Selasa, 27 Oktober 2015

“ Diputuskan sekarang yang sakit satu, diputuskan nanti yang sakit tiga”



Desember ini banyak sekali pekerjaan tambahan diluar pekerjaan rutin. Misalnya membuat rencana kerja dan anggaran perusahaan. Evaluasi bisnis di tahun berjalan dari mulai januari hingga desember tahun ini. lalu membahas capex capital expenditure dan pastinya mendiskusikan pajak.

Banyak hal yang berjalan di tahun ini sesuai rencana, banyak hal di tahun ini yang ternyata melebihi target dan ternyata banyak juga yang tidak mencapai target.

Yang membuat saya sering senewen adalah kalau team ternyata tidak mengerjakan apa yang sudah di rencanakan dan ini di karenakan factor man made disaster atau perbuatan manusia yang menimbulkan petaka/masalah. Kalau nature made disaster hal ini bisa di terima. Hal seperti bencana alam, namun man made disaster karena lalai, karena malas, karena tidak focus, karena menggampangin masalah, karena main-main hal ini tidak ada ampun.

Dan, saat ini saya lagi mengingatkan team apa yang telah saya perbuat di tahun 2013 ini. saya sebuah perbuatan yang saya tidak ingin lakukan namun saya harus lakukan. Perbuatan yang tidak nyaman tidak enak namun someone got to do it, harus ada yang melakukan. Yaitu memecat seseroang!

Perusahaan berjalan selalu atas dasar profit dan untuk mencapai profit ada 2 hal yang harus selalu di lakukan. Meningkatkan penjualan dan menurunkan biaya. Menjaga selisih keduanya itulah yang di serbut margin profit.
Dan, jika ada pertanyaan misalnya harus memilih di antara keduanya mana yang harus di pertahankan, meningkatkan profit atau menurunkan biaya? maka penjualan adalah hal yang harus di pegang teguh dan harus terus naik, walaupun biaya juga naik dan menyebabkan tidak ada profit. Namun sales menciptakan cashflow arus uang. Ini yang harus di jaga. Itu adalah poin yangharus di jaga oleh seorang pengusaha.

Apa yang terjadi jika anda mendirikan perusahaan baru. Perusahaan anda baru dimulai, sales belum ada ! apa pilihan yang harus dilakukan? Mengambil professional yang biayanya tinggi untuk sementara atau mengambil pegawai baru yang murah yang pastinya tidak punya pengalaman atau pilihan ketiga adalah anda mengerjakan semuanya sendiri sehingga menciptakan sales baru memilih merekrut pegawai baru dan yang pengalaman.

Di tahun 2013 ini kami membangun 6 perusahaan. Dimana 2 dipegang saya langsung dan 2 adalah anak usaha yang saya hanya sebagai komisaris alias tidak terlibat daily aktifitas.

Dalam strategi bisnis yang kami lakukan di akhir tahun 2012 lalu saya melakukan strategi pilihan saya. Di dua perusahaan yang saya pegang langsung saya bagi 2. Satu saya pegang sendiri sebagai CEO, yang satu saya sebagai presiden direktur namun saya memiliki Managing direktur di bawah saya sebagai pengelola hariannya.

Sederhananya satu saya pegang dengan bentuk presidensial dimana saya adalah presidennya, satu lagi model parlementer dimana saya jadi presiden namun pengelola prusahaan dipengang oleh perdana menteri dalam hal ini disebut managing direktur.

Jadi kegiatan harian di pegang managing direktur yang saya hijack atau bajak dari sebuah perusahaan besar anak usaha penerbangan garuda. Posisi terakhirnya adalah direktur di sebuah perusahaan yang memiliki revenue atau penjualan mendekati angka 1 triliun rupiah.

Saya tentunya sulit mendapatkan dirinya karena penawaran saya berbading lurus dengan fasilitas dan apa yang dibawanya pulang oleh perusahaan besar seperti anak usaha Garuda ini. jadi saya memberinya selain gajih besar saya pun memberinya kepemilikan saham atau owner ship di perusahaanyang di kelolanya tersebut. Bahkan di beri posisi strategis lainya yaitu komisaris di sebuah anak usaha karena dalam satu masa kami membangun dua perusahaan alias langsng membuat juga anak usaha. Bapak dan anak hanya selisih satu hari. Namun sang anak bukan perusahaan baru berdiri namun ini perusahaan jalan, yang telah berusia 5 tahun yang kami take offer.

