“Kita
perlu pinjaman bank, namun bank tidak akan mudah mengeluarkan pinjaman kepada
perusahaan seperti kita ini,” ini
perkataan saya di tahun 2008 dalam rapat Senin pagi di perusahaan kecil milik
kami bernama Titis Sampurna. Walau secara teknis kami memiliki end to end
kontrak yaitu di ujung hulu ada Pertamina dan di hilir ada Indonesia Power,
namun bank tidak serta merta akan mau menggelontorkan uangnya untuk dipinjamkan
kepada kami untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut jika kami tidak memiliki
kolateral tambahan. Ini adalah tantangan tersulit dari pengusaha di Indonesia
dengan modal pas-pasan seperti kami tentunya. Setiap saat kami memutar otak
untuk mencari solusi pendanaan. Ada beberapa alternatif di awalnya, pertama yaitu mencari
mitra yang memiliki dana atau investor.
Kami lakukan, ada lebih sepuluh orang investor yang saya langsung perkenalkan dengan proyek, ada lebih dari tiga puluh investor juga dikenalkan kepada kami oleh network kami lainnya. Namun kebanyakan meminta mayoritas saham. Jelas kami tidak mengharapkan hal ini terjadi.
Kami lakukan, ada lebih sepuluh orang investor yang saya langsung perkenalkan dengan proyek, ada lebih dari tiga puluh investor juga dikenalkan kepada kami oleh network kami lainnya. Namun kebanyakan meminta mayoritas saham. Jelas kami tidak mengharapkan hal ini terjadi.
Lalu
kami mencoba mencari bank yang berminat menjadi funder pendanaan atau peminjam
dana untuk proyek yang di ujung hulu BUMN Pertamina dan di ujung hilirnya PT
Indonesia Power. Ternyata dalam pencarian selama dua tahun hingga tahun 2010 dari
puluhan bank yang kami paparkan proposal hanya beberapa yang merespon, tepatnya hanya dua, yaitu Bank Mandiri dan BNI yang menyatakan
patut dipertimbangkan di mana bank lain tidak minat, tidak berselera. Patut
dipertimbangkan!! Pastinya masih jauh untuk menyatakan mereka akan membiayai,
kalimat itu pun belum menunjukan mereka minat.
Hingga
awal 2011 setelah lima
tahun sejak proyek ini digulirkan
masih saja pinjaman atau urusan pemodalan belum terpecahkan. Kalau ditanya
frustasi, lelah atau fatique itu pasti. Selama lima tahun perusahaan kami harus
menanggung beban development cost dan preliminary cost yang tidak sedikit.
Inilah yang membuat tegang setiap saat. Terkadang gaji karyawan dan meng-cover over head bulanan beberapa
kali kami harus melakukan pinjaman jangka pendek ke bank atau lembaga keuangan
lainnya. Yang penting karyawan gajian. Bahkan kala itu untuk menghemat saya
tidak menerima gaji untuk beberapa lama. Inilah tantangan menarik dari sisi
entrepreneur yang mungkin bagi banyak rekan bisa membuat jera. Karena biaya
hidup harian tidak akan bisa di-stop, biaya sekolah anak, biaya kesehatan,
biaya listrik, telepon, transport, tidak ada yang bisa
menahannya untuk tidak dikeluarkan.
Di
awal tahun 2011 ini, kami rapat dengan serius. Mencoba menata ulang dan melihat
apa sebenarnya yang terjadi
dan bagaimana solusinya. Kami menganggap bisnis ini bagus. Indonesia Power akan
menghemat banyak, Pertamina yang di awalnya membuang percuma produknya kami
ambil dan olah dengan kata lain kami memberikan nilai tambah dari produk
Pertamina yang tidak terserap. Yang jadi kendala adalah tidak ada perusahaan
yang melakukan hal ini sebelumnya sehingga bank tidak melihat atau tidak ada
referensi. Tidak adanya sample tersebut membuat bisnis ini gelap dan beresiko
di mata bank atau pembiaya. Inilah masalahnya kalau kita bermain di bisnis blue
ocean atau bisnis laut biru.
