Selasa, 27 Oktober 2015

TIMING DAN LOKASI ADALAH SEGALANYA



Berbisnis property bagi saya adalah seperti makan pakai sambel dan gurame bakar. Makanan Sunda itu adalah makanan favorit saya. Setidaknya satu bulan minimum dua kali makanan itu tersedia di meja disediakan istri tercinta. Dan nasi panas mentung di piring kaki ngangkat satu wah… lupa deh sama macetnya Jakarta. Dan bisnis property sama seperti makanan Sunda tadi. Setiap saat selalu ada info jual beli tanah yang mampir di rumah kami.
Jaringan teman-teman RCTI ( baca : rombongan calo tanah Indonesia) rajin menyambangi rumah saya, menggadang-gadang copy sertifikat dari berbagai penjuru Jabotabek. Biasanya kalau bagus kami beli keroyokan, ada yang sama saudara, ada sama mitra lainya. Ada beberapa sahabat saya specialis beli lahan-lahan ini bergabung dengan saya. Bagi saya sejak pertama bermain property tahun 1992 sampai sekarang saya masih saja ketagihan. Lahan dibeli tidak melulu besar atau mahal. Yang penting punya prospek masa depan. Bermain di property harus sabar, timing adalah segalanya dan tak kalah penting lokasi.
Urusan salah beli lahan, kemudian tanah kejepit, atau sertifikat ganda, atau ada masalah gugatan sudah banyak saya lewati. Kalau dihitung jumlah sertifikat pernah numpuk setebal setengah meter. Namun jangan tanya nilainya, nggak besar-besar amat. Bahkan ada yang lahan hanya 1000 meter, daerah Tangerang, sertifikat tujuh buah!
Beberapa kali mengalami gagal bisnis, tabungan property ini menyelamatkan dan membuat hidup jadi terus bisa bergulir. Di dunia property ini tidak diperlukan waktu khusus, cukup sesekali, namun dalam jangka panjang memiliki impact yang signifikan.
Pernah pada tahun 1997 saya berkunjung ke kamar kerja teman saya Mas Guna anak salah seorang mantan menteri kabinet Suharto di mana dia sedang di depan komputer tanpa dia sadari sudah lima belas menit saya di belakangnya. Dia mengetik dan sedang merancang program sekolah untuk kedua anaknya hingga tamat S2 sekolah di luar negeri meskipun saat itu kedua anaknya masih di SD. Saya melihat angka sembilan digit adalah target budget yang dia harus siapkan, sebuah biaya yang besar bagi sebuah proses pendidikan namun realistik bagi saya karena dia menyiapkan jauh-jauh hari yaitu lebih dari sepuluh tahun.
“Met siang, Brur”, saya menyapa sambil berdiri yang membuatnya kaget.
“Eh, Wowiek, apa kabar? Tumben nyambangi gua nih? Lagi bawa bisnis apa?” katanya lagi sambil mematikan komputernya dan berbalik ke arah saya.
Iya… saya mau ketemu BossTriple A Securities di atas kantor Mas Guna tapi dia belum datang jadi saya turun aja ke kantor Anda, Brur, jawab saya.
Oh iya, saya sudah lama gak ketemu Reza walaupun satu gedung, apa kabar dia?” katanya lagi.
“Tanya sendiri lah, silaturahmi ke atas bareng-bareng, yuk!
“Good idea, saya harus lakukan itu, jawabnya.“Ada pembicaraan serius sama Reza?” tanyanya lagi.
“Enggak, cuma mau say hello’ sudah lama juga saya tidak ketemu dia, soalnya dia suka bĂȘte kalau tahu-tahu ada property bagus dia nggak diajak. (note : Mas Reza adalah salah seorang business angel saya dalam bidang pembiayaan properties).
“Ngomong-ngomong sedang ngegarap apa Anda, Brur, sekarang?” saya bertanya.
“Nih… saya lagi buat jalan di Bandung terusan Pasteur-Pasopati juga tol ke Jatinangor,” katanya sambil membuka peta konstruksi jalanan yang sangat rinci.
Saya perhatikan dengan seksama, wah peluang nih. “Bisa saya copy ?” saya meminta izin padanya.
Hahaha… loe pasti sudah horny ya mau hunting tanah di sekitar exit tol ini ya… sip, sip boleh, boleh,” katanya ngeledek.
Dan dia benar, memang itu isi kepala saya. Di rumah saya perhatikan dengan seksama, saya memperhatikan ke mana akses keluar masuk pintu tol tersebut, pokoknya semuanya. Kemudian pada sebuah kesempatan pada pertemuan keluarga yaitu lebaran tahun 1997 saya presentasikan ke depan paman-paman saya dari pihak ibu akan peluang membeli tanah di sekitar akses tol ini.
Kemudian kami berburu dan mencari tanah di banyak tempat di Bandung sedekat mungkin dengan keluar-masuk pintu tol Pasteur-Pasopati dalam kota dan tol luar ke Jatinangor. Yang jadi incaran saya adalah daerah Suci hingga di dekat Golf Arca Manik. Harga masih murah, ‘Leweng Keneh’ ceuk urang Sunda tea lah, masih hutan. Karena kalau terusan Pasteur jadi, jalannya lurus dan harga tanah masih berkisar Rp 15.000 per meter kami beli nyicil-nyicil sejak tahun 1998 hingga tahun 2002 dan masa krisis 1998 banyak orang perlu uang cepat. Tahun 2002 proyek tersebut baru mulai dikerjakan dan sekarang sudah selesai. Ternyata bersabar dua belas tahun yaitu waktu tahun 2010 kami menjual sebagian hasilnya berkali lipat sangat lumayan bahkan sebagian dipakai umroh untuk seluruh keluarga besar sampai sebelas keluarga berangkat bareng.
Kemarin siang, telepon-teleponan dengan Bob, sahabat lama saya, kakak kandung Dede Yusuf-Wagub Jabar. Ada info dari Pemda Jabar bahwa di tahun 2020 di daerah (maaf disensor) bisa menjadi sentrum pusat untuk populasi dua puluh juta penduduk. Sekarang lagi digodok untuk pengembangan bandara dengan lebih detail dan confirm. Dia janji ke saya akan memberikan ancer-ancer wilayah yang katanya lahan sudah mulai dibebaskan.
Menurutnya, kalau seseorang dari Garut mau ke Makasar atau Surabaya, bisa nginep dulu di Cengkareng atau berangkat sepuluh jam sebelum keberangkatan pesawat dan ini sungguh tidak efisien dan harus masuk kota Jakarta lagi yang pasti macet, padahal mungkin hanya untuk terbang yang kurang dari 1 jam, ritualnya panjang sekali. Sementara daerah (---) bisa mengambil penduduk Garut, Cirebon, Tasikmalaya, Brebes, Tegal, Tulungagung, Purwokerto, Cilacap kurang dari dua jam, cukup di tengah (para sobat pasti sekarang sudah tahu di mana kira-kira daerahnya).
Langsung kinclong mata saya mendengar berita tersebut. Harap-harap cemas menunggu email peta lokasi tersebut. Siap-siap nabung tanah. Ada yang mau bergabung? # peace be upon us