Minggu, 25 Oktober 2015

“Tidak menyelesaikan masalah sebenarnya menciptakan masalah baru”



“Ini yang saya bilang kemarin pak wagub. Mas wowiek, atau ada juga yang memanggil dg nama mardigu. Sedikit dari orang di Indonesia yang memiliki ketrampilan membaca wajah. Belajarnya lama lho sampai ke amerika segala”.. Ini adalah salah satu kebiasaan mas Roy martin sahabat saya kalau memperkenalkan saya kepada rekan-rekannya. Terkadang saya isin-malu. Tapi mas roy selalu bilang, lho itu memang kekuatan kamu, harus di ingatkan. Apa lagi orang-orang sibuk seperti menteri, pak gubernur yang tiap hari ketemu puluah atau ratusan orang, kamu harus “stand alone” harus bisa menonjol, harus unik dan bisa di ingat.

Saya pun menyodorkan kedua tangan saya bersalaman dengan kenalan baru, pak wagub Jakarta Basuki Tjahaya Purnama. Ini adalah peristiwa kemarin hari rabu. Dimana saya di bawa mas roy martin untuk sowan berkunjung memenuhi undangan pak wagub. Pertemuan tersebut hanya pertemuan ringan jam 9 pagi yang direncanakan paling lama 30 menit mengingat kapasitas kesibukan pak wagub yang super padat tersebut.

Rencana nya adalah mendengarkan sedikit bocoran langsung apa yang akan dilakukan oleh gubernur dan wagub Jakarta 5 tahun kedepan. Dimana sebagai pengusaha rasanya sumber informasi inilah yang sangat penting untuk membedakan tindakan keputusan strategi bisnis dari lainnya. Kalau ketrampilan sama, modal sama, pengalaman sama, dunia bisnisnya sama, maka keunggulan informasi akan member sedikit langkah didepan. Jadi, jika kita memiliki teman yang ber ada diposisi “fore front” garis depan pengambil keputusan pemerintahan itu merupakan sedikit keunggulan setidaknya informasi.

Walau setelah itu masih ada proses lagi. dimana jalur otak manusia yang rumit akan mencerna informasi tersebut dengan berbeda satu dengan lainnya, lalu terakhir adalah otot motorik anda membedakan tindakan anda setelah keputusan diproses di otak. Terkadang walaupun informasi sudah “terkini” namun proses otak lemot atau tidak ada akses maka tindakan belum tentu efektif. Atau, proses otak canggih namun tidak ada “guts” nyali menjalakan dan otot motorik malas bergerak, maka informasi tersebut menjadi sampah. Namun satu hal, dalam hal bisnis jangan beri saya informasi kelas satu terkini, dibelahan bumi manapun, pasti ngak saya tunggu lagi, langsung sambar. Kayak geledek, blarr..sambar gleger!. Itulah keburukan saya, sisi petualang bisnis, sisi pebisnis rebellious ini. Main samber ajah, untung ngak jemuran orang saya samber juga, bet!.

Jadi, begitu sahabat saya mas roy mengajak bertemu dengan sahabatnya pak wagub, saya langsng meng iya kan. Pasti informasi kelas satu akan saya dapat. Hari kemarin, mas roy juga membawa 2 temannya yang berbisnis mirip-mirip dengan saya, sedikit investasi di duniaproperty,kalau saya mungkin masih kecil dibanding dengan 2 sahabat mas roy yang memang pemain bangunan tinggi, mulai dari apartemen, hotel, hingga super blok di Jakarta. Namanya sohor,perusahaan mereka selalu ada di dunia media dengan produk barunya.

Kembali kecerita jabatan tangan saya dengan pak wagub. Yang di lanjutkan dengan bertukar kartu nama. Mardigu wowiek kata pak wagub mengeja nama saya di kartu nama..lalu iya pun lanjut menjabat tangan kedua teman mas roy. Kemudian mengambil posisi duduk di barisan sofa disisi kanan yang memang disediakan khsusu untuk pak wagub dibalai kota di lantai 2. Kemudian mas roy duduk di kursi samping pak wagub, saya duduk di kursi samping mas roy namun pak wagub bisa melihat saya langung karena posisi saya hanya 90 derajat di kanannya sementara mas roy 180 derajat alais sejajar.

Jadi, wajah pak wagub dapat saya lihat dengan jelas sisi kanannya terutama kalau dia menghadap saya sehingga kita tau sisi akan adalah otak kreatif maka menghadapi sisi kanan seseorang secara garis besar dapat membaca ekspresi kreasi nya. Sisi keliaran seseroang, sisi “true colour” seseorang. Dan sejatinya, memang saya mengambil posisi duduk demikian, saya memerlukan data “true colour pak wagub.