Para
sahabat pasti tahu apa itu bisnis blue ocean pastinya. Yaitu berbisnis yang
tidak memiliki kompetitor
atau bisnis baru, pioneering. Misalnya sewaktu Aqua pertama kali menjual air
minum dalam kemasan semua orang menertertawakan hal itu. Namun ternyata respon
pasar luar biasa. Sehingga Aqua
menikmatinya sendirian selama tahunan. Kala itu Aqua berbisnis di blue ocean, laut biru. Lalu kompetitor masuk satu persatu, ada Ades, dan puluhan pemain baru masuk
dan bisnis air minum menjadi saturated— penuh
—
dan bisa dikatakan saat ini bisnis air minum dalam kemasan menjadi red ocean.
Ada
lagi yang memandang bisnis dilihat dari sisi entry barrier atau kesulitan
tingkat masuknya. Misalnya menjual martabak. Bisnis ini mudah dimasuki atau
biasa disebut easy entry barrier. Maka dalam kategori ini, lokasi dan timing/ waktu
masuk pasarnya adalah segalanya. Karena masuknya mudah maka kompetitor juga
mudah masuk.
Saya
lompat sebentar ke bisnis yang pernah saya lakukan feasibility
study dengan sangat teliti yaitu saya menganalisa bahwa banyak keluarga
muda yang memiliki anak usia 1-5 tahun liburan di Bali memerlukan stroller
bayi. Dari hasil feasibility study yang waktu itu saya tunjuk sebuah perusahaan
appraisal bonafit terdapat data bahwa dari 100 pasangan yang datang ke Bali, 10
persen-nya kelaurga muda yang memiliki anak usai 1-5 tahun. Dan kita semua tahu
bahwa turis asing yang datang ke Bali mencapai empat juta orang per tahun artinya ada
lebih 400.000 anak balita yang memerlukan stroller. Benar secara teknis membawa
stroller dari negara
asal bisa-bisa
saja,
namun merepotkan. Kalau kita menyediakan jasa stroller maka akan membuat mereka
menjadi nyaman.
Dari
mana stroller saya dapatkan? Ternyata stroller bekas di pasar rumput dan lain
sebagainya sangat banyak dan murah. Kondisi 80-90 persen bagi saya itu sudah
cukup! Dari sisi strategi pasar, dari sisi SDM saya sudah siap. Izin, lokasi,
kerjasama dengan hotel-hotel, semua sudah dijajaki, tinggal urusan pendanaan
yang belum difinalisasi.
Kebiasaan
saya kalau ada bisnis baru adalah berada di tengah-tengah pusat kegiatan
tersebut. Jadi
saya berada di Bali
lebih dari tujuh
hari hanya untuk merasakan beat-nya.
Merasakan klik-nya,
merasakan kreteg
di hatinya. Secara data di logika, di akal sehat saya, ini feasible. Waktu itu adalah Maret 2012, di tahun ini juga.
Inspirasinya sebenarnya didapat sewaktu kami bulan Februari 2012 di mana kami
sekeluarga ke Universal
Studio
Singapore. Putri bungsu kami dan usianya tiga tahun. Dan kami lupa kebiasaan dia
tidur siang. Dan kami
tidak membawa stroller karena toh kakaknya
yang SMA dua
orang ditambah bundanya dan ayahnya maka ada empat orang dewasa.
Namun menggendong balita untuk beberapa lama di acara keluarga seperti ini ternyata melelahkan, dan di Universal Studio untung ada sewaan stroller. Dari hal ini saya langsung terinspirasi berbisnis stroller di Bali.
Namun menggendong balita untuk beberapa lama di acara keluarga seperti ini ternyata melelahkan, dan di Universal Studio untung ada sewaan stroller. Dari hal ini saya langsung terinspirasi berbisnis stroller di Bali.
Melanjutkan
kembali ke Bali,
di mana saya berada di sana hanya untuk merasakan feel-nya. Saya membiarkan intuisi saya
bermain. Saya membiarkan semesta mengalirkan rasa tersebut. Begitu dapat kreteg di hati, bisnis tersebut langsung jalan. Kalau
tidak, hanya jadi wacana pengayaan diri sendiri.
