Tidak terasa 3
minggu tidak membuka FB dan menulis status rasanya kangen juga. Memang benar
kata pepatah, time fly when we’re having a good time, waktu seakan “terbang”
ketika masa senang, namun waktu ternyata juga terasa “terbang” ketika bad time
masa sulit. Intinya
, memang di kala senang ataupun masa sulit waktu memang terbang dengan
kencangnya. Jadi kenapa mesti heran hehe
Seseorang yang memanfaatkan waktunya untuk mendapatkan pengalaman baru, merasakan sesuatu yang baru, membuat live the life, menghidupkan kehidupan adalah seseorang yang paling beruntung. Memanfaatkan waktu adalah plihan hidup yang harus anda ambil. Tidak perduli itu waktu sulit atau waktu senang, itu hanya “by product” effek samping pilihan pilihan dari keputusan yang anda ambil sebelumnya.
Kalau anda mendapatkan waktu sulit sekarang, pastinya itu hanya hasil dari sebuah keputusan masa lalu. Begitu juga ketika anda merasakan “good time” sekarang, syukurilah atas sebuah keputusan yang anda ambil sebelumnya. Mengambil judul diatas, saya lebih memilih menyesali beberapa perbuatan salah dimasa lalu dari pada menyesali perbuatan yang saya tidak lakukan. Saya ingin menjelaskan singkat.
Misalnya begini, saya mengambil sebuah keputusan yaitu menyoba menyogok pejabat untuk mendapatkan “izin prinsip” pembangunan sebuah gedung. Saya tahu ini salah, saya tahu ini tidak benar, dan saya sesali. Namun itu menjadi pengalaman. Itu menjadi sebuah proses pendewasaan, dan asli saya salah, maaf. Namun itu menurut saya masih lebih baik ketimbang menyesali sebuah keputusan yang saya tidak ambil.
Saya pernah suatu hari yangi terjadi beberapa tahun yang lalu, saya melihat seseorang memasang sebuah papan pengumunan, dijual segera tanah ini 2000M2. BU. Saya pun berhenti dan bertanya, dijual brp pak? Lalu dia menyebut harga yang menurut saya sangat murah jauh di bawah harga pasar, sangat jauh. Dan angka yang dia sebut kebutulan bukan angka yang saya tidak bisa ambil. Karena baru saja di bagasi belakang mobil saya ada sedikit saldo deposito yang baru jatuh tempo yang saya akan pindahkan untuk pindah portofolio invetasi saya yaitu ke bursa saham.
Lokasi bagus, harga murah, dana idle ada. Lalu saya menimbang, memikir, membanding2 kan selama beberapa saat. Bahkan si pemilik tanah beberapa kali menanyakan apakah jadi membeli? Yang saya jawab, lagi pikir-pikir pak. Hingga kesibukan rutin menyita waktu saya sehingga lupa. Selang waktu setahun lebih saya lewat didaerah bilangan cempaka putih, Jakarta timur tersebut dan terkaget-kaget melihat sebuah hotel berdiri disana.
Kawanua hotel, yang dikelola oleh aerotel anak usuah aerowisata garuda. Sayapun mencari tahu siapa yang ambil itu tanah dan siapa yang membangun. Cukup mudah untuk mencari tahu karena direksi aerotel saya kenal dengan baik, yang kala itu menjabat. Saya telpon sahabat saya direksi aerotel pak satria. Diapunmenjelaskan bahwa hotel itu milik pemda sulut artinya pemda sulut yang membeli dan di bangun hotel yang dikelola oleh team pak satria.
