Dua lembar sertifikat diletakkan dengan
perlahan oleh mitra bisnis dan mentor saya di kantor di Jalan Sanjaya sambil berkata, “Nih, Mas, kita baru beli lahan di Nusa Penida, jadi deviden tahun ini
berkurang ya…”
Saya
tidak heran dengan pernyataan deviden berkurang atau tidak berbagi dividen
tahun ini. Bukan hal baru. Sejak enam belas tahun terakhir rasanya baru bagi
deviden lima kali dan itu sangat bisa dimengerti karena dinamika bisnis. Namun membeli aset di Nusa Penida —
pulau terselatan dari Bali, di sebelah Nusa Ceningan-Lembongan — adalah hal
aneh bagi saya.
“Berapa
gede lahan tersebut, Beh?” saya dari dulu memanggilnya dengan nama akrab
“Babeh”, apalagi sejak ayah saya meninggal maka dia sudah menjadi pengganti
ayah saya.
“Tiga hektar
kira-kira. Nah, saya mau laporan bahwa mungkin mau
ditambah 3 ha lagi segera.”
“Hahaha..” asli saya ketawa. “Punya 6 ha di pulau jauh dari
keramaian dan kehidupan manusia nggak
salah nih?”
Beliau
menatap saya dengan wajah berkerut dan berkata dengan serius, “Eh, Wiek, total semua 22 ha, minimum kita
harus punya 11 ha supaya panjang pantai putih dari bukit ke bukit, kiri-kanan teluk tersebut sepanjang 500
meter,
menjadi milik kita. Pokoknya
ada rezeki sisihin untuk membeli lahan sisanya. Kita masih ada waktu sampai tahun
2014 kok buat menyicil terus.”
“Hah?!” saya terkejut. Asli saya nggak bisa mikir.
Lalu
dilanjutkan cerita olehnya, “Bagi
orang asing, lokasi kita di Nusa
Penida
ini dikenal dengan nama ‘Crystal Bay’. Airnya bening dan pantulan sinar
kempling-kempling kinclong bagaikan kristal.
Ini lokasi terbaik untuk pecinta laut. Dan ada lagi yang unik. Banyak diver — penyelam — kelas dunia yang ke sana ingin melihat ikan mula-mula. Ikan mula-mula ini ikan yang berada
di laut dalam. Besarnya seperti setengah ikan paus.
Dia dalam satu hari sekali naik kepermukaan. Pada saat naik ke permukaan tersebut ikan-ikan kecil
mematuk-matuk punggung ikan tersebut memakan jasad renik yang mengganggu ikan
mula-mula, namun merupakan makanan sehat bagi ikan hias. Pemandangan naiknya ikan mula-mula hingga
turun kembali ke laut dalam adalah pemandangan dan pengalaman yang sangat luar
biasa bagi penyelam. Beberapa yang pernah menyaksikan hal tersebut sulit
menceritakannya karena takjub akan keindahan fenomena gerak ikan-ikan hias
kecil-kecil tersebut. Beningnya
air kristal
tadi membuat semua terekam jelas.”
Begitu
diceritakan panjang lebar tersebut saya tak perlu penjelasan lagi. Intinya saya
percaya dan tanpa melihat saya sudah suka, titik. Simple kok saya orangnya.
Jadi kami membeli lahan di sebuah
pulau tiga puluh menit
dari Sanur tanpa
pernah melihat lokasinya, lumayan aneh khan?!
Juli
2012 kami menyempatkan melihat lokasi untuk pertama kalinya, namun sayang saya
tidak sempat karena banyak kesibukan. Kami berbagi tugas. Begitu pulang dari Nusa Penida yang namanya teman-teman
bercerita seakan mereka sudah setahun tinggal di sana.
Nggak
ada berhentinya dan semuanya mengagumi lokasi tersebut. Hal ini sekedar membuat laporan
manis asal membuat saya senang atau memang dari hati, fakta yang harus
berbicara yaitu ketika saya dengan mata kepala datang kesana.
Senin
minggu lalu, 3 Desember
2012,
akhirnya saya mendapat kesempatan ke
sana.
Bedanya kali ini kapal yang saya pakai lebih besar karena sahabat saya Lukman
memiliki kapal yang kami bisa pakai. Sambil duduk di kapal besar saya menatap
lurus ke arah pulau tersebut. Persis seperti mau mengunjungi atau
mengapeli pertama kali gadis impian. Perasaan saya gelisah nggak karuan. Ada
harapan bahwa lokasinya bagus, ada kesiapan bahwa akan menjumpai fakta
sebaliknya, kecewa karena tidak seindah seperti diceritakan.
Selang
tiga puluh menit
kapal mengurangi kecepatan hingga berjalan sangat lambat tepat di depan
teluk. Kami ber-delapan semua
berdiri di pinggir kapal. Saya memandang lepas pemandangan sekitar. Saya terkagum-kagum
dengan birunya air yang bening. Jajaran kelapa seakan among tamu menyapa kedatangan kami. Suasana romantik pantai seakan film Blue Lagoon.
Dalam hati saya berkata, “Brook
Shield-nya mana ya?!”. Persis seperti film yang dibintangi
Leonardo de Caprio
yang mengambil lokasi di Thailand,
hanya ini jauh lebih bersih dan tenang. Wah, saya sangat terpukau. Rasanya
rahang saya menyentuh permukaan air karena ternganga kagum.
Hingga
kapal kecil kami turunkan karena boat besar tidak bisa menempel ke pasir pantai, bisa nyangkut karena belum ada dermaga atau
jetty. Saya segera pindah perahu dan turun ke pantai.
Warna pasir putih dan bentuk pasir bulat mengkilap membuat terasa nikmat
memijat di telapak. Saya hanya bisa berkata subhannalloh alhamdulilah indahnya keangungan-MU, Tuhan.