Hingga
suatu malam selagi menghitung bintang di Pantai Pecatu, sambil memperhatikan
arak-arakan upacara melasti
ratusan pilgrim Hindu
membawa senter
lampu minyak turun tebing untuk melarung kelaut. Dan bagi saya itu adalah
pemandangan yang eksotik, indah sekali dilihatnya. Saya mendapatkan sebersit
pikiran singkat,
bisnis
stroller tidak usah dijalankan sekarang. Ya sudah. Saya angkat koper besoknya.
Bisnis
stroller adalah bisnis yang masuk kategori easy entry barrier jadi kalau masuk
ke sana jangan tanggung-tangung. Langsung masuk dengan seribu stroller. Langsung masuk di
seluruh Bali. Langsung masuk ke seluruh hotel. Langsung membuka sepuluh outlet.
Kalau hanya satu, memulai dengan sepuluh stoller, ini akan memakan waktu lama
dan saya bukan termasuk pebisnis yang sabar berlama-lama memulai sebuah bisnis
kalau tidak memiliki keunikan seperti ini. Bisnis ini tidak ada uniknya. Memang
pasarnya besar, tapi orang lain sajalah yang melakukan.
Kembali
ke topik
tingkat kesulitan dalam berbisnis.
Berbisnis
dengan Pertamina dan PLN ini masuk kategori difficult to entry dan difficult to
master, sulit untuk masuk dan sulit untuk menjadi master, karena sangat unik
dan bermain di niche yang tajam ceruk pasarnya. Apalagi ini pioneer alias blue
ocean. Maka sulit bagi lembaga keuangan untuk bisa mengerti. Walaupun di atas
kertas dan paparan presentasi sangat menguntungkan, bahkan sudah ada kontrak di
dua sisi, tetap bank belum berani. Ini sebuah tantangan yang melelahkan.
Kembali
ke rapat di awal tahun 2011 untuk mencari solusi pembiayaan.
Lalu,
timbullah ide gila. Bagaimana
kalau kita mengundang semua pihak. Pertamina, PLN, Mentri ESDM, dan para funder di satu
tempat. Yaitu di lokasi pekerjaan di Tambak
Lorok-Semarang melakukan ground breaking.
Seakan-akan proyek ini sudah siap. Namun sebenarnya tujuannya hanya satu yaitu
membuat bank atau investor menemukan “aha moment” yaitu klik di kepala bank
sehingga bisa melihat keindahan dari proyek ini. Ini adalah pertaruhan karena
mendatangkan direksi Pertamina, direksi Bank Mandiri, mendatangkan Menteri
ESDM, waktu itu di tahun 2011 dijabat oleh Bapak Darwin Z Saleh serta
terpenting adalah direksi PLN yang waktu itu dipimpin oleh Pak Dahlan Iskan,
bukan perkara mudah.
Dengan
prinsip “if you never throw the dice you will never have a six” kami gulung
tangan tinggi-tinggi.
Jika Anda tidak melempar dadu maka tidak akan dapat enam (terbaik). Kami lempar
dadu. Semua tim
bekerja agar rencana itu terjadi. Dan di tanggal 28 Juni 2011 hal itu terjadi.
Ternyata semuanya bisa hadir, sebuah kerja tak kenal lelah selama enam bulan benar terjadi.
Sampai pidato puncaknya yang dilakukan oleh Pak Dahlan
Iskan yang kami sudah beri masukan data menceritakan pentingnya proyek ini
untuk jalan. Pentingnya Tambak Lorok yang menggunakan BBM gasoline terbesar di Asia Tenggara
bisa berhemat dengan proyek ini dan penting segera
dilaksanakan, membuat mata banker berbinar-binar. Dan benar
seperti dugaan kami di awal. Bank Mandiri dalam waktu kurang dari satu minggu setelah acara ground breaking story
tersebut langsung memberikan letter of intent membiayai project ini. Sekarang
semuanya on progress, semoga semua tepat waktu dan berjalan sesuai rencana,
mohon doa dan dukungan para sahabat selalu.