Saya rasa dalam waktu satu jam kita bisa menyapu semua informasi. Lalu kita sekalian hitung, berapa pompa bensin, berapa hotel, berapa mall dan retailer besar di sana. Ada berapa Mc D, KFC, Pizza Hut, J Co pokoknya semua pemain lokal dan internasional. Menurut Pak Amar itu semua dalam dua jam kita bisa lewati seluruh jalan utama Cirebon.
Termasuk mendatangi pusat transportasi, terminal bus antar kota, kendaraan angkutan dalam kota, stasiun dan terakhir pelabuhan laut. Itu yang saya mau fokuskan. Berapa kapal sandar, jenis apa saja, jam operasi, berapa alat beratnya, semua jalur diperiksa. Kata Pak Amar kepala pelabuhannya adalah iparnya. Bertemu lima belas menit cukup untuk mendapatkan data itu.
Lalu kita kelokasi ini,” saya melihatkan peta Cirebon dengan empat lokasi yang sudah distabilo Pak Bakir dan sudah diparaf Pak Kadek.Lalu kita makan siang, di mana saja yang mencerminkan Cirebon dan balik pakai Argojati jam dua tepat.
Pak Amar dan Pak Abas mengangguk-angguk. Mudah-mudahan mengerti maksud saya karena kepala saya sudah mulai melamun lagi ketika mata menghadap jendela sisi kanan, sisi gunung dan sawah.
Makan di Santika siang bagaimana, Pak Boss? tanya Pak Jabas kepada saya. “GM Santika dan GM hotel sebelahnya — Hotel Grage — konco dueketku, yo opo kita makan di sana terus ngobrol singkat dengan mereka? Pasti Pak Boss perlu data traveler macam apa yang datang ke Cirebon toh?” katanya dengan logat Suroboyo-an di mana kampungnya di Sidoarjo sudah kependem lumpur sehingga nggak punya istilah lagi “balik kampung” baginya.
Saya semangat mendengar pernyataan Pak Jabas, “Itu top markotop, siap delapan enam kita lakukan, Pak!
Singkat cerita jam 10.18 benar kereta merapat di stasiun Cirebon, tepat sesuai jadwal. Saya acungi jempol untuk hal itu. Mobil sewaan sudah menunggu. Langsung tancap gas melaksanakan data collection tersebut. Dan hasilnya benar-benar di luar perkiraan saya. Mengagumkan dan dahsyat. Optimis sekali saya melihat langsung, merasakan langsung denyut kehidupan Cirebon plus data langsung dari tiga pelaku usaha di sana, Kepala Pelabuhan Cirebon, dua GM hotel, dan pandangan mata ke semua titik lokasi penting.
Ditambah lagi kereta Argojati dalam perjalanan kembali ke Jakarta isinya pengusaha Korea, Cina, bule, yang terus menggunakan telepon berbahasa Ingris sehingga kami mengetahui dengan pasti bisnis apa yang mereka lakukan. Salut Cirebon.