Selasa, 27 Oktober 2015

SECUIL SURGA DI NUSA PENIDA



Dua lembar sertifikat diletakkan dengan perlahan oleh mitra bisnis dan mentor saya di kantor di Jalan Sanjaya sambil berkata, Nih, Mas, kita baru beli lahan di Nusa Penida, jadi deviden tahun ini berkurang ya…
Saya tidak heran dengan pernyataan deviden berkurang atau tidak berbagi dividen tahun ini. Bukan hal baru. Sejak enam belas tahun terakhir rasanya baru bagi deviden lima kali dan itu sangat bisa dimengerti karena dinamika bisnis. Namun membeli aset di Nusa Penida — pulau terselatan dari Bali, di sebelah Nusa Ceningan-Lembongan — adalah hal aneh bagi saya.
“Berapa gede lahan tersebut, Beh?” saya dari dulu memanggilnya dengan nama akrab “Babeh”, apalagi sejak ayah saya meninggal maka dia sudah menjadi pengganti ayah saya.
“Tiga hektar kira-kira. Nah, saya mau laporan bahwa mungkin mau ditambah 3 ha lagi segera.”
Hahaha..asli saya ketawa. Punya 6 ha di pulau jauh dari keramaian dan kehidupan manusia nggak salah nih?”
Beliau menatap saya dengan wajah berkerut dan berkata dengan serius, Eh, Wiek, total semua 22 ha, minimum kita harus punya 11 ha supaya panjang pantai putih dari bukit ke bukit, kiri-kanan teluk tersebut sepanjang 500 meter, menjadi milik kita. Pokoknya ada rezeki sisihin untuk membeli lahan sisanya. Kita masih ada waktu sampai tahun 2014 kok buat menyicil terus.
Hah?!” saya terkejut. Asli saya nggak bisa mikir.
Lalu dilanjutkan cerita olehnya, “Bagi orang asing, lokasi kita di Nusa Penida ini dikenal dengan nama ‘Crystal Bay. Airnya bening dan pantulan sinar kempling-kempling kinclong bagaikan kristal. Ini lokasi terbaik untuk pecinta laut. Dan ada lagi yang unik. Banyak diver penyelam kelas dunia yang ke sana ingin melihat ikan mula-mula. Ikan mula-mula ini ikan yang berada di laut dalam. Besarnya seperti setengah ikan paus. Dia dalam satu hari sekali naik kepermukaan. Pada saat naik ke permukaan tersebut ikan-ikan kecil mematuk-matuk punggung ikan tersebut memakan jasad renik yang mengganggu ikan mula-mula, namun merupakan makanan sehat bagi ikan hias. Pemandangan naiknya ikan mula-mula hingga turun kembali ke laut dalam adalah pemandangan dan pengalaman yang sangat luar biasa bagi penyelam. Beberapa yang pernah menyaksikan hal tersebut sulit menceritakannya karena takjub akan keindahan fenomena gerak ikan-ikan hias kecil-kecil tersebut. Beningnya air kristal tadi membuat semua terekam jelas.
Begitu diceritakan panjang lebar tersebut saya tak perlu penjelasan lagi. Intinya saya percaya dan tanpa melihat saya sudah suka, titik. Simple kok saya orangnya. Jadi kami membeli lahan di sebuah pulau tiga puluh menit dari Sanur tanpa pernah melihat lokasinya, lumayan aneh khan?!
Juli 2012 kami menyempatkan melihat lokasi untuk pertama kalinya, namun sayang saya tidak sempat karena banyak kesibukan. Kami berbagi tugas. Begitu pulang dari Nusa Penida yang namanya teman-teman bercerita seakan mereka sudah setahun tinggal di sana. Nggak ada berhentinya dan semuanya mengagumi lokasi tersebut. Hal ini sekedar membuat laporan manis asal membuat saya senang atau memang dari hati, fakta yang harus berbicara yaitu ketika saya dengan mata kepala datang kesana.
Senin minggu lalu, 3 Desember 2012, akhirnya saya mendapat kesempatan ke sana. Bedanya kali ini kapal yang saya pakai lebih besar karena sahabat saya Lukman memiliki kapal yang kami bisa pakai. Sambil duduk di kapal besar saya menatap lurus ke arah pulau tersebut. Persis seperti mau mengunjungi atau mengapeli pertama kali gadis impian. Perasaan saya gelisah nggak karuan. Ada harapan bahwa lokasinya bagus, ada kesiapan bahwa akan menjumpai fakta sebaliknya, kecewa karena tidak seindah seperti diceritakan.
Selang tiga puluh menit kapal mengurangi kecepatan hingga berjalan sangat lambat tepat di depan teluk. Kami ber-delapan semua berdiri di pinggir kapal. Saya memandang lepas pemandangan sekitar. Saya terkagum-kagum dengan birunya air yang bening. Jajaran kelapa seakan among tamu menyapa kedatangan kami. Suasana romantik pantai seakan film Blue Lagoon. Dalam hati saya berkata, “Brook Shield-nya mana ya?!”. Persis seperti film yang dibintangi Leonardo de Caprio yang mengambil lokasi di Thailand, hanya ini jauh lebih bersih dan tenang. Wah, saya sangat terpukau. Rasanya rahang saya menyentuh permukaan air karena ternganga kagum.
Hingga kapal kecil kami turunkan karena boat besar tidak bisa menempel ke pasir pantai, bisa nyangkut karena belum ada dermaga atau jetty. Saya segera pindah perahu dan turun ke pantai. Warna pasir putih dan bentuk pasir bulat mengkilap membuat terasa nikmat memijat di telapak. Saya hanya bisa berkata subhannalloh alhamdulilah indahnya keangungan-MU, Tuhan.