Ini kantor ayah?
Iya, kenapa nak..saya menjawab pertanyaan anak tertua saya mbak azka. Ini adalah pertama kalinya anak saya bawa ke kantor saya. disaat dia sedang menunggu ke lulus an sma kemarin. Seumur hidupnya dia tidak pernah saya bawa ke kantor saya hingga menurut saya sampai masanya tiba untuk dia memahaminya. Begitu juga ke tiga adiknya, belum pernah ke kantor saya.
Sebentar lagi azka hendak kuliah. Dia mengambil jurusan culinary seperti cita-citanya, cooking dan bakery. Maka ada hal yang saya harus ajarkan sebagai bekalnya menempuh lompatan pendidikan ini yaitu mengajarinya arti kehidupan, walaupun sedikit ilmu kehidupan dari sang ayahnya ini yang mungkin bukan orang terpandai di dunia, bukan orang terkaya di dunia namun mungkin termasuk orang yang paling banyak salah, paling banyak terantuk-antuk jalan hidupnya. Sehingga sedikit dapat memberi contoh pengalamanan, mudah-mudahan pantas. Mungkin, melakukan parenting dg membawanya ke kantor bisa menjadi sebuah pengalaman yang bisa dia tarik himahnya dikemudian hari.
Kantor ayah ini kantor apa ya bisnisnya? Kok tua banget bangunannya. Sudah berapa lama ini kantor? Azka bertanya menyelidik. Saya menjawab, yang jelas ini rumah tua, yang di pakai dan diperbaiki bertahap. Seadanya rezeki, seadanya waktu. Kalau lihat dari wall papernya, ini terakhir di ganti 15 tahun yang lalu. Hampir seumur mbak azka 17 tahun. Dan saya tidak menjawab sewaktu di Tanya apa bisnisnya. Sehingga mbak azka agak sedikit penasaran. Kalau bisnisnya apa ayah?
Nanti ayah ceritakan, namun ada sebuah pelajaran yang mbak bisa ambil. Sewaktu di rumah ayah adalah orang rumah, ayah kalian, ayah 4 orang anak. Ayah tidak pernah membawa persoalan bisnis atau pekerjaan di rumah. Namun ayah selalu cerita apa kegiatan ayah khan? Jadi poinnya disini adalah, suatu saat mbak azka bekerja, berbisnis jangan di bawa ke rumah. Kasih sedikit gambaran sudah cukup. Karena ada banyak hal yang nanti dede2 adik2 mbak azka yang menunggu giliran memahami arti bisnis. Yaitu kira-kira ketika sma sudah tamat akan ayah ajarkan lebih dalam.
Maksudnya begini. Kenapa seseorang di usia 17 baru boleh mempunyai SIM surat izin mengendarai kendaraan. Padahal ada anak usia 12 tahun sdh bisa bawa motor. Ada anak 15 tahun sudah bisa mengendari mobil namun mengapa 17 tahun bari SIM boleh punya?. Ini masalahnya hanya di kedewasaan. Bukan di usia. Usia 17 dianggap dewasa untuk memahami beberapa hikmah kehidupan. Jadi beda anak 14 tahun yang bisa naik motor dengan yang 18 tahun mengendarai motor. Bedanya di kedewasaannya.
Di bisnis atau bekerja, hal itu sama. Sedari kecil mbak azka, fatur, chevo, malkia semua ayah selalu belikan buku-buku tentang orang-orang sukses, komik2nya menumpuk dirumah, cerita-cerita mereka ayah dongengkan sering. Lalu tamu-tamu teman bisnis ayah sering datang ke rumah atau kalian anak-anak sering mendengarkan. Bahkan setiap hari selagi makan malam ayah suka menyerempet-serempet cerita bisnis. Namun ayah belum ajak mbak azka, atau mas fatur melakukan atau berbisnis.
Ini karena belum sampai kedewasaaanya. Arti uang itu ada setelah kamu memperolehnya dari tetesan keringat sendiri. Arti makan yang nikmat adalah didapat dari kerja keras sendiri. Arti nikmatnya berkendaraan yang di dapat dari menabung dari receh hingga terkumpul dimana semua dari upaya sendiri. Itu semua arti kehidupaan yang dijalalani sendiri.
