Selasa, 27 Oktober 2015

WAKTUNYA INDONESIA MENYALIP DI TIKUNGAN



Tiga negara, 4 provinsi, 9 kota dalam tiga minggu. Menyaksikan pertumbuhan Malaysia, Cina, Korea dari tahun ke tahun. Di mana pengalaman pribadi dalam tiga tahun terakhir, 4 kali ke Malaysia, 3 kali ke Cina, 2 kali ke Korea. Korea semakin rapi tertata, Malaysia semakin bersih dan Cina semakin besar dan gemerlap.
Bisa dibayangkan, di kota Beijing dan Shanghai, apa yang ada di New York ada di sana dan lebih banyak dan lebih gemerlap. Mengagumkan, juga pertumbuhan industriCina memiliki standar industri sendiri dengan cara sendiri di dalam melakukan manufaktur. Misalnya, mereka memiliki mini power plant, mini LPG plant, CPO plant yang sangat efisien di mana di manufaktur Eropa atau Amerika hal itu tidak ada sejak tidak ada yang namanya skala mini atau murah. Alat-alat manufaktur buatan Cina bisa 40-50 persen harganya lebih murah dari buatan Jerman atau Amerika dengan mutu yang tidak kalah kuatnya dengan design yang luar biasa efektif efisien.
Malaysia memfokus diri membangun sisi keuangan dan ingin menjadikan negara mereka sebagai financial country. Penerbitan sukuk, fasilitas keuangan di Labuan Malaysia sebuah bandar yang diniatkan akan setara dengan Cayman Island atau British Virgin Island. Labuan telah diistiharkan sebagai pusat keuangan lepas pantai (offshore financial centre) dan pelabuhan bebas cukai. Banyak dana dan perusahaan dari Timur Tengah, Dubai, Oman, Qatar, Saudi, berbasis di sana dengan target membiayai Asia Tenggara.
Ada banyak hal yang mengherankan saya begitu bertemu dengan sebuah bank bernama Elaf Bank Bahrain, selama lima tahun terakhir seluruh proyek pembiayaannya adalah untuk bisnis di Indonesia namun entah rumit atau pemerintah Indonesia nggak ngerti izin usaha, mereka membuka cabang di Indonesia kandas sehingga mereka membangun cabang di Kuala Lumpur supaya lebih dekat dengan Indonesia. Dan hingga saat ini Elaf Bank belum minat membiayai proyek selain Indonesia. Mereka suka dengan perkembangan Indonesia. Pimpinan Elaf Cabang Malaysia, Sulaiman AbdulRahim, sahabat saya lama geleng-geleng kepala jika berhadapan dengan pemegang otoritas keuangan di Indonesia. Maka dia lebih suka B to B dari bisnis ke bisnis langsung.
Dan pengalaman ini juga terjadi di bank besar Inggris bernama Barclays Bank, dua tahun mencoba membangun operasinya di Indonesia pada akhirnya tidak dapat izin dan tahun 2010 angkat kaki pindah operasinya di Singapura juga memfokuskan dirinya untuk bisnis dengan Indonesia.
Bertemu dengan pebisnis Cina, Korea, Bahrain, Malaysia, Singapura dalam tiga minggu terakhir ini, saya banyak dapat masukan. Mereka mengatakan bahwa ekonomi yang menurun di Eropa dan Amerika adalah winfall atau keuntungan besar buat Indonesia. Ini kesempatan emas menyalip Eropa di tikungan.
Dana Timur Tengah petro dollar, dana yuan Cina, dana yang banyak diletakkan di Swiss, di Amerika sudah mulai mencari tempat di Asia Timur dan Tenggara. Bahkan profesional di Eropa mau dibayar harga Asia untuk bekerja di Asia. Tidak heran resto Ku De Ta di Bali, Swiss Margos Resort Bali dan lain sebagainya mengambil peluang menggunakan tenaga-tenaga profesional asing dengan harga lokal di dunia pariwisata. Tingkat pengangguran negara Eropa yang tinggi membuat mereka merantau ke promise land, Indonesia.