Begitu saya tahu harga yang dia beli saya berkerut karena jauh diatas harga yang pernah di tawarkan ke saya. jauh sekali. Dan saya Tanya beli dari siapa? Apakah pemilik yang saya temui dulu atau orang lain lagi? sehingga pikiran liar saya menyatakan, “who is the lucky son of a bitch?!” haha..ternyata Dari tetangga depan di pojokan depan hotel tersebut, pak paulus kalau tidak salah namanya. His the lucky guy..itu bukan pemilik lama yang saya kenal, itu orang yang beruntung tersebut. Pastinya saya tidak kenal dia, dan pastinya dialah orang yang beruntung itu.
Tidak sulit bagi saya yang penasaran dengan hal itu karena saya jadi ingin tahu berapa omzet hotel tersebut. Saya jadi ingin tahu lebih jauh. Masih berbicara via telepon dengan pak satria saya pun banyak bertanya. Karena sesungguhnya dalam pikiran saya sebelumnya sudah terfikir akan membuat hotel kecil disana sama persis ternyata kejadiannya namun barangnya bukan milik saya. saya awalnya memutuskan mengecek lokasi dan akan membuat hotel disana. Saya bahkan sudah menghubungi funder bank pembiaya yang kira-kira minat, saya bahkan yakin modal tanah saja bangunan tersebut bisa berdiri dan berjalan baik sehingga cicilan bank bisa di cover dari revenue bisnis.
Maka ketika hal sama jadi ditempat yang sama dan beda pemilik, saya pun menjadi haus informasi. Jadi saya ingin Tanya dengan pengelola hotel tersebut turn over penjualanya. Hotel yang baru 6 bulan beroperasi ini. Saya pun menelfon pak ade direktur operasi aerotel kala itu yang dijawa olehnya, GM nya pak Djarot, temen mas wowiek itu yang dulu di hyatt Surabaya.
Maka tanpa jeda saya dial no telpon pak djarot, dengan logat khan suroboyoan, pak boz, kemana saja. Yang saya jawab, boz djarot, walangkekek khon ngak kasih kabar tahu-tahu sudah di Jakarta. Yang dijawab dengan ketawa keras..mampir nang ngon ku boz, tak service makan siang top markotop pokoke. Saya pun meluncur kesana karena hanya berjarak 1km dari posisi saya telephon karena memang baru lewat daerah tersebut.
Setibanya di lobby , senyum sumringah pak djarot menyambut dan langsung di bawa ke lantai 2 di di coffee shop hotel. Dua piring nasi goring sudah tersedia disana, satu untuk saya, satu untuk pak djarot. Yang saya berondong dengan pertanyaan, bagaimana bisnis? Revenue masuk? Yang dijawab samba senyum, lha wong djabas bos ( nama lengkapnya djarot basuki) sehingga saya sering menyebutnya dengan nama singkatan djabas. 90% okupansi. Iki ndelok en (nih lihat) sambil melihatkan daftar list tamu korporasi langganan yang menyewa ruang meeting atau mengambil kamar. Dia menarget pasar korporasi rupanya. Jumlah kamar 87, meeting room selalu penih bahkan untuk 6 bulan ke depan. Bisnis pastinya bagus. Dan dalam pikiran saya, tuh khan bener. Kalau saya yang develop masuk perhitungan bisnisnya. Tapi faktanya, ini bukan bisnis saya.
Inilah yang terjadi dalam 3 minggu ini, saya berusaha mengisi kehidupan agar hidup. Melewati dengan cepat, dan mengisi dengan sesuatu yang baru. Mulai dari rutinitas kantor, keputusan buruk bisnis, tidak sempat olah raga, terbang ke berbagai penjuru Indonesia bertemu pejabat daerah, berdebat dengan mitra, mencari fresh modal, menambah pegawai, urusan rutin parenting, pendidikan anak, dan lain sebagainya yang tahu-tahu sudah 3 minggu berlalu. Banyak hal yang akan saya tumpahkan di tulisan. Dengan variasi yang beragam dari sudut yang beragam pula.