Sebentar lagi mbak azka kuliah dan merantau. artinya mbak azka sudah harus memahami satu level lagi arti kehidupan. Kamu seorang wanita namun bagi ayah sama saja, semua anak ayah harus merantau. Jauh dekat itu ngak masalah namun merantau menjadikan azka mandiri. Oktober 2013 ini azka menginjak kesebuah tempat baru, suasana baru di perantauan. Maka disinilah azka akan terjadi lompatan kedewasaan. Dimana mbak azka kalau tidak pro aktif maka azka ngak akan dapat rasa hormat, kalau azka tidak ringan tangan membantu maka ngak akan dapat banyak teman. Kalau azka tidak bisa mengurus diri sendiri maka banyak hal yang akan ketinggalan. Kalau azka ngak bs ber akrab akrab dan santun maka azka ngak akan dapat apa-apa.
Jadi kalau mau mudah hidup mbak azka di kemudian hari, maka mbak azka harus menata peluang dari sekarang. Kalau mbak azka ingin solusi disetiap persoalan hidup sekarang lah masa membuat jalan tersebut. Peluang, kemudahan hidup, pencapaian sukses itu adalah hasil akhir dari sebuah proses yang benar.
Sekarang mbak azka cukup perhatikan di kantor ayah ini. Duduk santai dan perhatikan semuanya. Silahkan jalan keliling. Dari belakang sampai ke lantai 2 sana. Dari tempat parkir semua nya perhatikan. Di observe. Nanti pas jam makan siang ayah mau Tanya apa yang mbak azka dapatkan. Mbak azka share ke ayah.
Ini adalah percakapan di bulan april bulan lalu dimana untuk pertama kalinya mbak azka saya ajak ke kantor saya di bilangan Jakarta selatan. Tidak ada plank kantor di depan, ini adalah rumah tua ber lantai 2. Kantor seluas 1000 meter ini dengan lahan 3000 meter berada didaerah perumahan. Sesungguhnya tidak boleh sebagai tempat usaha atau kantor namun karena bisnis kami tidak memerlukan klien atau rekanan datang maka berkantor sini cukup sarananya. Karena kebanyakan kami yang harus menghadap birokrat atau lembaga pengatur kebijakan, dimana klien kami adalah perusahaan BUMN atau perusahaan multinasional dan sejenisnya, maka jarang mereka berkunjung ke kantor kami. Kamilah yang harus menghadap mereka.
Kalaupun ada yang datang, biasanya mitra vendor subordinate atau lender, banker yang membiayai pekerjaan tersebut. Itupun jarang. Kami datang ke bank 10 kali, bank baru datang sekali ketempat kami. Maka tak perlulah berkantor di gedung di jalan sudirman, disini cukup. Dengan nuasa bali yang kental, pohonan yang rimbun sengaja di tanam untuk mengurangi panasnya Jakarta maka di tempat inilah mbak azka sepanjang pagi hingga siang melakukan observsi.
Hingga waktunya makan siang tiba, office boy kantor membelikan 2 nasi bungkus ayam bakar di warung depan kantor. Sambil menikmati nasi panas mengepul kami berdua duduk dan makan di ruang meeting kecil. Saya pun bertanya apa yang mbak azka dapat dari obeservasi selama 3 jam pagi ini. Dengan mata bergerak-gerak dia mulai menceritakan dan berbagi. Sambil mengunyah makanan saya saya mendengar sambil membuat kesimpulan dan berkata dalam hati..” hampir benar nak, namun kamu harus teliti lagi mengobservasinya..ok, terus..ah masih muda dia..namun saya terus mendengar tanpa saya putus cerita opininya” dan seperti tradisi keluarga maka walau saya tahu ada yang kurang pas dari sharing dan pendapatnya namun saya tidak akan membetulkannya sekarang dengan perkataan. Tidak ada manusia belajar dengan kata-kata bahkan dengan kata-kata indah penuh hikmah sekalipun, belajar yang baik adalah dengan merasakan pengalaman. Maka sebagai mentor saya harus menciptakan pengalaman untuknya..itulah tantangan parenting versi mardigu . # may peace be upon us
Iya, kenapa nak..saya menjawab pertanyaan anak tertua saya mbak azka. Ini adalah pertama kalinya anak saya bawa ke kantor saya. disaat dia sedang menunggu ke lulus an sma kemarin. Seumur hidupnya dia tidak pernah saya bawa ke kantor saya hingga menurut saya sampai masanya tiba untuk dia memahaminya. Begitu juga ke tiga adiknya, belum pernah ke kantor saya.
