Selasa, 27 Oktober 2015
“Walau cinta itu buta, dia tetap tahu yang mana sepeda yang mana mobil”
Sangat lama saya sudah tidak menulis “diary” di FB ini. Kebiasaan menulis sebenarnya hanyalah bagian dari refreshing. Bisa di bayangkan setiap hari kesibukan kerja, ngantor berbisnis mendominasi 10 jam kehidupan saya, sisanya adalah parenting dan family time. 24 jam seakan terlalu sedikit waktu ini. banyak hal indah yang kalau tidak di tulis lenyap masuk ke bawah sadar pikiran sendiri yang mungkin hanya bisa di nikmati diri sendiri.
Lalu saya pun putuskan untuk menulis sedikit pengalaman tersebut di FB. Inilah yang mengisi sebag+-ian hari untuk melepas penat di “release” dengan menulis diary. Saya dasarnya atau minatnya bukan menulis, namun untuk “break pattern” memutus rutinitas saya memilih menulis.
Pastinya, karena bukan penulis, gaya tulisan terkadang aneh. Titik koma dan narasi sangat personal. Jadi, mohon perkenan selalu jika membaca tulisan saya tidak terlalu indah. Bahkan 2 bulan ini saya belum menulis namun saya selalu mencatat di buku kecil di kantong saya catatnya. Dan saat ini begitu saya melihat catatan tersebut, ada kira-kira 60 topik yang saya bisa angkat jadi tulisan, dan entah kenapa saya mendadak jadi semangat lagi menulis.
Sempat beberapa minggu ini mencoba menulis namun seakan nggak ada yang keluar dari otak. Jadi tangan saya hanya diam saja di keyboard laptop tua yang sudah berusia 9 tahun ini. kalau sudah macet tersebut ya biasanya saya balik kanan, mengerjakan yang lain lagi.
Sekarang saya ingin menceritakan perbedaan pendapat antara istri saya dengan saya dalam melihat situasi bisnis. Awalnya ceritanya adalah ketika suatu hari saya dalam perjalanan rutin bisnis ke jawa timur tepatnya menuju kota Sampang dan kota Sumenep, kira-kira 4 bulan lalu. Karena panjangnya jalan darat dan panjangnya rapat dengan mitra di dua kota tersebut saya tidak bisa menginap di kota tersebut karena harus kembali kejakarta pagi. Maka malam hari jam 10 saya balik ke surabaya mengejar pesawat jam 7 pagi.
Jam 1 saya tiba di bandara djuanda. Dan, bandara masih tutup, buka jam 4.30. lalu saya di informasikan ada budget hotel di atas terminal djuanda dan sayapun tanpa berfikir menuju ke lobby hotel budget tersebut. Singkat kata saya mau tidur dan minta “wake up call” jam 5 karena pesawat jam 7 pagi kejakarta.
Ketika masuk kamar hotel tersebut saya agak terkejut karena ukurannya yang kecil dan sangat compact. Mungkin hanya 12M2 sdh ada toilet, wastafel, shower booth, tempat tidur, ac, semua tersusun rapih dengan warna cerah sehingga memberi kesan lega.
Susunan kamar mandi yang biasanya menghalangi tempat tidur di buka sehingga terkesan luas. Sudut pandang kalau masuk ke kamar hotel biasanya kita tergiring ke ruang sempit kamar mandi baru tempat tidur. Di hotel ini kamar mandinya di pisah dengan toilet sehingga ruangan menjadi luas pandangannya.
Pinter juga susunan nya. Dan ini sangat mengispirasi saya. Saya sampai kirim noted ke projek head di lapangan di mana saya sedang membangun hotel kecil di sumenep untuk me redesign kamar dengan model ini dan hal itu saya lakukan jam 1.30 pagi. Saya pun merebahkan badan ke tempat tidur karena agak keras saya lakukan hingga head board tempat tidur kejeduk tembok, dug.
Saya terkejut mendengar suaranya. Karena bukan suara kayu ketemu tembok, tetapi kayu ketemu gipsum. Sayapun bangun dan berdiri dan mulai mengetuk tembok yang ternyata sekelilinganya hanya pakai gipsum. Dibelakang kamar mandi dan toilet baru ketemu GRC. Saya pikir walah, murah banget bikinnya.
Saya tahu sekali urusan beginian, material pilihanya murah dan sangat cepat membangunnya. Sayapun mulai memperhatikan detail kontruksinya. Dan saya semakin kagum karena lampu yang di pakai LED selang mengitari sisi bawah wall divider. Ini irit sekali energynya. Walau tidak ada direct light alias lampu yang nongol terlihat ruangan sangat terang.