Singkatnya, saya mengerjakan Negara A dia menjalani roda pemerintahan Negara B. secara administrafis perusahaan A jalan lebih awal karena saya pegang langsung. Perusahaan B baru jalan aktif di bulan maret 2013. Karena perlu 2 bulan pengunduran dirinya sebagai pimpinan di perusahaan lamanya.

Hari pertamanya bekerja, bapak PS ini memulai seperti kebanyakan pimpinan baru yaitu membuat rencana kerja internal. Saya tidak terlalu memikirkan banyak tentang perusahaan B hingga 1 minggu terlalui. Dia mengajak saya diskusi tentang rencana kerjanya. Dia akan membangun organisasi yaitu dengan meminta persetujuan saya, dia ingin merekrut 1 sekertaris pribadi, 1 orang akunting, 1 orang resepsionis. Bagi banyak orang mungkin terlihat wajar namun bagi saya ada sebuah hal yang membuat alarm radar saya menyala.

Kalau rencana bisnis kedepan bagaimana? Saya bertanya
Iya, setelah team ini terbentuk saya akan menyiapkan rencana bisnisnya. Saya perlu team untuk melakukan perencanaan dan pelaksanananya.

Dalam benak saya, sudah satu minggu hanya mengerjakan hal ini? minta 3 karyawan baru.
Saya mengulangi lagi, ok..rencananya mau mulai dari mana bisnis perusahaan B ini? saya mencoba melukakan indepth interview agar mengerti isi kepalanya. Seseroang yang gajihnya dalam 25 kali UMR ini saya tekan pertanyaan lebih rinci.

Siaap, saya sudah punya rencana akan bertemu dengan beberapa orang yang akan menjadi mitra bisnis kita.

Dalam hati saya bertanya lagi, mereka itu siapa? Itu mitra bisnis di perusahaan lama yang saya bawa mereka semua kesini.
Ok, saya pun berhenti bertanya dan saya angguk-angguk kepala saya dan membuat gerakan yang pasti dipahaminya, saya sibuk mau melanjutkan pekerjaan saya untuk membuat dia menyingkir dari ruangan kerja saya. Sekeluarnya dirinya saya agak sedikit berkerut kening. Jawaban normative dan global begini bukan sesuatu yang saya harapkan keluar dari mulutnya.

Dalam perusahaan baru, Saya punya kebiasaan adalah menciptakan uang dulu atau peluang sales lalu terciptalah peluang pekerjaan barulah saya merekrut seseornag yang cocok dengan kebutuhan pekerjaan tersebut. Job matching.

Dia melakukan terbalik, ini adalah perilaku dari perusahaan besar yang memang sudah punya revenue atau pejabat yang baru menjabat yang sudah punya anggaran. Kalau perusahaan masih hijau harusnya agak berbeda perilakuknya. Atau dia belum faham?

Siangnya saya mengajak makan siang dirinya. Saya ingin menggali lebih dalam lagi apa pola pikir dan tindakan kedepan. Saya membiarkan diri saya banyak diam dan membiarkan dirinya berbual bercerita. Betapa dia bermimpi sejak lama ingin memiliki perusahaan seperti sekarang. Ingin memiliki fasilitas kesehatan, mobil, vacancy, gajih besar dan saham yang berkelanjutan. Dan kesimpulan singkat saya sejauh itu adalah, kok ngak ada jualannya ya. Semua yang di sebutnya semua ada hubungannya dengan biaya.

Namun walau alarm nyala yang namanya kesempatan harus saya berikan. Mungkin memang ada cara yang lain diluar pemahaman saya.

Suatu hari saya di minta menemani presentasi di sebuah perusahaan. Sebenarnya ini adalah presentasi bisnis dari anak usaha dari perusahaan yang kami baru beli yang sudah berusia 5 tahun tersebut. Saya dan pak PS adalah komisarisnya dan agar blizkreig ala hitler serangannya total di bawa semua. Mulai dari komisaris, direksi plus manajer. Ini meeting besar.