Sebentar lagi azka hendak kuliah. Dia mengambil jurusan culinary seperti cita-citanya, cooking dan bakery. Maka ada hal yang saya harus ajarkan sebagai bekalnya menempuh lompatan pendidikan ini yaitu mengajarinya arti kehidupan, walaupun sedikit ilmu kehidupan dari sang ayahnya ini yang mungkin bukan orang terpandai di dunia, bukan orang terkaya di dunia namun mungkin termasuk orang yang paling banyak salah, paling banyak terantuk-antuk jalan hidupnya. Sehingga sedikit dapat memberi contoh pengalamanan, mudah-mudahan pantas. Mungkin, melakukan parenting dg membawanya ke kantor bisa menjadi sebuah pengalaman yang bisa dia tarik himahnya dikemudian hari.
Kantor ayah ini kantor apa ya bisnisnya? Kok tua banget bangunannya. Sudah berapa lama ini kantor? Azka bertanya menyelidik. Saya menjawab, yang jelas ini rumah tua, yang di pakai dan diperbaiki bertahap. Seadanya rezeki, seadanya waktu. Kalau lihat dari wall papernya, ini terakhir di ganti 15 tahun yang lalu. Hampir seumur mbak azka 17 tahun. Dan saya tidak menjawab sewaktu di Tanya apa bisnisnya. Sehingga mbak azka agak sedikit penasaran. Kalau bisnisnya apa ayah?
Nanti ayah ceritakan, namun ada sebuah pelajaran yang mbak bisa ambil. Sewaktu di rumah ayah adalah orang rumah, ayah kalian, ayah 4 orang anak. Ayah tidak pernah membawa persoalan bisnis atau pekerjaan di rumah. Namun ayah selalu cerita apa kegiatan ayah khan? Jadi poinnya disini adalah, suatu saat mbak azka bekerja, berbisnis jangan di bawa ke rumah. Kasih sedikit gambaran sudah cukup. Karena ada banyak hal yang nanti dede2 adik2 mbak azka yang menunggu giliran memahami arti bisnis. Yaitu kira-kira ketika sma sudah tamat akan ayah ajarkan lebih dalam.
Maksudnya begini. Kenapa seseorang di usia 17 baru boleh mempunyai SIM surat izin mengendarai kendaraan. Padahal ada anak usia 12 tahun sdh bisa bawa motor. Ada anak 15 tahun sudah bisa mengendari mobil namun mengapa 17 tahun bari SIM boleh punya?. Ini masalahnya hanya di kedewasaan. Bukan di usia. Usia 17 dianggap dewasa untuk memahami beberapa hikmah kehidupan. Jadi beda anak 14 tahun yang bisa naik motor dengan yang 18 tahun mengendarai motor. Bedanya di kedewasaannya.
Di bisnis atau bekerja, hal itu sama. Sedari kecil mbak azka, fatur, chevo, malkia semua ayah selalu belikan buku-buku tentang orang-orang sukses, komik2nya menumpuk dirumah, cerita-cerita mereka ayah dongengkan sering. Lalu tamu-tamu teman bisnis ayah sering datang ke rumah atau kalian anak-anak sering mendengarkan. Bahkan setiap hari selagi makan malam ayah suka menyerempet-serempet cerita bisnis. Namun ayah belum ajak mbak azka, atau mas fatur melakukan atau berbisnis.
Ini karena belum sampai kedewasaaanya. Arti uang itu ada setelah kamu memperolehnya dari tetesan keringat sendiri. Arti makan yang nikmat adalah didapat dari kerja keras sendiri. Arti nikmatnya berkendaraan yang di dapat dari menabung dari receh hingga terkumpul dimana semua dari upaya sendiri. Itu semua arti kehidupaan yang dijalalani sendiri.
