Berbisnis
property bagi saya adalah seperti makan pakai sambel dan gurame bakar. Makanan Sunda itu adalah makanan favorit
saya. Setidaknya
satu bulan
minimum dua
kali makanan itu tersedia di meja
disediakan istri tercinta. Dan nasi panas mentung di piring kaki ngangkat satu
wah… lupa deh sama macetnya Jakarta. Dan bisnis property sama seperti makanan Sunda tadi. Setiap saat selalu ada
info jual beli tanah yang mampir di rumah kami.
Jaringan
teman-teman RCTI
( baca : rombongan calo tanah Indonesia) rajin menyambangi rumah saya, menggadang-gadang copy sertifikat dari berbagai penjuru Jabotabek. Biasanya kalau bagus kami
beli keroyokan, ada yang sama saudara, ada sama mitra lainya. Ada beberapa sahabat saya specialis
beli lahan-lahan
ini bergabung dengan saya.
Bagi saya sejak pertama bermain property tahun 1992 sampai sekarang saya masih
saja ketagihan. Lahan dibeli tidak melulu besar atau mahal. Yang penting punya
prospek masa depan. Bermain di property harus sabar, timing adalah segalanya
dan tak kalah penting lokasi.
Urusan
salah beli lahan, kemudian tanah kejepit, atau sertifikat ganda, atau ada
masalah gugatan sudah banyak
saya lewati. Kalau dihitung jumlah sertifikat pernah numpuk setebal setengah
meter. Namun jangan tanya nilainya, nggak
besar-besar amat.
Bahkan ada yang lahan hanya 1000 meter, daerah Tangerang, sertifikat tujuh buah!
Beberapa
kali mengalami gagal bisnis, tabungan property ini menyelamatkan dan membuat
hidup jadi terus bisa bergulir. Di dunia property ini tidak diperlukan waktu
khusus, cukup sesekali, namun dalam jangka panjang memiliki impact yang
signifikan.
Pernah
pada tahun 1997 saya berkunjung ke kamar kerja teman saya Mas Guna anak salah
seorang mantan menteri
kabinet Suharto di mana
dia sedang di depan komputer tanpa dia sadari sudah lima belas menit saya di
belakangnya. Dia mengetik dan sedang merancang program sekolah untuk kedua
anaknya hingga tamat S2 sekolah di luar negeri meskipun saat itu kedua anaknya
masih di SD. Saya melihat angka sembilan digit adalah target budget yang dia
harus siapkan, sebuah biaya yang besar bagi sebuah proses pendidikan namun
realistik bagi saya karena dia menyiapkan jauh-jauh hari yaitu lebih dari sepuluh
tahun.
“Met
siang,
Brur”,
saya menyapa sambil berdiri yang membuatnya kaget.
“Eh,
Wowiek, apa kabar? Tumben
nyambangi gua
nih? Lagi bawa bisnis apa?” katanya
lagi sambil mematikan komputernya dan berbalik ke arah saya.
“Iya… saya mau ketemu BossTriple A Securities di atas
kantor Mas
Guna tapi dia belum datang jadi saya turun aja ke kantor Anda, Brur,” jawab saya.
“Oh iya, saya sudah lama gak ketemu
Reza walaupun satu gedung, apa kabar dia?” katanya lagi.
“Tanya
sendiri lah, silaturahmi ke atas bareng-bareng, yuk!”
“Good
idea, saya harus lakukan itu,”
jawabnya.“Ada pembicaraan serius sama Reza?” tanyanya lagi.
“Enggak,
cuma
mau ‘say
hello’
sudah lama juga saya tidak ketemu dia,
soalnya dia suka bĂȘte kalau tahu-tahu
ada
property bagus dia nggak
diajak.”
(note : Mas
Reza adalah salah seorang business angel saya dalam bidang pembiayaan
properties).
“Ngomong-ngomong sedang ngegarap apa Anda, Brur,
sekarang?” saya bertanya.
“Nih…
saya lagi buat jalan di Bandung terusan Pasteur-Pasopati juga tol ke Jatinangor,” katanya sambil membuka peta
konstruksi jalanan yang sangat rinci.
Saya
perhatikan dengan seksama, wah peluang nih. “Bisa saya copy ?” saya meminta
izin padanya.
“Hahaha…
loe pasti sudah horny ya mau hunting tanah di sekitar exit tol ini ya… sip, sip
boleh, boleh,” katanya ngeledek.
Dan
dia benar, memang itu isi kepala saya. Di rumah saya perhatikan dengan seksama,
saya memperhatikan ke mana akses keluar masuk pintu tol tersebut, pokoknya
semuanya. Kemudian pada sebuah kesempatan pada pertemuan keluarga yaitu lebaran
tahun 1997 saya presentasikan ke depan paman-paman saya dari pihak ibu akan
peluang membeli tanah di sekitar akses tol ini.
Kemudian
kami berburu dan mencari tanah di banyak tempat di Bandung sedekat mungkin
dengan keluar-masuk pintu tol Pasteur-Pasopati dalam kota dan tol luar ke Jatinangor. Yang jadi incaran saya adalah daerah Suci hingga di dekat Golf Arca Manik. Harga masih murah, ‘Leweng Keneh’ ceuk urang Sunda tea lah, masih hutan.
Karena
kalau terusan Pasteur
jadi, jalannya lurus dan harga
tanah masih berkisar Rp 15.000 per meter kami beli nyicil-nyicil sejak tahun 1998 hingga
tahun 2002 dan masa krisis 1998 banyak orang perlu uang cepat. Tahun 2002
proyek tersebut baru mulai dikerjakan dan sekarang sudah selesai. Ternyata bersabar dua
belas tahun yaitu waktu tahun 2010 kami menjual sebagian hasilnya berkali lipat
sangat lumayan bahkan sebagian dipakai umroh untuk seluruh keluarga besar
sampai sebelas keluarga berangkat bareng.
Kemarin
siang, telepon-teleponan
dengan Bob, sahabat lama saya, kakak kandung Dede Yusuf-Wagub Jabar. Ada info dari Pemda Jabar bahwa di tahun 2020 di daerah
(maaf disensor) bisa menjadi sentrum pusat untuk populasi dua puluh juta
penduduk. Sekarang lagi digodok untuk pengembangan bandara dengan lebih detail
dan confirm. Dia janji ke saya akan memberikan ancer-ancer wilayah yang katanya lahan
sudah mulai dibebaskan.
Menurutnya,
kalau seseorang dari Garut mau ke Makasar atau Surabaya, bisa nginep dulu di Cengkareng atau berangkat sepuluh jam sebelum
keberangkatan pesawat dan ini sungguh tidak efisien dan harus masuk kota
Jakarta lagi yang pasti macet, padahal mungkin hanya untuk terbang yang kurang
dari 1 jam, ritualnya panjang sekali. Sementara daerah (---) bisa mengambil
penduduk Garut, Cirebon, Tasikmalaya, Brebes, Tegal, Tulungagung, Purwokerto, Cilacap kurang dari dua
jam, cukup di tengah (para sobat pasti sekarang sudah tahu di mana kira-kira daerahnya).
Langsung
kinclong mata saya mendengar berita tersebut. Harap-harap cemas menunggu email peta
lokasi tersebut. Siap-siap nabung tanah. Ada yang mau
bergabung? #
peace be upon us