Selasa, 27 Oktober 2015

PALEMBANG, BANGKOK, DAN SYAILENDRA



Kami akhirnya memutuskan membeli lahan di Palembang. Lokasi di daerah Ulu. Sekitar tujuh ulu hingga tiga belas ulu. Melihat perkembangan kota Palembang yang demikian pesatnya maka secara hitungan bisnis dan feeling bisnis rasanya membangun penginapan atau hotel budget yang non bintang sudah saatnya.
Seperti kebiasaan kami di dalam berbisnis property, maka perhitungannya pasti jangka panjang. Dan bahkan penglihatannya harus setengah nerawang paranormal plus banyak intuisi. Jadi antara menganalisa, membuat strategi, membeli aset, mendesain, membuat izin, menyiapkan SDM hingga eksekusi operasi bisnis bisa memakan waktu 2-3 tahun.
Di tahun 2009 saya dan Mas Helmy Yahya menganalisa dan memilih masuk membeli aset tersebut. Dengan kalkulasi kalau GDP menembus batas bawah negara maju yaitu USD 3000 per kapita maka akan terjadi perubahan tingkah laku bisnis di Indonesia. Akan terjadi percepatan di beberapa lini bisnis dengan cepat. Hal ini bukan analisa tanpa data, ini adalah bukti empiris yang dicatat oleh pakar ekonomi seperti Naisbitt, Philip Kotler atau Patricia Aburdeen dan para guru bisnis lainnya. Bahwa jika di sebuah negara mencapai USD 3000 akan terjadi percepatan bisnis luar biasa.
Indonesia tercatat saat ini sudah di level USD 3100, tepatnya di Januari 2012. Maka perkiraan dari World Bank Indonesia akan mencapai USD 5000 di tahun 2015. Padahal untuk mencapai USD 3000 dari USD 1500 memakan waktu lebih dari sepuluh tahun. Di tahun 2000 Indonesia masih USD 1200. Dan data bahwa di level USD 3000 akan terjadi upper swing ekonomi adalah data di banyak negara.
• Cina di tahun 2008mencapai angka USD 3.000 kini di 2012 sudah mencapai USD 5.000.
• Korea Selatan di tahun 1988 mencapai USD 3.000 dalam 5 tahun (tahun 1993) mencapai USD 8.000 dan kini 2012 mencapai USD 17.000.
• Malaysia di tahun 2001 USD 3000 dalam 5 tahun (tahun 2006) mencapai USD 6.000 kini 2012 sudah mencapai USD 8.500
Dan yang harus menjadi kunci utama adalah banyaknya populasi jumlah penduduk. Ini yang membuat Indonesia massif jika dilihat secara makro. Ini bangsa besar. Tidak banyak bangsa yang memiliki wilayah seperti Indonesia, bahkan saya berani mengatakan tidak ada. Indonesia memiliki semuanya secara jumlah. Baik SDM maupun SDA. Yang saat ini belum dipunyai hanya sistem yang baik dan mental attitude. Di sini kita tidak membahas sisi mental dan attitude, kita membahas sisi positif saja. Ekonomi sudah di ambang batas bawah negara maju. Jadi ayo di-grab, diraih, dijalankan, dimonetize, dijadiin duit!
Karena itu kami berdua memutuskan membeli lahan dulu di daerah Ulu Palembang tepat berada di samping Sungai Musi menghadap landmark Palembang, Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Yang penting view-nya bagus dan berada di samping Sungai Musi. Meniru kota Bangkok yang banyak kanal dan dibelah sungai Chao Phraya atau seperti Selat Bosporus Turki di mana sisi sungai atau selat berjarak lima ratus meter kurang lebih, sama halnya seperti lebar Sungai Musi membuat masa depan daerah Palembang kami percaya akan terpusat di pinggir kiri kanan Sungai Musi.
Dengan berharap mudah-mudahan Pemerintah Daerah Palembang sadar bahwa mereka memiliki competitive advantage yaitu Sungai Musi di mana kota lain belum tentu punya sungai dan kanal-kanalnya. Palembang memang mirip Bangkok. Dan hal ini harus diingatkan. Salah satu kesamaan itu mungkin karena sejarahnya sama dibangun oleh kerajaan Syailendra dengan raja besarnya Prameswara yang beragama Budha sehingga memiliki hubungan kuat dengan Champa, Thailand, sehingga besar kemungkinan kanal-kanal di Sungai Musi terinspirasi oleh kanal-kanal Bangkok berabad-abad lalu.
Membandingkan Thailand dengan Indonesia ada hal menarik. Di tahun 1998 semua negara ASEAN bisa dikatakan hampir rubuh. Tahun 1998 saya kebetulan sempat ke Bangkok. Kota itu jika dibandingkan Jakarta kira-kira hanya setengahnya. Alias Jakarta dua kali lebih maju. Di tahun 2004 saya kembali ke Bangkok dan melihat Bangkok sudah sama dengan Jakarta. Dan di tahun 2010 saya kembali ke Bangkok saya terkejut-kejut karena Bangkok sudah melewati Jakarta dua kali. Ini terukur dari angkutan umumnya, jalan bebas hambatannya mulai yang bisa lebarnya 4-6 jalur di tengah kota. Belum lagi bandara Svarnabhumi-nya. Ternganga saya melihat besar dan mewahnya gerbang masuk Negara Thailand ini. Bahkan imigrasi bisa buka seratus pintu agar tidak membuat antrean panjang. Jauh sekali dibandingkan Cengkareng Soekarno Hatta. Telat sekali antisipasi perkembangannya.
Kembali ke Palembang, kami berdua percaya, seratus tahun lagi Palembang bertumbuh cepat dengan patokan adalah kota Bangkok. Jadi Pemda sebaiknya memodel Bangkok saja, jangan Jakarta. Ini bukan promosi Sumsel namun ini adalah informasi untuk membantu rekan-rekan melihat Palembang. Palembang yang sekarang mungkin bisa dikatakan kota dengan seribu ruko (karena di mana-mana ruko) akan berubah dan bertumbuh ke atas. Bangunan tinggi akan tumbuh dalam sepuluh tahun ke depan. Perusahaan oil and gas seperti Medco, Petrochina, pasti akan memindahkan kantor pusatnya mendekati sumber produksinya di mana Palembang memiliki semuanya.
Di sinilah kami memberanikan diri merencanakan dan membangun budget bisnis hotel. Yaitu hotel untuk bisnis bertarif murah (budget). Kami yakin akan banyak pebisnis yang akan berkunjung ke Palembang sepuluh tahun ke depan. Kami yakin akan banyak bisnis baru dibangun. Mengingat GDP USD 3000 akan memberi impact ke bisnis. Di level ini perilaku konsumen jika dipandang dari sisi marketing benar-benar menarik. Karena akan bergeser dari kebutuhan kearah life style atau gaya hidup. Itu efek psikologis umum. Yang tadinya ngopi Rp 1.500 sekarang Rp 35.000 di Starbuck jadi murah, jadi gaya hidup. Begitu juga industri traveler dan turisme. Ini akan tumbuh awal, mengawali pertumbuhan sektor lainnya. Itulah landasan berfikir kami. Saat ini rencana tersebut sudah memasuki tahap perizinan dan loan proses. Mohon perkenan.