Selasa, 27 Oktober 2015

“Takutlah pada sebuah Penyesalan”



Hari rabu dalam pertemuan mingguan di kantor pusat holding saya mengajukan pertanyaan kepada salah seorang direksi tentang itenary isi acara ulangtahun perusahaan induk tersebut. secara sekilas di jelaskan kepada saya yang salah satunya menimbulkan pertanyaan oleh saya..karena hari sabtu puncak itu padat ada baiknya sewaktu pak SK datang kita menggunakan for rider agar bisa memecah kemacetan puncak.

O gitu ya pak, jawab sang direksi, segera saya sampaikan ke panitia. Anak-anak yang punya acara, jadi mereka yang atur semua itu. Kita ingin anak-anak saja yang sibuk, kita jadi tamu . saya mengangguk, saya setuju.

Hanya saya merasa perlu memperhatikan tentang kehadiran pak SK. Beliau adalah founder yang selama 33 tahun membangun organisasi ini dari kecil hingga saat ini. perusahaan ini mungkin bukan perusahaan terbesar, tertua, atau paling menguntungkan, namun pastinya bertahan selama 33 tahun di dunia high profile karena di pelototi pusat pemerintahan, parlemen, hingga departemen kementetrian hingga masyarat karena menyangkut hajat hidup orang banya, tight regulated aturan ketat oleh pemerintah, highly capital atau invetasi besar dan high risk sangat beresiko. Dunia oil and gas adalah pasar yang tajam, ketat, sulit hi technology dan resiko tinggi.

Membangun perusahaan 33 tahun, tidak gampang. Jadi bagi saya seorang pak SK bukan hanya pimpinan tapi sudah seperti ayah sendiri. Omelannya adalah vitamin, hardikannya adalah belaian sayang, pujiannya adalah cambuk yang pedas dikulit.

Saya berkali kali bertanya, apakah harus di undur acara ke minggu berikutya. Saya bertanya kepada pak KS . dijawab, tidak harus tanggal 16-17 november. Karena itu adalah hari H perusahaan kami berdiri. Dan saya berkali kali mengatakan, perjalanan dirinya dari Houston texas, via Moscow lalu Singapore adalah 27 jam perjalanan pesawat yang melelahkan di tambah bandara cengkareng ke puncak jam dari jam 12 siang bisa sampai 7 jam ke puncak ke tempat acara kami di hotel kami di Arra lembah pinus Ciloto.

Makanya saya mengatakan pada pak direktur agar di ciawi sebaiknya pak SK disediakan fore rider resmi. hanya untuk menghindari kecapean dirinya. Dia berusia 65 tahun, saya sangat concern.

Hari jumat pagi, seperti biasa..orang melankoli seperti saya mengingatkan kembali ke pak direksi, apakah fore rider sudah tersedia. Dan di jawab via telpon diseberang sana, kata anak-anak nggak perlu., nggak terlalu macet kok.

Plak, pipi saya berasa di tampar dengan kalimat tersebut. mana ada puncak hari sabtu ngak macet. Temperature darah saya naik, seperti kebiasaan saya yang short temper ini. tapi karena secara prosedur “anak-anak” itu bukan direct bawahan saya walau saya komisaris hal ini yangmembuat saya senewen. Saya ngak bisa “ngampar”mereka.

Pak… nada suara saya naik dan dia tahu saya nggak suka dengan jawabnya. Saya sarankan siapkan fore rider, pakai ngak dipakai. Itu bagian dari preventif. Siapa tau di butuhkan. Hanya untuk menunjukan satu hal, bahwa kita peduli, bahwa kita memiliki service excellence baik ke internal maupun ke external. Please pak, mohon di siapkan. Bilangin panitia.

2 jam setelah komunikasi via telfon maka ada BBMessage dari sang direktur masuk ke hape saya yang bunyinya, pak, anak-anak setelah menghubungi pak SK beliau tidak mau pakai fore rider nggak mau menyombongkan diri. Biar saja macet. Dia bukan pejabat.