kupasan pengalaman nyata dalan keseharian 3 minggu ini bisa membuat 20 judul berbeda, 20 cerita naïf kebodohan dan berbagai keberhasilan kecil yang mungkin kurang berarti namun ini hanya sebuah pengalaman agar kelak saya tidak menyesali sebuah keputusan yang tidak saya perbuat. # may peace be upon us
Seseorang yang memanfaatkan waktunya untuk mendapatkan pengalaman baru, merasakan sesuatu yang baru, membuat live the life, menghidupkan kehidupan adalah seseorang yang paling beruntung. Memanfaatkan waktu adalah plihan hidup yang harus anda ambil. Tidak perduli itu waktu sulit atau waktu senang, itu hanya “by product” effek samping pilihan pilihan dari keputusan yang anda ambil sebelumnya.
Kalau anda mendapatkan waktu sulit sekarang, pastinya itu hanya hasil dari sebuah keputusan masa lalu. Begitu juga ketika anda merasakan “good time” sekarang, syukurilah atas sebuah keputusan yang anda ambil sebelumnya. Mengambil judul diatas, saya lebih memilih menyesali beberapa perbuatan salah dimasa lalu dari pada menyesali perbuatan yang saya tidak lakukan. Saya ingin menjelaskan singkat.
Misalnya begini, saya mengambil sebuah keputusan yaitu menyoba menyogok pejabat untuk mendapatkan “izin prinsip” pembangunan sebuah gedung. Saya tahu ini salah, saya tahu ini tidak benar, dan saya sesali. Namun itu menjadi pengalaman. Itu menjadi sebuah proses pendewasaan, dan asli saya salah, maaf. Namun itu menurut saya masih lebih baik ketimbang menyesali sebuah keputusan yang saya tidak ambil.
Saya pernah suatu hari yangi terjadi beberapa tahun yang lalu, saya melihat seseorang memasang sebuah papan pengumunan, dijual segera tanah ini 2000M2. BU. Saya pun berhenti dan bertanya, dijual brp pak? Lalu dia menyebut harga yang menurut saya sangat murah jauh di bawah harga pasar, sangat jauh. Dan angka yang dia sebut kebutulan bukan angka yang saya tidak bisa ambil. Karena baru saja di bagasi belakang mobil saya ada sedikit saldo deposito yang baru jatuh tempo yang saya akan pindahkan untuk pindah portofolio invetasi saya yaitu ke bursa saham.
Lokasi bagus, harga murah, dana idle ada. Lalu saya menimbang, memikir, membanding2 kan selama beberapa saat. Bahkan si pemilik tanah beberapa kali menanyakan apakah jadi membeli? Yang saya jawab, lagi pikir-pikir pak. Hingga kesibukan rutin menyita waktu saya sehingga lupa. Selang waktu setahun lebih saya lewat didaerah bilangan cempaka putih, Jakarta timur tersebut dan terkaget-kaget melihat sebuah hotel berdiri disana.
Kawanua hotel, yang dikelola oleh aerotel anak usuah aerowisata garuda. Sayapun mencari tahu siapa yang ambil itu tanah dan siapa yang membangun. Cukup mudah untuk mencari tahu karena direksi aerotel saya kenal dengan baik, yang kala itu menjabat. Saya telpon sahabat saya direksi aerotel pak satria. Diapunmenjelaskan bahwa hotel itu milik pemda sulut artinya pemda sulut yang membeli dan di bangun hotel yang dikelola oleh team pak satria.
Begitu saya tahu harga yang dia beli saya berkerut karena jauh diatas harga yang pernah di tawarkan ke saya. jauh sekali. Dan saya Tanya beli dari siapa? Apakah pemilik yang saya temui dulu atau orang lain lagi? sehingga pikiran liar saya menyatakan, “who is the lucky son of a bitch?!” haha..ternyata Dari tetangga depan di pojokan depan hotel tersebut, pak paulus kalau tidak salah namanya. His the lucky guy..itu bukan pemilik lama yang saya kenal, itu orang yang beruntung tersebut. Pastinya saya tidak kenal dia, dan pastinya dialah orang yang beruntung itu.