Kepala saya pun bergerak sangat cepat, saya ambil buku catatan lecek yang selalu saya bawa, saya catat semuanya dan saya foto pakai hape. Alih-alih ingin istrirahat mendadak kepala keisi dengan ide, saya tiru konsep ini untuk proyek yang akan saya kerjakan. Catatan banyak tersebut membuat saya seakan masuk kedalam nya yang semua mendadak sontak buyar terkejut karena telfon berdering keras di ujung operator mengingatkan, sudah jam 5 pak!.
Setibanya di rumah saya menceritakan tentang budget hotel tersebut. Dan tanpa babibu, istri saya pesen tiket kesurabaya keesokan harinya jam 7 lalu kembali pakai peswat yang jam 10. Pointnya, dia ingin melihat apa yang saya lihat. Saya tidak komentar dan tidak tanya mengapa dia lakukan hal itu, karena keesokan harinya dia mengajak saya diskusi.
Kemarin, bunda ke surabaya sama pak bandi sama bi susi. ( catatan: pak bandi adalah mandor kontraktor tukang kami yang biasa membangun, sementara bi susi adalah tante kami yang developer) , ternyata pak bandi baru pertama kali naik pesawat, waduh sepanjang terbang kayak di pesantren. Ngaji terus dia hahaha.
Terus poinnya apa ke djuanda balik lagi sama kontraktor? Tanya saya
Aku mau buat kos-kosan di rumah lebak bulus. Posisinya kan hanya 100 meter dari terminal dan 300 meter dari terminal MRT.
Saya pun hanya terdiam. Karena memang kami memiliki aset berlokasi di daerah lebah bulus yang kiri kanan banyak tempat kos an. Namun bagi saya lokasi tersebut cocok buat tempat tinggal karena daerahnya yang asri, lebar jalanan 10 meter , ke carrefour, ke point square, ke mana-mana jalan kaki deket sekali. Sayang di jadikan kos an karena lahan hanya 200 M2 10 x 20 kecil sekali.
Sementara istri saya setelah melihat hotel budget tersebut, rumah lebak bulus tersebut dia mau bangun kosan dengan menurunkan standar kamarnya, dengan 12 M2 bidang membangun 25 kamar 3 lantai. Dia optimis berani pasang harga 2 juta per kamar perbulan. Saya tidak komentar. Pastinya jika benar 100% terjual maka angka 50 juta gross sales tercapai. Potong ongkos listrik, dll..rasanya angka 40 juta masuk. Sekali lagi itu teori, itu diatas kertas.
Dalam hati saya..ini gara-gara terinspirasi budget hotel dia mau bangun kos an dengan gaya sama. Yang pastinya murah investasinya, yang pastinya cepat. Namun saya rencananya punya ide lain atas lahan tersebut. Saya mau rapihkan fasadenya dan jual dengan harga yang wajar karena pasti cepat lakunya. Poinnya bukan laku cepat, poinnya karena saya punya lokasi lain yang ingin saya beli di Jogja, di jalan prawirotaman.
Di jogja, ada hotel tua dimana pemiliknya ingin menjual. Ini hotel kecil lebih tepat wisma atau kos-kosan back packer. Lahanya 1200 meter, kalau bangunannya pasti saya rubuhkan, namun harganya yang sangat miring serta izinnya yang lengkap itu nilai tambah yang luar biasa.
Membangun hotel di jogja, biasa pra operasi izin-izin semahal jakarta. Ini sudah lengkap, hanya di itung tanah. Sayapun sangat ingin membelinya namun cashflow kurang, kecuali rumah lebak bulus di lepas dulu. Bahkan dimata saya, lebak bulus di lepas cepat dengan harga pasar saja yang penting lokasi prawirotaman ke ambil cepat itu peluang.
Dalam pemikiran saya, opportunity lost itu mahal nilainya. Dan jogja adalah peluang emas. Sementara istri saya berpendapat, MRT jakarta 2 tahun lagi operasi maka lebak bulus peluang emasnya. Saya pun berdebat karena saya sudah pegang MOU untuk back packer eropa perlu tempat di jogja sehingga okupansi punya kepastian. Dimana istri saya berpendapat walau tidak ada kontrak pasti, namun kebutuhan kos an dekat terminal adalah peluang emas.
Ini masalah klasik yang sebenarnya bisa di pecahkan kalau kami memliki kelebihan materi, namun faktanya harus mempunyai banyak jurus sana –sini untuk mengambil peluang seperti kasus di atas yaitu ada 2 peluang dengan hanya satu aset.
Kami akhirnya sepakat, kami melakukan “test the water”. Kami akan mencoba peruntungan awal dulu yaitu menjualnya. Adakah yang merespond? Maka bersama tulisan ini. bagi sahabat yang ingin memiliki aset di lebak bulus silahkan di pertimbangkan. Kami memutuskan menawarkan harga untuk rumah lebak bulus kami seluas 200M2 lahan dan bangunan tua seadanya dengan harga pasaran, Rp 2,9M.
Terlampir fotonya. Jika ada yang berminat hubungi inbox saya. # may the peace be upon us