Kalimat tersebut tidak salah, karena memang ini karakter asli pak SK. Seorang yang sederhana, guyub dan selalu banyak mendengar sebelum berbicara. Saya membaca tulisan di hape menyatakan dia tidak mau di kawal supaya tak berkesan sombong adalah memang warna asli beliau, itu adalah dirinya. Namun saya tetap tidak suka. Saya balas pesan tersebut, ok pak..kalau begitu siapkan saja tanpa perlu bilang beliau, saya yang tanggung jawab. biaya kalau perlu atas nama saya. mohon di bantu pak.

Pesan saya tidak dibalas tapi saya tahu pasti di baca.

Malamnya hari jumat dimana besok sabtu hari H kembali saya menanyakan lagi kepada panitia langsung yang dengan seketika di jawab belum di siapkan fore ridernya. Saya kesal dengan jawaban ini dan salah satu orang yang saya bisa hubungi mengeluarkan unek-unek saya adalah mas Antara  Putra pak SK yang besok harus keluar Miami florida ada tugas untuk ikut conferensi IAAPA.

Saya berkata, mas..saya ini mungkin bukan anak biologis pak SK. Namun saya adalah seseorang yang sangat dekat dengan dirinya dan mas antara tau hal itu. Dia adalah bapak angkat saya. mungkin dia tidak mengakui saya sebagai anak angkatnya namun saya mengangkat dirinya sebagai bapak angkat saya.

Sewaktu saya mengatakan bahwa puncak macet sebelum dia berangkat ke Houston dia mengatakan, siapin saya ojek atau motor boncengin saya kalau macet. Saya waktu muda dulu motor adalah bagian dari hidup saya.

Saya bilang, gila apa saya mengizinkan pak SK naik motor di tengah dinginnya puncak atau mungkin hujan. Saya bilang nggak mungkin, tidak boleh. Dan saya tau dia pak SK itu militan sekali untuk masalah kesederhaann seperti ini.

Saya terus nyerocos via telp ke mas antara yang sudah di bandara jam 10 malam dimana pesawatnya jam 11 akan take off. Saya minta mas antara mengerti kenapa saya segini cerewet, saya terus terang mengatakan, setelah ayah saya almarhum saya sangat kehilangan, dan banyak hal yang saya katakan semoga waktu bisa di putar karena banyak hal yang saya belum laksanakan perintahnya dan perbuatan saya belum banyak untuk dirinya.

Saya menyadari semua itu setelah kehilangan. Setelah dia tiada. Dan disinilah saya mengatakan, jangan sampai saya menyesali banyak hal yang seharusnya saya lakukan untuk seseorang namun saya tidak lakukan. Saya sangat takut pada penyesalan. Dia ayah bagi saya, saya hanya ingin memberinya sesuatu. Saya ingin dia di siapkan fore rider di ciawi. Pakai nggak dipakai, saya ingin barang itu tersedia, dan biarlah dia yang memutuskan, dipakai atau tidak nantinya di ciawi. Itu bukan urusan saya. saya hanya ingin menyediakan yang terbaik.
Mas antara sangat mengenal sekali karakter saya ini. dan dia dengan nada santun mengatakan, ok mas. Saya bilangin panitia. Saya paksa mereka menyediakan. Tenang aja mas. Jangan marah-marah. Biar saya yag handle. Yang kemudian telfon pun saya tutup karena sudah aman di pegang mas antara.

Sabtu di lokasi paginya saya bertemu ketua panitia yang sekali lagi saya Tanya, fore rider buat pak SK tersedia? Yang di jawab, kami berusaha tapi nggak dapet pak.kayaknya nggak ada.

Ok, saya tidak bisa apa-apa kecuali menelan emosi saya dengan kesabaran. Kesibukan berkumpul dengan 160 pegawai dari 10 kota menyibukan saya hingga jam 5 sore seorang panitia menghampiri saya. .” pak jalanan macet parah pak SK minta fore rider!!”. Wajahnya bingung dan panik.

Dan saya hanya bisa mengatur nafas menahan sabar tanpa komentar. Adalah hal paling nggak enak kalau berkali-kali saya harus mengatakan hal seperti ini..tuh khan, saya bilang apa?..apa susahnya sih nurut sama orang yang sering buat kesalahan kayak saya gini. # may peace be upon us