Seorang pengusaha papan atas Malaysia, Rizwan, bahkan menawarkan penawaran yang sulit ditolak agar operasi pabrik resinnya bisa dibangun di Indonesia. Dia menawarkan bahwa, kita (pihak Indonesia) menyiapkan tanah di daerah Probolinggo atau Pasuruan. Alasannya pelabuhan dan marketnya di Australia dekat. Dia akan memindahkan pabriknya dari Malaysia, marketnya dan expretisnya akan dialihkan ke Indonesia, bagi hasil 50:50. Export ke Australia semuanya.
Mengapa dia hendak memindahkan semua itu? Satu, bahan baku di Indonesia murah. Dua, dekat dengan pasar Australia. Tiga, pabriknya di tengah kota Kuala Lumpur lebih cocok dibuat apartemen dan gedung kantor daripada pabrik resin tersebut. Ini adalah deal kami satu tahun yang lalu, kemarin bersua dia bertanya, “Aii, Brader Wowiek, macam mana izin-izin belum kalian peroleh juga keh? Lambat kali. Tanah sudah kalian punya, izin-izin kenapa lama? Ape yang susah kan kalian he?” dia berujar dan saya tahu itu kritikan pedas ke pihak kami. Modal kalian tak keluar banyak, tenaga kerja akan kita recruit banyak dari penduduk sekitar, lalu apa pikir para birokrat Indonesia nih?
Saya asli speechless mendengar komentar Rizwan.
Pengalaman di Seoul-Korea lain lagi. Mitra kami cukup lama, sudah sepuluh tahun sejak tahun 2000 untuk pekerjaan di Limau Prabumulih di mana banyak instrumen kami beli, rakit dan fabrikasi dengan mitra ini Mr. Kim Jun. Kami dijemput di bandara lalu naik kereta ke mana-mana. Bagi kami bertiga bukan hal baru, di tahun-tahun yang lalu dia melayanai kami juga dengan sederhana. Walaupun aset pribadinya lebih dari USD 40 juta dia sangat efektif memanfaatkan waktu dan kendaraannya. Ketika ia saya tanya, dijawabnya, “Semakin ke sini transportasi umum di Korea semakin baik. Saya banyak menjumpai manfaat bertranportasi umum. Inilah yang membuat saya selalu menginjak bumi dan belajar rendah hati. Bahkan saya sering terkejut bertemu dengan mitra bisnis yang jauh di atas saya kesuksesannya juga masih mengguankan tranportasi umum sehingga banyak bsnis dilakukan di sini (mass transport).
Saya membayangkan beberapa kali naik busway di Jakarta. Kalau musim panas, begitu turun bus, menuju gedung tujuan, keringat sudah membasahi tubuh. Dan harus nyeberang-nyeberang karena tidak terkoneksi dengan gedung tujuan. Jika di negara lain, Singapura, Korea, Jepang apalagi, semua sistem dan pergerakan jalannya orang di kendaraan umum terlindungi dari panas dan hujan. Langsung menempel atau berada dalam naungan atap yang nyaman. Itulah mungkin sistem tranportasi umum menjadi kurang diminati karena yang membuat tidak pernah naik kendaraan umum jadi nggak manusiawi, nggak nyambung, nggak nyaman.
Melihat peluang ke depan yang semakin baik bagi Indonesia, membenahi sarana publik, perizinan, kemudahan membuka usaha, sebaiknya diperhatikan oleh semua kalangan. Ayo mari kita menggaungkan terus melalui cara yang elegan. Mengingatkan pemerintah, mengingatkan pejabat, mengingatkan diri sendiri dan lingkungan.
Gerakan melalui social media terbukti sangat efektif dalam membangun opini, walaupun sedikit tetapi sangat baik pengaruhnya. Semoga oleh-oleh tulisan selama vakum tiga minggu ini dapat diteruskan kesemua pihak sehingga menjadi wacana bersama.