Sehingga sewaktu dia duduk danmembaca nama saya sekali lagi di kartu nama, mas roy seperti biasa menjelaskan sedikit tentang saya, dan disambut dengan pertanyaan pak wagub, kalau ekspresi saya sekarang..saya pun menjawab spontan, pak wagub sedang ada tekanan waktu, dimana setelah ini ada pertemuan penting sehingga mengharap pertemuan ini singkat dan bisa siap-siap mengerjakan bahan buat pertemuan setelah ini.

Pak wagub pun tertawa, hahaha..iya benar anda, wah saya jadi ngak enak nih, bener juga, itu yang ada dipikiran saya katanya sopan. Dan saya pastinya langsung menjawab, kami hanya sebentar kok pak, tetapi mudah2an silaturahmi ini membuka rezeki masing-masing lancar..yang di amini nya.

kemudian terjadi dialog mengenai mikro ekspresi yang rupanya diminatinya. dan dengan sedikit nya waktu, maka terjadi sebuah kesalahan jika saya memenangkan ego saya berbual bual atau membanggakan cerita diri atau meladeni percakapan dipermukaan. Namun itulah ketrampilan pak wagub, itulah kemakrifatan seseorang yang banyak makan asam garam kehidupan. Yaitu bermain di ego orang lain. Jadi dengan sedikit dialog saya harus “break pattern” dengan membuat pak wagub yang bermain di “kesukaan”nya. Dengan saya potong cerita saya dengan bertanya, cerita saya ngak penting pak tapi saya perhatikan tangan pak wagub nambah besar, jadi macho haha..

pak wagub menjawab, wah di perhatiin aja, iya saya masih “latihan” setiap hari. Saya harus terus jaga badan dan stamina karena setiap saat saya haru bisa siap “berantem”..ini dalam arti sebenarnya lho, berantem benaran, fisik. Banyak yang ngak suka kami, kami keras sekali memegang peraturan, kami kaku sekali pada system. Kami lah garda terakhir yang harus menegakkan aturan main secara disiplin.

Jadi yang membenci kami banyak pak. Contohnya sederhana, di waktu banjir misalnya, pompa dari sepuluh yang jalan Cuma satu. Makanya kami buat peraturan bahwa kalau suppler menyuplai genset pompa harus punya bengkel dan berani menggaransi selama 10 tahun dari produk tersebut. Walau harga mahal, kami bayar, Jakarta sanggup. Tapi, faktanya pompa-pompa itu khan “jatah” politikus yang dulu di masukan . begitu kami buat peraturan seperti ini, anggota dewan teriak semua, terutama yang jatahnya hilang. Bagi kami ngak perduli, memang anggota dewan yang “bermain” kok, karena itu kami di benci.

Juga para pejabat yang meng gendutkan perut dan rekeningnya sendiri dengan menjual atau menyewakan rumah susun seperti preman. Mereka mengatasnamankan pejabat minta duit pelican, padahal masuk kantong sendiri, kami langsung mutasi. Ini membuat kami dibenci. Atau misalnya monas, ini gubernur2 dulu ngak tau kali caranya mengelola, tidak efisien, tugunya masuk pariwisata, tamannya masuk dinas pertamanan, parkiranya, pedagang kaki limanya, semua masuk dinas berbeda2..sama kami satukan dibawah manajemen satu kawasan monas titik. Ini jadi efisien, dan efeknya kedinasan jadi kecewa, yang kecewa itu karena “mereka main” dan mereka membenci kami karena hal-hal seperti ini. Jadi setiap saat saya harus siap berantem.banyak orang ngak tau diri. Seperti warga yang tinggal di waduk pluit. Sudah tanah nyolong, sama kami di akomodasi rumah susun gratis atau super murah, eh malah minta duit…ini sinting khan, kurang ajar. Makanya saya harus siap2 berantem karena kami dibenci oleh orang-orang egois yang ngak tau diri.

Benar pak, saya ini ngak takut mati. Saya “nothing to lose” . yang saya takutkan adalah, kalau saya nyaman, saya mulai takut mati dan memperkaya diri sendiri. Ini bisa gawat. Tapi karena kami ngak takut, dan kami tidak korup, kami bekerja kami berani. Kami rombak semuanya yang tidak produktif, kami siap di benci kami siap tidakpopuler.

Dari cerita singkatnya, saya tersenyum dalam hati. Inilah informasi yang saya butuhkan. Hal itu didapat dengan memancing hal yang tepat, yaitu sesuatu yang “disukainya”. Semua orang suka menceritakan sesuatu tentang dirinya sendiri , inilah ego nya yang harus saya elus-elus terus. Namun saya kagum, dia bisa mengendalikan diri dengan melakukan seperti apa yang saya lakukan diawal , dia break pattern ceritanya..jadi, apa nih yang bisa kita lakukan bersama? Cerita awal yang berapi-api semangat yang dipotong pertanyaan dengan gaya santun dan bernada rendah.

