Minggu, 25 Oktober 2015

“Seorang pemimpin haruslah memiliki 2 hal, stategi dan attitude. Namun jika harus memilih salah satu, tinggalkan strategi, pegang attitude”



Terus mbak azka ngapain ayah?
Haha..saya hanya tertawa sewaktu azka bertanya apa yang akan lakukan sekarang setelah makan siang, setelah 3 jam observasi di kantor tua saya ini. Saya menjawab, sabar ya,mbak coba observasi lagi, perhatikan lagi, semuanya. Bayangin diri mbak azka adalah seorang fotografer dari national geografik yang bisa menunggu berhari-hari di hutan untuk menangkap “best shot” jepretan fotografie foto dari sebuah ekspresi perilaku binatang, misalnya macan.

Sang fotografer tersebut bisa berhari hari memperhatikan macan tersebut, menunggu moment candid dan gerakan special dari objek fotonya. Buka asal jepret kamera ponsel seperti kita ke kebon binatang. Inget bukan kamera ponsel yang mau ayah tekan kan mentang-mentang sang fotografer pakai kamera Nikon hi quality namun memotret yang dimaksud adalah menjepret moment khusus yang hanya seper sekian detik dan akan jadi gambar yang luar biasa menggugah, dengan sabar.

Belajar observasi ini dimasa depan sangat penting karena bagian dari pengumpulan data sebelum bertindak.

Mbak azka juga demikian, sabar saja, perhatikan seluruh kegiatan di kantor ini. Ambil sisi yang menurut mbak azka akan mendapat sudut pandang yang bagus. Terus bergerak. Perhatikan interaksi sesama karyawan, perhatikan diam mereka. Perhatikan gerakan kecil di meja mereka, perhatikan tawa dan kegelisahan mereka. Perhatikan hubungan mereka dengan kebendaan.

Azka hanya diam dan mengangguk. Saya mengharap dia melakukan apa saran saya. dia tidak harus mengerti, karena ini adalah kalimat perintah. Saya mau tahu apakah dia “good follower” atau seorang yang mencoba kreatif di tengah ketidak fahaman.

Di pengalaman saya, semua “good leader” dulunya pasti good follower. Namun jika diawal sudah melakukan hal lain dimana sebenranya ilmunya belum ada pasti jalan hidupnya terantuk-antuk kesandung sandung. Seseorang boleh melakukan improvisasi dalam sebuah perintah manajemen kalau sang atasan kurang faham dan dianya sangat faham. Namun dalam kasus ini saya sangat faham dan azka pastinya tidak mengerti jadi saya menggunakan kalimat perintah yang saya menharap reaksinya adalah melaksankan tanpa bertanya, just follow.

Kalau dari ekspresinya dia manut-manut saja. Satu jam berlalu, dan seperti biasa, salah satu founder perusahaan kami datang. Beliau berusia 60 an, seorang yang sedang menyiapkan diri untuk menjadi Begawan, memang posisi di kartu nama adalah presiden direktur namun 2 tahun terakhir pekerjaannya sudah tinggal 20%. Bahkan 3 tahun kedepan bisa dipastikan dia hanya 10% yaitu dalam sisi penjaga legacy atau warisan kebijakan.

Iya, legacy, warisan perilaku organisasi. Mengapa tidak lainya? Waktu itu berubah, perilaku bisnis pun berubah. Saat ini di Indonesia yang mengerakan roda ekonomi pelaku-pelakunya berusia 30-50 tahun. Itulah mesin utama pengerak. Maka jika didalam sebuah organisasi “usia”jajaran direksi itu menentukan jalannnya perusahaan akan seberapa sustainnya bertahan dimasa depan. Dan, hanya satu hal yang tidak berubah banyak yaitu “perilaku”. Kesantunan, team work, trust, loyality dan maintain growth profit - mempertahankan keuntungan. Adalah seni tersendiri dalam manajemen.

Awalnya perusahaan ini hanya segelitir orang, untuk bertahan sekian lama kami sudah bongkar pasang manajemen, ganti style manajemen, karyawan keluar masuk, loyitas rendah dimana yang pinter langsung keluar namun yang jelek bertahan. Bayangkan, yang pinter dan produktif keluar yang malas dan tidak produktif bertahan. Padahal, organisasi ideal adalah yang pinter dan produktif senang dan bertahan loyal sementara yang malas dan tidak produktif mental keluar dengan sendiri. Itu baru organisasi ideal.

Dari pegawai satu hanya tukang ketik, kemudian bagian akunting, kemudian bagian procurement, kemudian bagian inspeksi, kemudian pemasaran, kemudian berubah corporate action nya dari jasa ke produsen, hingga di tahun berjalan perusahann sudah berusia lebih 20 tahun kami sudah melakukan metamorphosis lebih dari 6 kali. Hingga bentuk organisasi sekarang ini.

Melewati ribuan jam interaksi dan friksi, melewati ribuan jam kegelisahan dan tawa. Melewati banyak tarian routine yang rumit dan maneuver kelicikan keserakahan kesalahan dan giving back pemberian yang tulus. Sungguh, mendelegasikan kepercayaan adalah hal yang paling sulit. Inilah kegagalan dalam leadership, gagal menyerahkan tongkat komando ke penerusnya.