Dalam pertemuan tersebut saya banyak diam, karena kami berhadapan dengan perusahaan tbk atau perusahaan public yang sangat di hormati. Dan sebuah kehormatan merekalah yang mengajukan kerjasama dari awal yang akan mengatrol bisnis kami kedepan lebih mudah jika berhasil berbisnis dengan mereka.

Di awal kedua belah pihak sangat antusias dan saling adu peluang adu cantik. Semakin cantik maka semakin besar porsi keuntungan tentunya. Hingga sampai di suatu titik dimana pak PS melakukan hal yang menurut saya taboo di lakukan, yaitu teaching!..teaching adalah gaya bicara atasan pada bawahan, teaching adalah gaya guru kepada murid. Dengan panjang lebar dia menerangkan dan menggurui.

Saya lemes langsung seketika dia melakukan hal itu. Saya langsung menarik posisi dudk kebelakang menjauh dari meja meeting dan ini menunjukan saya tidak nyaman yang ternyata dilakukan persis orang di depan saya di seberang saya yang merupakan dirut dan direktur operasi perusahan terbuka tersebut.

Bahkan mata kami saling bertatapan yang keduanya dapat di artikan, ini orang sedang ngomong apa? Emang gw ngak tau apa? Emang gw anak barusan berbisnis. Itu mungkin arti tatapan mata mereka kepada saya.

Setelah kekikukan suasana tersebut sang dirut diseberang sana mengarahkan pertemuan kali itu, baik lah pak, sebuah pertemuan yang luar biasa. Kami akan segera bahas internal dan kami segera akan putuskan. Kami sudah mengerti posisi kedepan dan terima kasih atas kehadiranya.dan kamipun pamit setelah sedikit basa basi sana sini.

Sesampainya di kantor, pak PS datang kedepan saya dan berkata, boz hasil pertemuan tadi luar biasa. Pasti kita akan masuk dan mereka pasti terkesan dengan presentasi kita. Lalu diapun bercerita versi dia tentang paparan yang saya nilai malah blunder namun dia menganggap moment of greatness. Dan diujungnya dia mengatakan, kalau masuk bisnis tersebut porsi komisi saya berapa boz? Apa bisa di dapat di depan? Khan itu anak usaha bukan pekerjaan saya langsung namun pengaruh saya besar loh..

Hah!! Saya terkejut dengan kalimat terakhir tersebut. Saya seperti tersengat lebah. saya tidak bisa menemukan kata-kata yang bisa menterjemahkan apa yang ada di pikiran saya pada saat itu. Kata-kata dalam dunia ini ternyata kurang, ngak nemu dan ngak ada. Kok bisa-bisanya dia berbicara seperti ini.

Yang tanpa setau saya sebuah sms telah masuk lama dalam hape saya dari salah seorang staff perusahaan tbk tersebut yang menyatakan terima kasih atas peluang bisnis dalam pertemuan hari ini dan manajemen memutuskan tidak berminat pada saat ini untuk bekerja sama dengan kami.

Sayapun menatap dirinya, dan berkata..kang mas ( karena dia lebih tua dari saya) saya harus melakukan sesuatu yang pastinya bagi saya tidak mengenakan dan bagi kang mas pastinya lebih tidak enak lagi. namun saat ini adalah dua orang yang sudah dewasa. Saat ini adalah dua orang pengambil keputusan. Kang mas PS 1, 5 bulan bersama kami dan sebuah kehormatan bisa menjalin kerjasama selama ini. dan mulai besok kang mas tidak perlu masuk kerja lagi karena kang mas saya pecat. Secara administrasi, saya terima pengunduruan diri kang mas saat ini. terima kasih atas pengertiannya.

Mukanya merah dan saya tahu dia kecewa dan marah. Gerakannya spontan meninggalkan saya tanpa basa basi. Sayapun berdiri diam tanpa berkata lagi. saya putuskan sekarang yang sakit satu, saya putuskan nanti yang sakit bisa banyak # may peace be upon us