Monggo mas wowiek, kata mas roy

O iya pak wagub, saya ini pebisnis property kecil kecilan, baru 15 tahunan berbisnis property, namun sejak 4 tahun terakhir saya tidak ber bisnis property di Jakarta, karena maaf aturan main pemda Jakarta di bawah pemerintahan lama agak aneh dengan tata kota yang bisa berubah semaunya sehingga biaya membengkak karena urusan izin dan tata kota mahal dan selalu naik dan selalu harus nembak”..saya memilih keluar Jakarta dan mendevelop dibeberapa daerah dengan beberapa pemerintah daerah. Seperti di jawa tengah semarang dan cepu, semunep, ketapang banyuwangi dan beberapa daerah lainnya. Baru sekarang ini mau masuk lagi karena melihat bapak mulai melakukan sesuatu yang menurut saya lebih baik. Pak wagub menatap saya datar.

Kemudian, sahabat mas roy disebelah saya berkata, begini pak wagub, kami ini gabungan beberapa pengusaha besar ingin tau policy aturan dan strategi bapak kedepan. Saat ini kami wait and see, saat ini kami masih ragu-ragu, saat ini kami masih gemeteran mau masuk apa tidak di Jakarta ini.

Kali ini, pak wagub wajahnya berbeda merespond pertanyaan dan pernyataan tersebut. Begini pak, anda ini pengusaha, pengusaha itu jauh lebih pintar dari kami birokrat, lebih lincah dan jauh lebih tau dari kami apa yang mau dilakukan yang membuat bapak “untung”. Kalau cari untung dari proyek pemerintah tipis untungnya pak. Sebaiknya bapak cari untung di tempat lain saja, jangan proyek kami.

Nada suaranya meninggi. Agaknya dia tidak nyaman dengan pernyataan orang disebelah saya ini. Karena di lanjutkan lagi kalimatnya..kalau tadi anda bilang bahwa kelompok anda wait n see atau agak gemeteran melihat perkembangan Jakarta itu artinya dulu anda “main” dengan orang pemda ya, anda pasti bribing menyogok untuk merubah peraturannya, merubah peruntukan, merubah tata kota gitu ya. Anda kesal karena sekarang tidak bisa main lagi, begitu khan?! Karena itu anda bilang ragu-ragu!!!

Dan kalimat berikutnya lebih meninggi lagi namun dia netralkan dengan kalimat , pak, banyak orang yang benci dengan tindakan kami yang tegas menegakkan peraturan. Tapi kami tidak perduli bahkan kalau investor itu pergi keluar Jakarta juga tidak apa-apa dari pada membangun Jakarta tapi merusak tatanan yang ada. Tidak mementingkan masyrakat mau untung besar sendiri, silahkan keluar dari Jakarta. Kalau bapak bilang group anda konglomerat dengan dana besar, seberapa besar pak di bandingkan dengan kas kota Jakarta tidak ada apa-apanya anda.

Bayangkan, setiap transaksi setidaknya 10% masuk ke kas pemda, setiap untung setidaknya puluhan persen masuk ke pajak daerah, kalau rugi…sang pengusahaanya yang tanggung. Maka kas keras kami lebih banyak dari konglomerat manapun di muka bumi indonsia saat ini. Kami akan bangun 650 ribu hunian rumah sewa di tengah kota Jakarta dalam 5 tahun kedepan. Ini akan membuat orang tidak perlu menggunakan kendaraan lagi, akan menghemat kendaraan lalu lalang transportasi. Ini segera dilaksanakan!!! Dan ini pakai uang pemda sendiri. Kalau swasta tidak mau masuk karena untung kecil ya kami yang masuk. Kami tidak cari untung, kami adalah pelayan masyarakat.

Lalu untuk menanggulangi urbanisasi, saya akan babat habis rumah kumuh, saya akan matikan listriknya. Itu semua dilaksanakan setelah semua sarana rumah sewa tersedia. Kami sudah menyediakan banyak lahan untuk kami bangun. Lahan-lahan tersebut kami pelat merahkan semua. Tidak ada izin bangun keluar dan para spekulan tanah saya babat abis dengan cara saya potong NJOP nya tinggal separuh bagi para spekulan tanah biar kapok mereka.

Pokoknya kami mau membangun Jakarta dengan benar. Bagi pebisnis kotor keluar saja dari Jakarta!! Demikian pak wagub dengan galaknya dan meledak-ledak bercerita dan bagi saya ini adalah informasi yang luar biasa bermanfaat. Saya tahu bagaimana mengambil sikap, saya jadi tahu kemana arah pimpinan sekarang membangun Jakarta. Pak wagub tidak perlu menjelaskan secara eksplisit rinci, saya sudah menangkap dengan sangat jelas, clear & clean. Dalam hati saya berkata, tetap galak pak wagub, tetap bersahaja, tetap semangat. Jakarta perlu orang seperti anda # may peace be upon us.