Tiga
negara, 4 provinsi, 9 kota dalam tiga minggu. Menyaksikan pertumbuhan Malaysia,
Cina,
Korea
dari tahun ke tahun. Di mana
pengalaman pribadi dalam tiga
tahun terakhir, 4 kali ke Malaysia,
3 kali ke Cina,
2 kali ke Korea.
Korea semakin rapi tertata, Malaysia semakin bersih dan Cina semakin besar dan gemerlap.
Bisa
dibayangkan, di kota Beijing dan Shanghai,
apa yang ada di New York ada di sana
dan lebih banyak dan lebih gemerlap. Mengagumkan, juga pertumbuhan industriCina memiliki standar industri sendiri dengan cara sendiri di dalam melakukan manufaktur. Misalnya, mereka
memiliki mini power plant, mini LPG plant, CPO plant yang sangat efisien di mana di manufaktur Eropa atau Amerika hal itu tidak ada sejak tidak ada yang namanya skala mini
atau murah. Alat-alat manufaktur buatan Cina bisa 40-50 persen harganya lebih murah
dari buatan Jerman
atau Amerika dengan mutu yang tidak kalah kuatnya dengan design yang luar biasa
efektif efisien.
Malaysia
memfokus diri membangun sisi keuangan dan ingin menjadikan negara mereka sebagai financial
country. Penerbitan sukuk, fasilitas keuangan di Labuan Malaysia sebuah bandar yang diniatkan akan
setara dengan Cayman
Island
atau British
Virgin
Island.
Labuan telah diistiharkan
sebagai pusat keuangan lepas pantai (offshore financial centre) dan pelabuhan
bebas cukai. Banyak dana dan perusahaan dari Timur Tengah, Dubai, Oman, Qatar, Saudi,
berbasis di sana dengan target membiayai Asia Tenggara.
Ada
banyak hal yang mengherankan saya begitu bertemu dengan sebuah bank bernama
Elaf Bank Bahrain, selama lima
tahun terakhir seluruh proyek pembiayaannya adalah untuk bisnis di Indonesia
namun entah rumit atau pemerintah Indonesia nggak ngerti izin usaha, mereka membuka cabang di Indonesia
kandas sehingga mereka membangun cabang di Kuala Lumpur supaya lebih dekat dengan
Indonesia. Dan hingga saat ini Elaf Bank belum minat membiayai proyek selain
Indonesia. Mereka suka dengan perkembangan Indonesia. Pimpinan Elaf Cabang
Malaysia, Sulaiman AbdulRahim, sahabat saya lama geleng-geleng kepala jika
berhadapan dengan pemegang otoritas keuangan di Indonesia. Maka dia lebih suka
B to B dari bisnis ke bisnis langsung.
Dan
pengalaman ini juga terjadi di bank besar Inggris bernama Barclays Bank, dua
tahun mencoba membangun operasinya di Indonesia pada akhirnya tidak dapat izin
dan tahun 2010 angkat kaki pindah operasinya di Singapura juga memfokuskan
dirinya untuk bisnis dengan Indonesia.
Bertemu
dengan pebisnis Cina, Korea,
Bahrain, Malaysia, Singapura
dalam tiga
minggu terakhir ini, saya banyak dapat masukan. Mereka mengatakan bahwa ekonomi yang
menurun di Eropa
dan Amerika
adalah winfall atau keuntungan besar buat Indonesia. Ini kesempatan emas
menyalip Eropa
di tikungan.
Dana
Timur
Tengah
petro dollar, dana yuan Cina, dana yang banyak diletakkan di Swiss, di Amerika sudah mulai mencari tempat
di Asia
Timur
dan Tenggara.
Bahkan profesional di Eropa
mau dibayar harga Asia
untuk bekerja di Asia.
Tidak heran resto Ku De Ta
di Bali,
Swiss
Margos
Resort
Bali
dan lain sebagainya
mengambil peluang menggunakan tenaga-tenaga profesional asing dengan harga lokal di dunia pariwisata. Tingkat pengangguran negara Eropa yang tinggi membuat mereka
merantau ke promise land, Indonesia.