Tidak sulit bagi saya yang penasaran dengan hal itu karena saya jadi ingin tahu berapa omzet hotel tersebut. Saya jadi ingin tahu lebih jauh. Masih berbicara via telepon dengan pak satria saya pun banyak bertanya. Karena sesungguhnya dalam pikiran saya sebelumnya sudah terfikir akan membuat hotel kecil disana sama persis ternyata kejadiannya namun barangnya bukan milik saya. saya awalnya memutuskan mengecek lokasi dan akan membuat hotel disana. Saya bahkan sudah menghubungi funder bank pembiaya yang kira-kira minat, saya bahkan yakin modal tanah saja bangunan tersebut bisa berdiri dan berjalan baik sehingga cicilan bank bisa di cover dari revenue bisnis.
Maka ketika hal sama jadi ditempat yang sama dan beda pemilik, saya pun menjadi haus informasi. Jadi saya ingin Tanya dengan pengelola hotel tersebut turn over penjualanya. Hotel yang baru 6 bulan beroperasi ini. Saya pun menelfon pak ade direktur operasi aerotel kala itu yang dijawa olehnya, GM nya pak Djarot, temen mas wowiek itu yang dulu di hyatt Surabaya.
Maka tanpa jeda saya dial no telpon pak djarot, dengan logat khan suroboyoan, pak boz, kemana saja. Yang saya jawab, boz djarot, walangkekek khon ngak kasih kabar tahu-tahu sudah di Jakarta. Yang dijawab dengan ketawa keras..mampir nang ngon ku boz, tak service makan siang top markotop pokoke. Saya pun meluncur kesana karena hanya berjarak 1km dari posisi saya telephon karena memang baru lewat daerah tersebut.
Setibanya di lobby , senyum sumringah pak djarot menyambut dan langsung di bawa ke lantai 2 di di coffee shop hotel. Dua piring nasi goring sudah tersedia disana, satu untuk saya, satu untuk pak djarot. Yang saya berondong dengan pertanyaan, bagaimana bisnis? Revenue masuk? Yang dijawab samba senyum, lha wong djabas bos ( nama lengkapnya djarot basuki) sehingga saya sering menyebutnya dengan nama singkatan djabas. 90% okupansi. Iki ndelok en (nih lihat) sambil melihatkan daftar list tamu korporasi langganan yang menyewa ruang meeting atau mengambil kamar. Dia menarget pasar korporasi rupanya. Jumlah kamar 87, meeting room selalu penih bahkan untuk 6 bulan ke depan. Bisnis pastinya bagus. Dan dalam pikiran saya, tuh khan bener. Kalau saya yang develop masuk perhitungan bisnisnya. Tapi faktanya, ini bukan bisnis saya.
Inilah yang terjadi dalam 3 minggu ini, saya berusaha mengisi kehidupan agar hidup. Melewati dengan cepat, dan mengisi dengan sesuatu yang baru. Mulai dari rutinitas kantor, keputusan buruk bisnis, tidak sempat olah raga, terbang ke berbagai penjuru Indonesia bertemu pejabat daerah, berdebat dengan mitra, mencari fresh modal, menambah pegawai, urusan rutin parenting, pendidikan anak, dan lain sebagainya yang tahu-tahu sudah 3 minggu berlalu. Banyak hal yang akan saya tumpahkan di tulisan. Dengan variasi yang beragam dari sudut yang beragam pula.
kupasan pengalaman nyata dalan keseharian 3 minggu ini bisa membuat 20 judul berbeda, 20 cerita naïf kebodohan dan berbagai keberhasilan kecil yang mungkin kurang berarti namun ini hanya sebuah pengalaman agar kelak saya tidak menyesali sebuah keputusan yang tidak saya perbuat. # may peace be upon us