Kembali ke salah satu founder kami yang baru datang, pak kadek. Maka ini adalah kesempatan emas memperkenalkan seorang yang makan asam garam kehidupan kepada azka. Ini pak kadek, boleh panggil dia eyang kadek

Ini siapa? Pak kadek bertanya
Ini azka, anak saya, demikian saya jawab
Wah sudah besar sekarang, dulu saya gendong2 kamu bayi waktu dirumah haha
Pak kadek adalah seseroang yang setiap 2 atau 3 kalimat setelah dia berbicara selalu akan di iringin dengan senyuman lebar atau tawa di ujung kalimat nya.

Saya mau kenali azka akan perilaku bisnis langsung atau kalau mungkin legacy warisan dari perusahaan kita ini

Pak kadek menatap azka, sambil tersenyum. Haha..hal itu indah dilihat namun sulit di praktekan, bahkan tidka enak dirasakan. Dia menarik kursi di depan azka dan duduk. Lalu dia menatap saya sebentar dan memulai bercerita kepada azka.

Ditahun 2006 atau sekitar 2007. 5 atau 6 tahun yang lalu. Perusahaan kita ini pernah mengalami turbulence guncangan hebat. Kita tidak bisa membayar gajih karyawan, kita hampir collapse , ini karena kita melakuakn hal baru dengan tindakan yang juga kurang bijak.

Mulailah pak kadek bercerita dimana perusahhan kami ini melakukan transaski migas di Bangladesh dimana kontrak sudah di tangan serta kita sudah menerbitkan bid bond yang sangat besar. kita bahkan sudah ke rusia dan supllyer ke tingkat dunia lainnya. Namun singkat cerita, bisnis antar Negara dan antar pemerintahan, dari G to B government to business menjadi hi caliber Government to government deal dan dua-duanya foriegn country Negara asing. Ini pengalaman pertama namun langsung ambil posisi besar. dan kitapun gagal, bid bond si cairkan karena kita gagal wan prestasi. Nilai bid bond tersebut sangat besar. kita rugi.

Efeknya adalah perusahaan kita goncang. Pak kadek menceritakan dengan masih terasa getaran kegetiran pengalaman tersebut, yang pastinya membuat siapapun yang mendengar merinding, tak terkecuali azka.

Lalu, pak kadek melanjutkan ceritanya, saya sama bapakmu makan di restoran padang favorit kami sejak dulu kala di daerah harmoni kota. Saya menceritakan seluruh masalah perusahaan, dia kan pemilik dan komisaris saya direksi dan pemilik maka bertemu 4 mata menjadi hal yang penting. Itu adalah legacy, itu warisan kebiasaan yang akan di bawa terus kegenerasi mendatang akan perilaku organisasi tersebut.

Dan, kali ini saya memotong cerita beliau..nah ini mbak azka, kalau saya boleh teruskan, sambil saya permisi ke pak kadek karena memotong ceritanya. Waktu itu, Ayah mengusulkan rasionalisi, adalah pemotongan anggaran karyawan atau PHK. Tidak lah kuat kita dengan pegawai 200 orang sebaiknya yang kaki kaki tua dikurangi, misalnya pak karta, pak ogi, pak johan, dll yang menurut saya harus di rumahkan atau di pensiunkan.

Taunya ngak mbak apa kata eyang kadek ini?

Dia menatap ayah dengan bola hitamnya membesar. Eh wiek..kamu tidak boleh bicara seperti itu. Itu kesombongan!

Ayah kaget di bilang seperti itu

Kita ini tidak boleh memecat karyawan yang loyal dan attitude nya baik. Mungkin dia sdh tidak produktif namun mereka loyal dan attitude nya baik. Lain kalau attitudenya buruk, itu ngak ada ampun. Ditengah-tengah badai seperti ini tidak ada kata pecat, rasionalisasi apapun namanya.

Inget ya wiek, kamu jangan sombong. Jangan kamu pikir uang gajih atau deviden yang kamu dapat adalah karena kepinteran kamu. Kamu kan beragama, kamu kan orang yang percaya kepada Tuhan. Kamu harus ingat, kalau pak ogi kamu pecat misalnya atau di pensiunkan ternyata di lauful mahfudz (dia maksud kitab kehidupan dilangit) dilangit sana pak ogi harus mendapatkan uang sekian puluh juta. Sementara dia dipecat dirumahkan. Dari mana jalannya rezeki itu turun? Heh?!

Tapi kalau dia masih sama kita, kita dapet rezeki kecipratan karena dia bekerja dengan kita disini. Rezeki itu diturunkan disini. Jadi rezeki yang kamu dapat belum tentu karena kepintaran kamu tetapi karena rezeki orang lain yang Tuhan lewatkan di perusahaan kita ini. Itulahyang saya bilang kamu jangan sombong!! Hati-hati dalam bertindak! Bisa bisa kita ngak dapat solusi rezeki.

Kalimat itu sangat membekas di ayah. Dan itu tindakan benar. Itulah yang disebut legacy warisan budaya bisnis di perusahaan kita. Saya berkata sambil memberi tempat pak kadek kembali memimpin cerita kisahnya ke azka.

Jadi azka, ingat bahwa attitude itu segalanya. Itu kira-kira moral of the story nya. Sikap seseroang adalah segalanya. Yang menyelamatkan organisasi ini adalah sikap seperti pak ogi dan sikap manajemen seperti yang kita jalankan , menjunjung tinggi moral etika. Yang diakhiri cerita tersebut dengan senyum lebar sambil pamit menuju kamar kerjanya. Saya tidak tau apa yang ada dipikiran azka, yang jelas dia terdiam dengan mata kearah bawah. Agaknya masuk kedalam hatinya, semoga. # may peace be upon us