Selasa, 27 Oktober 2015

“Selamat pagi pak mardigu saya dari permata bank card center…”



Atau suara telpon yang saya angkat dilain kesempatan, “Halo, Kami dari BNI card menawarkan kartu kredit buat bapak wowiek…” dan seterusnya menyerocos tanpa henti kecuali kita hentikan.

Ini adalah “cold call selling strategi” dari berbagai perusahaan kartu kredit, asuransi commission house dan banyak lagi. Dan bagi saya hal ini sangat mengganggu sekali. Terkadang di pagi hari sedang rapat, atau lagi bertemu mitra, dan banyak hal jauh lebih penting dari pada sekedar menjawab telepon mereka yang nada suaranya seakan sok penting, sok di butuhkan. Personal phone atau telefon pribadi saya sudah dimasuki teritorinya oleh mereka dengan direct interventional language, atau kalimat langsung intervensi.

Kalimat langsung seperti yang dilakukan para sales ini menurut saya baru pantas kalau dilakukan oleh orang tua kita, atau oleh orang terdekat kita, sahabat, anak, family lainnya. Namun perfect stranger seperti mereka, seseorang baru yang saya tidak kenal menyatakan kalimat langsung ketika telfon saya angkat dengan contoh kalimat seperti..“ kami ingin menawarkan kreditkan kami kepada anda..”

Wah kalimat itu bagi saya bisa membuat darah naik kekepala tiba-tiba dikarenakan kepenuhan data dikepala saya. dalam hati saya berkata, “ Ini orang ngak ngerti basa-basi, ngak tanya ba bi bu, ngak melakukan menyelidikan lebih dulu, ngak diajari sopan santun bahwa kita penerima telfon dsisi sebrang sedang sibuk, main langsung hajar saja. ini sangat menggangu pastinya untuk orang seperti saya menerima telfon dengan kalimat seperti ini”.

Bahkan saya pernah menggunting dan mengembalikan kartu kredit dari sebuah bank karena saya sudah memiliki kartu kredit bank tersebut tapi sales tetap menelfon saya dan menawari produk yang sama. Benar2 ngak ada kordinasi apa salesnya? Atau suah ngak perduli yang penting dapet komisi aja. Setelah saya peringatkan dengan sopan, dikesempatan lain bahkan dengan penjelasanan panjang. Namun tetap telp berdring ke saya dari mereka, dan begitu lebih dari 10 kali hal itu tetap dilakukan dengan orang berbeda-beda dimasa berbeda beda, hilang kesabaran saya.

Disisi lain saya sangat mengerti dan menghormati pekerjaan sales tersebut namun jika dibawakan dengan cara yangtidak elegan hal ini blunder, malah merugikan diri sendiri dan nama perusahaan yang menjual dengan cara tersebut.

Sekarang kalau di posisi terbalik, saya yang menjadi sales tersebut apa yang semestinya saya lakukan, atau sisi lain lagi misalnya saya adalah supervisor atau manajer sales tersebut apa yang saya harus lakukan?. Komplain tanpa solusi bukan lah perbuatan bijak,. Mengeluh, meng-kritik tanpa saran juga hal baik. Dan sisi manajerial saya walau tidak banyakmen jadi terpancing ..apa yang harus saya lakukan? Distatus ini saya complain dan mengkritik sales strategi tersebut namun mencoba memberi solusi.

Seandainya saya sebagai manajer sales tersebut maka strategi direct suggestion seperti para sales lakukan ini akan saya rombak total. Saya percaya kalau 30 tahun yang lalu, ditahun 80an atau sedikit tahun 90an awal cara ini cukup efektif namun sekrang, jangan coba-coba cara tersebut.

Alasanya adalah, di jaman informasi terbuka seperti saat ini, kecepatan masuknya data kekepala seseorang sangat cepat. Menurut pakar komunikasi di Amerika manusia modern saat ini dalam 1 hari menerima lebih dari 1500 iklan langsung maupun tidak langsung ke dalam otak mereka. Dengan banyaknya data tersebut pikiran manusia terbanjiri data atau flooding.