Seorang
pengusaha papan atas Malaysia,
Rizwan, bahkan menawarkan penawaran yang
sulit ditolak agar operasi pabrik resinnya bisa dibangun di Indonesia. Dia
menawarkan bahwa, kita (pihak Indonesia)
menyiapkan tanah di daerah Probolinggo
atau Pasuruan.
Alasannya pelabuhan
dan marketnya di Australia dekat. Dia akan memindahkan pabriknya dari Malaysia,
marketnya dan expretisnya akan dialihkan ke Indonesia, bagi hasil 50:50. Export ke
Australia semuanya.
Mengapa
dia hendak memindahkan semua itu?
Satu, bahan baku di Indonesia murah.
Dua,
dekat dengan pasar Australia. Tiga, pabriknya di tengah kota Kuala Lumpur lebih cocok dibuat
apartemen dan gedung kantor daripada pabrik resin tersebut. Ini adalah deal kami satu tahun yang lalu, kemarin bersua
dia bertanya, “Aii, Brader Wowiek, macam mana izin-izin belum
kalian peroleh juga keh? Lambat kali. Tanah
sudah kalian punya, izin-izin kenapa lama? Ape yang susah kan kalian he?” dia berujar dan saya tahu itu kritikan pedas ke pihak kami.
“Modal
kalian tak keluar banyak, tenaga kerja akan kita recruit banyak dari penduduk
sekitar,
lalu apa pikir para birokrat Indonesia nih?”
Saya
asli speechless mendengar komentar Rizwan.
Pengalaman
di Seoul-Korea lain lagi. Mitra kami cukup
lama, sudah sepuluh tahun sejak tahun 2000 untuk pekerjaan di Limau Prabumulih di mana banyak instrumen kami beli, rakit dan
fabrikasi dengan mitra ini Mr. Kim Jun. Kami dijemput di bandara lalu naik
kereta ke mana-mana. Bagi kami bertiga bukan hal baru, di tahun-tahun
yang lalu dia melayanai kami juga dengan sederhana. Walaupun aset pribadinya
lebih dari USD 40 juta dia sangat efektif memanfaatkan waktu dan kendaraannya.
Ketika ia saya tanya, dijawabnya, “Semakin ke sini transportasi umum di Korea semakin baik. Saya banyak
menjumpai manfaat bertranportasi umum. Inilah yang membuat saya selalu
menginjak bumi dan belajar rendah hati. Bahkan saya sering terkejut bertemu
dengan mitra bisnis yang jauh di atas saya kesuksesannya juga masih mengguankan
tranportasi umum sehingga banyak bsnis dilakukan di sini (mass transport).”
Saya
membayangkan beberapa kali naik busway di Jakarta. Kalau musim panas, begitu
turun bus, menuju gedung tujuan, keringat sudah membasahi tubuh. Dan harus nyeberang-nyeberang karena tidak
terkoneksi dengan gedung tujuan. Jika di negara
lain,
Singapura,
Korea,
Jepang apalagi, semua sistem dan pergerakan jalannya
orang di kendaraan umum terlindungi dari panas dan hujan. Langsung menempel
atau berada dalam naungan atap yang nyaman. Itulah mungkin sistem tranportasi
umum menjadi kurang diminati karena yang membuat tidak pernah naik kendaraan
umum jadi nggak manusiawi, nggak nyambung, nggak nyaman.
Melihat
peluang ke depan yang semakin baik bagi Indonesia, membenahi sarana publik, perizinan, kemudahan membuka
usaha, sebaiknya diperhatikan oleh semua kalangan. Ayo mari kita menggaungkan
terus melalui cara yang elegan. Mengingatkan pemerintah, mengingatkan pejabat,
mengingatkan diri sendiri dan lingkungan.
Gerakan
melalui social media terbukti sangat efektif dalam membangun opini, walaupun
sedikit tetapi sangat baik pengaruhnya. Semoga oleh-oleh tulisan selama vakum tiga minggu ini dapat diteruskan
kesemua pihak sehingga menjadi wacana bersama.