Sebentar lagi mbak azka kuliah dan merantau. artinya mbak azka sudah harus memahami satu level lagi arti kehidupan. Kamu seorang wanita namun bagi ayah sama saja, semua anak ayah harus merantau. Jauh dekat itu ngak masalah namun merantau menjadikan azka mandiri. Oktober 2013 ini azka menginjak kesebuah tempat baru, suasana baru di perantauan. Maka disinilah azka akan terjadi lompatan kedewasaan. Dimana mbak azka kalau tidak pro aktif maka azka ngak akan dapat rasa hormat, kalau azka tidak ringan tangan membantu maka ngak akan dapat banyak teman. Kalau azka tidak bisa mengurus diri sendiri maka banyak hal yang akan ketinggalan. Kalau azka ngak bs ber akrab akrab dan santun maka azka ngak akan dapat apa-apa.
Jadi kalau mau mudah hidup mbak azka di kemudian hari, maka mbak azka harus menata peluang dari sekarang. Kalau mbak azka ingin solusi disetiap persoalan hidup sekarang lah masa membuat jalan tersebut. Peluang, kemudahan hidup, pencapaian sukses itu adalah hasil akhir dari sebuah proses yang benar.
Sekarang mbak azka cukup perhatikan di kantor ayah ini. Duduk santai dan perhatikan semuanya. Silahkan jalan keliling. Dari belakang sampai ke lantai 2 sana. Dari tempat parkir semua nya perhatikan. Di observe. Nanti pas jam makan siang ayah mau Tanya apa yang mbak azka dapatkan. Mbak azka share ke ayah.
Ini adalah percakapan di bulan april bulan lalu dimana untuk pertama kalinya mbak azka saya ajak ke kantor saya di bilangan Jakarta selatan. Tidak ada plank kantor di depan, ini adalah rumah tua ber lantai 2. Kantor seluas 1000 meter ini dengan lahan 3000 meter berada didaerah perumahan. Sesungguhnya tidak boleh sebagai tempat usaha atau kantor namun karena bisnis kami tidak memerlukan klien atau rekanan datang maka berkantor sini cukup sarananya. Karena kebanyakan kami yang harus menghadap birokrat atau lembaga pengatur kebijakan, dimana klien kami adalah perusahaan BUMN atau perusahaan multinasional dan sejenisnya, maka jarang mereka berkunjung ke kantor kami. Kamilah yang harus menghadap mereka.
Kalaupun ada yang datang, biasanya mitra vendor subordinate atau lender, banker yang membiayai pekerjaan tersebut. Itupun jarang. Kami datang ke bank 10 kali, bank baru datang sekali ketempat kami. Maka tak perlulah berkantor di gedung di jalan sudirman, disini cukup. Dengan nuasa bali yang kental, pohonan yang rimbun sengaja di tanam untuk mengurangi panasnya Jakarta maka di tempat inilah mbak azka sepanjang pagi hingga siang melakukan observsi.
Hingga waktunya makan siang tiba, office boy kantor membelikan 2 nasi bungkus ayam bakar di warung depan kantor. Sambil menikmati nasi panas mengepul kami berdua duduk dan makan di ruang meeting kecil. Saya pun bertanya apa yang mbak azka dapat dari obeservasi selama 3 jam pagi ini. Dengan mata bergerak-gerak dia mulai menceritakan dan berbagi. Sambil mengunyah makanan saya saya mendengar sambil membuat kesimpulan dan berkata dalam hati..” hampir benar nak, namun kamu harus teliti lagi mengobservasinya..ok, terus..ah masih muda dia..namun saya terus mendengar tanpa saya putus cerita opininya” dan seperti tradisi keluarga maka walau saya tahu ada yang kurang pas dari sharing dan pendapatnya namun saya tidak akan membetulkannya sekarang dengan perkataan. Tidak ada manusia belajar dengan kata-kata bahkan dengan kata-kata indah penuh hikmah sekalipun, belajar yang baik adalah dengan merasakan pengalaman. Maka sebagai mentor saya harus menciptakan pengalaman untuknya..itulah tantangan parenting versi mardigu . # may peace be upon us