Secara alami otak manusia melakukan tindakan defensive atau bertahan dengan menerima informasi yang terlalu banyak. Cara bertahan yang tersering dilakukan adalah dengan menutup informasi tersebut untuk masuk keotak, istilahnya shut down atau close mind pikiran menutup. Jangan heran kalau anda memiliki anak usia remaja kebawah usia 15 tahun kebawah pada saat sekarang ini, anda pasti merasa heran kok anak ini pada malas belajar, malas membuka buku, di omeli di nasehati kayak masuk kiri keluar kanan tanpa membuat perubahan apapun. Itu salah satunya bisa terjadi karena banyaknya nonton TV, banyaknya radio (noise), banyaknya internet, email, PDA, games online, game toys, chating dan bnyak personal teknologi informasi yang masuk kedalam otaknya dalam satu hari. Itu bisa membuatnya menerima data pelajaran langsung menutup diri atau mempersempit ruang informasi masuk ke otak. Coba perhatikan hal tadi di anak anda atau di diri anda.

Semua iklan bejibun dan data tadi menjadi suara berisik (noise) yang mengganggu. Iklan bukan lagi menjadi sarana pelanggan terinformasi tetapi justru sebaliknya. Menjadkan orang kebingungan untuk memilah milah dan menyaring. Exposure data tadi membuat orang “melindungi” dirinya dari dan memfilternya dengan mengandalkan masukan atau nasihat dari teman, orang terdekat dan terpercayaanya.

Inilah kunci memahami perilaku manusia modern. Mereka yang kebanjiran bejibun informasi lalu menutup diri dari promosi langsung namun mereka tetap membuka masukan dari pendapat sekitar.

Jadi dalam seni komunikasi jika anda ingin memasukan informasi atau perintah sesuai dengan maunya nada kedalam pikiran orang tersebut saat ini jangan mengggunakan teknik deduksi. Deduksi adalah cara komunikasi dengan memberitahu lawan bicara anda tentang apa yang anda inginkan dari mereka secara langsung. Contohnya misalnya anak saya yang nomor satu Azka dulu selalu tidak mendapatkan apa yang dia mau di bandingkan dengan adiknya fatur. Bukan karena pilih kasih namun karena cara komunikasinya membuat saya sebagai orang tua malah bertahan. Begini suatu hari mbak Azka berkata, ayah beliin mbak azka sepeda dong buat sekolah?

Dengan kalimat ini biasanya orang tua akan bertahan untuk tidak menuruti atau dikepala orang tua ada bermacam pra duga yang ujungnya dengan tersungut sungut mempertanyakan banyak hal setidaknya memuasi keingin tahuan orang tua kenapa dia menginkan sepeda dan bagaimana untuk berkelit untuk tidak membelikannya dalam waktu dekat.

Bandingkan dengan gaya komunikasi fatur beberapa hari setelah sang kakak meminta sepeda. Sore hari dia membersihkan halaman rumah, besoknya dia bertanya bolehnyuci mobil ayah apa tidak, yang pasti sebagai orang tua akan meluluskan boleh. Lalu malam harinya sehabis makan bersama fatur memijat-mijat kaki saya yang memang pegal. Sambil memijat dia menceritakan bahwa tiap hari kalau sekolah jalan sejauh lebih kurang 3 KM cape. Dan untuk anak 10 tahun apa lagi. Lalu dia mengatakan, kalau bulan depan rapot bayangannya bagus boleh ya fatur di beliin sepeda buat sekolah?!

Orang tua mana yang bisa menolak permintaan seperti ini! Ini adalah kalimat komunikasi induksi, berlawanan sekali dengan kalimat langsung deduksi seperti contoh di atas cerita sang kakak.

Teknik induksi adalah komunikasi yang membuat lawan bicara mendengarkan penjelasan terlebih dahulu yang dibuat sedemikian rupa agar ia mempercayai poin akhir pembicaraan.

Gaya bahasa indirect ini sangat efektif karena membuat orang yang dibanjiri kalimat langsung para pengiklan akan membuka pikirannya,. Sementara gaya bahasa langsung direct membuat pikiran menyempitkan jalur masuk informasi dan itu hampir terjadi di banyak orang saat ini. Dengan cara induksi tersebut seseorang menjadi less treat tidak terancam , santai dan memahami gambaran besar dan disaat yang tepat “pop the question” anda langsung menembak apa yang anda maui. Sulit untuk menolak permintaan anda, sulit bilang “no” pada komunikasi anda dengan teknik induksi. Percayalah. Mudah2an Sedikit ilmu berbagi ini bisa dipergunakan untuk mengembangkan diri sahabat dan keluarga, semoga # peace be upon us